Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Hristo Stoichkov (2): Biang Kerok Tapi Sukses

Rakyat Bulgaria adalah pencinta fanatik sepak bola. Di sana, sepak bola dianggap sebagai olah raga nasional. Awal 1960-an bisa dibilang sebagai awal kebangkitan pigskin (sepak bola) negeri yang pernah dijajah Turki ini. Pada masa itu mereka telah mempunyai seorang bintang yang bernama Georgi Asparoukhov.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Konon ketika diadakan angket tidak resmi oleh Komisi Sentral Partai Komunis pada suatu daerah di bagian kota Plovdiv, 75 persen anak laki-laki bercita-cita ingin seperti Asparoukhov, sebagai pemain bola yang jadi pahlawan bangsa. Sisanya mau jadi tentara atau politisi. Diantara yang 75% inilah terdapat Stoichkov. Seperti perjalanan hidup pemain besar lainnya, karier Stoichkov pun diawali sejak masa kanak-kanak. 

Ia dilahirkan di Plovdiv, wilayah selatan Bulgaria pada 8 Februari 1966. Ketika memasuki umur 10 tahun, Stoichkov yang kala itu dipanggil 'Hitzo' oleh teman-temannya, sudah terdaftar sebagai pemain bola belia pada klub lokal Hebros Harmanli.

Meski mendapat tentangan dari orang tuanya, yang lebih ingin ia berkonsentrasi pada sekolah, bocah berkaki kidal ini tetap saja nekat mengikuti audisi, lolos, dan akhirnya menjalani pelatihan hari demi hari, minggu demi minggu. Bulan berganti bulan, musim berganti musim, tahun berganti tahun.

Dasar berbakat, kemajuan yang diperoleh Hitzo membuat pengurus klub itu berdecak kagum. Mulai saat itu kedua orang tuanya menyadari bahwa bakat sang anak ternyata di sepak bola. Ketika berumur 12 tahun, si bocah berambut ikal pindah ke klub yang lebih besar, Maritza Plovdiv. Ia pun mulai mengikuti kompetisi junior divisi tiga.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Tahun 1984 rombongan pencari bakat dari klub CFKA Sredets melihat permainan Hitzo, yang bermain sebagai striker. Mereka segera melaporkannya pada Dimitar Penev, sang pelatih kepala. Tak lama kemudian diundangnya untuk mengikuti audisi langsung. "Pertama kali melihat dia saya langsung tertarik. Anak itu punya sikap ekstrem namun justru karena faktor itu suatu saat ia akan memberi keuntungan pada kami," kenang Penev.

Hukuman Pertama

CFKA Sredets adalah salah satu klub besar di Bulgaria yang menjadi rival sekota Vitosha. Angin pembaharuan, usai robohnya Tembok Berlin, Gerakan Glasnost dan Perestroika, juga menerpa Bulgaria. Walhasil pada 1989 CFKA Sredets berganti nama menjadi CSKA Sofia. Vitosha pun berganti merek menjadi Levski Spartak.

Rivalitas Sredets vs Vitosha mendominasi atmosfir kompetisi Liga Bulgaria selama puluhan tahun, sejak digelar pertama kali pada 1924. Hingga tahun 1990, atau saat terakhir dibela Hitzo, CFKA Sredets/CSKA Sofia telah 26 kali menjadi penguasa negeri. Sedang Levski 18 kali.

Bagi Hitzo sendiri, masuk klub sebesar CSKA dianggapnya sesuatu yang luar biasa. Saking senangnya dia menggondol semua barang kesayangannya sejak kecil ke asrama CSKA. Baginya CSKA adalah rumah barunya. "Dengan masuk klub ini saya berharap bisa sebesar Michel Platini," ungkapnya waktu itu. Platini, bintang top Prancis, adalah idolanya Hitzo.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Insting Penev mulai mendatangkan hasil. Karakter Hitzo yang gampang meledak-ledak itu memang terkadang menguntungkan tim, namun sering pula merugikan. Positifnya, ia dianggap tokoh protagonis yang sanggup memicu tensi dan memacu semangat rekan-rekannya dalam setiap laga. Mengingat CSKA adalah klub Angkatan Darat, karakter ala Hitzo memang dibutuhkan.

Namun wewenang yang diberikan pelatihnya itu pernah disalah-gunakan. Sesuatu yang negatif, namun tidak akan mengubah takdir Hitzo sebagai pemain hebat Bulgaria. Peristiwanya terjadi di laga derby melawan Levski di final Piala Liga Bulgaria 1985. Lantaran terlalu bersemangat mengobarkan spirit bertanding kepada teman-temannya, Hitzo dianggap sebagai biang kerok kerusuhan di lapangan.

Dalam laga panas tersebut, Hitzo dan dua orang rekannya diganjar kartu merah. Laga itu sungguhan berakhir rusuh, di dalam lapangan antar sesama pemain, maupun di luar stadion yang melahirkan pertikaian antar pendukung.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Derita Hitzo tambah berat sebab BFU (PSSI Bulgaria) menjatuhkan vonis pada Hitzo, yang masa hukumannya tidak jelas sampai kapan. Tapi dasar dikenal sebagai pemain bagus, Hitzo dan dua rekannya yang sedang menjalani masa hukuman ini akhirnya mendapat pengampunan. Banyak pengamat dan media massa sepakat kualifikasi Piala Dunia 1986 jauh lebih penting daripada melarang ketiga pemain, termasuk Hitzo, tidak boleh main bola. BFU pun melunak.

Seperti Masinis

Tim nasional bukan tempat asing bagi Hitzo. Ia memulai debut di tim nasional ketika ia ditarik masuk ke dalam tim nasional U-21 yang sedang dipersiapkan ke Olimpiade 1984 di Los Angeles. Selama di timnas junior, Hitzo membela negaranya 23 kali.

Sementara di tim nasional senior, debutnya terjadi pada September 1987 ketika Bulgaria bertemu Belgia di penyisihan Piala Eropa 1988. Hitzo tampil 66 menit untuk menggantikan Iordan Iordanov yang tiba-tiba cedera. Hitzo sukses sebab Bulgaria menang 2-0 atas Eric Gerets dkk.

Publik dan media massa tak melupakan permainan menawan Hitzo. Ia begitu nyetel dengan dua rekannya yang sebelumnya sama-sama dihukum BFU, Emil Kostadinov dan Luboslav Penev. Semua merasa bersyukur atas keputusan memaafkan Hitzo dkk.

Trio penyerang  SKP (Stoichkov-Kostadinov-Penev) ini ditakuti lawan, bukan saja di seantero negerinya tapi juga di sebagian bumi Eropa dan sanggup mengangkat reputasi CSKA di kompetisi Eropa akhir 1980-an. Kelak sepak terjang trio ini pula yang bikin bangsa Prancis menangis gegerungan akibat tersingkirnya Eric Cantona, David Ginola dkk, di detik-detik terakhir laga kualifikasi Piala Dunia 1994.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Prancis kalah 2-3 akibat gol sensasional Kostadinov sehingga gagal lolos ke AS. "Kalau tim ini dianggap sebagai kereta api, maka Kostadinov dan Penev itu lokomotifnya. Akan tetapi yang menjadi masinisnya adalah Stoichkov," ujar pelatih Dimitar Penev yang tak pernah melupakan kesan awalnya pada Hitzo.

Kabar meroketnya trio SKP atau tiga serangkai CSKA sampai juga di telinga para pemburu bakat untuk klub-klub top Eropa. Mereka segera mengirim tim pemantau yang misi utamanya adalah mendapatkan Hristo Stoichkov, tokoh kunci permainan CSKA.

Ayah Keduanya

Tak syak lagi, Dimitar Penev adalah orang yang paling berjasa dalam karier Hristo Stoichkov di sepak bola, semenjak muda hingga menjadi pemain yang disegani. Hubungan pria kelahiran Milovane 12 Juli 1945 ini dengan Hitzo tak melulu lazimnya antar pelatih dengan pemain, namun juga selayak hubungan ayah dengan anak.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Komitmen Penev pada Hitzo seolah-olah tiada batas. Pada 1989, dia pula yang memperjuangkan Hitzo agar bisa main di luar negeri. Penev harus adu kencang urat leher dengan seorang petinggi BFU yang berusaha mencegah pemain terbaik Bulgaria memperkuat klub asing. Tokoh dari BFU ini akhirnya sadar. Seharusnya malah Penev orang pertama yang mencegah transfer Hitzo mengingat dia adalah pelatih CSKA. Bukankah hengkangnya Hitzo akan berdampak bagi kekuatan timnya Penev sendiri?

Walau temperamental dan terkesan sebagai trouble-maker di tim asuhannya, uniknya Penev tak pernah sekalipun mengecam Hitzo. Dalam berhubungan dengan pemain andalannya itu, Penev memakai asas saling respek. Dia tak mau mencampuri urusan pribadi sampai tingkah polah sebatas itu di luar lapangan. Sebaliknya, Hitzo juga sangat respek terhadap gurunya ini dalam banyak hal, terutama yang berhubungan langsung dengan sepak bola.

Bagi Penev semua urusan jadi beres ketika di lapangan Hitzo berhasil menerapkan atau menjalankan strategi yang diinginkannya. Sesepele itu. Bukan hanya itu ia membela Hitzo. Ketika menjalani masa hukuman BFU dampak dari kerusuhan pertandingan melawan Levski, Penev pernah nekat tetap memasukkan nama Hitzo ke dalam skuadnya.

Ada alasan yang tak pernah diungkap gamblang oleh Penev kenapa dia berbuat nekat seperti itu. Namun secara tersirat kebutuhan besarnya pada Hitzo pernah dikatakannya suatu hari. "Dari jejeran pemain elite dunia, Hitzo berdiri di tengah-tengahnya," cetusnya waktu itu.

Tampaknya ketergantungan Penev pada Stoichkov begitu kuat, sama kuatnya pentingnya Penev bagi Stoichkov. Suatu saat nanti waktu jua yang menjawab dengan kongkrit buah dari hubungan simbiosis-mutualisma mereka.

(foto: footballnotballet/bulgaria-italia.com/stoichkov8.com/webcafe/senzacia)

Share:

Iswadi Idris: Persija Almamater Saya

Suatu hari saat melakukan liputan pertandingan reguler Liga Indonesia di Stadion Menteng, saya dikejutkan oleh pemandangan tak biasa yang terlihat di antara berjubelnya penonton. Wajahnya tidak asing sejak saya masih anak-anak, karena dia adalah salah satu idola saya sewaktu kecil karena identik dengan Persija, kemudian Jayakarta, dan tentu PSSI, julukan beken tim nasional Indonesia.

Iswadi Idris: Persija Almamater Saya

"Persija sekarang beda banget dengan Persija yang dulu!" Ini kata Iswadi Idris (47), mantan pemainnya, bahkan salah satu legendanya, yang kini melatih klub asal Yogyakarta, Mataram Putra. Masih dengan gaya ceplas-ceplosnya yang khas, Iswadi memang dikenal blak-blakan dan bernada agak keras.

Dipergoki saat menonton pertandingan Persija vs Persiku Kudus di Stadion Menteng, Ahad Januari lalu, beberapa kali dia menggelengkan kepala setiap serangan Persija kandas. Kecewa, Bang Is? "Ah, nggak," tukasnya cepat. "Kesalnya sama saja dengan penonton lain kalau melihat serangan gagal."

Iswadi mengakui tidak bisa melupakan kenangan dan kecintaannya pada Persija, klub yang melambungkan namanya ke angkasa sepak bola nasional. "Ya, Persija kan almamater saya. Dari sini saya menjadi terkenal," kata gelandang sayap kiri yang identik dengan nomor 13 yang juga sering menjadi kapten Persija.

"Dulu neh kalau Persija maen, suporter nggak dikit kayak gini. Dulu Persija cuman satu, nggak seperti sekarang. Di Jakarta, orang mane aje jadi suporter Persija. Pokoknya nggak ade yang meragukan Persija deh!" tambah Iswadi makin semangat sambil mengepulkan asap rokoknya.

Menurut dia selain dukungan penonton, kehebatan Persija ada pada kualitas pemain dan permainannya. Wajar jadinya melihat Iswadi yang kebanyakan mendesah atau ngeplak kepala saat melihat anak-anak Jakarta sekarang yang banyak gagalnya saat membongkar gawang anak-anak Kudus.

Iswadi juga mengaku kaget melihat keadaan Stadion Menteng sekarang yang katanya babak belur di sana-sini. "Bagus masih ada rumputnya. Dari dulu semua pertandingan divisi Persija dilakukan di sini," jelas pria kelahiran Banda Aceh, 18 Maret 1948 ini.

Ada uneg-uneg lain yang ingin disampaikan Iswadi. Menurutnya wasit dan penonton masih jadi masalah. "Keduanya ancaman serius sukses tidaknya Liga Indonesia," tandasnya. "You harus tulis, wasit di sini harus banyak belajar lagi. Masak kita tidak boleh mengritik? Menurut saya Komisi Wasit PSSI itu tidak berfungsi," tambahnya masih dengan nada sengit. Siap deh, Bang Is!

(foto: tjandra/majalah olympic)

Share:

Berkah Potong Rambut

Duel Fiorentina vs Parma pada Ahad 15 Januari 1995 yang berakhir 1-1 merupakan laga ke-100 dari Gabriel Batistuta di klub berjuluk La Viola. Batigol yang kini tambah macho, berkat potongan rambut pendeknya yang barusan digunting, seperti diketahui baru saja pulang dari Arab Saudi. 
Berkah Potong Rambut

Hah, ada apa tiba-tiba potong rambut? Sebenarnya sih tidak ada urusannya dengan potong rambut, sebab Bati memang harus ikut tim nasional Argentina di Piala Interkontinental 1995 yang baru saja usai.

Dari 100 aksinya bersama La Viola (74 kali di Serie A dan 26 di Serie B), Batigol telah melesakkan 60 gol. Termasuk ketika lawan Parma itu. Rekor gol Batigol kini hanya kurang sebiji saja dari legenda terbaik Fiorentina yang juga mantan pemain nasional Italia, Giancarlo Antognoni (61 gol).

Namun untuk mengejar rekor top skorer sepanjang masa di Fiorentina, Bati harus lebih kerja keras. Saking beratnya, barangkali sampai rambutnya gondrong dua-tiga kali lagi. Rekor itu masih digenggam oleh penyerang Jerman Kurt Hamrin dengan 153 gol. Namun cepat atau lambat, jika produktivitasnya terus ditingkatkan, Batistuta akan melebihi rekor tersebut. Setuju nggak?

Paris SG Ungguli AC Milan

Menurut sebuah laporan, empat diantara 10 klub sepak bola terbaik di seluruh dunia berasal dari Italia. Namun gelar jawaranya justru diambil oleh Prancis. Wah repot, kenapa bisa begitu? Klub elite Paris Saint-Germain, menurut IFFHS (International Football Federation for History and Statistic) yang berkedudukan di Weisbaden, Jerman. Penilaian itu didasarkan oleh banyaknya pertandingan resmi yang dilakukan oleh klub-klub Eropa, baik di dalam maupun di luar negeri, serta pencapaian atau prestasi khusus selama tahun 1994.

Adapun urutan lengkapnya sebagai berikut: [1]. Paris SG (Prancis) dengan total nilai 334,0; [2] AC Parma (Italia) 332,5; [3] AC Milan (Italia) 310,0; [4] FC Barcelona (Spanyol) 296,5; [5] Sao Paulo (Brasil); [6] FC Porto (Portugal) 262; [7] Juventus (Italia) 257,5; [8] Manchester United (Inggris) 246; [9] Lazio (Italia) 245; dan [10] Velez Sarsfield (Argentina) 243,5.

(foto: articulo.mercadolibre/zmnapoli)

Share:

Wasit Takut Kualat

Mengawali tahun 1995, pada pertandingan perdana putaran kedua Serie A 1994/95, 8 Januari lalu, di seluruh lapangan pertandingan tiba-tiba diadakan upacara serentak mengheningkan cipta selama 1 menit sebelum kick-off. Tujuannya untuk mengenang almarhum Constantino Rozzi, Presdiden Ascoli (klub Serie B, terakhir di Serie A pada 1991/92), yang meninggal dunia 18 Desember 1994 pada usia 65 tahun.
Wasit Takut Kualat
Fiorenzo Treossi.
Namun acara penghormatan tidak semuanya berjalan sukses. Di Stadion San Siro, Milano, hal itu baru dilakukan sejam kemudian. Lho kok bisa? Soalnya sang wasit, Fiorenzo Treossi, lupa melakukannya sebelum laga AC Milan vs Napoli digelar. Dalam banyak hal, terutama yang berbau klenik, Italia terkadang mirip dengan Indonesia. Nah daripada tidak sama sekali dan takut kualat, maka upacara itu baru dilakukan pada awal babak kedua. Iyalah, begitu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kroasia Berguru Pada Lazio

Sejak awal 1995 ini, pelatih Lazio asal Republik Czek, Zdenek Zeman, membuka kursus. Itu wajar mengingat metode latihan yang diterapkannya pada Lazio amat membuahkan hasil fantastis. Saking dianggap sukses, sampai-sampai dikatakan bahwa pola penyerangan Lazio adalah yang terbaik di Serie A dan Italia. Sejak dipegang Zeman, Lazio merupakan salah klub satu klub paling tangguh dan paling produktif. Pelatih nasional Italia Arrigo Sacchi pun ikut mencangkoknya di tim nasional Italia.

Namun untuk menerapkan pola Zeman, mau tak mau Sacchi harus memborong banyak skuad Lazio. Belakangan Sacchi terkejut, sekaligus ada sedikit perasaan tersinggung, ketika ada dua staf pelatih nasional Kroasia ‘berguru’ kepada Zeman. Seperti diketahui, Kroasia adalah pesaing Italia dalam penyisihan Piala Eropa 1996, dan pada 16 November 1994, Zvonimir Boban dkk. Mengalahkan pasukan Sacchi di Palermo.

Dua orang staf dari tim nasional Kroasia itu adalah Branko Ivankovic dan Drago Posavec, masing-masing menjabat sebagai pelatih senior Kroasia dan penanggung jawab tim junior. Setiap Ahad mereka selalu hadir di Maestrelli untuk mengikuti kursus dadakan dari Zeman tersebut. Murid Zeman, yang sebelumnya adalah pelatih Foggia, juga ada yang berasal dari Swedia dan beberapa pelatih lokal Italia. Kebanyakan mereka adalah para pelatih muda. Wah, kenapa Indonesia tidak mengirim para pelatihnya?

(foto: aiaforli/ilcatenaccio/meziesblog/zmnapoli)

Share:

Hristo Stoichkov (1): Ibarat Bisul Pecah

Teka-teki siapa yang akan menjadi pemain terbaik Eropa 1994 terjawab sudah. Hristo Stoichkov-lah bintangnya. Ia pantas diacungi jempol atas prestasinya itu, mengingat persaingan antarpemain di Eropa sangatlah ketat. Bagaimana gelandang menyerang tim nasional Bulgaria dan klub Barcelona (Spanyol) ini mencapai prestasi puncak? Mulai di edisi ini, kisah hidup dan perjalanan kariernya dituturkan.

Hristo Stoichkov: Ibarat Bisul Pecah

Sungguh tidak mudah menjadi yang terbaik di Eropa. Siapapun orangnya, semahal apapun, kalau tidak berprestasi secara khusus atau fenomenal, jangan harap dinobatkan sebagai yang terbaik. Terlebih lagi bagi mereka yang berasal dari Eropa Timur. Ini perlu dimaklumi. Soalnya dibanding belahan Eropa lainnya, pemain yang berasal dari negara-negara Blok Timur biasanya akan kurang diperhatikan jika bermain di klub-klub negara mereka sendiri.

Penguasaan media baik cetak maupun visual di negara-negara Eropa Barat menjadi salah satu sebab. Maka, beruntunglah Stoichkov, yang didukung obsesi dan juga karakternya, dapat menembus dogma seperti itu. Yang perlu dicatat, dengan prestasi itu pemain berusia 28 tahun ini juga mengembalikan lagi kejayaan pemain Blok Timur.

Delapan tahun belakangan ini, Blok Timur bak anak tiri di lingkup UEFA (Persatuan Sepak Bola Eropa). Kali ini, lewat pemilihan yang dianggap representatif, Stoichkov berhasil menyisihkan saingan terdekatnya, Roberto Baggio (Italia/Juventus) dan Paolo Maldini (Italia/AC Milan).
Hristo Stoichkov: Ibarat Bisul Pecah

Pemilihan yang diorganisasi oleh majalah sepak bola ternama di Eropa, France Football, ini dilakukan oleh 49 wartawan sepak bola Eropa dan bisa jadi lebih obyektif ketimbang pemilihan pemain terbaik dunia versi majalah World Soccer yang melakukan pemilihan lewat pembacanya

Puncak Karier

"Ini merupakan impian saya sejak kecil dan ketika menjadi pemain profesional. Sejajarnya nama saya dengan Johan Cruijff, Michel Platini, dan Jean-Pierre Papin adalah hal yang luar biasa bagi diri saya," ungkap Stoichkov di Paris usai menerima trofi penghargaan, akhir Desember 1994. Dengan bangga ia mengatakan bahwa penghargaan ini dapat dianggap sebagai puncak karier hidupnya di sepak bola.

Dalam kurun waktu hampir dua puluh tahun ternyata baru tiga pemain Eropa Timur yang terpilih sebagai pemain terbaik, termasuk Stoichkov. Dua sebelumnya berasal dari negara yang sama (Uni Soviet) dan klub yang sama (Dynamo Kyiv). Pertama adalah Oleg Blokhine (1975), dan yang kedua Igor Belanov (1986). Untuk Stoichkov sendiri prestasi ini jelas dianggap fenomenal, tidak saja oleh dirinya tapi juga oleh bangsa Bulgaria.

Stoichkov adalah orang pertama Bulgaria yang terpilih menjadi pemain terbaik Eropa sejak federasi sepak bola negara itu berdiri pada tahun 1924. Apa kriteria terpilihnya Stoichkov? Ada tiga faktor utama. Pertama, bangkitnya persepak bolaan Eropa Timur sejak Wind of Change dikumandangkan awal 1990-an. Buntutnya bisa dilihat sekarang bagaimana bangkitnya Rusia, Rumania, Bulgaria, Kroasia, Cekoslowakia bahkan Moldova di kancah sepak bola Eropa.

Kedua, kontribusi yang diberikan pada klubnya beberapa tahun belakangan. Sejak ditransfer dengan harga 2 juta poundsterling (sekitar Rp 6 milyar) pada 1990 lalu, Stoichkov selalu berperan dalam mengantar klubnya itu menjuarai La Liga empat kali berturut-turut 1991-1994, termasuk di Piala Champion.

Terakhir adalah kiprah di Piala Dunia 1994 dengan mengantarkan negaranya ke semifinal setelah menumbangkan juara bertahan Jerman. Eksistensinya kian dalam karena ia juga tercatat sebagai pencetak gol terbanyak bersama Oleg Salenko (Rusia). 

Wajarlah jika Stoichkov memetik hasil dari jerih payahnya selama ini. "Saya tidak kaget kalau ia (Stoichkov) yang terpilih," kata Baggio seusai pemilihan. "Ia sangat pantas untuk mendapat penghargaan seperti itu." Bagi Stoichkov, penghargaan ini ibarat bisul yang akhirnya pecah. Bayangkan, di dua tahun terakhir, 1992 dan 1993, ia disisihkan Marco van Basten dan Baggio yang sempat membuatnya mangkel.

"Milan dan Barcelona sama-sama juara liga. Tapi saya lebih pantas terpilih karena sayalah pencetak gol terbanyak dan mengantarkan klub saya menjuarai Eropa," protes Stoichkov setelah Van Basten yang menang. Tahun berikutnya giliran Baggio yang menyisihkannya. Sekarang Stoichkov bisa melupakan hari-hari dendamnya itu. Perasaan peka yang dimilikinya sudah memaafkan hal-hal yang pernah dibencinya.

Piala Dunia 1994

Piala Dunia 1994 bagi Bulgaria sepertinya membawa berkah. Selain prestasi fenomenal dengan mencapai semifinal, atau terpilihnya Stoichkov menjadi pemain terbaik Eropa 1994, ternyata ada penghargaan lain yang mengangkat harkat negara berpopulasi 9 juta jiwa ini. Apa saja?

Pertama, pelatih Dimitar Penev dinominasikan majalah World Soccer sebagai pelatih terbaik dunia ketujuh setelah Carlos Alberto Parreira (Brasil), Fabio Capello (Milan), Alex Ferguson (Manchester United, Arrigo Sacchi (Italia), Kevin Keegan (Newcastle United) dan Anghel Iordanescu (Rumania). 

Lalu tim nasional Bulgaria sendiri juga kecipratan berkah. Menurut daftar peringkat yang dikeluarkan FIFA 20 Desember 1994, semifinalis Piala Dunia di AS ini meloncat 15 tingkat dari posisi 31 ke posisi 16. Belum lagi ranking yang disusun World Soccer yang menganggap Bulgaria sebagai tim terbaik keenam di dunia setelah AC Milan, Brasil, Manchester United, Italia, dan Juventus. Yang lain? Masih menurut World Soccer, Stoichkov juga dipilih sebagai pemain terbaik dunia nomor lima.

Masih lumayan karena di bawahnya terdapat pemain kelas kakap macam Franco Baresi, Gabriel Batistuta, Eric Cantona, Juergen Klinsmann dan Tomas Brolin. Sedang di atasnya, Paolo Maldini, Roberto Baggio, Romario Faria dan Gheorghe Hagi.


Sebenarnya berbagai penghargaan tak asing bagi pemain yang punya naluri 'pembunuh' ini. Golden Boot Award alias pencetak gol terbanyak di Eropa 1990 pernah direnggut, dan selama empat tahun (1989-1992) ia juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Bulgaria.

Kalau saja Barcelona tidak kalah 1-2 dari Sao Paulo di final Piala Toyota 1992, barangkali Stoichkov sudah terpilih pemain terbaik pertandingan (man of the match) dengan gol yang dilesakkannya. Tapi sayangnya dua gol balasan dari Rai Souza De Oliveira memupus harapan itu. Gol semata wayang untuk Barcelona begitu indah mencocor pojok kanan gawang Zetti, kiper Sao Paulo, yang hanya bisa terpana menyaksikan. Stoichkov menghantam dengan tendangan kaki kirinya yang terkenal keras.

Kini kekecewaan sudah terhapus. Akhirnya Stoichkov puas dengan prestasi puncak sebagai yang terbaik di Eropa. Ya, Piala Dunia 1994 ternyata membawa nasib Stoichkov menjadi terang benderang.

(foto: mundodeportivo/colgadosporelfutbol/forzaitalianfootball)

Share:

Robbie Fowler: Idola Baru Liverpool

Gocekannya yahud, gerakannya cepat dan nalurinya di depan gawang sangat tajam. Semula banyak bek lawan menganggapnya sebagai anak bawang. Tetapi kini mereka dibuat kelabakan jika mengawal striker terbaik Liverpool setelah Ian Rush dan Dean Saunders itu.

Robbie Fowler: Idola Baru Liverpool

Usianya masih sangat muda, 19 tahun. Pengalamannya pun di Premier League baru beranjak di tahun pertama. Tapi jangan terjadi ragukan soal kepiawaian dalam mencocor gawang lawan. Suasana segar yang sedang terjadi di Liverpool turut mengatrol produktivitasnya. Pemuda yang di akte kelahirannya bernama lengkap Robert Bernard Fowler menampik anggapan yang meremehkan klubnya.

"Banyak yang mengatakan bahwa Liverpool sudah habis. Itu tidak benar. Kami masih punya peluang untuk meraih gelar," cetus Fowler, kelahiran asli Liverpool, 9 April 1975.

Berkat gol-gol yang disarangkannya, Liverpool pun bangkit. Dalam empat pertandingan terakhir, Fowler selalu mencetak gol. Dari 10 gol yang dijejalkan ke gawang Leicester City, Manchester City, Leeds United, dan Norwich City, setengahnya dihasilkan Fowler.


Tak salah, jika pendukung pasukan Anfield kini menyebutnya sebagai 'Ian Rush muda'. Merasa di atas angin, Fowler langsung pasang target memenangkan Liverpool menjuarai liga sekaligus menjadi top scorer. "Silakan Blackburn dan Manchester United berperang. Tapi jangan anggap Liverpool sebelah mata," ujar Fowler dengan tegas.

Secara khusus ia juga memberikan kewaspadaan buat Eric Cantona dkk. Baginya, "Manchester United merupakan tim yang melahirkan persaingan klasik, tidak saja di Inggris tapi juga di Eropa," tambah striker tim nasional Inggris U-21 itu dengan gamblang.

(foto: squawka/whoateallthepies)

Share:

Indonesia Pertama Di Kompetisi Eropa

Bagaimana kabar Kurniawan Dwi Yulianto yang sekarang ini bermain di FC Luzern, salah satu klub anggota divisi satu Swiss? Sejak pindah dari markas PSSI Primavera di Tavarone, Italia, 4 Januari lalu, kini secara resmi Kurniawan menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang merumput di Liga Eropa sekaligus pesepak bola pertama Indonesia yang dibayar secara profesional di benua biru.

Indonesia Pertama Di Kompetisi Eropa

Ketika dihubungi langsung via telpon di kamar 118 Hotel Waldstaetten, Weggis, Swiss, Kurni baru saja bangun dari tidurnya. "Habis di sini dingin sekali, Mas. Jadi kalau nggak ada yang dikerjakan maunya tidur terus," akunya dengan nada riang. Ia menambahkan bahkan suhu di luar yang rata-rata -5 derajat Celcius yang membuat enggan ke mana-mana sehabis latihan. 

Akibat udara dingin ia sempat terkena pilek saat pertama kali menjejakkan kaki di negeri arloji tersebut. "Waktu itu suhu lagi gila-gilaan sampai -13 derajat. Ini jauh sekali dengan Tavarone 6-7 derajat," tambahnya. "Saya amat bersyukur bisa diterima di sini, tidak ada masalah berarti kecuali Bahasa Jerman yang elek," gurau Kurni sambil mengatakan bahwa ia sedang memandang Danau Vierwald Stetter dari kamar hotelnya.

Kehadiran Kurniawan di negeri terindah di Eropa itu ternyata mendapat sambutan yang cukup hangat dari penggemar sepak bola di Swiss umumnya dan suporter fanatik Luzern khususnya. "Jika kamu dapat bermain baik di sini, mereka akan menganggap kamu seorang pujaan. Kamu akan dibela mati-matian oleh mereka," kata Kurni mengulangi ucapan Romano Simioni, ketua klub, kepadanya.

Ya, rasa penasaran mereka terhadap pemain Asia pertama yang bermain di klub itu langsung sirna begitu Kurniawan tiba. Beberapa suporter bahkan menyambut dan mengelu-elukannya. Begitu pula beberapa media yang mengekspos lumayan besar saat ia tiba.

Telpon Pacar

Salah satunya dari surat kabar utama di kota itu Luzern Neue Nachrichten yang memberi judul pada headline halaman olah raganya: Ein Aussert Frostig Empfang fur Yulianto Kurniawan. Artinya 'Sambutan yang luar biasa dan menyegarkan bagi Kurniawan.'

Menurut kontrak yang telah ditandatangani Oktober 1994, Kurni akan bermain hingga Juni 1995 dengan gaji 2.000 franc atau sekitar 3,4 juta rupiah per bulan, ditambah bonus 1.000 franc setiap Luzern menang. Kok sedikit ya? Betul, tapi semua bisa dipahami, termasuk oleh Kurni sendiri bahwa bukan soal uangnya kecuali pengalaman dan kesempatan.

"Saya hanya ingin mencetak gol minimal bermain baik selama babak playoff yang dimulai pertengahan Februari," ungkap remaja 18 tahun kelahiran 17 Juli 1976 itu. Untuk jangka panjang, Kurni menyimpan obsesi besar yaitu ingin bermain di Sampdoria yang merupakan klub idolanya. "Saya ingin sekali bermain di Samp. Doakan ya Mas," harapnya.

Di klub barunya sendiri ia diterima dengan baik-baik oleh seluruh rekannya. Masalah bahasa tak menjadi soal karena diantara mereka paham pula dengan bahasa Italia. Malahan gara-gara bisa bahasa Italia ia langsung akrab dengan Olivier Camendzind, 22 tahun, salah satu striker Luzern.

"Setiap mau latihan Olivier selalu menjemput saya dengan mobilnya," cerita Kurniawan yang di Swiss disapa Yulianto ini. Selain itu beberapa mahasiswa Sekolah Perhotelan International Hotel Management Institute yang berada di hotel dia tempati juga menjadi teman berarti baginya.

"Ayah selama ini baru sekali menelepon ke sini," katanya. Pacar? "Ya neleponnya gantian, dua minggu sekali," tambahnya. Kurniawan banyak bertanya tentang sepak bola nasional pada saya, antara lain kondisi Liga Indonesia. "Semarak ya Mas? Soalnya di sini sempat ditayangkan cuplikannya ketika Roger Milla mencetak dua gol," tanyanya ingin tahu.

Di Luzern Kurniawan bukan satu-satunya pemain asing. Sedikitnya di sini ada empat orang, Agent Sawu (Zimbabwe, 24 tahun), Semir Tuce (Yugoslavia, 30), Rene van Eck (Belanda, 28) dan Brian Bertelsen (Denmark, 31). "Mereka juga baik dan berusaha akrab dengan saya. Yang paling sering ditanyakan adalah hal-hal waktu saya di Italia dan sepak bola di Indonesia," paparnya.

Lawan Rudi Voeller

FC Luzern merupakan salah satu klub yang cukup punya nama di Liga Swiss. Mereka adalah juara liga pada 1989 dan Piala Swiss 1962 dan 1992. Sekarang ini di klub tersebut terdapat dua pemain nasional Swiss, Thomas Wyss dan Martin Ruedal. "Mereka tidak sombong dan selalu mendukung saya di dalam dan di luar lapangan. Misalnya Wyss yang menanyakan kenapa Indonesia tak bisa hadir di Piala Dunia. Kalah dari Arab atau Korea?" cerita Kurni.

Belum sebulan di Luzern ia sudah mendapat pengalaman yang berharga ketika klubnya itu diundang turnamen di stadion tertutup di Friedrich Schasen, Kaiserslautern, 15 Januari lalu. Turnamen yang dibagi dua grup itu diikuti delapan tim. Luzern berada di Grup A bersama tuan rumah Kaiserslautern, Karlsruhe dan TSV 1860 Muenchen. Di Grup B ditempati VfB Stuttgart, Neuchatel Xamax, Nuernberg, dan Freiburg.

"Meski mainnya lima lawan lima dan waktunya 2 x 10 menit tapi penontonnya banyak," seru Kurniawan. "Saya juga bertarung antara lain dengan Andreas Brehme, Stefan Kuntz, Thomas Haessler dan Rudi Voeller."

Namun hasil yang dicapai Luzern tidak memuaskan karena kalah 1-2 dari tuan rumah, 2-6 dari Karlsruhe dan menang sekali 3-2 atas TSV. "Sayang saya belum mencetak gol tapi berkat umpan-umpan saya, Camendzind bisa mencetak gol. Pertandingan itu disiarkan ke beberapa negara Eropa," ujar Kurni lagi bangga. Menurut rencana Kurniawan akan ikut dalam tur Luzern ke Afrika, tepatnya ke Kepulauan Mauritius mulai minggu depan. Semoga saja Kurniawan menjadi duta sepak bola Indonesia yang baik. Amin.

(foto: hardimen koto)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini