Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Sensasi Binatang Merangkak

Kosa kata bahasa Italia tampaknya bertambah satu lagi. Selama ini telah dikenal calciatori yang berarti pesepak bola. Tapi kini belakangan muncul istilah calciattori dengan dua ‘t’, yang berarti pemain bola sekaligus seorang aktor (gabungan kata calciatori dengan attori). Yang terakhir itu bukan pemain yang punya profesi aktor, melainkan cuma sebutan untuk para pesepak bola yang bertingkah macam-macam setelah menjebolkan gawang lawan.

Di Piala Dunia 1990, Anda tentu mengenal Roger Milla dengan goyang pinggulnya. Makin unik lagi pada Piala Dunia 1994 di AS. Gelandang sayap Nigeria, Finidi George, langsung menari dengan gaya anjing kencing usai membobol gawang lawan. Hal unik juga dibuat oleh Bebeto, striker Brasil, yang melakukan gaya timang-timang anakku sayang.

Nah di Serie A kini makin dibanjiri dengan selebrasi gol yang menghibur. Lihat saja para pemain Milan dan Foggia dengan gaya meluncurkan diri bersama di atas rumput. Ada pula Gabriel Batistuta dengan gaya fotomodel sambil memegang bendera sepak pojok. Batigol juga kerap merayakan gol dengan gaya menembak senapan sambil berputar.

Beberapa attori lapangan hijau yang suka mengekspresikan kegembiran setelah bikin gol antara lain duet striker Napoli, Daniel Fonseca (Uruguay) dan Antonio Careca (Brasil) dengan goyang Samba-nya. Juga Tomas Skuhravy (Ceko/Genoa) dengan gerakan koprol atau salto-nya. Begitu juga Faustino Asprilla (Kolombia/Parma).

Sensasi Binatang Merangkak
Terakhir kali gaya yang dibuat Sandro Tovalieri, striker Bari, cukup sensasional alias mampu mencengangkan orang. Begitu rekannya, Miguel Angel Guerrero, pemain asal Kolombia, mencetak gol Tovalieri langsung lari ke pinggir lapangan. Apa yang dia lakukan?

Tovalieri tiba-tiba berlutut lalu merangkak dengan lututnya itu menirukan binatang berkaki empat. Lucunya lagi, gerakan itu diikuti oleh Guerrero dan tiga rekannya yang lain sehingga terlihat barisan seperti binatang merangkak. Pokoknya menghibur! Entah di kemudian hari adegan apa lagi yang akan muncul.

Sensasi Binatang Merangkak
Siapa ‘nenek moyang’ atraksi sampingan usai mencetak gol di sepak bola itu? Setelah dicari-cari, entahlah, tapi media massa di Italia menyebutkan pembukanya adalah Juary, pemain Brasil yang membela Avellino (kini di Serie C) di Serie A di awal 1980-an. Dalam satu laga bersama Avellino, Juary - yang kemudian menjadi juara Eropa bersama FC Porto pada 1987 - segera lari ke sudut lapangan untuk merayakan kegembiraan usai mencetak gol. Apa yang ia lakukan? Dia menari-nari sambil mengitari bendera sepak pojok di sudut lapangan. Banyak penonton yang terpingkal-pingkal melihat ulah orisinalnya yang amat langka itu.

Marcio Santos Bugil

Setelah Faustino Asprilla berbugil ria, kini giliran bek Fiorentina asal Brasil, Marcio Santos. Foto telanjangnya (hanya bagian alat vital yang tertutup), terpampang seronok di majalah bulanan Boss. Seperti juga Asprilla, dia mengatakan bahwa tidak ada kesulitan sedikit pun apalagi malu untuk berpose nekat semacam itu. “Lagi pula saya dibayar kok,“ tambahnya. Memang kebetulan namanya lumayan ngetop di Italia, Maka begitu edisi “Santos Telanjang” terbit, majalah itu pun langsung jadi perbincangan, terutama dari teman-teman seklubnya.

Sensasi Binatang Merangkak
Ada yang usil mengatakan bahwa Santos berbuat itu dengan maksud untuk memikat idolanya, Sharon Stone. Soalnya, sampai saat ini dia belum juga diperkenalkan pada aktris sensual Hollywood pemeran film Basic Instinct itu oleh Presiden Fiorentina, Vittorio Cecchi-Goti. Pasalnya Santos belum memenuhi syarat. Wah, pasti berat ya? Lumayan. Untuk mencapainya, Santos diharuskan minimal bikin tujuh gol buat Fiorentina. Ini janji mati Gori!

(foto: pinterest/messinasportiva/footballnotballet/it.wiki/zmnapoli)

Share:

Roberto Muzzi: Meremukkan Mental Juventus

Pertandingan baru saja berlangsung lima menit, ketika serangan mendadak tuan rumah lewat seorang penyerang sayapnya telat diantisipasi barisan belakang Juventus. Di kala badan belum ‘panas’, mereka langsung pontang-panting mengejar pemain tersebut.

Roberto Muzzi: Meremukkan Mental Juventus

Namun seseorang bek Juventus memberi harapan. Dengan sigap dan akselerasi yang tinggi, Ciro Ferrara memburunya. Namun celaka, pemain Cagliari itu terguling kena seruduk Ferrara. Tak ayal, priiitt, wasit menunjuk titik putih penalti!

Gol cepat dari rigore, tendangan penalti, yang dilakukan oleh penyerang nasional Belgia, Luis Oliviera, membuat kaget kubu Bianconeri sekaligus menjatuhkan mentalnya. Padahal selama ini Juventus dikenal punya mental baja. 

Namun kali ini telah berubah menjadi mental papan yang getas. Di hadapan 45.000 penonton yang memadati Stadion Sant’ Elia, Juventus – yang tidak terkalahkan di sembilan laga terakhirnya – remuk redam dengan kekalahan memalukan 0-3 dari Cagliari.

Bukan Oliviera yang jadi bintang di laga itu, melainkan pemain lokal asli Italia bernama Roberto Muzzi. Orang ini, sekaligus yang tadi ditebas Ferrara, membuat sebiji gol lagi untuk mencatatkan kemenangan sempurna dan mengejutkan itu. Gol ketiga dari Muzzi, lagi-lagi dikreasi dengan cara yang sama.

Namun kali ini tanpa kena tebasan duet Ferrara dan Luca Fusi, atau sepasang bek sayap Sergio Porrini (kanan) dan Moreno Torricelli (kiri). Dengan gerakan yang sama, Muzzi juga memberi assist kepada rekannya Julio Cesar Dely Valdez untuk menciptakan gol kedua untuk Cagliari, klub yang sesekalinya menjuarai Serie A pada edisi 1969/70.

Siapakah Roberto Muzzi? Jangan salah sebut. Nama Muzzi (dilafalkan Mutsi) sama sekali berbeda orang dan potongan juga posisi dengan Roberto Mussi si gelandang Parma. Muzzi lebih gempal dan dinamis, walaupun kalah reputasi sebab Mussi tercatat ikut memperkuat tim nasional Italia di Piala Dunia 1994. Setelah gol ke gawang Juventus, dia mendapat julukan “Bomber Muzzi”.

Muzzi dari Cagliari dilahirkan 21 September 1971 dan kariernya justru dimulai di AS Roma, yang mencatat namanya sebagai pemain akademinya. Namun karena klub ibukota itu selalu terobsesi mencari bomber asing yang ngetop, masa depannya jadi terbengkalai. Setelah tiga musim hanya jadi pemain figuran yang keseringan ngendon di bangku cadangan, dia pun dilepas ke klub Serie B, Pisa.

Baru di musim inilah, Muzzi kembali ke Serie A namun kali ini telah berbaju I Rossoblu, klub yang sekarang digarap oleh pelatih bagus asal Uruguay, Oscar Washington Tabarez. Di Cagliari, yang dulu punya legenda Italia striker Luigi ‘Giga’ Riva dan kiper Enrico Albertosi, potongan tubuh dan tipikal permainan Muzzi jelas-jelas berguna dan modal kuat buat Tabarez, yang  dikenal sangat menyukai gaya fisik nan cepat dalam strategi permainannya.

Oliviera, tandem Muzzi, juga memiliki kuda-kuda kuat, tubuh yang sekel, namun amat bertenaga serta sanggup berlari cepat. Nah, berbekal dua penyerang gempal, kuat, dan cepat itulah Juventus jadi terjengkang mendadak. Maklumlah, melihat potongan badan Ferrara dan Fusi yang sama-sama ‘tipis’, rasanya tidak masuk akal juga mereka bisa menghentikan duet Muzzi-Oliviera jika sudah masuk kotak 16 besar. Celaka.

(foto: cagliaricalcio)

Share:

Butuh Teman Ngobrol

“Mas, ke sini dong, di sini saya tidak punya teman ngobrol soal sepak bola nih.” Itulah ucapan terakhirnya ketika penulis menghubunginya via telepon internasional ke kamar 118 Hotel Waldstaetten, Luzern, Swiss, Rabu lalu. Ia senang sekali menerima kiriman artikel tentang dirinya yang dimuat minggu lalu.


Butuh Teman NgobrolTidak berapa lama, janjinya menulis surat untuk para pembacanya pun dipenuhi anak muda Magelang kelahiran Jakarta itu. Dengan faks, dikirimlah tulisannya dengan meminta tolong Bu Yayah, istri dari Heinz Buerki, pemilik hotel yang juga sekolah International Hotel Management Institute Switzerland itu. Sebelum mengirim, Bu Yayah menceritakan beberapa hal kepada penulis. Pendek kata, Kurniawan sudah dianggap seperti anaknya sendiri. “Orangnya tidak sombong. Kini dia dekat sekali dengan saya, saya dianggap sebagai pengganti ibunya ,” ujar Bu Yayah. 

Berikut petikan surat Kurniawan yang aslinya ditulis tangan.

“Halo Pembaca,

Tak terasa sudah tiga minggu lebih saya berada di Swiss (tiba 4 Januari 1995), sekaligus meninggalkan rekan-rekan di Campo Sportivo Tavarone untuk berjuang membawa nama bangsa di negeri orang. Selama ini saya merasakan perlakuan masyarakat di sini – baik rekan seklub maupun bukan – terhadap saya tidak berubah. Mereka tetap bersikap hangat.

Yang cukup menghibur, apalagi untuk menghilangkan rasa rindu atau sepi pada Tanah Air adalah teman-teman mahasiswa di sini. Setiap malam saya selalu berkumpul dengan mereka. Biasanya sampai jam 11 malam. Kadang saya terhibur, tapi sering pula saya kangen dengan yang lain. Kalau sudah begitu, jalan satu-satunya melalui telepon. Tapi seringnya sih langsung tidur saja biar tidak terlalu mengingat sama yang dikangeninya.

Ke Mauritius

Kumpul-kumpul begitu mengasyikkan, mengingat saya perlu teman mengobrol. Maklum saya belum dapat bicara bahasa Jerman – bahasa mayoritas yang dipakai di Swiss – meski usaha untuk bisa bicara amat besar (tiap habis makan malam besar saya berlatih sendiri atau dengan teman mahasiswa).

Namun dengan Oliver, salah seorang teman main saya, saya belajar banyak. Dialah sahabat pertama saya. Ia banyak menolong saya dalam segala hal termasuk di lapangan. Tapi yang lain juga amat membantu. Pokoknya saya cukup senang berada di FC Luzern. Mereka berusaha membantu saya. Juga Wyss dan Ruedal. Meski senior, mereka tidak pernah sombong.

Apa ini karena saya pemain paling muda di klub itu? Entahlah, yang pasti mereka semua bersikap begitu terhadap saya. Meski pelatihnya galak, semuanya saya anggap sebagai tantangan. Hambatan? Tentu ada. Hanya satu, yaitu suhu udara yang amat dingin. Soalnya di sini sedang musim salju. Bayangkan kalau berlatih pagi hari, suhunya minus tujuh derajat! Makanya saya sering mengalami kesulitan. Apalagi sekarang ini, latihan sedang keras-kerasnya, empat jam dalam dua kali latihan setiap hari. Bisa dimaklumi sih mengingat babak playoff liga kurang dari sebutan lagi.

Oh ya, kalau minggu lalu saya mendapat pengalaman pertama bermain indoor di Jerman, mulai 28 Januari besok saya akan berangkat ke Mauritius (negara di Samudera Hindia, sebelah timur Madagaskar dekat Afrika) untuk mendapatkan pengalaman laim. Saya baru pulang sekitar tanggal 11 Februari.

Sekian dulu surat saya ini. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat atas segala dukungan dan dorongan yang diberikan. Untuk itu mohon doa restu dari masyarakat khususnya pecinta sepak bola, agar saya bisa memenuhi harapan dari Anda semua. Saya pun akan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memanfaatkan kesempatan ini dan akan selalu mengangkat nama bangsa Indonesia, khususnya persepak bolaan kita.”

Butuh Teman Ngobrol

(foto: istimewa)

Share:

Tony Adams: Rock of Highbury Tiada Duanya

Perhatikanlah jika Arsenal mendapat sepak pojok atau tendangan bebas. Tiba-tiba saja, seorang pemainnya yang bernomor punggung 6 secara otomatis menyelusup ke kerumunan pemain di depan gawang lawan. Dengan memasang wajah garang, dia bersiap menjemput datangnya bola. Tak peduli kena atau tidak, bukan masalah. 

Tony Adams: Rock of Highbury Tiada Duanya

Namun kehadirannya itu saja telah membuat perasaan atau nyali para lawannya menjadi ciut. Memang, siapa lagi kalau bukan Tony Adams, si jago sundul tim yang bermarkas di daerah Highbury, London, yang suka memamerkan keahliannya itu. Para pendukung kesebelasan yang dijuluki "Gudang Peluru" itu sepertinya tak perlu lagi berharap demikian. 

Kapten tim Arsenal itu sudah menyadari salah satu manfaat, sekaligus kelebihannya, yakni tubuhnya yang kekar itu. "Sundulan dan terjangan saya akan membuat mereka ketakutan sepanjang pertandingan," sergahnya. Vinnie Jones, bek paling sangar di Inggris bahkan se-Eropa pun mengakuinya dengan nada satir. 

Tony Adams: Rock of Highbury Tiada Duanya

"Sundulan Tony Adams merupakan campuran kekuatan, naluriah, dan keberingasan. Itu tiada duanya," tutur bek tengah Wimbledon tersebut. Keistimewaan Adams ternyata lebih dari itu, justru ini yang paling utama. Silakan perhatikan bahwa pria ganteng yang selalu didamba oleh Alex Ferguson menjadi beknya di Manchester United itu juga bisa berfungsi sebagai tembok pertahanan yang amat kokoh. 

Momok Penyerang 

Daerah kekuasaannya terletak di kotak penalti sendiri, di depan rekannya, kiper nasional The Gunners dan Inggris, David Seaman. Sundulan kepala Adams menjadi senjata yang ampuh. Berkat sundulannya ini pula, Adams kadang menyumbang gol untuk Arsenal. 

Tony Adams: Rock of Highbury Tiada Duanya

Kebiasaan ini telah berlangsung sejak dia dipanggil masuk tim nasional Inggris U-21 pada 1986. Jangan harap lawan akan mudah menembus daerah garis 16 meter jika dia lagi nongkrong di situ. Apalagi bek tengah asli didikan Arsenal sejak anak-anak ini selalu bermain lugas sehingga menjadi momok paling mengganggu para penyerang lawan. 

Paling tidak, sebagian besar penyerang di Liga Primer Inggris telah merasakan kehadiran Adams yang amat merisaukan. Maka tidak berlebihan jika publik Inggris, dan terutama kaum pencinta Arsenal, sangat hapal dengan kegigihannya itu. 

Tidak heran pula bila pemain yang memulai debut sejak usia 17 tahun di Arsenal ini dijuluki Rock of Highbury alias Si Batu Karang Highbury. Satu-satunya orang dalam sejarah Arsenal yang ditabalkan begitu. 
Tony Adams: Rock of Highbury Tiada Duanya

Kini di usianya yang semakin matang, 28 tahun, Adams sukses mengantarkan Arsenal meraih gelar juara Piala Winner 1993/94 dengan penampilan prima. Saat itu The Gunners menuntaskan perlawanan Parma 1-0 di Kopenhagen, Denmark.

Gara-gara ketangguhan pria kelahiran 10 Oktober 1966 ini pula, trio maut Parma, Gianfranco Zola, Faustino Asprilla, dan Tomas Brolin, terhenti aliran golnya yang sebelum final tidak pernah gagal membobol gawang lawan-lawannya. Adams – yang dikelilingi Steve Bould, Lee Dixon, dan Nigel Winterburn – saat itu benar-benar menjadi hero lewat penampilan, komando, tunjuk sana tunjuk sini, atau perintah-perintah lisan kepada anak buahnya. 

Atas sukses tersebut, pelatih nasional Terry Venables langsung mencanangkan mematok Adams sebagai jangkar utama pertahanan tim Three Lions. Dengan siapa dia akan ditandemkan? "Duet Tony Adams dan (Gary) Pallister merupakan jaminan tersendiri bagi kami," kata Venables penuh harap. Dan dia bukan asal bicara. Pada November 1994, duet Adams-Pallister - yang selalu jadi dambaan Alex Ferguson di United - sukses mengatasi berbagai serangan Nigeria dalam ujicoba di Wembley yang berakhir 1-0 untuk Inggris. 

(foto: dailymail/rightattheend/express)

Share:

Manchester United vs Blackburn Rovers: Sulit Balas Dendam di Old Trafford

Big match terjadi lagi di Liga Inggris pekan ini. Kalau pada Ahad lalu Manchester United gagal menumbangkan tuan rumah Newcastle United di Stadion St James Park, kali ini pasukan Alex Ferguson akan mencoba menghadang laju Blackburn Rovers di kandang sendiri, Partai di Stadion Old Trafford ini juga bisa disebut real final-nya Divisi Utama Liga Inggris.
Manchester United vs Blackburn Rovers: Sulit Balas Dendam di Old Trafford
Paul Ince vs Tim Sherwood. Bertemu lagi.
Blackburn, yang kini berada di puncak klasemen, tidak punya strategi dan rencana alternatif selain bakal menerapkan pola menyerang. Pastinya Ferguson juga akan  menginstruksikan gaya attacking football murni. Mereka akan membombardir pertahanan The Rovers dari semua lini yang akan dikomandoi oleh dirigennya, Eric Cantona.

Lini belakang Blackburn yang dikoordinasi oleh pemain nasional Inggris, Graeme Le Saux, akan mendapat ujian terberat selama musim ini. Walau dibantu Colin Hendry dan Henning Berg, tampaknya Blackburn tetap perlu mukjizat jika sampai berhasil clean-sheet alias tidak kebobolan.

Sebaliknya bagi United, dengan kemungkinan bakal turunnya Paul Ince – tandem Cantona di lini tengah – pasti lebih semangat untuk membobol gawang Tim Flowers. Tergantung bagaimana duet kapten Tim Sherwood dan Jason Wilcox bisa membendung sepak terjang duo Cantona-Ince.

Di sisi lain, Ferguson praktis tinggal menunggu kepastian tampilnya Andy Cole, pembobol ulung United yang dikabarkan masih belum pulih 100 persen dari cedera. Selama ini Cole dianggap sebagai pewujud kemenangan Red Devils. Jika bisa main, maka lengkaplah harapan menang.

Laga akbar musim ini makin nyata melihat Duet SAS (Alan Shearer-Chris Sutton) juga siap menguji pusat pertahanan tuan rumah yang ditongkrongi Gary Pallister. Jujur saja, tanpa kehadiran Cole nanti, sektor penyerangan Blackburn lebih unggul dari United.

Satu lagi, motivasi kedua tim ini sama-sama membara. Untuk United, inilah kesempatan terbaik untuk memperpendek jarak nilai dengan seteru terkuatnya di musim 1994/95. Sedang bagi pasukan Kenny Dalglish, tampil di Old Trafford dijadikan arena balas dendam atas kekalahan 2-4 di Ewood Park, 23 Oktober 1994. Bagaimana peluang sang tamu? Rasanya sulit, ah!

(foto: punditarena)
Share:

Dejan Savicevic: Hebat Setelah Jenuh

Memasuki paruh waktu, kompetisi Serie A semakin panas. Pekan lalu merupakan putaran yang penuh dengan kejadian kontroversial, antara lain banyaknya pemain yang diusir wasir akibat terkena espulsi, kartu merah. Namun di sisi lain, justru yang paling produktif. Bertebarannya kartu merah ternyata dibarengi oleh jumlah gol yang fantastis, 31 gol, yang sudah termasuk laga tunda Milan vs Reggiana, Rabu kemarin.

Dejan Savicevic: Hebat Setelah Jenuh

Dari rata-rata gol yang mencapai 3,4 gol –  13 gol telah dilesakkan oleh para stranieri, pemain asing. Diantara mereka, dua paling mantap punya adalah Alen Boksic dan Dejan Savicevic, benar-benar kebetulan mengingat keduanya orang-orang dari Eropa Timur, lebih tepatnya lagi dari Tanah Balkan. Nah jika lebih hebat mana Boksic dan Savicevic? Jawabannya jelas setelah melihat sepak terjang mereka. Boksic mencetak tripletta alias hattrick ke gawang Foggia saat Lazio menang besar 7-1. 

Lalu Savicevic? Sederhana saja. Walau Milan ‘cuma’ menang 5-3 atas tuan rumah Bari, namun dia membuat empat gol! Jadilah dia bintang pekan ini. Ketagihan bikin gol Savicevic ternyata belum kelar sebab selang tiga hari, giliran gawang Reggiana dijebolnya pada menit-menit akhir untuk memenangkan Rossoneri 2-1 di San Siro. Kini gelandang serang ber-KTP Yugoslavia itu telah membukukan total enam gol, satu pencapaian lumayan buat pemain yang telat panas di awal musim ini.

Ketika ditanya jurnalista perihal ketagihan mendadak bikin gol, pria kelahiran 16 September 1966 itu mengaku dia telah menemukan semangatnya lagi setelah dilanda kejenuhan. Waduh! Selanjutnya dia mengungkapkan kenapa dirinya diserang kejenuhan. Rupanya cedera yang diderita cukup lama membuat spirit bermainnya karam. Namun sekarang hal itu menjadi berkah.

Pelatih Fabio Capello pun ikut senang. Saking dianggap amat berharga, sebelumnya Capello tidak mau mengutak-atik atau berjudi untuk memainkan Savicevic jika belum 100 persen. Buat Milan dan Capello, sepeninggal Ruud Gullit ke Sampdoria, siapa lagi kalau bukan Savicevic – pemain yang berharga 12 juta pound sebagai sumber daya dobrak Milan.

Kejelian Capello patut dipuji. Pada dua laga terakhir, dia menaruh Savicevic di belakang striker Daniele Massaro. Tugas khusus ini amat disukai Savicevic sebab dia memang merasa punya kapabilitas utuk menjadi bomber. Posisinya itu tak tergantikan walau Massaro kemudian diganti oleh Marco Simone.

“Sekarang kami tidak bisa dianggap remeh lagi, lihat saja nanti,” kata Capello tanpa bermaksud jumawa kecuali untuk menangkis segala kritikan pers melihat start Milan yang dianggap buruk. Pantaslah buat klub yang telah mencapai segalanya di musim-musim sebelumnya. Apalagi yang didapat setelah mencapai sukses besar? Namun hati kecil Capello tentu tahu, harapannya muncul lagi melihat Savicevic telah kembali.

(foto: twitter)

Share:

Rekomendasi Dari Vatikan

Masih ingat mantan pemain Juventus dan Roma yang juga pesepak bola top Polandia ini? Tentu. Dia gampang diingat karena keikutsertaannya di Piala Dunia selama tiga kali. Namun pada 1982 di Spanyol yang paling berkesan. Zbigniew ‘Zibi’ Boniek mencetak empat gol dalam satu pertandingan, yakni ketika Polandia menghantam Peru 5-1. Saat menang lawan Belgia 3-0, dia juga menciptakan hattrick. Kenangan itu menjadi lengkap sebab Polandia ‘sukses’ meraih tempat ketiga.

Kabar terakhir dari Zibi Boniek adalah ditawari menjadi pelatih nasional Polandia. Reaksinya? Dia menyatakan ok asal PZPN (PSSI Polandia) percaya sepenuhnya. Zibi memang berpengalaman melatih di Italia, tapi maaf, semua klub yang ditanganinya berstatus gurem. 
Rekomendasi Dari Vatikan

Pertama pernah melatih Lecce di Serie A, lalu Bari di Serie B, dan Sambenedettese di Serie C. Semuanya menghasilkan pengalaman buruk sebab gagal total hasilnya. Maka melihat kegagalannya itu banyak orang yang geleng-geleng kepala, dan tawaran dari PZPN dianggap sebagai rekomendasi berlebihan. Setelah lulus dari kursus kepelatihan, Zibi langsung menangani Lecce di Serie A. Padahal ini jarang terjadi di Serie A sebab dianggap melanggar aturan.

Usut punya usut, orang jadi penasaran dan mulai mencari-cari jawaban. Isu pun bermunculan. Siapa sebenarnya yang memberi rekomendasi Boniek untuk melatih tim nasional Polandia? Ssst, cukup mencengangkan ternyata. Kabarnya sih titah dari Vatikan langsung! Siapa? Siapa lagi kalau bukan dari Paus Paulus II alias Karol Jozef Wojtyla, yang memang orang Polandia. Waduh, repot dong.

Capodanno dan Fernando De Napoli

Tradisi menyambut Tahun Baru di Italia ternyata berbeda antara di wilayah selatan dan wilayah utara. Pengalaman ini dirasakan oleh Fernando De Napoli, mantan pemain Napoli yang kini terdaftar sebagai pemain AC Milan. Kebiasaan menyambut Capodanno, tahun baru, dirayakan dengan segala keriuhan terutama dengan ‘perang petasan’. Sedang di Italia Utara, seperti di rumah De Napoli di Milano, Capodanno tidak disambut seperti itu, malah terkesan tanpa keramaian berarti.

Alkisah De Napoli yang terbiasa dengan keramaian Tahun Baru merasa tidak betah dengan keheningan di Milano. Dia ketika itu sedang berada di sebuah restoran dengan teman-teman dekat serta keluarganya. Memang sih yang dilakukan oleh si gelandang tengah yang dianggap pengkhianat oleh suporter Napoli ini terbilang gawat. Dia memecahkan gelas. Eh ternyata ‘pancingan’ itu tetap tidak mendapat gubrisan.

Tapi seseorang yang berada dekat dengannya tentu saja kaget. Dalam sekejap giliran De Napoli yang kaget lantaran orang itu langsung mengatainya “Terrone!” Apa arti Terrone? Ini adalah kata yang mengandung penghinaan buat orang-orang Selatan yang begitu dipandang rendah oleh orang-orang Utara. Lain lubuk memang lain ikannya, kata pepatah. Mengalami hal seperti ini barangkali De Napoli sangat menyesal pindah meninggalkan ‘tanah tumpah darahnya’ yaitu Napoli.

(foto: autografyrodgersa.blogspot/it.wiki/zainalmuttaqien)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini