Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Tampilkan postingan dengan label Playmaker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Playmaker. Tampilkan semua postingan

Playmaker (46): Inter, Indonesia, dan Erick

SEPERTI halnya mayoritas negeri-negeri Asia-Afrika yang tak pernah mau menganut kapitalisme secara total, di Indonesia uang juga tak pernah bisa membeli sepak bola, kecuali untuk menguatkan pengaruh dan kekuasaan. Hanya di Eropa dan Amerika, sepak bola dan kekuasaan bisa dikawinkan. Jadi, sepak bola yang sesungguhnya itu hanya ada di Nusantara. Jadi, berbanggalah.

Playmaker: Inter, Indonesia, dan Erick
Eit tunggu dulu. Jangan salah, saya tak akan membahas politik dan kekuasaan. Ketika Italia dan Eropa terhenyak wow mengetahui Erick Thohir menjadi pemilik baru FC Internazionale Milano, kesan pertama penggila bola di Tanah Air cuma oke atau setidaknya aha! Mengapa demikian? Ya itu tadi, karena inilah Indonesia - tanah tumpah gairah sepak bola yang sejati.

Erick tahu di Indonesia basis Interisti tak sebesar Milan apalagi Juve. Juga di mata komunitas Manchester United, Liverpool, Arsenal, Chelsea, Real Madrid atau Barcelona. Tapi buat milyuner kelahiran Betawi, 30 Mei 1970 ini yang namanya passion, kecintaan dan peluang adalah segala-galanya. Dia yakin pasar sepak bola masih terbuka luas dan belum banyak dimanfaatkan.

Sejak kecil Erick menggilai sepak bola dan penggemar berat De Oranje, tim nasional Belanda. Saat diwawancara Anna Capella dari Sportmediaset yang khusus datang ke Jakarta dari Italia, banyak yang dia ungkapkan terutama pandangannya tentang bisnis dan sepak bola yang dipublikasi dengan judul Calcio e Business, il Ritratto di Erick Thohir. Sepak bola dan bisnis, potret seorang Erick Thohir.

Masyarakat di Indonesia barangkali belum banyak tahu sisi lain Erick sebagai Interisti sejati. Bangun dinihari untuk nonton Nerazzurri, usai meng-indik-ngindik agar tak membangunkan anak-bininya; sampai menyebut Nicola Ventola - eks striker Inter 1990-an - sebagai pemain favoritnya. Namun di Italia sana, publik sangat terkejut dan heboh dengan pengakuan Erick seperti itu.

Uniknya lagi, Ventola kini punya pacar model dan presenter, Kartika Luyet, yang beribu Indonesia. Erick bikin Indonesia berkumandang di Milano dan Italia, tanah air calcio. Gaungnya tentu jauh lebih "nendang" dibanding membeli Washington DC United (MLS) dan Philadelphia 76'ers (NBA). Maklum, untuk urusan olah raga kiblat masyarakat Indonesia memang ke Eropa.

Nama Erick kurang mengglobal saat menekuni bola basket. Di sini, dia terkenal sebagai pentolan Perbasi, Satria Muda, sampai Indonesia Warrior. Atau, sebagai taipan media cetak, online dan TV, film, energi, properti, resto atau pernah punya koran Muslim terbesar, Republika. Sama sekali tak terdeteksi hasratnya pada sepak bola Indonesia yang maha polemik itu.

Tiga Faktor

Playmaker: Inter, Indonesia, dan Erick
Javier Zanetti (managing director) dan Walter Mazzarri (manager).
Sejak akhir 1980-an, Serie A mengharu-birukan publik Tanah Air sebab inilah satu-satunya liga di Eropa yang kegilaan dan budayanya paling mirip dengan Indonesia. Calcio tetap mengakar meski dihajar kapitalisasi Premier League dan Liga Champion. Keputusan Erick bukan tanpa perhitungan. Yang pasti, Inter adalah triumvirat Serie A bersama Juve dan Milan. Sepak bola selalu terikat dengan sejarah, reputasi dan identitas. Dalam bisnis terjemahannya cuma satu kata: brand. Di sela-sela pertemuan bisnis belum lama ini, Erick beralasan lebih memilih membeli Inter daripada West Ham United, atau kenapa bukan AC Milan misalnya? 

Jawabannya senada. Saya berani bertaruh, tampaknya Erik lebih suka warna biru ketimbang merah. Tak percaya? Dalam akun twitter-nya yang di-follow 42 ribuan, kesan biru kian tampak seperti warna The Sixers. Di olah raga, Erick itu bernuansa biru melihat kedekatannya dengan Persib, komunitas Viking, atau Bobotoh, meskipun salah satu anaknya adalah Juventini. Minatnya pada suporter amat besar sebab dia mem-follow akun Barra Bravas, grup suporter bola ultra-fanatik di Amerika Latin.

Aneka simbol itu, sungguh, makin membuat sepak bola sebagai olah raga yang paling manusiawi. Dan, melihat fenomena sepak bola di negerinya sangat luar biasa, anak dari Teddy Thohir - tandem William Soeryadjaya saat membangun Astra di 1970-an - boleh jadi lebih memilih strategi blue ocean untuk membangun impiannya bersaing di pentas sepak bola dunia.

Lulusan MBA di UCLA pada 1993 ini menguasai 70 persen saham Inter lewat gelontoran fulus 480 juta euro alias lebih dari Rp 7,2 trilyun. Dengan komposisi itu hampir pasti dia akan jadi presiden Inter terbaru, medio November ini di Milano. Sebelum waktunya itu, dia mengaku tak mau bersuara banyak, semata-mata menghormati turun temurun Dinasti Moratti dan Interisti.

Target mengembalikan positioning klub dalam dua tahun jadi bagian inti visinya, yang mencakup tiga kata kunci: values, affection, dan tifosi. Karena Inter lagi nganggur total di Eropa, saat yang tepat mengonsolidasi diri. Agaknya, Erick akan memanjakan Walter Mazzarri di bursa transfer Januari serta meng-assesment Piero Ausilio dan Marco Branca, dua otak mercato di Inter. @riefnatakusumah

(foto: elenganche.es/republicca.it)

Share:

Playmaker (4): Revolusi Passion

INGGRIS adalah negara kapitalis terkuat kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Olah raga, kebutuhan hidup yang mestinya bikin orang senang dan menyehatkan, pun telah terjerat oleh faktor untung atau rugi. Kesuksesan tak diraih lewat biaya murah sehingga uang adalah risiko terbesar. Ujung-ujungnya, pakem "high risk, high return" menjadi pertaruhan klub-klub Inggris.

Playmaker: Revolusi PassionPremier League disaksikan di 211 negara. Data ini cukup mencengangkan sebab 'anggota' Premier League ternyata lebih besar dari anggota PBB (193) dan FIFA (208). Premier League membuat penduduk bumi ketagihan. Mulai dari Lagos sampai Los Angeles, Mumbai hingga Melbourne. Efek positifnya bisa melahirkan inspirasi bisnis dan kepahlawanan. Dampak negatifnya akan menularkan pandemi emosi bahkan khaos.

Setiap bulan saja, pihak imigrasi Inggris mencap ribuan paspor dari seluruh dunia di mana para turis cuma punya tujuan menonton langsung sepak bola di London, Manchester, dan Liverpool. Dari fakta di atas, bisa dipastikan Premier League tak lagi jadi obsesi nasional atau regional, tapi internasional. Klub-klub topnya punya orientasi kuat melebarkan pasarnya, pendapatannya ke belahan dunia lain terutama di Asia.

Dengan cepat Premier League memasuki periode transisionalnya. Jargon Big Four selain dipertarungkan di klasemen, juga dipertaruhkan secara bisnis dan pasar global. Di sepak bola, Inggris seperti lagi menapaktilasi industri musiknya pada era 1960 dan 1970-an ketika The Beatles, The Rolling Stones, The Who, Pink Floyd, atau Deep Purple mengusung 'Great Empire' di jagat raya passion.

Saat pertama didirikan pada 1992, di Premier League cuma ada 11 pemain asing (non-Britania + Irlandia), namun sekarang ada 70-an negara yang punya minimal satu pemainnya tampil di divisi utama Liga Inggris. Begitu pula para manajernya. Selain dari Britania, datang dari Prancis, Italia, Belanda, Portugal, dan Spanyol. Hal yang sama pada hadirin yang nonton langsung di 20 stadion setiap pekan.

Kenaikan dramatis Premier League paling terasa di televisi. Di Afrika saja sekitar 400 juta rumah terutama di Nigeria, Ghana, Pantai Gading punya saluran khusus Premier League setiap pekan! Hitungan jumlah penonton Great Empire jilid II makin menggila lagi tatkala statistik di Cina, India, dan AS - tiga negara yang populasi penduduknya terbesar di dunia ikut dimasukkan.

Tujuan Bisnis

Sebagai fenomena global, skala bisnis Premier League bahkan melebihi Piala Dunia atau Piala Eropa. Demi menjaga kepentingan industri sepak bolanya, Premier League terus memanjakan konsumennya terutama di Asia, benua berpenduduk 4,3 milyar jiwa atau 60 persen pangsa pasar populasi manusia di bumi. Berpatokan kepada eksistensinya, Manchester United sering diidentikan dengan simbol sukses, agresif, dan dominan.

Persepsi Arsenal adalah permainan seksi, segar, dan muda. Chelsea dan Manchester City diasumsikan menjadi simbol baru kemapanan atau kemantapan. Adapun Liverpool masih diyakini sebagai lambang kepercayaan dan tradisional. Berkat persaingan yang lebih merata dan kompetitif dibanding liga-liga lain, Premier League memang diyakini punya pendukung yang terbanyak di dunia.

Dalam survey di Facebook sampai Maret 2012, diambil dari jumlah 'likes' diketahui Manchester United punya penggemar terbesar (23.447.069). Diikuti Arsenal (9.458.748), lalu Chelsea (9.144.601), Liverpool (8.735.235) serta Manchester City (4.204.927). Dari data resmi yang jadi patokan pasar, total fan United berkisar di angka 75 juta (Asia 40,7 juta, Eropa 23 juta, Amerika Latin 6 juta, dan AS 4,6 juta).

Seperti dikutip dari The Guardian, belakangan United malah mengklaim punya massa 659 juta. Dari jumlah itu, telah diperinci 325 juta fan mereka ada di Asia Pasifik, 173 juta dari Timur Tengah dan Afrika, 108 juta di Cina, dan hanya 1% saja kontribusi dari Britania Raya. Apa yang Anda pikirkan tentang itu? Apakah data konsumen tersebut yang menjadi tujuan permainan Alex Ferguson atau target bisnis Malcom Glazer?

Apakah jawabannya adalah tujuan sepak bola telah digunakan sempurna oleh kapitalisme? Setelah dibeli Sheikh Mansour Al-Nahyan muncul pada 2008, Manchester City menjadi klub terbaru yang memadukan filantropis sang pemilik dengan prestasi kongkrit demi tujuan bisnis dengan total. Lima tahun sebelumnya orang Rusia bernama Roman Abramovich juga melakukannya di Chelsea.

Sebenarnya buat bangsa Inggris revolusi passion berikutnya di sepak bola, bukanlah aplikasi baru dalam ekonominya sebab mereka telah berpengalaman ratusan tahun sebelumnya dengan melahirkan revolusi musik bahkan revolusi industri.@riefnatakusumah

(foto: review.premierleague.com)

Share:

Playmaker (3): Manusia Setengah Dewa

DI DALAM buku klasik The Football Man, Arthur Hopcraft bilang cara termudah mengerti manusia, maka pahamilah orang-orang jenius di olah raga. Lionel Andres Messi ada di kuadran ini, sehingga memudahkan kita memaknai kiprahnya, kehidupannya, dengan baik.

Playmaker: Manusia Setengah DewaSensasi Messi terus melebar setiap waktu, setiap pekan. Sulit distop selama dia menari-nari di atas rumput hijau. Entah sampai kapan. Satu hal penting yang mungkin menggelitik adalah awal mulanya. Siapa orang yang paling berjasa untuk melangkahkan kaki sang bocah ke sepak bola pertama kali? Jangan salah, Anda pasti terkejut mengetahui fakta sebenarnya. Apakah dari 'darah' dan DNA ayahnya? Jorge Horacio Messi, ayahnya, berargumen bahwa orang itu adalah nenek Messi sendiri. Ada juga yang berkata sebenarnya Don Salvador Ricardo Aparicio, pelatih Grandoli, sebuah klub kecil di Rosario. Semua masih samar-samar.

Argumen ini bermula sebab Aparicio-lah yang meminta pada ibu Messi agar bocah lima tahun yang dibawanya ke stadion itu dibolehkan main untuk menutup kekurangan pemain di timnya. Sang ibu, Celia Maria Cuccitti, mengajak Messi saat menonton Rodrigo dan Matias - dua kakak kandung Messi - bertanding pada liga anak-anak. Insting sang pelatih langsung tergoda, sebab dari kejauhan ia terus menatap bocah Messi tengah memantulkan bola ke dinding. 

Playmaker: Manusia Setengah DewaCelia Maria setuju. Kostum tim langsung dikenakan ke tubuh kecilnya. Namun semuanya kecewa sebab anak ini tak bisa apa-apa setiap dapat bola. Rupanya ada yang salah. Bola itu selalu dioperkan ke kaki kanannya, sebab cerita jadi beda saat bola ada di kaki kiri. Tak satupun bisa merebutnya!

Pengganti Maradona

Dia adalah the little man with the big reputation, orang kecil dengan reputasi besar. Kasak-kusuknya banyak yang tahu, kecuali mungkin bagaimana cara dia mencapai nomor wahid di dunia, atau apa satu-satunya tantangan terbesarnya.

Rosario, kota kelahiran pejuang klasik sosialis Che Guevarra, setelah itu dilanda kasak-kusuk hebat. Seorang anak yang ditunggu-tunggu telah datang. Dalam kultur sepak bola negeri tango, penantian akan Pibe, bocah pembawa mukjizat, figur hebat, yang selalu diyakini reinkarnasinya. Eduardo Archetti, seorang sosiolog, bercerita tentang budaya bola di negerinya yang selalu menantikan kedatangan El Pibe sejak 1920-an.

Hanya seseorang yang sebelumnya memiliki julukan itu: Diego Armando Maradona. Sepak bola Argentina lahir lewat imajinasi individu yang luar biasa. Pada 1928, pada kolomnya di majalah El Grafico, Ricardo Lorenzo Rodri­guez Borocoti memelopori satu monumen khusus yang hanya boleh ditulisi nama luar biasa yang hebat secara luar biasa mendribel bola.

Penantian manusia setengah dewa juga dicurahkan secara ekpresif dalam sebuah lagu. Pada 1943 tembang berjudul "A Tango, El Sueo Del Pibe" langsung populer di akhir 1970-an tatkala seorang Diego Armando Maradona mulai santer dikenal publik. 

Playmaker: Manusia Setengah DewaPokoknya jika ada anak yang jago dribel bola pada potrero, tempat-tempat tak lazim di seperti atas genteng, di anak tangga, di tempat becek maupun di permukaan kasar, dia langsung diangkat jadi figur. Jika dia menjadi pemain reguler, panggilannya akan berubah La Nuestra alias (dia) milik kami.

Dalam prasasti tersebut, wartawan Argentina kelahiran Uruguay itu menulis: "Ini tempat bagi seorang Pibe yang berwajah lusuh, berambut berantakan tak pernah disisir; yang dengan kecerdasannya, daya jelajahnya, aksi tipuannya, mata meyakinkan dan berkilauan mampu menghentikan tawa orang-orang karena melihat sederetan sisa-sisa roti kemarin pada barisan gigi kecilnya."

Lagu itu tercipta 43 tahun sebelum El Diego mencetak gol cum laude sepanjang masa, gol kedua lawan Inggris di Piala Dunia 1986, lalu menakhodai Argentina menjadi juara dunia. Maka di usia 25 tahun 8 bulan itu, lahir julukan resmi: Maradona adalah Argentina, dan Argentina adalah Maradona. Bagaimana dengan Messi? Brasil 2014 adalah pertaruhannya di kala menapaki usia 27 tahun. Messi terus melangkah ke sana. "Setelah Maradona, masalah kita adalah menantikan kedatangan El Pibe penggantinya," kata Archetti pada 1990.

Well, Maradona tak akan bisa dibandingkan lagi jika di 2014 Messi meraih sesuatu. Bahkan dia akan mengubur reputasi Maradona selamanya, mengingat 113 gelar yang telah diraihnya secara kolektif maupun individual, di klub dan timnas. Bayangkan, 113 gelar!  Yang teranyar adalah memecahkan rekor gol setahun Gerd Mueller (86 gol) yang bertahan 40 tahun. Jelas, Messi cuma satu gelar: titel Piala Dunia! Semoga ia dinaungi nasib mujur. @riefnatakusumah

(foto: trollfootball.me/livemint/pravdoruboklon.diary)

Share:

Playmaker (2): Michu Sang Pemicu

BUAT penggemar dan penggila game fantasi Liga Inggris, pemain yang satu itu memang jadi idaman. Nama bekennya simpel tapi nilai potensinya sungguh menggoda para manajer, termasuk Anda! Michu alias Miguel Perez Cuesta dibeli Swansea City cuma seharga 2 juta pound. Artinya 25 kali lebih murah dibanding seorang Fernando Torres.

Playmaker: Michu Sang PemicuPria murah senyum yang ternyata sekampung dengan pembalap Formula 1 Fernando Alonso itu, punya rasio 128 menit per 1 gol dengan dua assist. Cukup menggoda. Nilai tambah lain dia adalah sering jadi katalisator alias roda penggerak permainan The Jacks. Gerak geriknya yang gemulai kerap mempedaya bek-bek lawan. Statistik pribadinya cukup menggiurkan meski baru 16 kali tampil di Premier League. 

Sebanyak 60.000-an ribu penonton di Emirates, dan ratusan juta di seluruh dunia via live, Sabtu (1/12), menjadi saksi anyar moleknya naluri predator dan efektivitas pemain setinggi 185 cm itu saat melawan Arsenal. Tinggal tiga menit lagi dan laga tampak akan berakhir seri, namun seketika itu pula, Michu mampu mengubah jalannya sejarah pertandingan.

Pertama, sebuah umpan Chico Torres dan tik-tak dengan Luke Moore sontak menggerakkan adrenalin Michu pada tujuan kongkrit. Lewat insting sempurna, ia mengecoh kawalan duet Thomas Vermaelen dan Per Mertesacker yang berdiri sejajar. Bak geliatan seekor kijang dari sergapan singa, Michu terus melaju, one on one dengan Wojciech Szczesny. Bola dicongkelnya. Gol. 0-1.

Gol kedua Michu di menit 91 juga menunjukkan dirinya selalu the right man in the right place on the right time pada situasi kritis. Sodokan bola oleh Nathan Dyer dari penguasaan Carl Jenkinson, pas jatuh di kakinya. Nyaris separo lapangan dan dengan dua kaki panjangnya, dia menggenjot bola sampai berhadapan lagi dengan Szczesny. Bola dilesakkan ke sudut sempit. Gol. 0-2. Game is over!

Awal manis di Loftus Road dan akhir gemilang di Emirates akhirnya mendudukkan Michu di daftar pencetak gol terbanyak, 10 gol, bersama Robin van Persie, Luis Suarez, dan Demba Ba. Tapi dari rata-rata gol dari jumlah tendangan versi Opta, dia mengungguli RvP. Michu 25%, Van Persie 20%. Artinya setiap empat tendangan Michu menjadi satu gol.

Jadi Buruan

Terjadi lonjakan prestasinya itu dibanding saat ia membela Rayo Vallecano (16,9%). Keefektivitasan penyerang tengah palsu itu juga di atas dua penyerang tengah sejati, Edin Dzeko (21,4%) dan Steven Fletcher (22,2%). Dari 11 golnya, tujuh dilesakkan kaki kiri. Empat lagi dari sundulan. Improvisasi pria kelahiran 21 Maret 1986 itu bukan itu saja.

Di tangan Michael Laudrup, Swansea menganut sistem free-flowing yang menuntut permainan passing layaknya gaya Barcelona dulu. Dan, akurasi passing Michu - sebagaimana biasanya pesepak bola Spanyol - juga yang terbaik di Premier League dengan tingkat akurasi mencapai 79,5%. Keunggulan Michu juga pada rendahnya rata-rata dribel bola, 20%, yang menunjukkan dia bukanlah seorang gelandang kolot.

Nama Michu pertama kali menyeruak ke blantika Premier League pada 18 Agustus silam di Loftus Road. Saat itu The Swans menghantam tuan rumah Queens Park Rangers 5-0, dan ia mencetak dua gol! Media massa Inggris pun heboh. Sama halnya jagat fantasi. Tak ayal lagi, Michu adalah top bargain player di Inggris sekarang ini.

Nah, jangan lagi Anda sebagai 'manajer' Michu dalam permainan fantasi Liga Inggris, deretan manajer Premier League pun kini mulai antri meminangnya. Misalnya Arsene Wenger dan Brendan Rodgers, bahkan Walter Mazzarri (Napoli) dan Luigi Delneri (Genoa). Michu telah memicu genderang perang bursa transfer jilid dua yang mulai dibuka bulan depan.

Buat Liverpool, Michu adalah missing-link yang tepat sebagai supplier atau distributor bola ke Suarez. Bagi Arsenal sendiri, Michu bisa menjadi Robert Pires baru. Dengan harga awal 2 juta pound, nilai Michu versi Transfermarkt naik 3 kali lipat. Konon Wenger berani menutup 12 juta pound. Kendati kontrak Michu baru berakhir 30 Juni 2015, namun sanggupkah Swansea menahannya? @riefnatakusumah

(foto: scafc.ru)

Share:

Playmaker (1): Chameleonic Leader

TAK dapat dipungkiri, Desember tampaknya menjadi bulan paling menggairahkan Republik Bianconeri dalam perjalanan mencapai target musim ini. Juventus semakin kokoh sebagai capolista di pekan ke-14.

Playmaker: Chameleonic LeaderKembalinya Antonio Conte sebagai manajer, serta satu kaki yang sudah menapaki babak 16 besar Liga Champion, bukan saja melegakan dan membahagiakan kaum Drughi di manapun berada, namun juga terus menaikkan moral Andrea Pirlo dkk. hingga berlipat ganda. Kerja keras, tekad kuat, dan percaya diri adalah faktor kunci Juventus di Serie A musim ini yang terus sukses menghindari diri dari kejaran Napoli. Kemenangan sempurna 3-0 atas Torino dalam laga bertajuk Derby della Mole, Sabtu (1/12), juga kian meningkatkan fokus mereka di kancah Eropa. Rabu (5/12) atau Kamis dinihari WIB, Juve melakoni laga yang menentukan perjalanan reputasinya di Donbass Arena, Donetsk, Ukraina.

Melawan Shakhtar, La Vecchia Signora cukup meraih satu poin untuk menyingkirkan juara bertahan Chelsea di persaingan Grup E. Syukur-syukur bisa menang, jika merasa pertemuan awal dengan dua tim favorit, Barcelona atau Manchester United, memang harus dihindari lebih dulu. Itulah kenapa kemenangan atas Torino dianggap tepat waktu dari berbagai dimensi.

Dari tiga hadiah di Desember, hadirnya kembali sang manajer merupakan kebahagiaan puncak. Ahad (9/12), Conte dipastikan berada lagi di tepi lapangan kala Juve melawat ke Renzo Barbera untuk meladeni Palermo. "Kami kehilangan ucapan-ucapannya, motivasinya, hingga perubahan taktik seketika di pinggir lapangan," sebut Pirlo pada Tuttosport, sebuah koran yang pro-Juve.

Masa hukuman Conte atas skandal pengaturan pertandingan saat menangani Siena di 2010/11, telah direduksi Pengadilan Arbitrasi Olah Raga Italia pada 5 Oktober silam menjadi empat bulan setelah ditemukan sejumlah bukti baru. Sebelumnya pada 13 September 2012, FIFA sempat menyetujui embargo selama 10 bulan atas Conte untuk berbagai aktivitas di sepak bola.

"Massimo Carrera dan Angelo Alessio juga bagus. Tapi tanpa Conte jelas berbeda. Sulit bermain tanpa komando Conte dan temperamennya, sebab dia yang paling tahu bagaimana menghela kami," timpal Andrea Barzagli. "Winning mentality yang ada di dirinya kini ditularkan kepada pasukannya," beber Gianluca Pessotto, eks rekan main Conte di Juve dulu.

Sepak Bola Hati

Kejengahan tanpa Conte, seperti kata Barzagli tadi, sangat signifikan dalam grande partita bukan di laga biasa. Itu yang membuat Juve kalah 0-1 dari Milan dan 1-3 dari Inter. Tanpa Conte secara langsung pula, Juve rawan diterpa kebimbangan dalam merawat target. Maklum kali ini Juve sibuk di Eropa, tidak seperti musim lalu.

Banyak yang mengakui, Antonio Conte adalah simbol kebangkitan Juventus, pencetus klub "immortal" ketiga di era sepak bola modern setelah AC Milan 1991/92 dan Arsenal 2003/04. Sisi istimewa Conte adalah sikap patriotiknya yang kelewat tinggi bukan saja untuk Juventus namun juga Italia secara keseluruhan. Semangat inilah yang ia ditebarkan di Liga Champion.

Ia mengakui Serie A tengah mengalami stagnasi dalam persaingan. "Kita butuh perubahan dan terus berkembang karena ada perbedaan yang luas antara sepak bola Italia dengan negara lain. Ada kontes tertentu dalam skala ekonomi tapi kita punya ide-ide, organisasi, hati dan kaki," paparnya setelah Juve meremukkan Chelsea 3-0, akhir bulan lalu.

Di Juventus, Conte mengubah mental kemenangannya berupa trilogi: rasa hormat, tidak takut, dan kesadaran, yang kini menjadi falsafah bermain Bianconeri. Dalam sebuah kolomnya, Adrian Del Monte menyebut pria 43 tahun itu sebagai simbol kebangkitan 'sepak bola hati' setelah era Marcello Lippi, dengan penekanan pada possession dan pressing.

Dalam satu sisi, Conte kerap disimilarisasikan dengan Jose Mourinho, sesama Chameleonic Leader. Ini satu ungkapan halus untuk seorang manajer diktator yang menjelma menjadi teman terbaik para pemain dan segrup tifosi berkategori ultra yang berpengaruh. Conte tampak rendah hati dan tidak berapi-api di depan jurnalista namun selalu lapar kemenangan.

Beberapa wartawan Italia masih kerap bingung melihat gestuur, ketenangannya serta tutur kata yang halus serta sangat diplomatis. Sangat berbeda saat mengawal timnya bertarung. "Apa rahasia Anda dalam memotivasi pemain?" begitu seorang wartawan bertanya suatu kali. Dan, Conte menjawab: "Ah, biasa saja. Saya cuma menyuruh mereka kalau perlu makanlah rumput itu," jawab sang tokoh dengan mimik santai. Selamat datang kembali Don Antonio! @riefnatakusumah

(foto: provenquality)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini