Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

Mino Raiola, Antara Donald Trump dan Al Capone

Jika Anda seorang delegasi dari klub atau wakil dari perusahaan apparel ternama, yang datang dengan jas rapih dan licin, maka sulit menduga bahwa mitra yang akan Anda temui sedang menjilati es krim atau tengah sibuk dengan smart-phone-nya. Pria setengah baya ini berambut tipis, rada tambun, dan mengenakan jeans dan t-shirts. Arena pertemuannya juga di ruang terbuka, di lapak-lapak cafe pinggiran jalan.

Dibanding Pini Zahavi, Frank Arnesen, atau Jorge Mendes, apalagi dengan Luciano Moggi, terus terang nama yang satu ini ibaratnya masih bau kencur. Namanya juga sering tertutupi oleh kiprah Darren Dein, Pere Guardiola, Volker Struth, atau Thomas Kroth yang terbilang kompeten dan meyakinkan. Tapi itu dulu. 

Sekarang ceritanya beda banget. Tiba-tiba saja seorang Carmine ‘Mino’ Raiola (50), pria gendut ber-KTP ganda Italia dan Belanda, mampu menyaingi sepak terjang tiga super-agent Jonathan Barnett, Jerome Anderson, atau Barry Silkman. Jadi apa? Sebagai makelar alias calo, atau mak comblang, kurir, juru sambung, biro jodoh di sepak bola atau yang dikenal keren sebagai agen pemain.

Apakah kemampuan Raiola bertujuh bahasa secara fasih; Italia, Inggris, Jerman, Spanyol, Prancis, Portugal, dan tentu Belanda, yang menjadi modal terkuat bakatnya? Boleh jadi. Namun jawaban terkuatnya dan yang sebenarnya adalah kelihaian pergaulannya. Terus terobsesi dengan sepak bola adalah katalisator utama. Dan menjadi pecundang sebagai pemain di waktu mudanya, ditambah dengan latar belakang pekerjaan yang mengharuskan mengenal dan ngoceh dengan banyak orang, lambat laun mengubahnya dari nothing menjadi something bahkan anything.

Makanya sah atau tidak, sekarang ini Mino Raiola dianggap sebagai the most powerful agent in world football. Sebagian lagi melabelinya dengan negosiator ulung yang terlalu cerewet dan bergaya represif. Malahan beberapa media massa dunia yang memelototi hal ihwal sekecil-kecilnya di sepak bola menjulukinya si jenius. Bahkan seorang bekas pesaingnya, yang pernah bertahun-tahun adu ilmu, akhirnya mengakui kehebatan Raiola, lantas mencapnya dengan bombastis sebagai 'Donald Trump'-nya sepak bola dunia. Anda tahu 'kan karakter orang ini?

Dengan deretan klien kelas kakap yang tak asing mendengarnya, sebut saja Paul Pogba, Romelu Lukaku, Henrikh Mkhitaryan, Marco Veratti, Gianluigi Donnarumma, atau Mario Balotelli, jelas bin jelas Raiola punya amunisi hebat nan kuat untuk bertempur atau mengarungi liarnya belantara jual beli sepak bola dunia. Apalagi di masa lalunya, ketika baru menapakkan kaki di dunia agen pesepak bola, dia juga punya referensi yang cukup meyakinkan banyak pihak.

Di sepanjang 1992-1996, dengan beruntun Raiola sanggup menggaet deretan bintang Ajax Amsterdam seperti Bryan Roy (ke Foggia, 1992), Marciano Vink (Genoa, 1993), duet Wim Jonk dan Dennis Bergkamp (Internazionale, 1993) dan Michel Kreek (Padova, 1994). Pemain non-Belanda pertama yang diciduknya masuk ke bumi Serie A adalah Pavel Nedved, dari Sparta Praha ke Lazio dengan rekor transfer.  Malahan di sekali waktu, kiprah pertamanya bergumul di dunia transfer, dipenuhi risiko besar tatkala berani memakelari bintang bengal Frank Rijkaard yang sedang ribut kontrak dengan Ajax Amsterdam.


Mino Raiola, Antara Donald Trump dan Al Capone

Waktu itu Raiola bertugas membawa sang gelandang ke AC Milan pada Januari 1988. Namun karena tak punya jaringan kuat di Serie A yang dipenuhi bandit-bandit ternama jual-beli pemain, Rijkaard justru diparkirnya dulu di klub Liga Primera Portugal, Sporting Lisbon, sebelum ‘dipindahkan’ ke klub La Liga, Real Zaragoza. Apapun yang dilakukan Raiola, Rijkaard setuju saja yang penting asal hengkang dari Ajax. Uniknya, tugas Raiola hanya itu. Ketika Rijkaard akhirnya resmi bergabung ke Milan di 1988/89, dia sudah tidak berkepentingan lagi. Entah kenapa sejak awal Raiola punya jaringan di Portugal. Barangkali  level dan tensi kompetisinya tidak seheboh Serie A atau La Liga.

Sejak berani melakukan apa yang tidak berani dilakukan oleh agen yang sudah punya reputasi pada umumnya, masa depan Raiola bisa dibilang bakalan cerah. Dari bumi Portugal pula pundi-pundinya mulai terisi tatkala dia jadi mak comblang deretan bintang jawara Liga Champion 2003/04, FC Porto. Malahan selain Ricardo Carvalho, Paulo Ferreira, Tiago Mendes, atau Maniche, Raiola juga sukses melicinkan jalan pelatihnya, Jose Mourinho, masuk ke Inggris untuk bergabung ke Chelsea, klub Premier League yang mendadak tajir setelah dibeli Roman Abramovich.

Sekarang 17 klien yang pernah dan sedang digarapnya barangkali hampir Anda dengar. Ada 15 pemain, satu pelatih, dan satu eksekutif klub. Mereka adalah Zdenek Grygera, Zlatan Ibrahimovic, Henrikh Mkhitaryan, Paul Pogba, Romelu Lukaku, Felipe Mattioni, Robinho, Mario Balotelli, Maxwell, Kerlon, Etienne Capoue, Blaise Matuidi, Gregory van der Wiel, Bartosz Salamon, Gianluigi Donnarumma, Moise Kean, Marco Verratti, Martin Jol (pelatih), Pavel Nedved (eksekutif klub).

Masa lalu yang penuh risiko, kerja keras, dan pantang menyerah, kini telah mengubahnya menjadi salah orang yang bisa mempengaruhi kejayaan sebuah klub. Pada 2008 misalnya, dia pernah dua kali diinvestigasi oleh FIGC (PSSI-nya Italia) untuk pelanggaran norma-norma kepatutan dalam mercato.

Walau tinggal di kota termahal biaya hidupnya di Eropa, Monako, namun penampilan Raiola jauh dari perkiraan rata-rata orang. Dia begitu humble, selalu santai bin non-formal, meski dengan jins dan berkaus oblong sering memperlihatkan betapa buncit perutnya. Semakin aneh ketika dia sering menghampiri kliennya dengan memakai training-suite. Memang pria kelahiran Salerno, 4 November 1967 ini tidak butuh penampilan yang fashionable seperti halnya Mendes atau Barnett yang selalu berjas. Yang dibutuhkan, sekaligus yang selalu dibidik adalah deal, closing, alias memastikan kliennya dapat klub baru.


Mino Raiola, Antara Donald Trump dan Al Capone
Darah Napoli

Pikiran tajamnya bagaimana menggangsir uang dari kaki-kaki pesepak bola barangkali terasah sejak jadi anak muda kreatif di akhir 1980-an. Ketika bapaknya, yang orang Italia, bikin restoran pizza dan pasta di kampung istrinya yang Belanda tulen, Raiola langsung kebagian jatah pekerjaan: sebagai pelayan. Di saat yang sama sembari bekerja, dia sempat masuk Fakultas Hukum usai lulus SMA. Tapi akibat keranjingan mencari duit, Raiola pun rela drop-out.

Demi ingin menemukan uang besar dan cepat pula, perjalanan kariernya sebagai pesepak bola amblas. Pada tahun 1987, di usia belia 18 tahun, dia mengajukan diri resign sebagai pemain bola FC Haarlem namun anehnya segera melamar menjadi pelatih tim junior! Tentu saja hal itu jadi tertawaan banyak pihak.

Di restoran yang pangsa pasarnya rada tinggi itu, lama-kelamaan dia keseringan jumpa dan berbasa-basi sekalian nguping obrolan deretan mahluk-mahluk aktif di sepak bola yang kerap menyatroni restoran bapaknya. Bertemulah dia dengan macam-macam orang, mulai dari pemain kapiran sampai bintang hebat, pelatih, eksekutif klub, sampai para makelar. Dia mulai bekerja di Sports Promotions, sebuah perusahaan agen olah raga, dan membantu transfer beberapa pemain Belanda berprofil tinggi ke klub-klub Italia.

Sadar bisa melakukan sendiri lantaran dibayangi oleh keuntungan jauh lebih besar dan bekerja lebih bebas, tak lama berselang dia memutuskan untuk meninggalkan perusahaan dan memulai bisnisnya sendiri. Transfer besar independen pertamanya adalah penandatanganan Nedved dari Sparta Praha ke  Lazio, menyusul penampilannya yang mengesankan di EURO‘96, di mana Republik Ceko mampu menembus babak final.

Dan pada Juli 2017, dia melakoni transfer besar terakhirnya yang kelak akan menguatkan posisi Manchester United ke tangga juar Premier League 2017/18. Sukses ‘memindahkan’ Lukaku dari Everton ke Manchester United dengan harga selangit, 75 juta pound, tak pelak kian menancapkan reputasi Raiola.


Mino Raiola, Antara Donald Trump dan Al Capone

Kejadian di bulan Juli 2017 ini sontak mengubah satu rekor baru transfer sesama klub Premier League. Musim sebelumnya, dia juga sukses memaksa Manchester United merogoh kocek kelewat dalam, 105 juta euro, hanya untuk membeli seorang gelandang enerjik yang dulu dengan gratis dilepehkannya, yang kemudian dicomot Juventus: Paul Pogba.

Pertautan Raiola, Pogba, dan Lukaku dalam kerjasama bisnis dan juga pertemanan yang terbina jauh sebelum kedua transfer top itu terjadi, menyadarkan banyak pihak bahwa relasi yang spesial merupakan kunci rahasia sukses di dunia transfer, terutama buat orang yang bersosialita tinggi macam Raiola.

Coba tengok ke tetangga sebelah, di mana seorang Arsene Wenger justru keseringan gagal mendapat pemain lantaran pembawaan, gaya, dan cara-cara yang formal justru bikin kaku dalam negosiasi. Makanya, dia tidak bakalan cocok duduk satu meja dengan Wenger. Beda pendekatan dan sudut pandang. Bisa dipastikan, tidak ada dan tidak pernah bakal ada pemain Raiola yang main di Arsenal, selama Wenger masih bercokol di sana.

Selain Mkhitaryan (Armenia) dan Balotelli (Italia), Raiola juga menjadi dalang buat deretan wayangnya yang nilainya berbobot; Zlatan Ibrahimovic (Swedia) dan Blaise Matuidi (Prancis). Dua terakhir ini sukses diparkir lama di Paris Saint-German. Beberapa pers Eropa menyebut, di musim 2016/17 Raiola sukses merogoh 40 juta pound uang Manchester United ke kas pribadinya untuk transfer Pogba. Belum lagi fee dari pembelian Ibrahimovic dan Mkhitaryan di saat yang sama. Sementara tiga klub top Eropa yang jadi kliennya adalah AC Milan, Manchester United, Juventus, dan Internazionale.

Potongan fragmen transfer window paling indah yang penuh drama selalu dikenangnya. Nedved, Ibra, Pogba, dan Lukaku. Di usia 50 tahun, Raiola meraih puncak reputasi sekaligus kekayaan dalam karier panjangnya. Siapa sebenarnya Raiola? Asal tahu saja, dia itu dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang sederhana di Haarlem, Belanda, yang hanya mengandalkan pemasukan rutin dari restoran pizza nan asri bernama Ristorante Napoli.


Mino Raiola, Antara Donald Trump dan Al Capone

“Beberapa pengurus FC Haarlem sering makan pizza, setidaknya sepekan sekali di restoran bapaknya,” sebut Edwin Struis, seorang jurnalis lepas untuk koran lokal di Haarlem awal 1990-an, mulai membuka tabir Raiola.

“Dasar orangnya bawel, dia terus saja ngoceh di hadapan orang-orang yang puluhan tahun mengurusi bola, meski para pendengarnya mungkin pada membatin ‘ah sok tahu’. Akhirnya di suatu kali, karena keseringan berdiskusi dengan orang-orang kapabel, mereka berkata ‘Karena Anda tahu banyak keadaan, kenapa Anda tidak masuk bergabung ke dewan direksi klub saja?” papar Struis menceritakan sebuah kisah yang didengarnya langsung.

Pintu yang terkunci rapat itu pun lama-lama mulai terbuka. Di suatu waktu Raiola beneran bekerja di FC Haarlem sebagai direktur teknik! Dia punya banyak ide liar tapi bagus, terutama untuk kerjasama bakat dan transfer pemain. Klub Italia yang langsung dijalinnya tidak main-main, Napoli! Kenapa Napoli? Selain mereka klub top yang dikenal amat tradisional, juga karena bapaknya berasal dari daerah dekat-dekat sana, tepatnya di kota kecil Nocera Inferiore.

Jadi darah dan jiwa Napolitano masih melekat kuat di tubuh bapaknya dan juga Mino Raiola. Pada tahun 1968, Untuk mengubah nasib lebih cerah, saat baru usia setahun Raiola sudah hijrah alias diboyong kedua orang tuanya ke Belanda untuk menetap di kampung ibunya.
                                                                                       
Pemuja Al Capone

Kelak dalam puluhan tahun ke depan, sang bayi itu berubah wujud menjadi tokoh yang mempengaruhi tren dan kebijakan transfer sepak bola dunia. Dalam otobiografinya yang berjudul “I am Zlatan”, saat bertemu pertama kali Ibrahimovic bahkan menggambarkan karakter Raiola sebagai bentuk nyata dari sosok utama sang gangster mafia Tony Soprano (diperankan oleh James Gandolfini) dalam drama kriminal serial TV yang ditayangkan HBO sepanjang 1999-2007 yaitu The Sopranos.


Mino Raiola, Antara Donald Trump dan Al Capone

Memang tidak salah kalau dia menyukai dan terobsesi pada dunia mobster, yang penuh tipu-tipu, keberingasan, dan kelicikan. Setelah merenggut fee 25 persen senilai 25 juta euro, dari hasil penjualan Pogba dari Juventus ke Manchester United (105 juta euro), Raiola langsung terbang ke Miami, AS, untuk membeli vila milik bandit kriminal legendaris Al Capone senilai 9 juta euro! Pikiran orang semakin jelas memahami kerangka berpikir, bahkan visi-misi seorang Raiola bilamana dia jelas-jelas mengidolai Al Capone.

Pada kenyataannya memang hingga detik ini hidup Raiola tetap dipenuhi risiko dakwaan kriminal dan penjara. Konsorsium media The Football Leaks pernah menelanjangi pelanggaran hak cipta Raiola atas foto-foto ekslusif Pogba yang dijual untuk kepentingan pribadi. Untuk sementara para pengacara Raiola sukses membekukan kasus ini.

Cara-cara Raiola yang amat tendensius untuk menaikan ‘harga’ kliennya, sekaligus memojokkan siapa saja yang coba menggagalkan tujuannya juga patut dicela. Kerapkali lantaran paham bola secara teknis, Raiola sering mengkritik strategi transfer bahkan teknik permainan sebuah klub! Tak urung hal ini suka melahirkan berbagai kemarahan dan rasa tidak simpati kepadanya.

Lima tahun silam, Barcelona pernah nyolot dan mengancam memutuskan hubungan bisnis dengannya akibat tersinggung berat. Pasalnya di depan media massa, Raiola mengkritik pelatih Pep Guardiola yang dibilangnya tidak bisa memahami gaya main dan karakter Ibrahimovic. Orang pantas terkesima, rupanya kegagalan Ibra di Barca bukan dari kegagalan memahami tiqui-taka, melainkan lebih banyak disebabkan provokator agennya. Di Barca, waktu itu Ibrahimovic memang sama sekali tidak berkembang.

Barangkali di mata Raiola klub sebesar dan sehebat Barcelona pun dianggap kecil bila mau berperang. Luar biasa. Ada alasan? Tentu saja. Pertama dia punya pengalaman ‘berkelahi’ dengan dedengkot El Barca, yaitu almarhum Johan Cruijff, sewaktu masih berkecimpung menangani sepak bola Belanda di klub Haarlem. Apa yang diucapkan Raiola kepada Cruijff bikin mata orang melotot dan menggemparkan Belanda. Oleh Raiola, sang legenda nomor satu negeri itu dibilang ‘gila’ karena coba memperjuangkan setiap mantan pemain mendapat pekerjaan di industri sepak bola.

Meski kemudian dia meminta maaf langsung kepada Cruijff, namun sejak itu secara seketika Raiola kehilangan teman, kehormatan, relasi, dan pekerjaannya. Sepak terjang masa lalu Raiola memang sekedar kenangan belaka. Namun apapun yang salah dari tindak-tanduk, keputusannya, mulai sekarang atau besok, mampu mengguncangkan keindahan kariernya, bahkan jalan hidupnya. Namun mantan agen Pogba, yakni Gael Mahe, menyebut Raiola itu seorang jenius dalam urusan kesepakatan.


Mino Raiola, Antara Donald Trump dan Al Capone

“Dia adalah Donald Trump-nya sepak bola, seorang bermulut besar (banyak omong) akan tetapi tahu bagaimana cara menjual dan sukses membangun gedung pencakar langitnya sendiri (Trump Plaza). Sekarang para pemainnya memiliki nilai yang hampir sama dengan gedung-gedung di Manhattan,” lanjut Mahe tanpa tedeng aling-aling.

Masih belum puas memahami aneka tingkah polah dan bagaimana gumpalan ambisi seorang Raiola? Seorang klien yang sangat disayanginya, Ibrahimovic, memuji setinggi langit orang yang menjadi keran uangnya. “Apakah saya harus mengeja namanya di sini? Mino adalah seorang yang jenius,” tukas pesepak bola dengan penghasilan terbanyak keempat di dunia setelah Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Neymar Junior ini. (Arief Natakusumah)


TRANSFER BESAR MINO RAIOLA

Waktu
Pemain
Klub Baru
Klub Lama
Nilai Transfer
Januari 1988
Frank Rijkaard
AC Milan
Sporting CP
Tak terlacak
Juli-Agt 1993
Dennis Bergkamp
Internazionale
Ajax
£12 juta
Juli-Agt 2001
Pavel Nedved
Juventus
Lazio
£35 juta
Juli-Agt 2004
Zlatan Ibrahimovic
Juventus
Ajax
£14 juta
Juli-Agt 2006
Zlatan Ibrahimovic
Internazionale
Juventus
£21 juta
Juli-Agt 2009
Zlatan Ibrahimovic
Barcelona
Internazionale
£59 juta
Juli-Agt 2010
Robinho
AC Milan
Manchester City
£15 juta
Juli-Agt 2010
Mario Balotelli
Manchester City
Internazionale
£24 juta
Juli-Agt 2010
Zlatan Ibrahimovic
AC Milan
Barcelona
Sewa (£20 juta)
Juli-Agt 2012
Zlatan Ibrahimovic
Paris Saint-Germain
AC Milan
£18 juta
Januari 2013
Mario Balotelli
AC Milan
Manchester City
£17 juta
Juli-Agt 2014
Mario Balotelli
Liverpool
AC Milan
£16 juta
Juli-Agt 2016
Zlatan Ibrahimovic
Manchester United
Paris Saint-Germain
Gratis
Juli-Agt 2016
Henrikh Mkhitaryan
Manchester United
Borussia Dortmund
£31 juta
Juli-Agt 2016
Paul Pogba
Manchester United
Juventus
£110 juta
Juli-Agt 2016
Mario Balotelli
Nice
Liverpool
Gratis
Juli-Agt 2017
Romelu Lukaku
Manchester United
Everton
£78 juta
Share:

Serie A di Indonesia: Inter Bandung, Roma Jakarta

Bocoran awal soal Serie A akan mengeksekusi ide Premier League yang tak direalisasikan berawal dari Soccerex Asian Forum di Jordan, 3-4 Mei 2015. Gosip yang berkembang, EPL kesulitan karena jadwal main mereka terlalu padat. Diskusi serius Jaap Kalma, direktur komersial AC Milan, dengan Moayad Shatat, wapres klub Malaga, membukakan optimisme. "Kami melihat hal itu bakal terjadi," ujar Kalma. "Tanpa pengalaman di live event jangan harap Anda bisa jadi penguasa," timpal Shatat, lebih tajam.

Serie A di Indonesia: Inter Bandung, Roma Jakarta
Persib Bandung dan Internazionale. Di bawah satu kekuasaan.
Informasi segera menyebar cepat ke Italia. Harian berpengaruh La Gazzetta dello Sport menurunkan artikel yang menggairahkan dengan isu panas: "Pembukaan Serie A akan dihampar di negeri orang!" Ada 10 laga, katanya, yang telah dikemas. Lantas, ini tipikal Italia, muncullah polemik sana-sini. Rumor semakin hot sebab di hari berikutnya, FIGC merilis jadwal resmi Serie A.

Jika lolos verifikasi dan studi kelayakan serta melalui aneka aturan, maka jangan kaget bila Erick Thohir barangkali membawa FC Internazionale Milano memilih berlaga ke Stadion Si Jalak Harupat saat mendapat jatah laga global Serie A-nya. Cantik nian. Kebetulan Persib lagi menganggur gara-gara kompetisi ISL lagi reses entah sampai kapan. Dijamin Bandung tetap membiru. Istilahnya, tak ada Persib, Inter pun jadi.

Serie A di Indonesia: Inter Bandung, Roma JakartaSementara James Palotta, yang di smartphone-nya berisikan deretan kontak komunitas ofisial Romanisti di Indonesia, pasti bakal meloncat kegirangan saat Francesco Totti, ikon kaisar sepak bola Romawi, dipastikan tampil di Senayan. "Dapat Anda bayangkan jika Totti main di Jakarta? Amerika memang pasar terpenting kami, tapi tahukah jumlah Romanisti di Indonesia di Facebook kami? Indonesia adalah pasar terbesar kedua Roma," kilahnya.

Kemungkinan Jakarta kedatangan Roma, Bandung dengan Inter, atau Milan memakai Surabaya sebagai home-base satu laganya memang bisa menjadi kenyataan begitu kick-off Serie A musim depan dimulai 15-16 Agustus 2015. Di era liberalisme perdagangan global seperti sekarang ini, tampak segala regulasi akan bisa diatur asal saling menguntungkan.

Belum lama ini Menteri Perdagangan Republik Indonesia Rachmat Gobel membuka hubungan perdagangan dengan pemerintah Republik Italia di bidang fesyen dan kerajinan kulit. Serie A dan fashion adalah citra terkuat Italia di Indonesia, kulit citra Indonesia di Italia. Amat mungkin, hal itu berlanjut dan dikaitkan dengan kerjasama di bisnis sepak bola. Apalagi ada seorang putra Indonesia yang menjadi tokoh teras di Serie A.

(foto: twitter/instagram)

Share:

Serie A 2015/16: Ingin di Negeri Orang

Tak lama setelah memiliki ikon Kekaisaran Romawi, seorang pria yang hidupnya selalu diguyuri confidenza, kepercayaan diri, berjanji akan mengembalikan Serie A menjadi penguasa panggung tontonan global. Melihat akar sejarahnya, bisa jadi hal ini sebuah keinginan yang masuk akal.

Serie A 2015/16: Ingin di Negeri Orang
Dia melihat ada pasar mereka, besar sekali, di luar sana yang anehnya, sulit dimanfaatkan dan direguk. Sebagai pebisnis andal, orang ini sampai-sampai rela meninggalkan sanak saudara beserta kampung halamannya untuk menuntaskan impiannya. Pucuk dicinta ulam tiba. Kini impian itu kian mendekat. Adrenalinnya selalu menggelegak bila bicara kehebatan leluhurnya.

James Palotta bukanlah Don Corleone. Dan panggung Serie A juga bukan super-trilogi The Godfather. Namun misi keduanya sama, berleluhur sama, dan yang lebih penting, kebiasaannya tetap sama: selalu ingin menjadi pemenang. Usai membeli AS Roma, pada CNN dia mengungkapkan visi-misinya. Intinya, Serie A harus ada di mana-mana. Ditonton langsung di Boston, Shanghai, atau Jakarta. Wow.

Apakah ini sesuatu yang absurd? No way, sama sekali tidak. Menabrak hukum? Dari sisi mana disebut inkonstitusional? Ingat-ingat ini: aturan akan dibuat ketika kekuasaan sudah digenggam. Begini ciri khas orang yang darahnya dialiri mental pemenang. Sesuatu yang dilakoni leluhurnya sejak ribuan tahun silam. "Saya tidak tahu pengaruhnya di Italia, tapi saya tahu pengaruhnya bagi masyarakat di Boston atau di Shanghai," kata Don Palotta.

Seperti juga Don Corleone, Palotta adalah Americano sehingga aliran darah yang cepat mendominasi emosinya seperti kebanyakan Italiano. Dia tahu apa yang harus dilakukan ketika bayangan leluhurnya memanggil. Industri Serie A kini dalam posisi lampu kuning. Premier League dan La Liga berkibar bebas di Amerika. Bundesliga mulai menyeruduk terutama setelah Juergen Klinsmann menjadi pelatih nasional AS.

Hasrat Palotta mendapat sambutan hangat dari Aurelio De Laurentiis, capo di cappi tutti-nya Napoli, bos dari segala bos. Di Italia, orang ini paling lantang yang menyuarakan agar Serie A mesti bikin kejutan untuk melawan dominasi Premier League dan La Liga di pentas tontonan olah raga global. Wacana yang semakin bergaung untuk musim depan adalah niat Serie A untuk mementaskan laga resminya di beberapa kota besar di dunia, terutama di benua Amerika dan benua Asia.

Pers dunia serius mereka-reka wacana itu, bahkan sudah dianggap sebagai rencana, seusai tanpa diduga, Presiden FIGC (PSSI-nya Italia) Carlo Tavecchio belum lama ini merilis jadwal Serie A 2015/16 yang mengagetkan banyak orang. Ia berdalih pengumuman itu untuk kepentingan tim nasional Italia agar bisa leluasa menyiapkan skuad menjelang digelarnya Piala Eropa di Prancis pada Juni 2016.

Rilis jadwal Serie A memang belum berisikan siapa yang berlaga, tapi semua matchweek sudah terisi rapi. "Serie A mesti selesai 15 Mei 2016, laga perdananya 15 Agustus 2015," kata Tavecchio, dengan datar. Jadwal resmi Piala Italia dan final Piala Super Italia juga diumumkan. Menurut Maurizio Beretta, presiden Serie A, final SuperCoppa Italiana akan digelar 8 Agustus 2015 di sebuah kota di Cina, dengan catatan kecuali jika Lazio lolos ke kualifikasi Liga Champion.

Serie A 2015/16: Ingin di Negeri Orang
Presiden FIGC Carlo Tavecchio. Serie A berkepentingan sejalan dengan Italia.
Selidik punya selidik, pengumuman awal jadwal kompetisi terkait dengan evaluasi atau program pemulihan serta masa depan Serie A yang terancam semakin 'gelap' setelah kasus Parma dan penjualan Internazionale dan Milan ke tangan orang asing. Secara tradisi, kultur, dan konstitusional, di Italia orang asing sebenarnya dilarang memiliki utilitas dan entitas bisnis yang mengarah ke industri.

Namun faktanya, Erick Thohir kini menguasai mutlak Inter, dan Bee Taechaubol bakal ditawari saham lumayan gede, 48%, untuk berandil di Rossoneri. Ini orang Asia lho. Padahal dulu aktor Hollywood George Clooney dan taipan Rusia Roman Abramovich saja di-veto ketika ingin membeli klub kecil Como dan Cagliari.

Masa depan Serie A memang ada di persimpangan. Kompetisi ini mengalami penurunan bisnis justru di saat kebijakan pemain asing dan promosi bakat lokal sedang digenjot. Dua faktor ini bertujuan untuk menekan efisiensi di klub-klub dan mengantisipasi isu Financial Fair Play dari UEFA, yang semakin mendera.

Satu hal saja, gara-gara merugi terus, kini jatah Italia di Liga Champion tinggal 2+1, alias dua lolos ke putaran final 32 besar dan satu via kualifikasi. Celakanya bahaya ke depan terus menguntit mereka. Serie A harus menggunakan kesempatannya memperluas pangsa di industri tontonan di pasar bebas. Tavecchio menuding beberapa tokoh atau pentolan klub yang tak becus jadi biang keladi keadaan.

Ia memang konservatif dan nasionalis, namun analis masih berhati-hati di mana posisi Tavecchio sebenarnya berdiri. Memindahkan sebagian laga resmi Serie A, sebagai jalan terdepan untuk mendongkrak keuntungan, kalau memang jadi, merupakan pertama kali di kompetisi sepak bola profesional. Tapi apakah FIGC setuju?

Premier League

Sampai kini, opini signifikan dari mereka sebagai penyeimbang belum ada. FIGC masih berkutat merapikan isu strategis dalam teknis permainan yang sering menjadi gangguan atau stigma buruk Serie A. Jika Premier League telah memakai goal-line technology, maka baru di musim depan Serie A akan meresmikannya, dan hebatnya lagi mereka bakal diperluas pada judgement-line technology untuk membantu wasit ketika akan memastikan apakah penalti dan offside atau tidak.

Rupanya banyak harapan positif di sana sini di Serie A, terutama di benak teknokrat atau pebisnis sepak bola. Bisakah Anda imajinasikan siaran langsung pekan ke-3 Serie A antara Juventus vs Napoli yang sedang ditonton digelar di Stadion Emirates, London? Lalu pada pekan ke-21 antara Roma vs Milan di Jakarta? Nah, begitu kira-kira hasrat segelintir godfather calcio untuk menyikapi pola persaingan global yang memang bukan lagi antara B to B, tapi G to G.
Serie A 2015/16: Ingin di Negeri Orang
Taipan Napoli, Aurelio De Laurentiis. Pede dengan masa depan Serie A.
Inilah alasan kenapa mereka telah merencanakan 10 laga Serie A di masa mendatang bakal dihelat di New York, London, Paris, Beijing, Shanghai, Tokyo, Hanoi, dan Jakarta. Jika musim depan urung, musim berikutnya yang dibidik. Begitu seterusnya. Namun masih ada dua hal yang masih menjadi misteri.

"Kami terus memverifikasi kelayakan dan tujuan proyek ini untuk memuluskan lagi wajah sepak bola Italia yang kini bopak-bopak," kata De Laurentiis dengan tegas. Maaf, seperti halnya para mister presidente yang saling bekerja sama dulu dalam permusuhan untuk mendapatkan keuntungan, tampaknya para taipan Serie A juga begitu.

Godfather Napoli ini memang menjadi garda terdepan yang bekerja di dalam, sedangkan Palotta dari luar. Klop. Jika Don Tavecchio dan Don Beretta ikut akur, maka badai besar yang mesti diterjang adalah FIFA. Akankah mimpi besar Serie A dengan aneka kendala internal seperti finansial, pengaturan skor, rasisme, atau minimnya penonton akan jadi kenyataan? Gagal menaklukkan FIFA adalah sesuatu yang paling ditakutkan. Entah pertolongan dari dewa mana jika mereka akhirnya mendapat peluang mengatasinya.

Dalam cakupan lebih luas, ide Serie A cukup brilyan meski tidak orisinal. Premier League dikenang jadi penggagas awal berkompetisi di negeri orang, satu lompatan outside the box yang dikenal dengan 39th game meski tidak pernah dilakukan. Sesungguhnya Premier League pun bukan pencetus awal. Amerika Serikat-lah biangnya. NBA (basket) dan NFL (rugbi) berkali-kali tarung di London. Juga MLB (bisbol) digelar di Tokyo, bahkan NHL dihelat di Swedia, kompetitor utama dalam peta bisnis hoki es dunia.

Namun ikhtiar apapun tak pernah tanpa ada perlawanan. La Liga dan Serie A membaca motif Premier League sebagai ketamakan serta berniat untuk memiskinkan mereka. Selama ini Premier League penguasa 71% pangsa market global tontonan sepak bola (5 milyar), dengan asumsi populasi bumi 7 milyar orang, sesuai analisis USCB (United States Census Bureau) per 12 Maret 2012.

Anda akan terkejut bila jumlah itu dikomparasi dengan total penonton asli di semua stadion Premier League per musim. Statistik musim 2013/14 mencatat total penonton stadion Premier League yang 13.942.459 orang. Bayangkan, tidak sampai 14 juta orang. Amat 'sadis' dibandingkan dengan 5.000 juta orang yang menjadi pasar mereka.

Karena total populasi Inggris dan Wales menurut sensus 2013 sebanyak 56.948.200 orang (53.865.800 + 3.082.400), alhasil rasionya tidak sampai 24,48%. Sehingga bisa disimpulkan begini, kira-kira hanya satu dari setiap 4-5 orang di Inggris dan Wales yang menjadi penonton langsung EPL alias datang ke stadion.

Itulah kenapa La Liga jadi meradang, dan Serie A yang jelas kian miskin. Berkurangnya satu jatah langsung ke Liga Champion adalah konsekuensi berikut. Tentu saja ini terlalu hina buat sebuah negeri yang telah merengkuh empat kali juara dunia. Italiano tahu betul, lebih baik mereka langsung meladeni Premier League. Merebut kembali pasar mereka berarti menggairahkan lagi industri calcio, yang akan menegakkan kepala mereka.

(foto: mondialebrasile/maxmanroe/sportsky/si/italianfootballdaily/whoateallthepies)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini