Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Tampilkan postingan dengan label Asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asia. Tampilkan semua postingan

Australia Ke Zona Asia, Seharusnya Menjadi Australasia

Ini bak kisah perkawinan. Setelah berjuang dan menanti selama 45 tahun, sebuah pinangan untuk mengawini pujaan hatinya, tahun ini hampir pasti kesampaian. Mempelai pria, anggap saja begitu, adalah Australia. Mempelai wanitanya siapa lagi kalau bukan Asia, dalam hal ini AFC. Pinangan pertama telah diajukan ke Kuala Lumpur, markas besar AFC, pada 8 Maret silam yang disaksikan oleh FIFA sebagai calon penghulu perkawinan kelak.

Australia Ke Zona Asia, Seharusnya Menjadi Australasia
Sebulan sebelumnya Australia (28/2) minta izin OFC (Konfederasi Sepak Bola Oseania), besan pertama, di Noumea, Kaledonia Baru. Untuk mencari Hari-H pada 23 Maret bos FFA Frank Lowy mengundang 'besan kedua' yaitu Presiden AFC, Mohammad bin Hammam, ke Sydney.

Dalam pertemuan penuh kekerabatan itu, nyaris tiada permintaan dan harapan yang tidak disepakati. Intinya, bos AFC itu ingin menunjukkan diri bahwa Asia akan menjadi mertua yang baik bagi Australia. "Pertama-tama yang ingin kami ungkapkan...," buka Bin Hammam pada sambutannya, "...ini adalah saatnya sepak bola telah bersatu. Secara umum, bergabungnya Australia ke AFC merupakan keuntungan bagi persepak-bolaan dunia. Kami juga percaya ini sebuah peristiwa yang paling pas dengan pihak yang tepat."

"Cinta pada pandangan pertama telah muncul sejak kita pertama kali bertemu di Kuala Lumpur tahun lalu, balas Lowy dengan bercanda. Semua hadirin di ruangan itu tersenyum simpul dan bersahaja. Di pihak lain, walau ada kesan pasrah dan rada sedih, akhirnya dengan besar hati OFC mendukung keinginan 'putra sulungnya' itu semata agar lebih bisa berkembang di masa mendatang. Pada 17 April kemarin, restu telah keluar usai rapat executive committee yang dipimpin langsung Presiden OFC, Reynard Temarii.

Saat Pengesahan

Mereka sepakat menerima proporsal resmi keluarnya Federasi Sepak Bola Australia (FFA) dari keanggotaan di OFC serta mendukung bergabungnya FFA ke AFC sebagai bagian dari hubungan baik. Harapan OFC pada Australia adalah tetap memainkan peranan penting menyangkut pembinaan dan kerja sama lain. Sampai kapan pun, OFC tetap menganggap Australia sebagai keluarganya sendiri. Duh, melankolisnya.

"Sepak bola adalah sebuah permainan yang berkembang dan pada waktunya kami menerima kenyataan itu. Saya mendukung penuh kepindahan Australia ke Asia demi pembangunan sepak bola di Australia itu sendiri, kesempatan yang juga bisa didapat anggota lainnya. Hikmah di balik ini adalah kami harus bekerja lebih keras lagi untuk mengembangkan sepak bola di wilayah ini," ungkap Temarii tanpa bermaksud menyindir niat Selandia Baru untuk mengikuti jejak kakaknya.

Kini kedua pihak dan kedua mempelai tinggal menunggu Hari-H yang telah ditentukan, yakni pada Juni mendatang, kala para anggota Executive Committee FIFA akan mengadakan rapat untuk memberi cap stempel karetnya atau tidak. Tapi bagai pria yang ngebet kawin, pihak FFA amat yakin hasrat Australia akan menjadi kenyataan.

Enaknya lagi, setelah bergabung nanti, peluang Australia tampil di Piala Dunia 2006 tetap terbuka. Tinggal mengatasi Kepulauan Salomon di play-off zona Oseania pada September 2005, The Socceroos kembali menanti siapa peringkat lima zona Amerika Selatan yang akan dihadapinya untuk memperebutkan satu tiket terakhir pada November 2005. Kejadian pindah-pindahan seperti ini kembali merepotkan FIFA. Iya kalau dari Asia ke Eropa, yang sama-sama banyak anggotanya. Bagaimana kalau dari zona abu-abu di mana anggotanya terbatas dan peta kekuatannya terbilang gurem?

Piala Asia 2007

Langkah egoistis Australia ini sebenarnya merugikan dua pihak sekaligus, Asia dan Oseania. Dengan masih simpang siur kepastian jatah tetap tiket ke Piala Dunia berikutnya bagi zona Asia, sudah tentu peta persaingan kian berat. Sementara itu, gigi OFC juga makin tumpul saja lantaran selama ini Australia adalah maestro wilayah Oseania. Bagi sebagian negara Asia atau anggota AFC, nama Australia bukanlah sesuatu yang asing.
Australia Ke Zona Asia, Seharusnya Menjadi Australasia
Stan Lazaridis vs Ismed Sofyan. Tetangga terdekat.
Sejak ikut Pra-Piala Dunia di 1965, mereka telah mengikat diri dengan Asia hingga kembali ke zona Oseania pada 1989. Dengan Indonesia, Australia dua kali sekandang pada PPD 1973 dan 1981 dalam zona Asia/Oseania. Memang obsesi Australia adalah World Cup. Dengan membanjirnya bakat dan bintang yang melimpah - sebut saja misalnya Tim Cahill (Everton), Harry Kewell (Liverpool), Stan Lazaridis (Birmingham City) atau Brett Emerton (Blackburn Rovers) - hampir seluruh rakyat, bahkan termasuk PM John Howards, sangat mendukung ide brilian tersebut.

Australia pertama dan terakhir kali tampil di Piala Dunia pada 1974 di Jerman. Belakangan, mereka selalu gagal di saat-saat akhir. Bahkan pada tiga kualifikasi Piala Dunia terakhir The Socceroos selalu tersisih secara tragis. Menjelang 2002 disingkirkan Uruguay, pada 1998 disisihkan Iran, dan pada 1994 oleh Argentina. 

Akankah mereka gagal lagi menuju Jerman 2006? Tampaknya tidak, karena Australia telah meninggalkan statusnya sebagai jawara Osenia, yang selalu gagal bila diadu secara play-off oleh wakil Amerika Latin atau Asia. Dengan masuk wakil Asia, kemungkinan mereka lolos langsung ke Piala Dunia terbilang besar. Itulah strategi, alasan, atau tepatnya "akal bulus" mereka hingga mau pindah zona. Zona AFC hanya ditawarkan perkembangan pasar dan persaingan yang kompetitif, namun secara pribadi, Australia menangguk keuntungan jauh lebih besar.

Pengukuhan Australia sebagai anggota AFC yang ke-46 akan dirayakan sekitar September depan pada rapat eksekutif AFC di Kuala Lumpur. Setelah itu, akan dipastikan Australia sudah bisa mengikuti kualifikasi Piala Asia 2007 yang putaran finalnya menurut rencana akan berlangsung di empat negara sekaligus: Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Setelah lamarannya dua kali ditolak AFC pada 1960 dan 1972, akhirnya impian panjang Australia untuk membina kembali mahligai sepak bolanya dengan bangsa-bangsa Asia kesampaian sudah. Mungkin, pada waktunya nanti, kedua benua itu  harus siap menanti kelahiran 'buah perkawinan' mereka yang akan diberi nama zona Australasia

Australia vs Asia Di Kualifikasi Piala Dunia


Pra-Piala Dunia 1966                                   
21 November 1965     vs Korea Utara 1-6   (Phnom Penh) 
24 November 1965     vs Korea Utara 1-3   (Phnom Penh) 
Pra-Piala Dunia 1970                                   
10 Oktober 1969      vs Jepang 3-1        (Seoul)      
14 Oktober 1969      vs Korea Selatan 2-1 (Seoul)      
16 Oktober 1969      vs Jepang 1-1        (Seoul)      
20 Oktober 1969      vs Korea Selatan 1-1 (Seoul)      
Pra-Piala Dunia 1974                                   
11 Maret 1973        vs Irak 3-1          (Sydney)     
13 Maret 1973        vs Indonesia 2-1     (Sydney)     
18 Maret 1973        vs Irak 0-0          (Melbourne)  
24 Maret 1973        vs Indonesia 6-0     (Sydney)     
18 Agustus 1973      vs Iran 3-0          (Sydney)     
24 Agustus 1973      vs Iran 0-2          (Sydney)     
28 Oktober 1973      vs Korea Selatan 0-0 (Sydney)     
10 November 1973     vs Korea Selatan 2-2 (Seoul)      
13 Oktober 1973      vs Korea Selatan 1-0 (Hong Kong)  
Pra-Piala Dunia 1978                                   
13 Maret 1977        vs Taiwan 3-0        (Suva)       
16 Maret 1977        vs Taiwan 2-1        (Suva)       
10 Juli 1977         vs Hong Kong 3-0     (Adelaide)   
14 Agustus 1977      vs Iran 0-1          (Melbourne)  
27 Agustus 1977      vs Korea Selatan 2-1 (Sydney)     
16 Oktober 1977      vs Kuwait 1-2        (Sydney)     
23 Oktober 1977      vs Korea Selatan 0-0 (Seoul)      
30 Oktober 1977      vs Hong Kong 5-2     (Hong Kong)  
19 November 1977     vs Kuwait 0-1        (Kuwait)     
25 November 1977     vs Iran 0-1          (Teheran)    
Pra-Piala Dunia 1982                                   
20 Mei 1981          vs Indonesia 2-0     (Melbourne)  
10 Juni 1981         vs Taiwan 3-2        (Adelaide)   
30 Agustus 1981      vs Indonesia 0-1     (Jakarta)    
6 September 1981     vs Taiwan 0-0        (Taipei)     
Pra-Piala Dunia 1986                                   
23 Oktober 1985      vs Taiwan 7-0        (Adelaide)   
27 Oktober 1985      vs Taiwan 8-0        (Sydney)     
Pra-Piala Dunia 1998                                   
22 November 1997     vs Iran 1-1          (Teheran)    
29 November 1997     vs Iran 2-2          (Melbourne)

(foto: footballaustralia)

Share:

Australia Ke Zona Asia, Demi Pasar dan Peluang

Banyak cara bagi sebuah negara untuk memperkuat atau mempercepat roda ekonominya. Salah satunya ikut serta ke dalam pusaran globalisasi sepak bola. Yang namanya urusan berskala internasional, jika sudah atas nama bangsa atau pemerintah, dijamin tokcer, beres. Jargon tinggal dibikin, misalnya sebagai bagian dari dinamika ekonomi dunia, politik dunia, atau kebudayaan dunia.
Australia Ke Zona Asia, Demi Pasar dan Peluang
Tim nasional Australia 2005.
Kepopuleran sepak bola sudah diakui di mana-mana. Olah raga ini dimainkan ratusan juta di seluruh dunia, ditonton oleh miliaran kepala dan kerap dibanjiri oleh berliter-liter air mata, bahkan darah. Universalitas olah raga ini memang sangat mengagumkan. Ia melintas batas, menembus lubang secepat membalikkan telapak tangan.

Sekarang jangan lagi terlampau banyak mati-matian di kompetisi skala nasional atau domestik. Sebagai prioritas, kalau itu bisa dibilang, minimal targetnya sebatas regional lalu perlahan-lahan ke internasional. Istilah ini terlalu biasa, mungkin yang pantas adalah internasionalisasi, globalisasi!

Sekarang memang sudah bukan lagi zaman yang berbau domestik, lokal. Yang namanya globalisasi bahkan sudah ada di dalam rumah. Tontonan langsung sepak bola Premier League dari ESPN atau Sky, misalnya, bisa ditonton entah itu di kamar tidur, ruang tamu, atau bahkan kamar mandi!

Karena itu, siapa sih yang tak tergoda oleh sesuatu yang mengalir di dalamnya? Tentu saja maksudnya uang. Sepak bola adalah pasar yang sangat besar. Empat dari lima penduduk bumi kenal olah raga ini. Jumlah pelaku aktif dari yang mulai awam sampai profesional plus investor plus konsumennya adalah setengah dari jumlah yang kenal dengan olah raga ini tadi. Nah, bisa dibayangkan aura keuntungannya?

Karena menjadi wilayah yang terbanyak penduduknya di bumi, wajar Asia dan Oseania tetap menjadi buruan investor. Meski ketimpangan sosio-kultur dan sosio-politiknya bisa saja menjadi kendala, angka pertumbuhan ekonomi Asia cukup menjanjikan. Termasuk untuk bisnis kolosal seperti sepak bola.

Sebagai negara benua dengan jumlah populasi seukuran pulau, tentu saja Australia ingin juga bermain, bahkan berada di pasar yang besar. Kini mereka telah merapatkan diri. Boleh dikatakan bahwa secara umum Asia dan Oseania adalah wilayah paling buntut di percaturan sepak bola dunia. Alam yang begitu luas dan cuaca keras lagipula amat kontradiktif, serta belahan lain yang dipenuhi lautan dan kepulauan terpencil, jelas bin jelas menjadi kendala paling wahid untuk menuai perkembangan yang kondusif.

Ditambah dengan ketimpangan strata ekonomi antar-region - di mana barat dan timur begitu makmur dibanding zona tengah, selatan, dan tenggara - jalan roda kompetisi akan memakan biaya tinggi. Transportasi atau akomodasi juga bisa bermasalah lantaran perbedaan standar gaya hidup. Bagaimana standar stadion plus kamar gantinya, hotel, tempat latihan, keamanan, kenyamanan, atau kelancaran akses lalu lintasnya? Belum lagi ruwetnya menghadapi belitan birokrasi.

Australia Ke AFC, Demi Pasar dan Peluang
Pasar sepak bola Australia semakin ramai.
Gara-gara soal faktor nonteknis begini, seringkali sulit bagi Asia dan Oseania untuk bersaing, jangankan dengan Eropa, dengan Afrika atau Amerika Latin saja dijamin bakal megap-megap terus. Lantas sampai kapan permasalahan tadi bisa diselesaikan AFC? Yang jelas, itu tergantung pada niat dan kemauan para pentolan konfederasi sepak bola Asia, yang didominasi orang-orang Arab, Cina, Korea, atau Melayu.

Sudah bukan rahasia lagi selama ini di badan sepak bola paling berkuasa se-Asia itu masih terjadi klik, perseteruan, dan perang kepentingan yang melibatkan bisnis sampai politik. Artinya, AFC harus konsisten dengan visi dan misinya dengan penekanan lebih ke entertainment, hiburan.

Prospek Indonesia

"Inti sepak bola adalah harus menghibur semua orang. Jangan sampai ia dijadikan alat oleh sebagian kecil orang yang rakus bin tamak, yang dengan pengaruh atau kekuatan uangnya bisa seenaknya memutuskan apa saja, bahkan bisa menghentikan perkembangan sepak bola kalangan bawah dan menghancurkan fondasi sepak bola bangsa," begitu yang pernah ditulis Presiden FIFA, Sepp Blatter, dalam tulisannya di The Financial Times edisi 29 September 2004.

Jelas sudah bahwa intinya adalah football must remain be entertainment for all. Nah, jika para petinggi AFC belum sepakat dalam mencapai tujuannya, bagaimana program baru AFC yakin Vision Asia bisa berjalan sesuai keinginan? Ketika AFC mengumandangkan tekad bahwa kemajuan sepak bola Asia harus diawali oleh masing-masing region, artinya perhatian untuk Central/South Asia dan South East Asia harus lebih besar ketimbang West Asia atau East Asia.

Australia Ke AFC, Demi Pasar dan Peluang
Rakyat Indonesia kedatangan 'musuh baru'
Masuknya Australia ke zona Asia, yang kelak bakal diikuti oleh Selandia Baru memang akan memberi tantangan bagi AFC untuk bekerja lebih keras lagi. Namun, di sana juga akan mendatangkan kesulitan bagi anggota lama. Indonesia misalnya. Tanpa Australia dan Selandia Baru saja sudah teramat sulit kita lolos ke Piala Dunia.

Salah sendiri. Selama ini tak ada ide dan pikiran, keberanian dan hasrat, demi mengubah nasib dengan cara mencoba atau melobi, katakanlah mengajak Filipina atau Timor Leste untuk meramaikan dan bergabung ke zona Oseania, sehingga bisa dapat satu jatah resmi dari FIFA.

Tengoklah Arab Saudi dan Iran di  barat, Korea Selatan dan Jepang di timur, yang ibarat telah memesan empat tiket Asia di Piala Dunia. Satu lagi diperebutkan oleh Kuwait, Qatar, UEA, Bahrain, Irak, Uzbekistan, atau Cina, yang harus play-off melawan limpahan dari zona Eropa. Kini malah muncul Australia, tim Eropa kelas dua setengah.

Melihat gelagat ini, tak ayal lagi, jalan wilayah Asia Tenggara ikutan World Cup makin panjang dan berliku. Bahkan termasuk kejuaraan lokal setingkat Piala Tiger atau SEA Games seandainya Australia diterima sebagai anggota khusus ASEAN. Ke wilayah mana Australia nanti dimasukkan AFC setelah bergabung? Belum jelas. Apakah bule-bule itu juga bisa tampil di Piala Tiger juga misterius.

Mitos dan Visi
Australia Ke AFC, Demi Pasar dan Peluang
Australia vs Indonesia. Bakal sering terjadi.
Selama ini sejarah sudah memberi bukti. Kemajuan di wilayah barat dan timur jauh lebih nyata, baik dari segi perkembangannya maupun prestasi. Mereka selalu bergantian menjuarai Piala Asia sejak awal. Dimulai oleh Korea Selatan pada 1956 dan 1960, Israel (1964), Iran (1968, 1972, 1976), Kuwait (1980), Arab Saudi (1984, 1988, 1996) sampai Jepang (1992, 2000, 2004). Di luar timur dan barat, seumur-umur cuma India (1964) dan Myanmar (1968) saja yang pernah mencapai pentas final.

Zona timur dan barat juga paling sering mewakili Asia di Piala Dunia. Arab Saudi, Iran, Korea Selatan dan Jepang paling tradisional dan belakangan diikuti Kuwait, Uni Emirat Arab atau Cina. Bagaimana dengan prospek wilayah lain untuk tampil di World Cup di masa depan? Tetap gelap! Hal itu baru bisa dikatakan terang jika AFC dengan seadil-adilnya sampai memberi masing-masing satu tiket untuk setiap wilayah!

Mitos bahwa timur dan barat lebih berkuasa sebenarnya justru berkebalikan dengan akar sejarah persepak bolaan di Asia. Banyak fakta yang seharusnya bisa mengangkat harkat wilayah Asia Tenggara atau Asia Selatan dan Asia Tengah. Sejarah membuktikan bahwa Asia Tenggara merupakan tempat asal muasalnya persepak-bolaan Asia diinagurasi pertama kali.

Pada bulan April 1913 di Manila, Filipina, digelar turnamen sepak bola se-Asia yang diberi nama The Far Eastern Games. Siapa juaranya? Tuan rumah! Bayangkan, Filipina! Di final mereka mengalahkan Cina 2-1. Sayang tradisi dan grass root sepak bola Filipina hancur lebur jadi debu setelah Amerika Serikat menguasai negeri kepulauan itu saat Perang Dunia II.

Tingkat kemajuan sepak bola Asia beraneka ragam. Di tenggara bak seekor siput, lambat. Di selatan malah diam tak bergerak. Sementara itu, langkah di barat dan timur malah cepat dan amat proaktif sehingga mampu meyakinkan pihak Arsenal, Real Madrid, atau Manchester United sebagai pasar globalnya.

Ini salah satu alasan mengapa Australia masuk Asia. Mereka melihat pasar sepak bola yang besar seiring dengan prediksi akan menghebatnya pertumbuhan ekonomi Asia. Mereka memiliki visi ke depan yang lebih mumpuni.


ASIAN MILESTONES


Bermula dari sebuah turnamen di Filipina pada 1913, lalu lolosnya Dutch East Indies (nama lama Indonesia) ke Piala Dunia 1938 dan kehebohan buatan Korea Utara saat melibas Italia di Piala Dunia 1966, sampai munculnya sejarah fenomenal bin spektakuler Korea Selatan tatkala nyelonong ke semifinal Piala Dunia 2002, pesta sepak bola dunia pertama di wilayah Asia, progresivitas persepak-bolaan kontinen ini makin terarah meski tetap terbilang lambat. Berikut sebelas tonggak perjalanan persepak-bolaan Asia di percaturan dunia.

👉 April 1913 di Manila, Filipina, diadakan The Far Eastern Games yang menjadi cikal bakal kejuaraan sepak bola pertama di Asia. Filipina menjadi juara pertama kali usai mengalahkan Cina 2-1 di final. Di era-era berikutnya sampai 1934, Cina mendominasi turnamen dengan 9 kali menjadi juara, termasuk menjadi juara bersama dengan Jepang pada 1930.

👉 Pada 1938, atas campur tangan pemerintahan kolonial Belanda dan belum terciptanya iklim perkembangan sepak bola bangsa-bangsa Asia, membawa keberuntungan bagi Dutch East Indies yang mewakili zona Asia ke Piala Dunia 1938 di Prancis.

👉 Pada 8 Mei 1954, tahun yang sama berdirinya UEFA di Eropa, 12 negara Asia - Afghanistan, Myanmar, Taiwan, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Pakistan, Filipina, Singapura, dan Vietnam - sepakat mendirikan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) di Manila. Man Kam Loh dari Hong Kong terpilih sebagai presiden pertama AFC.

👉 Pada 1956, diselenggarakan Piala Asia pertama di Hong Kong dengan 12 peserta. Korea Selatan menjadi juara pertama kali usai mengatasi Israel di final.

👉 Pada 25 November 1961, seorang pemain asal Hong Kong, Cheung Chi-doy, mencetak sejarah setelah menciptakan gol di Premier League (Divisi 1) untuk Blackpool saat melawan Sheffield Wednesday.

👉 Pada 30 Mei 1965, Malaysia mengalahkan Hong Kong dalam sebuah pertandingan sepak bola wanita Asia pertama. Selang satu dekade, AFC Women's Championship digelar pertama kali dan dimenangi Thailand setelah mengatasi Hong Kong, Singapura, Malaysia, Australia, dan Selandia Baru di final. Pada 1991, Cina menuai sejarah saat menjadi host Piala Dunia Wanita. Sayang di final mereka kalah dari AS.

👉 Pada 1979, turnamen kelas dunia pertama diadakan di Asia. Jepang menjadi tuan rumah FIFA World Youth Championship, kejuaraan yang kelak melahirkan legenda dunia, Diego Armando Maradona. Argentina meraih juara pertama kali. Pada 1985, giliran Cina menjadi tuan rumah pertama FIFA U-17 World Championship yang dimenangi Nigeria. Kejuaraan kelas dunia ketiga di Asia lagi-lagi digelar di Jepang, yang bersama Korea Selatan menjadi tuan rumah World Cup 2002.

👉 Pada 1980, penyerang top Korea Selatan, Cha Bum-keun, menjadi orang Asia pertama yang memenangi trofi Eropa setelah membawa Eintracht Frankfurt menjuarai Piala UEFA. Cha tampil di Bundesliga selama 8 musim dengan rekor 308 kali main dan 98 gol, termasuk di klub terakhirnya, Bayer Leverkusen.

👉 Pada 1994, usai aksi gemilangnya di Piala Dunia 1994 di AS, striker Arab Saudi, Said Owayran, memenangkan pemilihan Pemain Asia Terbaik (AFC Player of the Year Award) pertama kali. Golnya ke gawang Belgia, dengan menjelajahi setengah lapangan dan menaklukkan setengah para pemain lawan, menjadi salah satu The World Cup's Greatest Goals hingga kini. Sejajar dengan greatest goal ciptaan Diego Maradona tatkala mencetak gol kedua ke gawang Inggris di Piala Dunia 1986 di Meksiko.

👉 Pada Maret 1999, Iran menjuarai AFC Futsal Championship pertama di Malaysia. Di final mereka menghancurkan Korea Selatan 9-1.

👉 Pada Oktober 2003, klub asal Uni Emirat Arab, Al-Ain, menjuarai AFC Champions League pertama kali. Klub ini dilatih oleh Bruno Metsu, pria asal Prancis yang pada tahun sebelumnya mempermalukan negaranya sendiri tatkala tim asuhannya, Senegal, mengalahkan si juara dunia Les Bleus 1-0 lewat gol Papa Bouba-Diop.

(foto: footballaustralia)

Share:

Antara Korea Selatan dan Indonesia

Dari kaca mata historis Indonesia adalah negara pertama di Asia yang menerima sepak bola, langsung menerimanya dari Belanda dan untuk kawasan Surabaya sekitarnya sebagian dari Inggris. Belanda adalah negara pertama di dunia yang mendapatkan sepak bola dari tangan pertamanya yakni Inggris atau Britania Raya. Di luar Belanda ada Argentina, untuk kawasan Amerika. Kenapa Belanda dan Argentina? Lumayan panjang ceritanya, tapi baiklah, mesti diungkapkan.

Sepak bola dilahirkan ketika Inggris memasuki era The Great Empire - puncak rangkaian sukses Revolusi Industri kesekian setelah ditemukannya Mesin Uap oleh James Watt pada 1775 - sedang menguasai seluk beluk dunia mulai dari ekonomi, iptek, penjelajahan, berbagai multi-industri, bisnis, angkatan perang, sanitasi, kereta api, dan masih banyak lagi termasuk olah raga.

Benang merahnya dengan Netherland karena secara politis saat itu Belanda menjadi wilayah taklukan sekaligus sahabat bisnis Inggris yang sulit dikutak-katik. Belanda punya bernama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), sebuah korporasi bisnis raksasa internasional yang sudah berdiri sejak 20 Maret 1602. Belanda juga jadi negeri rebutan antara dua kekuatan super power dunia saat itu, Inggris dan Prancis.

Secara kultural dan kepentingan, Belanda lebih cocok dengan Inggris ketimbang dengan kekaisaran Napoleon Bonaparte. Untuk itulah persahabatan Belanda dan Inggris - yang sama-sama terkenal sangat administratif - pun menjelma ke segala aspek kehidupan termasuk di olah raga, dalam hal ini sepak bola.

Singkat cerita, berkat Belanda pula beberapa pribumi yang pintar-pintar dan menurut pada kemauan Belanda akhirnya bisa tampil di Piala Dunia 1938. Sayangnya nama Indonesia belum ada waktu itu. Namun begitu, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) sudah mengakui bahwa negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia adalah Indonesia. Semoga FIFA cepat atau lambat akan mengakuinya juga.

Di belahan lain, sebenarnya India juga sejajar dengan Indonesia lantaran dijajah langsung oleh Inggris. Namun akibat kultur dan tradisi yang jauh lebih 'keriting' dibanding Indonesia, sepak bola sulit berkembang di sana. Satu hal saja, saat itu 90 persen rakyat India tidak suka memakai alas kaki. Padahal main bola orang harus memakai sepatu. Itulah India.

Tinggal Penderitaan

Antara Korea Selatan dan Indonesia
Tim nasional Indonesia di era 1930-an.
Jadi sangat disayangkan bila sampai sekarang sepak bola Indonesia tidak berkembang pesat, sebagian meyakini malah mundur, meski menerima dari si tangan kedua, Belanda. Kenapa Indonesia tidak sampai setengahnya Belanda atau Argentina rasanya tidak pantas jadi misteri. Misteri sesungguhnya adalah ketika sekarang ini kita tidak ada setengahnya dari katakanlah, Korea Selatan! Tim nasional Indonesia sudah jadi perbincangan dunia di era 1950-an ketika negara bernama Korea Selatan belum ada.

Di era itu, sementara di semenanjung Korea sedang terjadi Perang Saudara, Indonesia - asal mau dan punya ambisi - sebenarnya berpeluang lagi tampil di Piala Dunia 1954, 1958, 1962, dan 1966. Namun sepak bola saat itu terjamah oleh infiltrasi politik yang tajam serta membelenggu hingga menutupi akal sehat. Nasionalisme harus dikembangkan oleh politik dan diplomasi, bukan oleh sebuah permainan bernama sepak bola.

Hari ini tinggallah 'penderitaan' dirasakan berbagai pihak, terutama masyarakat, melihat sepak bola telah menjadi simbol kebangkitan nasionalisme, kemajuan industri atau peradaban. Maaf, hanya negara-negara yang berperadaban tinggi yang biasanya menjadi juara. Juara apa saja, mulai regional, kontinental, sampai internasional entah itu terkuat di benuanya, olimpiade, atau Piala Dunia.

Mumpung sedang berlangsung Piala Asia 1996 di UEA, di mana Indonesia ikut serta, sebuah diskusi tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan digelar di kantor Redaksi Tabloid BOLA dengan nara sumber utama, seorang pelakon sepak bola yang berasal dari Korea Selatan, negeri yang barusan kita bahas itu.

Menit ke menit berlangsung, hingga tahun demi tahun, akhirnya disadari bahwa sungguh jauh perbedaan sepak bola Korea Selatan dan Indonesia sekarang ini. Tolok ukur resmi pun ada. Dari daftar resmi ranking FIFA edisi November lalu, Korea Selatan menempati urutan 45 dunia. Sedangkan Indonesia di urutan 117! Ke depan kita tidak tahu. Yang pasti ada 230-an negara yang terdaftar di FIFA. Amit-amit kalau suatu saat Indonesia berada di kepala dua ratusan. Astagfirullah.

Liga Korea
Rahasia Sukses Korea Selatan
Tim nasional Korea Selatan di era 1950-an.
Bagaimana ini bisa terjadi? Padahal sebelum dekade 1980-an, sepak bola Korea belumlah sekuat sekarang. Jawaban awalnya cukup sepele yaitu berhasilnya KFA (PSSI-nya Korea) memutar kompetisi - yang menjadi syarat utama kemajuan sepak bola beserta tim nasional - dengan benar dan konsisten. Menurut Min Choi - narasumber kita dari negeri Ginseng tersebut - kompetisi liga semi profesional Korea pun baru digelar pada tahun 1980, atau kalah dua tahun dari Galatama Indonesia.

"Awalnya Liga Korea cuma di ikuti enam klub. Namun itu sudah cukup membuat suasana baru pada persepak-bolaan kami selama tiga tahun," tuturnya penuh empati. Lalu ketika mereka menjadi semifinalis Kejuaraan Dunia Junior 1983, ambisi KFA makin menyeruak. Mereka menyebar para pelatih lokal ke negara-negara Eropa dan Amerika Latin untuk menyerap ilmu yang kelak akan disatukan oleh filosofi permainan mereka.

Antara Korea Selatan dan Indonesia
Tim nasional Indonesia 1985.
Beberapa tahun setelah KFA mengirim pelatih ke Brasil hasilnya terlihat. Korea Selatan menjadi salah satu peserta Piala Dunia 1986, yang kebetulan dalam rutenya mengalahkan Indonesia 2-0 di Seoul dan 4-1 di Jakarta. Tradisi Korea Selatan ke Piala Dunia terus dipertahankan pada 1990 dan 1994.

Antara Korea Selatan dan Indonesia
Aksi Korea Selatan di Piala Dunia 1986.
Di Meksiko 1986, kombinasi ilmu dari Brasil dan filosofi ciri khas Korea terlihat jelas sampai-sampai Argentina dan Diego Maradona pun harus susah payah menang 3-1 di Grup A yang juga diisi Italia dan Bulgaria. Di kemudian hari, semua tahu, Argentina dengan Maradona-nya merengkuh titel juara dunia. 

Hingga kini, kompetisi liga memang cuma diikuti oleh 9 klub saja - pada musim 1997/98 akan menjadi 10 klub - namun itulah taktik KFA untuk menjaga kualitas permainan agar kompetitif, yang tujuan utamanya adalah membentuk sebuah tim nasional yang tangguh. "Di Liga Korea, setiap pekan ada pemilihan sebelas pemain terbaik, wasit terbaik, pelatih terbaik, dan lainnya yang berguna sebagai masukan untuk tim nasional," tutur Min Choi.

Barangkali kita harus belajar apa yang dipelajari Korea dulu, cara mengorganisasinya. Jangan melihat Argentina, Belanda, atau Inggris. Dunia tak selebar daun kelor, demikian bunyi sebuah pepatah Betawi. Ternyata ini juga cocok untuk mengistilahkan parahnya kondisi tim nasional Indonesia. Bayangkan bukan saja kita, masyarakat Indonesia, sudah mengetahuinya tapi juga negara lain.
Antara Korea Selatan dan Indonesia
Tim nasional Korea Selatan 1985.
Dan itu bukan tingkat regional lagi, lantaran negara sekuat Korea Selatan pun sudah 'menguasai' sekali sebab dan akibat kekisruhan sepak bola negeri ini baik yang ada di tim nasional Indonesia maupun top organisasinya, PSSI. "Satu hal mendasar yang terjadi adalah tidak maksimalnya para pengurus (PSSI) untuk berbuat sesuatu kepada elemen paling dasar sebuah tim nasional, yakni pemain nasional," kata pengamat sepak bola Indonesia, Min Choi, dalam diskusi Rabu lalu yang diadakan di kantor Redaksi Tabloid BOLA.

Jangan salah kaprah dulu. Tapi, kalau mengingat betapa 'biasa-biasa saja' menjadi pemain nasional di Indonesia, memang sah untuk dipertanyakan. Mengapa bisa terjadi demikian? "Menjadi pemain nasional di Korea, harus melalui perjalanan panjang. Selain tidak mudah, unsur masyarakat juga diikutsertakan. Begitu juga untuk pelatih nasionalnya," kata mantan pemain nasional junior Korsel yang juga koresponden Tabloid BOLA ini menambahkan.

Fasilitas Memadai

Antara Korea Selatan dan Indonesia
Tim nasional Korea Selatan 1996.
"Yang diperoleh si pemain juga luar biasa. Belum soal materi, tapi fasilitas. Kami boleh mengambil kaus atau sepatu bola sebanyak-banyaknya yang memang sudah disediakan KFA. PSSI-nya Korsel," ujarnya. Secara tak sengaja dia pernah menanyakan berapa pasang sepatu untuk Peri Sandria kepada seorang pejabat PSSI  beberapa waktu lalu. "Saya kaget, katanya paling banyak cuma tiga pasang. Padahal pemain nasional Korea mendapat 20 pasang. Demikian pula kaus, tas, sampai sandal, lebih dari cukup," tuturnya lagi.

Soal teknis Min Choi juga mengkritik pemilihan pemain nasional dengan menggunakan sistem seleknas. Menurutnya hampir di belahan dunia mana pun, sistem itu sudah tidak digunakan lagi. Belum lagi mengenal fasilitas untuk tim nasional. "Saya baru tahu akhir-akhir ini bahwa salah satu alasan mengapa tim Indonesia selalu pergi ke luar negeri untuk berlatih ternyata adalah karena tidak adanya sarana dan fasilitas yang memadai," tutur pria berkaca mata dengan bahasa Inggris bercampur bahasa Indonesia terpatah-patah.

Banyaknya pengamat yang menyarankan agar kiblat sepak bola Indonesia jangan melulu ke Eropa, mungkin sudah pernah dikumandangkan. Begitu juga para pakar sepak bola di Korsel sendiri. "Ada yang menyarankan sebaiknya Indonesia belajar ke Meksiko, karena persamaan fisik atau suasana," ucapnya lagi diiringi derai senyum.

Berpindah ke bagian inti sepak bola, yakni permainan, wajahnya tampak semakin serius. Satu hal yang menarik, Min Choi juga mengecam permainan tim nasional Indonesia di putaran final Piala Asia yang kini masih berlangsung di Uni Emirat Arab. Tidak punya visi dan pola yang jelas," katanya lirih. "Kalau taktik begitu sih, semua pelatih juga bisa. Namun yang lebih penting bagaimana seorang pelatih mengadu taktik di lapangan dengan pelatih lawan," lanjut Min Choi lagi.

Tidak di klub atau di tim nasional, hal pertama yang dikedepankan adalah bagaimana bermain bola dengan kepuasan. Sesuai filosofi, sesuai strategi, dan sesuai target. Inilah yang menjadi tujuan utama. Begitu juga si pelatih. Urusan menang atau kalah, itu belakangan. "Kalau kalah, ya dibina lagi dan dicari penyebabnya. Ini yang tidak terjadi di negara saya," katanya mengakhiri pembicaraan. Halo PSSI dan rakyat Indonesia, hargailah persepsi atau pendapat orang jika itu untuk kemajuan. Besar hatikah kita menerimanya?

Mana Tim Nasional Yang Ideal?

Rahasia Sukses Korea Selatan
Tim nasional Indonesia 1996.
Perlukah tim nasional Piala Asia dirombak? Pasti ada beragam jawaban. Tetapi kami punya pendapat, tim ini tetap perlu disempurnakan. Selain pemain yang mampu bertahan, tim nasional juga perlu pemain yang mampu menyerang. Inilah perbandingan tim nasional Piala Asia 1996 dan tim nasional SEA Games 1997/Pra-Piala Dunia 1998.

PIALA ASIA 1996

Kiper: Kurnia Sandy (Sampdoria); Hendro Kartiko (Mitra); Abdillah (Assyabaab)
Belakang: Sudirman (Bandung Raya); Yeyen Tumena (PSM); Aples Tecuari (Pelita Jaya): Siswandi (Petrokimia); Agung Setyabudi (Arseto); Budiman (Bandung Raya); Ritham Madubun (Persipura)
Tengah: Supriyono (Pelita Jaya); Marzuki Bandriawan (Mitra); Francis Wewengkang (Persma); Anzar Rashak (PSM); Bima Sakti (Helsingborg)
Depan: Chris Yarangga (Persipura); Indriyanto Nugroho (Pelita Jaya); Widodo Putro (Petrokimia); Ronny Wabia (Persipura)

SEA GAMES 1997/PRA PIALA DUNIA 1998

Kiper: Kurnia Sandy (Sampdoria); Listyanto Raharjo (Pelita Jaya); Hendro Kartiko (Mitra)
Belakang: Sudirman (Bandung Raya); Agung Setyabudi (Arseto); Surya Lesmana (Bandung Raya); Nuralim (Bandung Raya); Sugiantoro (Persebaya); Aples Tecuari (Pelita Jaya); Aji Santoso (Persebaya); Yeyen Tumena (PSM); Herman Pulalo (Semen Padang)
Tengah: Eri Irianto (Persebaya); Fachri Husaini (PKT); Marzuki Bandriawan (Mitra); Francis Wewengkang (Persma); Ansyari Lubis (Pelita Jaya); Bima Sakti (Helsingborg); Khairil Anwar (Persebaya)
Depan: Widodo Putro (Petrokimia); Ronny Wabia (Persipura); Rocky Putiray (Arseto); Kurniawan Dwi Yulianto (Pelita Jaya)

(foto: asiafootballfiles/diegomaradonagroup/pssi/istimewa/sesaa/soccermon)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini