Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Piala Dunia 1994: Mengenal Trofi dan Maskot

Jules Rimet, Presiden FFA (French Football Association - Persatuan Sepak Bola Prancis), adalah salah satu nama penting yang mencetuskan terwujudnya kejuaraan dunia sepak bola. Maka, ketika Piala Dunia digelar pertama kali di Uruguay, 64 tahun yang lalu, FIFA resmi memberi nama piala itu dengan Piala Jules Rimet. Piala itu terbuat dari emas murni, dengan tinggi 32 cm, dan berat 4 kg.

JULES RIMET

Dirancang oleh Abel La Fleure, seniman asal Prancis, ketika itu piala tersebut berharga 50 ribu Franc. Piala Jules Rimet diperebutkan sampai tahun 1970, dan dimiliki selamanya oleh Brasil setelah mereka memenangkan Piala Dunia untuk ketiga kalinya. Sebelumnya, memang, ada ketentuan bahwa jika ada negara yang sudah juara tiga kali, meski tidak berurutan, diputuskan menjadi pemilik abadi Piala Jules Rimet.

Ironisnya, piala ini kini sudah tiada, hancur bentuknya setelah dilebur di Brasil oleh Juan Carlos Hernandez. Pedagang emas ini merupakan kaki tangan seorang bankir sekaligus agen pemain, Sergio Peralta, yang menjadi mastermind salah satu pencurian terheboh di dunia pada 1983 itu.

Alasan Peralta, yang membayar dua begundalnya - Francisco Rivera dan Jose Luiz Vieira - untuk mencuri piala paling berharga bangsa Brasil itu adalah karena masih merasa marah karena kematian adiknya akibat serangan jantung, tak lama setelah tim Samba memenangkan titel ketiga di Piala Dunia pada 1970.

Pencurian trofi Jules Rimet dari kantor CBF (Federasi Sepak Bola Brasil) di Rio Janeiro merupakan yang kedua setelah pencurian di Inggris pada 20 Maret 1966. Saat itu sekelompok penjarah memasuki kantor FA di Lancaster Gate, London, untuk menilep piala yang menjadi simbol kehebatan sepak bola di dunia.

Tidak seperti di Brasil, sepekan kemudian seekor anjing bernama Pickles berhasil menemukan trofi di dalam tumpukan parsel di sekitar rumah David Corbett, yang juga adalah majikan Pickles. Seketika itu juga Pickles menjadi selebriti di Inggris, serta sosoknya dianggap bertuah lantaran Inggris sukses merebut titel Piala Dunia, tiga bulan berikutnya.

Piala Dunia 1994: Mengenal Trofi dan Maskot

WORLD CUP

Setelah Piala Jules Rimet sudah menjadi milik abadl Brasil. FIFA kemudian mengeluarkan piala baru. Piala itu tidak diberi nama khusus, cukup World Cup atau Piala Dunia saja, dan mulai diperebutkan tahun 1974.

Untuk Piala Dunia ini tak ada ketentuan, kapan sebuah negara bisa memiliki trofi itu secara tetap atau abadi. Dalam arti lain, piala itu akan terus abadi dimiliki siapa saja sepanjang Piala Dunia dipentaskan.

Trofi ini dirancang oleh pematung dan disainer Italia, Silvio Gazzaniga, setelah memenangkan seleksi ketat seluruh kontestan dari 53 negara. Terbuat dari emas 18 karat, tinggi 36 cm dan berat 4,54 kilogram, ketika dibuat trofi ini masih bernilai 8.000 poundsterling.

Dihitung dari tahun 1974, Piala Dunia baru dimiliki oleh tiga negara. Dua kali diambil oleh Argentina (1978, dan 1986), dua kali oleh Jerman (1974, dan 1990), serta sekali oleh Italia (1982).

Maskot 

Piala Dunia 1994: Mengenal Trofi dan Maskot

Uruguay 1930, saat Piala Dunia pertama kali digelar, yang namanya maskot Piala Dunia belum ada. Maskot Piala Dunia baru dikenal dan dijadikan maskot resmi kejuaraan pertama kali ketika Inggris, nenek moyang sepak bola, menjadi tuan rumah Piala Dunia 1966. Bentuknya macam-macam. Ada yang lucu, unik, sekaligus menggemaskan. Apa saja? Inilah mereka:

WILLIE (INGGRIS 1966)

Willie adalah nama seekor singa yang hidup di daratan Inggris Raya. Pemunculan Willie, yang lebih beken digambarkan sedang menendang bola atau berjalan tegap itu langsung menginspirasikan keberadaan maskot-maskot Piala Dunia berikutnya.

JUANITO (MEKSIKO 1970)

Juanito, maskot yang oleh Meksiko dijadikan simbol Piala Dunia 1970, menggambarkan sosok anak kecil bertopi khas Meksiko, sombrero. Diantara variasinya, yang paling terkenal Juanito terlihat sedang menggamit bola dengan tangan kirinya.

TIP & TAP (JERMAN BARAT 1974)

Dua sosok manusia, yang satu berkarakter laki-laki Jerman dan yang satu berwajah lugu dan tanpa kecurigaan ini dijadikan Jerman Barat sebagai simbol untuk Piala Dunia 1974. Tema persahabatan jelas terlihat dari maskot Tip dan Tap ini, mungkin karena pada waktu itu dua Jerman (Barat dan Timur) ikut serta dalam kejuaraan dunia.

GAUCHITO (ARGENTINA 1978)

Dianggap sebagai simbol Piala Dunia yang terbaik hingga sekarang. Maskot Gauchito memperlihatkan sosok anak bertopi yang sedang memainkan bola dengan riang gembira.

NARANJITO (SPANYOL 1982)

Konsep baru dalam pembuatan maskot Piala Dunia diperkenalkan oleh Spanyol yang menyelenggarakan Piala Dunia 1982. Diberi nama Naranjito, ia melukiskan keluguan dari Sevilla dan Valencia, dua kota dengan kebudayaan khas di Spanyol. Naranjito yang berwarna oranye ini menggambarkan buah jeruk berwajah manusia yang tersenyum. Ini untuk pertama kalinya buah dijadikan maskot Piala Dunia.

PIQUE (MEKSIKO 1986)

Kalau 1982 maskotnya berupa buah, maka Meksiko yang kembali ditunjuk untuk menyelenggarakan Piala Dunia 1986 kali ini menampilkan sayuran. Maskot sayuran yang diberi nama Pique ini sempat menimbulkan sikap kontroversial, masalahnya karena dianggap klise atau meniru-niru. Maklum, 14 tahun sebelumnya, Meksiko yang kebetulan juga menjadi tuan rumah, menampilkan tema yang nyaris mirip.

CIAO (ITALIA 1990)

Maskot ini dinilai modern dan lebih dinamis. Menggambarkan batangan-batangan sedemikian rupa hingga menyerupai sosok yang sedang beraksi dalam permainan sepak bola. Selain melukiskan bendera Italia, trecolori Merah-Putih-Hijau, maskot ini juga mengartikan pemain yang bisa melakukan gerakan atraktif. Ciao dianggap revolusioner, karena berbentuk abstrak. Kalau maskot-maskot sebelumnya menendang atau memainkan bola dengan kakinya, atau sedang memegang bola, maka Ciao dengan kepalanya.

STRIKER (AS 1994)

Seekor anjing yang sedang menyundul bola ini, dijadikan oleh tuan rumah Piala Dunia 1994, Amerika Serikat, sebagai maskot dalam pestanya pertama kali. Terdiri dari unsur bintang dan garis, yang merupakan lambang nasional Amerika, logo ini dirancang oleh Pentagram Designe, sebuah perusahaan disain grafis terkemuka di New York.

Dasar negara yang menyanjung demokrasi, nama Striker yang berarti 'penyerang", diambil berdasarkan angket yang dilakukan kepada masyarakat Amerika mulai 14 Januari 1992. Yang menarik lagi, pilihan binatang anjing ini rupanya cocok dengan shio anjing pada tahun 1994 ini.

Selain dalam bentuk disain grafis dan animasi, Striker juga dimunculkan dalam bentuk boneka dan "boneka hidup' (ada orang di dalamnya). Itulah Amerika. Siapa yang bisa mencegah 'akal-akalan' orang Amerika?

Piala Dunia 1994: Mengenal Trofi dan Maskot

(foto: latino.foxnews/footydesign/worldsoccertalk)





Share:

Piala Dunia 1994: Eh, Tahukah Anda?

Sebelum final Uruguay vs Argentina tahun 1930, ada adu pendapat soal bola yang akan dipakai. Wasit John Langenus lalu bertindak adil. Babak pertama dipakai bola Argentina, dan babak kedua bola dari Uruguay.

* Ketentuan bahwa juara dunia dan tuan rumah bebas kualifikasi dan berhak langsung ke putaran final, mulai diberlakukan di Prancis 1938.

* Inggris, nenek moyang sepak bola modern, pertama kali ikut Piala Dunia di Brasil 1950. Maklum, mereka baru menjadi anggota FIFA pada tahun 1946. Ironisnya, dalam debutnya itu mereka tumbang 0-1 pada AS.

* Argentina, tahun 1950, dilarang FIFA tampil di Brasil. Ini menyangkut soal keamanan, sebab suporter Argentina pernah bikin rusuh. Jerman, atas kesalahannya menjadi biang keladi Perang Dunia II, tahun ini juga dilarang FIFA ikut.

* Rekor penonton final 199.854 orang. terjadi di stadion Maracana. Rio de Janeiro, tahun 1950. Sampai kini belum pecah.

* Wakil Asia pertama di putaran final yang masih diakui FIFA adalah Korea Selatan, yang tampil di Swiss 1954.

* Sistem perpanjangan waktu 2 x 15 menit, pertama kali dikenalkan di Swiss 1954.

* Aturan pergantian pemain dengan memakai papan petunjuk dimunculkan di Meksiko 1970.

* Jumlah 24 negara peserta putaran final diberlakukan pertama kali di Spanyol 1982.

* Meksiko adalah negara pertama yang dua kali jadi tuan rumah, 1970 dan 1986, Yang kedua ini, konon karena kolusi bos FIFA, Joao Havelange, dengan para pengusaha Meksiko melihat ketidaksiapan tuan rumah yang seharusnya, Kolombia.

* Rekor pemain termuda dipegang Norman Whiteside (Irlandia Utara). Dia tampil di Spanyol 1982 pada usia 17 tahun 42 hari.

* Gol Tangan Tuhan pertama bukan dari Maradona di Meksiko 1986, saat Argentina jumpa Inggris, tapi dari Silvio Piola, pemain Italia, di Prancis 1938. Uniknya gol itu juga bersarang ke gawang Inggris.

* Piala Dunia 1950 di Brasil dinilai paling bersih karena tidak seorang pemain pun yang dikeluarkan wasit dari lapangan.

* Alfred Bickel (Swiss) dan Erik Nilsson (Swedia) adalah dua pemain yang bertanding di Piala Dunia sebelum dan sesudah Perang Dunia II. Mereka tampil di Prancis 1938 dan Brasil 1950.

* Dari 14 kali Piala Dunia, rekor juara Amerika Latin dan Eropa kini imbang 7-7. Tapi Brasil adalah tim pertama Amerika Latin yang mampu jadi juara di bumi Eropa, yakni di Swedia 1958, prestasi yang belum pernah dicapai tim Eropa di Amerika Latin.

* Ini soal kartu merah. Dalam sejarah Piala Dunia, kartu 'hantu' ini pertama kali diterima Placido Galindo, kapten Peru, yang mematahkan kaki bek Rumania Adalbert Steiner di menit 70 pada 14 Juli 1930. Gelandang bertahan Peru ini diusir wasit Alberto Warnken (Chile). Peru kalah 1-3 dari Rumania dalam laga penyisihan grup 3 di Estadio Pocitos Uniknya empat hari kemudian, Galindo bisa main lagi melawan Uruguay.

* Luisito Monti adalah pemain pertama dalam sejarah yang bermain untuk negara yang berlainan dalam dua kali Piala Dunia. Tahun 1930 ia membela Argentina, dan 1934 untuk Italia.

* Swiss 1954 adalah kejuaraan pertama yang disiarkan jaringan televisi ke mancanegara.

* Just Fontaine, pemain Prancis, adalah orang pertama yang selalu mencetak gol dalam setiap pertandingannya di Swedia 1958.

* Geoff Hurst, ujung tombak Inggris, adalah satu-satunya pemain yang menciptakan hattrick selama Piala Dunia. Sampai kini belum terpecahkan. Ia mencetak tiga gol (gol pertama, ketiga, dan keempat), ketika Inggris mengalahkan Jerman Barat 4-2 di final Piala Dunia 1966.

* Di Swiss 1954. Hongaria dengan bintangnya Ferenc Puskas, Nandor Hidegkuti, dan Sandor Kocsis, membuat rekor gol yang dipetik satu tim. Mereka mengemas 27 gol dari 5 partai, atau 5,4 gol tiap pertandingan!

* Dua kiper dan keduanya sama-sama kapten terjadi di final Piala Dunia Italia 1934. Mereka adalah Giampiero Combi (Italia) dan Frantisek Planicka (Ceko).

* Penjaga gawang Meksiko, Antonio Carbajal, membuat rekor yang tampaknya sulit untuk dipecahkan siapapun. Ia bermain di Piala Dunia untuk negaranya sebanyak lima kali berturut-turut (1950-1966).

* Pelatih termuda sampai sekarang masih dipegang oleh Mauricio Pipo dari EI Salvador. Itu terjadi di Spanyol 1982, saat Pipo baru berumur 36 tahun. Sebelumnya ia pernah menjadi striker untuk negaranya di Meksiko 1970.

Piala Dunia 1994: Eh, Tahukah Anda?
Laga terhebat: Austria vs Swiss 7-5 di Piala Dunia 1954.
* Rekor kemenangan terbesar masih dipegang Hongaria, saat mereka menggunduli El Salvador 10-1 di Spanyol 1982. 

* Rekor gol terbanyak dalam satu laga terhebat muncul di Swiss 1954, 12 gol, ketika Austria menyikat Swiss 7-5.

* Tidak pernah kalah tetapi gagal menjuarai Piala Dunia dialami oleh Brasil di Argentina 1978. Mereka hanya kalah selisih gol dari Argentina, dan gagal maju ke final.

* Skor terbesar dalam final dibukukan Brasil di Swedia 1958. Mereka menggasak tuan rumah 5-2.

* Bobby Charlton dan Jack Charlton (Inggris) serta Rene van der Kerkhof dan Wilfy van der Kerkhof (Belanda] adalah si kembar yang sama-sama tampil di final. Charlton bersaudara di Inggris 1966 sukses, tapi Van der Kerkhof bersaudara gagal di Argentina 1978. Di AS 1994 ini, Belanda mungkin akan coba menebus lewat De Boer bersaudara, Frank dan Ronald.


LEGENDA ITU BERAWAL DI MONTEVIDEO....

Angka 13 boleh-boleh saja disebut angka sial. Tapi legenda Piala Dunia sesungguhnya dimulai pada tanggal ini, 13 Juli 1930, atau 64 tahun yang lalu di Montevideo, kota tunggal yang menggelar kejuaraan dunia pertama di Uruguay. 

Ketika itu di Stadion Pocitos milik klub Penarol, Prancis menggulung Meksiko 4-1 dalam partai perdana Piala Dunia. Itulah partai bersejarah, yang cuma disaksikan 1.000 penonton, sebuah awal yang jauh dari semarak pesta sepak bola yang begitu legendaris. 


Kini, berawal dari Chicago, mulai 17 Juni (atau 18 Juni WIB) ini, Piala Dunia ke-15. Untuk melengkapi informasi Anda sebelum menonton TV, inilah data-data penting dalam 14 kejuaraan dunia sebelumnya.

URUGUAY 1930

Waktu: 13 - 30 Juli 1930
Peserta: 13 negara
Juara: Uruguay
Runner-up: Argentina
Stadion final: Estadio Centenario, Montevideo
Penonton final: 68.346
Wasit final: John Langenus (Belgia)
Skor final: 4-2
Pencetak gol: Dorado 12, Cea 57, Iriarte 68, Castro 89 (Uruguay); Peucelle 20, Stabile 37 (Argentina)
Skuad juara (2-3-5): Enrique Ballestrero - Jose Nasazzi (c), Ernesto Mascheroni - Jose Andrade, Alvaro Gestido, Lorenzo Fernandez - Hector Scarone, Pedro Cea, Pablo Dorado, Hector Castro, Santos Iriarte
Manajer tim juara: Alberto Suppici

ITALIA 1934

Waktu: 27 Mei - 10 Juni 1934
Peserta: 16 negara
Juara: Italia
Runner-up: Cekoslowakia
Stadion final: Stadio Nazionale PNF, Roma
Penonton final: 55.000
Wasit final: Ivan Eklind (Swedia)
Skor final: 2-1 (perpanjangan waktu)
Pencetak gol: Orsi 81, Schiavio 95 (Italia); Puc 71 (Ceko)
Skuad juara (2-3-5): Gianpiero Combi (c) - Eraldo Monzeglio, Luigi Allemandi - Attilio Ferraris, Luis Monti, Luigi Bertolini - Enrique Guaita, Giuseppe Meazza, Giovanni Ferrari, Raimundo Orsi, Angelo Schiavio
Manajer tim juara: Vittorio Pozzo
Posisi ketiga: Jerman (vs Austria 3-2)

PRANCIS 1938

Waktu: 4 - 19 Juni 1938
Peserta: 15 negara
Juara: Italia
Runner-up: Hongaria
Stadion final: Stade Olympique de Colombes, Paris
Penonton: 45.000
Wasit final: Georges Capdeville (Prancis)
Skor final: 4-2
Pencetak gol: Colaussi 6, 35, Piola 16, 82 (Italia); Titkos 8, Sarosi 70 (Hongaria)
Skuad juara (2-3-5): Aldo Olivieri - Alfredo Foni, Pietro Rava - Pietro Serantoni, Ugo Locatelli, Michele Andreolo - Giuseppe Meazza (c), Giovanni Ferrari - Amedeo Biavati, Silvio Piola, Gino Colaussi
Manajer tim juara: Vittorio Pozzo
Posisi ketiga: Brasil (vs Swedia 4-2)

BRASIL 1950

Waktu: 24 Juni - 13 Juli 1950
Peserta: 13 negara
Juara: Uruguay
Runner-up: Brasil
Stadion final: Estadio do Maracana, Rio de Janeiro
Penonton: 199.854
Wasit: George Reader (Inggris)
Skor Akhir: 2-1 (laga terakhir, sistem setengah kompetisi)
Pencetak gol: Schiaffino 66, Ghiggia 79 (Uruguay); Friarca 47 (Brasil)
Skuad juara (1-3-1-2-3): 1-Roque Maspoli - 3-Eusebio Tejera - 4-Schubert Gambetta, 2-Matias Gonzalez, 6-Victor Rodriguez Andrade - 5-Obdulio Varela (c) - 8-Julio Perez, 10-Juan Alberto Schiaffino - 7-Alcides Ghiggia, 9-Omar Oscar Miguez, 11-Ruben Moran
Manajer tim juara: Juan Lopez Fontana

SWISS 1954

Waktu: 16 Juni - 4 Juli 1954
Peserta: 16 negara
Juara: Jerman Barat
Runner-up: Hongaria
Stadion final: Wankdorf, Bern
Penonton final: 64.000
Wasit final: William Ling (Inggris)
Skor final: 3-2
Pencetak gol: Morlock 10, Rahn 18, 84 (Jerman Barat); Puskas 6, Czibor 8 (Hongaria)
Skuad juara (3-2-2-3): 1-Toni Turek - 3-Werner Kohlmeyer, 10-Werner Liebrich, 7-Josef Posipal - 8-Karl Mai, 6-Horst Eckel - 16-Fritz Walter (c), 13-Max Morlock - 20-Hans Schaefer, 15-Ottmar Walter, 12-Helmut Rahn
Manajer tim juara: Sepp Herberger
Posisi ketiga: Austria (vs Uruguay 3-1)

SWEDIA 1958

Waktu: 8 - 29 Juni 1958
Peserta: 16 negara
Juara: Brasil
Runner-up: Swedia
Stadion final: Rasunda, Solna
Penonton final: 51.800
Wasit final: Maurice Guigue (Prancis)
Skor final: 5-2
Pencetak gol: Vava 9, 32, Pele 55, 90, Zagallo 68 (Brasil); Liedholm 4, Simonsson 80 (Swedia)
Skuad juara (4-2-4): 3-Gilmar - 4-Djalma Santos, 15-Orlando Peranha, 2-Hideraldo Bellini (c), 12-Ni­lton Santos - 19-Zito, 6-Didi - 11-Garrincha, 20-Vava, 10-Pele, 7-Mario Zagallo
Manajer tim juara: Vicente Feola
Posisi ketiga: Prancis (vs Jerman Barat 6-3)

CHILE 1962

Waktu: 30 Mei - 17 Juni 1962
Peserta: 16 negara
Juara: Brasil
Runner-up: Cekoslowakia
Stadion final: Estadio Nacional, Santiago
Penonton final: 68.679
Wasit final: Nikolay Latyshev (Uni Soviet)
Skor final: 3-1
Pencetak gol: Amarildo 17, Zito 69, Vava 78 (Brasil); Masopust 15 (Ceko)
Skuad juara (4-2-4): 1-Gilmar - 2-Djalma Santos, 3-Mauro Ramos (c), 5-Zizinho, 6-Nilton Santos - 4-Zito, 8-Didi - 7-Garrincha, 19-Vava, 20-Amarildo, 21 Mario Zagallo
Manajer tim juara: Aymore Moreira
Posisi ketiga: Chile (vs Yugoslavia 1-0)

INGGRIS 1966

Waktu: 11 - 30 Juli 1966
Peserta: 16 negara
Juara: Inggris
Runner-up: Jerman Barat
Stadion final: Wembley, London
Penonton: 96.924
Wasit final: Gottfried Dienst (Swiss)
Skor final: 4-2 (perpanjangan waktu)
Pencetak gol: Hurst 18, 101, 120, Peters 78 (Inggris); Haller 12, Weber 89 (Jerman Barat)
Kartu kuning: Martin Peters 20'
Skuad juara (4-1-3-2): 1-Gordon Banks - 2-George Cohen, 5-Jack Charlton, 6-Bobby Moore (c), 3-Ray Wilson - 4-Nobby Stiles - 7-Alan Ball, 9-Bobby Charlton, 16-Martin Peters - 10-Geoff Hurst, 21-Roger Hunt
Manajer tim juara: Sir Alf Ramsey
Posisi ketiga: Portugal (vs Uni Soviet 2-1)

MEKSIKO 1970

Waktu: 31 Mei - 21 Juni 1970
Peserta: 16 negara
Juara: Brasil
Runner-up: Italia
Stadion final: Estadio Azteca, Mexico City
Penonton final: 107.412
Wasit final: Rudi Glockner (Jerman Timur)
Kartu kuning: Rivelino 1', Burgnich 1'
Skor final: 4-1
Pencetak gol: Pele 18, Gerson 66, Jairzinho 71, Carlos Alberto 86 (Brasil); Boninsegna 37 (Italia)
Skuad juara (4-2-4): 1-Felix - 2-Brito, 4-Carlos Alberto (c), 16-Everaldo, 3-Piazza - 5-Clodoaldo, 8-Gerson - 7-Jairzinho, 9-Tostao, 10-Pele, 11-Roberto Rivelino
Manajer tim juara: Mario Zagallo
Posisi ketiga: Jerman Barat (vs Uruguay 1-0)

JERMAN BARAT 1974

Waktu: 13 Juni - 7 Juli 1974
Peserta: 16 negara
Juara: Jerman Barat
Runner-up: Belanda
Skor final: 2-1
Stadion final: Olympiastadion, Muenchen
Penonton final: 78.200
Wasit final: John Taylor (Inggris)
Kartu kuning: Vogts 3 (Jerman); Van Hanegem 22, Neeskens 39, Cruyff 45 (Belanda)
Pencetak gol: Breitner 25 pen, Mueller 43 (Jerman Barat); Neeskens 2 pen (Belanda)
Skuad juara (4-3-3): 1-Sepp Maier - 2-Berti Vogts, 5-Franz Beckenbauer (c), 4-Hans-Georg Schwarzenbeck, 3-Paul Breitner - 16-Rainer Bonhof, 14-Uli Hoeness, 12-Wolfgang Overath - 9-Juergen Grabowski, 13-Gerd Mueller, 17-Bernd Holzenbein
Manajer tim juara: Helmut Schoen
Posisi ketiga: Polandia (vs Brasil 1-0)

ARGENTINA 1978

Waktu: 2 - 25 Juni 1978
Peserta: 16 negara
Juara: Argentina
Runner-up: Belanda
Stadion final: Estadio Monumental, Buenos Aires
Penonton final: 71.483
Wasit final: Sergio Gonella (Italia)
Skor final: 3-1 (perpanjangan waktu)
Kartu kuning: Ardiles 40, Larrosa 93 (Argentina); Krol 15, Suurbier 94, Poortvliet 96 (Belanda)
Pencetak gol: Kempes 38, 105, Bertoni 115 (Argentina); Nanninga 82 (Belanda)
Skuad juara (4-3-3): 5-Ubaldo Fillol - 15-Jorge Olguin, 7-Luis Galvan, 19-Daniel Passarella (c), 20 Alberto Tarantini - 6-Americo Gallego, 2-Osvaldo Ardiles/12-Omar Larrosa 66', 10-Mario Kempes, 4-Daniel Bertoni - 14-Leopoldo Luque, 16-Oscar Alberto Ortiz/9-Rene Houseman 75'
Manajer tim juara: Cesar Luis Menotti
Posisi ketiga: Brasil (vs Italia 2-1)

SPANYOL 1982

Waktu: 14 Juni - 11 Juli 1982
Peserta: 24 negara
Juara: Italia
Runner-up: Jerman Barat
Stadion final: Estadio Santiago Bernabeu, Madrid
Penonton final: 90.000
Wasit final: Arnaldo Cezar Coelho (Brasil)
Kartu kuning: Conti 31, Oriali 73 (Italia); Dremmler 61, Stielike 73, Littbarski 88 (Jerman Barat)
Skor final: 3-1
Pencetak gol: Rossi 57, Tardelli 69, Altobelli 81 (Italia); Breitner 83 (Jerman Barat)
Skuad juara (1-4-2-2-1): 1 Dino Zoff (c) - 7-Gaetano Scirea - 3-Giuseppe Bergomi, 6-Claudio Gentile, 5-Fulvio Collovati, 4-Antonio Cabrini - 13-Gabriele Oriali, 14-Marco Tardelli - 16-Bruno Conti, 19 Francesco Graziani/18-Alessandro Altobelli 7'/15-Franco Causio 89' - 20-Paolo Rossi
Manajer tim juara: Enzo Bearzot
Posisi ketiga: Polandia (vs Prancis 3-2)

MEKSIKO 1986

Waktu: 30 Mei - 29 Juni 1986
Peserta: 24 negara
Juara: Argentina
Runner-up: Jerman Barat
Stadion final: Estadio Azteca, Mexico City
Penonton final: 114.600
Wasit final: Romualdo Arppi Filho (Brasil)
Kartu kuning: Maradona 17, Olarticoechea 77, Enrique 81, Pumpido 85 (Argentina); Matthaeus 21, Briegel 62 (Jerman)
Skor final: 3-2
Pencetak gol: Brown 23, Valdano 56, Burruchaga 84 (Argentina); Rummenigge 74, Voeller 81 (Jerman Barat)
Skuad juara (3-5-2): 18 Nery Pumpido - 9-Jose Cuciuffo, 5-Jose Luis Brown, 19-Oscar Ruggeri - 14-Ricardo Giusti, 7-Jorge Burruchaga/21-Marcelo Trobbiani 90, 2-Sergio Batista, 12-Hector Enrique, 16-Julio Olarticoechea - 10-Diego Maradona (c), 11-Jorge Valdano
Manajer tim juara: dr. Carlos Bilardo
Posisi ketiga: Prancis (vs Belgia 4-2)

ITALIA 1990

Waktu: 9 Juni-8 Juli 1990
Peserta: 24 negara
Juara: Jerman
Runner-up: Argentina
Skor final: 1-0
Stadion final: Olimpico, Roma
Penonton final: 73.603
Wasit final: Edgardo Codesal Mendez (Meksiko)
Kartu kuning: Voeller 52 (Jerman); Dezotti 5, Troglio 84, Maradona 87 (Argentina)
Kartu merah: Monzon 65, Dezotti 87 (Argentina)
Pencetak gol: Brehme 85pen
Skuad juara (3-5-2): 1-Bodo Illgner - 14-Thomas Berthold/2-Stefan Reuter 73, 6-Guido Buchwald, 5-Klaus Augenthaler, 4-Juergen Kohler, 3-Andreas Brehme - 8-Thomas Haessler, 10-Lothar Matthaeus (c), 7 Pierre Littbarski - 18-Juergen Klinsmann, 9-Rudi Voeller
Manajer tim juara: Franz Beckenbauer
Posisi ketiga: Italia (vs Inggris 2-1)

AMERIKA SERIKAT 1994

Waktu: 17 Juni - 17 Juli 1994
Peserta: 24 negara
Laga pembuka: Jerman vs Bolivia (Chicago)
Stadion: Rose Bowl, Los Angeles (91.794), Stanford, San Francisco (80.906), Pontiac Silverdome, Detroit (77.557), Giants, New York (75.338), Cotton Bowl, Dallas (63.998), Soldier Field, Chicago (63.117), Citrus Bowl, Orlando (61.219), Foxboro, Boston (53.644), Robert F Kennedy Memorial, Washington (53.142).
Stadion final: Rose Bowl, Los Angeles (91.794)


(foto: Young Journalist Academy)






Share:

Enam Liga Utama Eropa: Klasemen Akhir 1993-94

Berikut hasil-hasil pekan terakhir di berbagai kompetisi liga di Eropa, yang amat menentukan dampaknya bagi beberapa klub top di Italia, Spanyol, Jerman, dan Belanda.

Enam Liga Utama Eropa: Klasemen Akhir 1993-94
Meski kalah 0-1 di laga terakhir, AC Milan menjuarai Liga Italia 1993-94.
ITALIA
29/4: Parma vs Piacenza 0-0.
1/5: Lecce vs Cagliari 0-1, Cremonese vs Genoa 1-1, Atalanta vs Inter 2-1, Sampdoria vs Lazio 3-4, Foggia vs Napoli 0-1, Milan vs Reggiana 0-1, Roma vs Torino 2-0. Juventus vs Udinese 1-0.

INGGRIS

3/5: Leeds United vs Sheffield Wednesday 2-2, Oldham vs Sheffield United 1-1, QPR vs West Ham 0-0.
4/5: Chelsea vs Coventry City 1-2, Manchester United vs Southampton 2-0.
5/5: Oldham vs Tottenham 0-2.
7/5: Aston Villa vs Liverpool 2-1, Blackburn vs Ipswich 0-0, Chelsea vs Sheffield United 3-2, Everton vs Wimbledon 3-2, Newcastle vs Arsenal 2-0, Norwich vs Oldham 1-1, Wednesday vs Manchester City 1-1, Swindon vs Leeds 0-5, Tottenham vs QPR 1-2, West Ham vs Southampton 3-3.
8/5: Manchester United vs Coventry 0-0.

SPANYOL

7/5: Madrid vs Barcelona 0-1.
8/5: Tenerife vs Santander 1-0, Lerida vs Atletico 0-1, Vallecano vs Oviedo 0-0, Logrones vs Coruna 0-2, Valencia vs Valladolid 5-1, Celta vs Osasuna 4-0, Gijon vs Zaragoza 0-3, Sevilla vs Albacete 2-0, Sociedad vs Bilbao 0-0.
14/5: Barcelona vs Sevilla 5-2, La Coruna vs Valencia 0-0, Bilbao vs Tenerife 3-2.
15/5: Santander vs Lerida 2-1, Atletico vs Vallecano 2-0, Oviedo vs Logrones 1-2, Valladollid vs Celta 0-0, Osasuna vs Gijon 3-0, Zaragoza vs Real Madrid 4-1, Albacete vs Sociedad 1-1.

JERMAN

3/5: Muenchen vs Nuernberg 5-0.
7/5: Bremen vs Moenchengladbach 4-2, Wattenscheid vs Karlsruhe 5-1, Koeln vs Frankfurt 2-3, Leipzig vs Leverkusen 2-3, Duisburg vs Freiburg 0-2, Muenchen vs Schaike 2-0, Dortmund vs Nuernberg 4-1, Hamburg vs Kaiserslautern 1-3, Stuttgart vs Dresden 3-0.

PRANCIS

21/5: Monaco vs Nantes 1-0, Le Havre vs Toulouse 1-1, Cannes vs St Etienne 0-0, Paris SG vs Bordeaux 4-1, Lens vs Marseille 2-3, Martigues vs Lille 2-2, Auxerre vs Strasbourg 2-1, Lyon vs Montpellier 3-2, Metz vs Caen 2-1, Angers vs Sochaux 1-2.

BELANDA

3/5: Ajax vs Groningen 0-2, Feyenoord vs PSV 2-1.
7/5: Go Ahead vs Sparta 1-5.
8/5: Twente vs 4-1, Feyenoord vs Roda 2-1, Volendam vs PSV 3-2, Groningen vs Vitesse 0-0, Willem II vs Ajax, NAC vs Utrecht 2-2, Heerenveen vs MVV 3-1, VVV vs RKC 0-2.


KLASEMEN AKHIR


ITALIA (sistem 2 poin untuk menang) 
01. Milan          34 19 12 3  36 – 15 50
02. Juventus       34 17 13 4  58 – 25 47
03. Sampdoria      34 18 8  8  64 – 39 44
04. Lazio          34 17 10 7  55 – 40 44
05. Parma          34 17 7  10 50 – 35 41
06. Napoli         34 12 12 10 41 – 35 36
07. Roma           34 10 15 9  35 – 30 35
08. Torino         34 11 12 11 39 – 37 34
09. Foggia         34 10 13 11 46 – 46 33
10. Cremonese      34 9  14 11 41 – 41 32
11. Genoa          34 8  16 10 32 – 40 32
12. Cagliari       34 10 12 12 39 – 48 32
13. Inter          34 11 9  14 46 – 45 31
14. Reggiana       34 10 11 13 29 – 37 31
15. Piacenza       34 8  14 12 32 – 43 30
16. Udinese        34 7  14 13 35 – 48 29
17. Atalanta       34 5  11 18 35 – 65 21
18. Lecce          34 3  5  26 28 – 72 11
                   
INGGRIS (sistem 3 poin untuk menang) 
01. Manc Utd       42 27 11 4  80 – 38 92
02. Blackburn      42 25 9  8  63 – 36 84
03. Newcastle      42 23 8  11 82 – 41 77
04. Arsenal        42 18 17 7  53 – 28 71
05. Leeds          42 8  16 8  65 – 39 70
06. Wimbledon      42 18 11 13 56 – 53 65
07. Sheffield Wed  42 16 16 10 76 – 54 64
08. Liverpool      42 17 9  16 59 – 55 60
09. QPR            42 16 12 14 62 – 61 60
10. Aston Villa    42 15 12 15 46 – 50 57
11. Coventry       42 14 14 14 43 – 45 56
12. Norwich        42 12 17 13 65 – 61 53
13. West Ham       42 13 13 16 47 – 58 52
14. Chelsea        42 13 12 17 49 – 53 51
15. Tottenham      42 11 12 19 54 – 59 45
16. Man City       42 9  18 15 38 – 49 45
17. Everton        42 12 8  22 42 – 63 44
18. Southampton    42 12 7  23 49 – 66 43
19. Ipswich        42 9  16 17 35 – 58 43
20. Sheffield Utd  42 8  18 16 42 – 60 42
21. Oldham         42 9  13 20 42 – 68 40
22. Swindon        42 5  15 22 47 -100 30
                   
SPANYOL (sistem 2 poin untuk menang) 
01. Barcelona      38 25 6  7  91 – 42 56
02. La Coruna      38 22 12 4  54 – 18 56
03. Zaragoza       38 19 8  11 71 – 47 46
04. Real Madrid    38 19 7  12 61 – 50 45
05. Bilbao         38 16 11 11 61 – 47 43
06. Sevilla        38 15 12 11 56 – 42 42
07. Valencia       38 14 12 12 55 – 50 40
08. Santander      38 15 8  15 44 – 42 38
09. Oviedo         38 12 13 13 43 – 49 37
10. Tenerife       38 15 6  17 50 – 57 36
11. Sociedad       38 12 12 14 39 – 47 36
12. Atletico       38 13 9  16 54 – 54 35
13. Gijon          38 15 5  18 42 – 57 35
14. Albacete       38 10 15 13 49 – 58 35
15. Celta Vigo     38 11 11 16 41 – 51 33
16. Logrones       38 9  15 14 47 – 58 33
17. Vallecano      38 9  13 16 40 – 58 31
18. Valladolid     38 8  14 16 28 – 51 30
19. Lerida         38 7  13 18 29 – 48 27
20. Osasuna        38 8  10 20 34 – 63 26
                   
JERMAN (sistem 2 poin untuk menang)  
01. Bayern         34 17 10 7  68 – 37 44
02. Kaiserslautern 34 18 7  9  64 – 36 43
03. Leverkusen     34 14 11 9  60 – 47 39
04. Dortmund       34 15 9  10 49 – 45 39
05. Frankfurt      34 15 8  11 57 – 41 38
06. Karlsruher     34 14 10 10 46 – 43 38
07. Stuttgart      34 13 11 10 51 – 43 37
08. Bremen         34 13 10 11 61 – 44 36
09. Duisburg       34 14 8  12 41 – 52 36
10. Gladbach       34 14 7  13 65 – 59 35
11. Koeln          34 14 6  14 49 – 51 34
12. Hamburg        34 13 8  13 48 – 52 34
13. Dresden        34 10 14 10 33 – 44 34
14. Schalke        34 10 9  15 38 – 50 29
15. Freiburg       34 10 8  16 54 – 57 28
16. Nuernberg      34 10 8  16 41 – 55 28
17. Wattenscheid   34 6  11 17 48 – 70 23
18. Leipzig        34 3  11 20 32 – 69 17
                                     
PRANCIS (sistem 2 poin untuk menang) 
01. Paris SG       38 24 11 3  54 – 22 59
02. Marseille      38 19 13 6  56 – 33 51
03. Auxerre        38 18 10 10 54 – 29 46
04. Bordeaux       38 19 8  11 54 – 37 46
05. Nantes         38 17 11 10 47 – 32 45
06. Cannes         38 16 12 10 50 – 43 44
07. Montpellier    38 15 13 10 41 – 37 43
08. Lyon           38 17 8  13 38 – 40 42
09. Monaco         38 14 13 11 52 – 36 41
10. Lens           38 13 13 12 49 – 40 39
11. St Etienne     38 12 13 13 38 – 36 37
12. Metz           38 12 13 13 36 – 35 37
13. Strasbourg     38 10 14 14 43 – 47 34
14. Sochaux        38 10 13 15 39 – 48 33
15. Lille          38 8  16 14 40 – 49 32
16. Caen           38 12 7  19 29 – 54 31
17. Le Havre       38 7  15 16 29 – 48 29
18. Martigues      38 5  17 16 37 – 58 27
19. Toulouse       38 4  15 19 26 – 60 24
20. Angers         38 4  13 21 37 – 64 21

BELANDA (sistem 2 poin untuk menang)
01. Ajax           34 26 2  6  86 – 26 54
02. Feyenoord      34 19 13 2  61 – 27 51
03. PSV            34 17 10 7  60 – 36 44
04. Vitesse        34 17 6  11 63 – 37 40
05. Twente         34 15 9  10 57 – 43 39
06. Roda JC        34 15 8  11 55 – 40 38
07. NAC Breda      34 14 10 10 61 – 52 38
08. Willem ll      34 15 7  12 48 – 42 37
09. Sparta         34 12 8  14 58 – 57 32
10. MVV            34 11 10 13 49 – 58 32
11. Volendam       34 13 4  17 46 – 55 30
12. Go Ahead       34 10 8  16 44 – 57 28
13. Heerenveen     34 9  10 15 34 – 61 28
14. Groningen      34 9  8  17 42 – 65 26
15. Utrecht        34 9  8  17 40 – 63 26
16. RKC            34 8  9  17 38 – 56 25
17. VVV            34 7  11 16 30 – 62 25
18. Cambuur        34 6  7  21 28 – 64 19
                                     


PENCETAK GOL TERBANYAK
ITALIA
23 - Giuseppe Signori (Lazio).
18 - Gianfranco Zola (Parma).
17 - Roberto Baggio (Juventus); Andrea Silenzi (Torino).
16 - Ruben Sosa (Inter).
15 - Daniel Fonseca (Napoli); Ruud Gullit (Sampdoria).

INGGRIS
42 - Andy Cole (Newcastle United).
34 - Alan Shearer (Blackburn Rovers); Ian Wright (Arsenal).
28 - Chris Sutton (Norwich City).
25 - Mark Stein (Chelsea).
24 - Sean McCarthy (Oldham); Peter Beardsley (Newcastle United).
23 - Mark Bright (Sheffield Wednesday); Dean Holdsworth (Wimbledon).

SPANYOL
30 - Romario Faria (Barcelona).
24 - Davor Suker (Sevilla).
23 - Meho Kodro (Real Sociedad).
20 - Carlos Munoz (Real Oviedo).
18 - Julen Guerrero (Athletico Bilbao).
17 - Jose Ziganda (Athletico Bilbao).
16 - Hugo Sanchez (Rayo Vallecano), Bebeto (Deportivo La Coruna), Hristo Stoichkov (Barcelona), Pedrag Mijatovic (Valencia), Oleg Salenko (Logrones).

JERMAN
18 - Anthony Yeboah (Eintracht Frankfurt); Stefan Kuntz (Kaiserslautern).
16 - Stephane Chapuisat (Borussia Dortmund); Paulo Sergio (Bayer Leverkusen).
15 - Toni Polster (Koeln).
14 - Thomas von Heesen (Hamburg).

PRANCIS
20 - Youri Djorkaeff (Monaco); Nicolas Ouedec (Nantes).
19 - Roger Boli (Lens); Franck Priou (Cannes).
15 - Sonny Anderson (Marseille).
13 - Alain Caveglia (Sochaux).
12 - Christophe Cocard (Bordeaux); David Ginola (Paris Saint-Germain), Roland Wohlfarth (St Etienne); Hendrikus Vos (Sochaux); David Zitelli (Metz); Didier Tholot (Martigues); Kenneth Andersson (Lille); Christophe Lagrange (Angers).
10 - Corentin Martins (Auxerre); Stephane Paille (Bordeaux); Mikael Madar (Cannes), Joel Tiehi (Le Havre); Juergen Klinsmann (Monaco);Pascal Vahirua (Auxerre).
9 - Philippe Vercruysse (Bordeaux); George Weah (Paris Saint-Germain), Bixente Lizarazu (Bordeaux).

BELANDA
26 - Jari Litmanen (Ajax).
25 - Pierre Van Hooijdonk (NAC).
22 - Jan Gillhaus (Vitesse).

(foto: fiebrebetica)



Share:

Piala Asia 1994: Marleve Tak Berdaya di Udara Dingin

Hasil yang dicapai Indonesia di Kejuaraan Asia memang seperti yang telah diduga. Demi menyelamatkan Piala Thomas dan Uber, 10-21 Mei mendatang, PBSI sengaja tidak mengirimkan pemain kelas satu untuk mengikuti kejuaraan yang berlangsung di Shanghai, Cina. 

Namun, agar kejuaraan ini juga jangan sampai tersia-sia begitu saja, paling tidak bisa dijadikan sebagai ajang pematangan diri bagi pemain-pemain muda, maka dikirimlah Marleve Mainaky dkk. Hasilnya, jangankan gelar juara, maju ke final saja tidak ada yang berhasil. Hanya Marleve dan ganda Sandy Gunawan/Sri Untari yang masuk semifinal. 

Piala Asia 1994: Marleve Tak Berdaya di Udara Dingin

Sebetulnya Indonesia juga mengharapkan bisa unjuk gigi lagi, seperti tahun 1991 ketika Yuliani Sentosa merebut gelar tunggal putri. Setidaknya lewat Marleve yang menjadi unggulan kedua dan Lioe Tiong Ping, yang sudah masuk pelatnas utama tapi belum termasuk dalam tim Piala Thomas. Begitu pula harapan dari tunggal putri lewat Ika Heny yang unggulan 3-4. Sayang mereka ternyata belum mampu menunjukkan hasil yang maksimal. 

Ketika menghadapi Foo Kok Keong di semifinal, Marleve, juara AS Terbuka 1993, seperti kehilangan kontrol. "Saya tidak tahan pada dinginnya udara di dalam stadion," kata Marleve ketika ditemui Selasa pagi saat berlatih di Gedung Pelatnas, Cipayunng. 

Ia tampak masih letih, maklum malamnya baru tiba di Shanghai. Menurutnya, udara di dalam Shanghai Gymnasium itu justru lebih dingin dibandingkan dengan udara di luar stadion. Di luar 15 derajat Celcius, tapi di dalam antara 12-13 derajat Celcius.

Kegagalan Marleve tampaknya bukan karena faktor teknis semata. Soalnya, sebelumnya skor mereka seimbang 1-1. Marleve menang di Cina Terbuka dan kalah di Hong Kong Terbuka, keduanya tahun 1992. Dari segi fisik, Foo tentulah kalah dibanding Marleve. Tetapi soal pengalaman memang Foo lebih di atas. Inilah yang membuatnya bisa mengatasi Marleve. Foo pandai memainkan ritme permainan.

"Uletnya luar biasa dan stroke-nya juga kuat. Saya benar-benar dikendalikan," aku pemuda kelahiran Ternate, 26 Maret 1972 ini lebih lanjut. Maka wajar saja kalau adik Rexy Mainaky ini kalah. Bahkan hanya dalam waktu 27 menit dengan angka telak, 6-15, 7-15. 

Memang pantas kalau kemudian Foo jugalah yang tampil sebagai juara. Di final ia mengalahkan unggulan pertama andalan tuan rumah, Liu Jun 15-13, 9-15, 15-3. Di sektor putri, lain lagi nasib Ika Heny. Pemain masa depan yang juga termasuk tim bayangan tim Piala Uber ini sebelumnya ditargetkan minimal masuk ke semifinal, malah lebih awal lagi kalahnya. Ia sudah tumbang di babak ketiga. 

Pemain kelahiran Lumajang, 5 Mei 1974 ini dikalahkan pemain tuan rumah, Sun Jian 5-11, 7-11. "Wah, dia itu seperti nggak mati-mati. Pengembalian dan penempatan bolanya malah lebih berbahaya, diserang terus malah saya sangat kewalahan. Akhirnya saya mati sendiri," tutur Ika dengan logat Jawa yang kental. "Mungkin karena baru pertama kali bertemu, jadi saya agak kaget dengan permainannya."

Dari hasil yang kurang menggembirakan itu, ada juga yang memberi harapan. Ganda campuran Sandy/Untari, yang tidak perhitungkan, ternyata mampu melaju sampai ke semifinal. Padahal ini merupakan debut mereka sebagai pasangan turnamen internasional. Langkah mereka pun baru berhenti setelah diganjal unggulan pertama Sun Ma/Chen Xingdong 9-15, 9-15.




(foto: Ian Situmorang)



Share:

Piala Thomas dan Uber 1994: AC Hanya untuk Penonton VIP

Menyambut turnamen besar perebutan Piala Thomas dan Uber, yang akan digelar 10-21 Mei 1994 ini, cukup banyak orang-orang yang memberikan komentarnya. Umumnya ingin ikut memberi saran agar piala-piala tersebut dapat kita rebut.

Piala Thomas dan Uber 1994: AC Hanya untuk Penonton VIP

Apalagi kali ini Indonesia sebagai tuan rumah. Usul pun tidak hanya terbatas pada persiapan secara teknis permainan saja, tapi sampai ke hal-hal yang menyangkut penyelenggaraannya. Salah satu yang paling banyak mendapat sorotan adalah masalah fasilitas gedung yang dipakai untuk pertandingan, Istora Senayan, Jakarta. 

Bagaimana agar melalui kondisi gedung pun bisa ditarik keuntungan bagi tim kita. Misalnya masalah air conditioning (AC), yang akan dipasang di dalam gedung. Ada yang tidak sependapat karena menganggap adanya alat penyejuk ruangan ini justru akan memberi keuntungan buat pemain-pemain yang berasal dari negeri-negeri berhawa dingin. 

Benarkah demikian? Sampai saat ini masih terlihat kesibukan-kesibukan para pekerja untuk merenovasi gedung yang tahun 1986 pun dipakai untuk perhelatan yang sama. Bagian luar maupun dalam. "Kami telah memperbaiki bagian-bagian utama seperti lapangan, tempat duduk penonton, lampu, kecuali ruangan VIP dan pemasangan AC," kata Djuardi, seorang staf pengelola Istora, Selasa lalu. 

"AC-nya sendiri. yang dipesan berkuatan 3 PK, masih berada di Singapura dan direncanakan baru tiba tanggal 16 April ini. Tapi yang belum siap itu nantinya akan siap pada waktunya," lanjutnya optimis. Dan waktu yang dimaksud itu menurutnya, juga menurut Titus Kurniadi tepatnya tanggal 26 April nanti. 

"Mulai tanggal itu Istora sudah bisa dipakai untuk latihan tim kita," kata ketua panitia penyelenggara Piala Thomas/Uber 1994 ini. Bagi Titus, hal terpenting dalam persiapan gedung Istora sekarang ini adalah masalah AC. 

Berdasarkan pengalaman sendiri dalam menyelenggarakan beberapa turnamen bulutangkis internasional, Titus mengungkapkan alasannya mengapa AC itu menjadi penting di Istora sekarang ini. "Pada kejuaraan-kejuaraan sebelumnya, kita lihat tempat-tempat yang VIP, darimana sebetulnya pemasukan lebih banyak? Banyak yang kosong. Kenapa? Karena orang kepanasan, jelasnya. 

"Orang jadi memilih lebih baik menonton di televisi saja." Tetapi dengan menonton di rumah ada yang kurang juga. Orang jadi kehilangan atmosfir yang gegap gempita, yang menyenangkan dalam menonton pertandingan itu. " AC itu sudah menjadi tuntutan masyarakat, khususnya masyarakat pencinta bulutangkis untuk menonton bulutangkis dalam suatu tempat yang sejuk. Tidak usah dingin," kata Titus. 

Jadi tujuannya betul-betul untuk penonton. Jadi tuntutan akan kesejukan ini wajar-wajar saja. Apalagi AC bukan lagi hal yang mewah. Sekarang ini hampir semua mobil ber-AC, begitu juga di rumah. "Langkah Istora yang memasang AC itu memang sudah tepat dan sudah waktunya," kata Titus. 

Siap Waktunya

Itu untuk kepentingan penonton, bagaimana bagi pertandingannya sendiri? Apa tidak ada pengaruhnya? "Arenanya memang tidak bisa diberi kesejukan," jawab Titus. Apalagi di atas lapangan dipasang lampu yang harus mencapai penyinaran 1.200-1.400 watt. Jadi memang harus panas." 

Kecuali itu, AC pun tidak bisa dipasang secara penuh untuk mendinginkan seluruh ruangan, karena bisa menimbulkan turbulensi udara yang dapat mengganggu permainan. Seperti yang terjadi di Singapore Indoor Stadion. 

"Jadi dari antara sekian banyak kepentingan ini, kita memilih pertandingannya itu sendiri, the game harus menjadi prioritas!" Karena itulah, biar pun diberi AC, tapi tidak semua penonton nantinya yang akan dimanjakan dengan penyejuk ruangan itu. Mungkin hanya penonton yang membayar lebih saja yang akan dapat menikmatinya. Hanya di sisi barat dan timur saja yang akan dipasangi beberapa fan coil unit. 

Masing-masing unit itu juga ada switch on off-nya, hingga jika dirasakan masih menyebabkan turbulensi, masih bisa dimatikan untuk bagian-bagian yang memang mengganggu. Di situlah letak komprominya, antara kepentingan penonton dan pertandingannya. Penonton tidak perlu kipas-kipas sementara pemain pun tidak terganggu dalam bermain. 

"Jadi kalau pemain asing yang tidak tahan panas itu berharap, dengan Istora dipasang AC, lalu seluruh ruangan menjadi dingin, itu tidak benar. Masyarakat kita tidak perlu kuatir soal ini. Hanya saja renovasi kita memang belum mencapai seluruhnya," tambah Titus.

Salah satu yang masih kurang adalah soal tempat duduk yang bernomor. Soalnya kalau sudah ber-AC nanti penonton dilarang merokok. Yang mau merokok silakan di luar, di galeri. Repotnya, kalau mau masuk lagi, biasanya kursinya sudah hilang, ditempati penonton lain. "Ini akan coba kita hindari dengan menjual karcis tidak berlebih-lebihan, sesuai dengan jumlah tempat duduknya," kata Titus.

Ada satu hal yang perlu dicatat penonton yang ingin menyaksikan bagaimana jago-jago bulutangkis berlaga. Untuk pertama kali, selain dilarang merokok, juga dilarang membawa makanan dan minuman ke dalam. "Ini untuk menghindari terjadinya lempar-lemparan dari penonton," ucap Titus memberi alasan. Sebagai negara bulutangkis terkuat di dunia saat ini, kita ini sudah pantas memiliki gedung pertandingan yang memadai.

Istora dengan renovasinya, rasanya sudah mutlak dilakukan agar tidak kalah dibanding Stadion Negara atau Stadion Cheras di Kuala Lumpur. Tinggal sekarang, mampukah Joko Suprianto dkk. merebut Piala Thomas di Istora itu seperti yang dilakukan Rashid Sidek cs. di Stadion Negara?


(foto: istimewa)



Share:

Turnamen Gunadharma 1994: Edhi Handoko Raih Grand Master

Lewat perjuangan cukup panjang, MI Edhi Handoko akhirnya meraih gelar Grandmaster setelah merebut nilai 8 dari kemungkinan 12 yang dimainkan pada Turnamen Catur Grandmaster Internasional Gunadharma, yang berakhir Rabu (6/4) di Dai-ichi Hotel, Senen, Jakarta.

Sukses Edhi dihasilkan setelah di laga terakhir bermain remis dengan MI Xu Jun dari Cina. Sukses Edhie menulari rekan senegaranya, Salor Sitanggang, yang meraih norma MIR (Master International Result) untuk kedua kali. Kedua sukses ini amat berarti. 

Sebab dengan hasil ini, Edhie menjadi GM keempat bagi Indonesia setelah Herman Suradiraja, Ardiansyah dan Utut Adianto. Sementara Edhi sebelumnya meraih GMR di Sirkuit Grandmaster Asia di Beijing dan Jakarta.

Turnamen Gunadharma 1994: Edhi Handoko Raih Grand Master
Turnamen bersejarah buat Edhi Handoko.

Sembilan pecatur luar negeri yang ikut dalam turnamen ini adalah GM Grigory Serper dari Uzbekistan, GM Ye Chuangchuan, GM wanita Xie Jun, GM Rongguang, MI Xu Jun (Cina). GM Rogelio Antonia (Filipina), GM Zbynek Hracek dan GM Pavel Blatny (Ceko), serta MI Vladislav Tkachie (Kazakhstan).

Sedangkan tuan rumah selain Edhi menurunkan GM Utut Adianto, FM Salor Sitanggang, dan Dede Liu. "Turnamen ini mempunyai arti sangat besar. Terutama untuk memberikan penambahan jam terbang pecatur, sehingga dapat memacu prestasi maksimal serta mencetak gelar Grandmaster dan Master Internasional," ungkap sekretaris panpel yang juga Ketua Lepkom STMIK Gunadharma, Bunawan.

Bagi Gunadharma kegiatan ini merupakan penyelenggaraan kedua turnamen catur bertaraf internasional setelah yang pertama 1993, yakni Sirkuit Grandmaster Asia. Uniknya, MI Edhi Handoko salah satu pecatur kuat Indonesia, mengatakan dia sebenarnya kurang persiapan dalam menghadapi turnamen ini. Sedangkan Salor Sitanggang merasa gembira bisa ikut turnamen ini.

"Saya sangat gembira bisa ikut di turnamen ini. Apalagi lawan-lawan kita juga cukup kuat. Saya harapkan turnamen seperti ini akan lebih sering diadakan. Karena buat kita akan besar manfaatnya," ujar Salor Sitanggang yang di babak kelima pada langkah ke-42 mengalahkan juara dunia wanita asal Cina GM Xie Jun.




(foto: Kristianus Liem)


Share:

Persaingan Terselubung Iswadi vs Ronny

Tahun 1977, salah satu klub sepak bola terkaya di dunia asal Amerika Serikat, Cosmos New York, mencoba impian yang hebat. Dengan senjata dollar, mereka berambisi menggabungkan tiga superstars dunia; Pele, Franz Beckenbauer, dan Johan Cruijff di dalam satu kesebelasan. Bayangkan.

Tetapi impian ini tidak pernah terwujud. Dengan keangkuhan burung merak, Cruijff menampik tawaran Cosmos. Uniknya, mahabintang asal Belanda itu malah memilih bergabung dengan klub AS lain, pesaing Cosmos, yaitu Los Angeles Aztecs. Walau tawaran bayarannya lebih rendah, Cruijff tidak peduli. Tampak, dia memang hanya ingin mencuat sendirian, agar tidak ada yang menandingi.

Kisah persaingan antarbintang sepak bola seperti ini sudah menjadi cerita klasik. Tahun 1958 misalnya, Didi, bintang Brasil, ditransfer ke Real Madrid, Spanyol. Didi adalah pemain kenamaan yang bersama Zito menjadi duet penghubung tim Samba tatkala meraih titel juara dunia pada Piala Dunia 1958 di Swedia. Saat itu dia dianggap sebagai gelandang terbaik sejagat.

Tetapi di Real Madrid sudah dulu ada Alfredo Di Stefano, pemain hebat dari Argentina, yang juga adalah seorang gelandang termahsyur. Di Stefano tak ingin disaingi oleh Didi dan memboikotnya. Jika mendapat bola, Di Stefano tak pernah mengumpannya ke Didi.

Kesal dan kecewa, tahun 1960 Didi putuskan kontrak dengan Real Madrid dan kembali ke negeri asalnya dengan dendam berkobar. Ia bertekad mengalahkan Di Stefano jika pemain tersebut memperkuat Spanyol ke Piala Dunia 1962 di Chile. Sayang, Di Stefano yang sudah ganti kewarganegaraan, tidak jadi memperkuat Spanyol. Alasannya karena cedera. Brasil keluar sebagai juara dunia di Chile, namun dendam Didi tak terbalas.

Tahun 1974 ketika memimpin Belanda ke kejuaraan dunia, pelatih Rinus Michels juga direpotkan dengan pertengkaran Cruijff dan Johan Neeskens yang masing-masing merasa diri lebih serba bisa dari yang lain. Menjelang Piala Dunia 1982, pelatih Jupp Derwal dari Jerman Barat juga dibuat pening oleh persaingan Karl Heinz Rummenigge (dan didukung oleh Paul Breitner) dengan Bernd Schuster.

Iswadi dan Ronny

Di Tanah Air, sekurang-kurangnya sejak tahun 1979, terasa persaingan seperti itu terjadi pada dua pemain nasional terbesar kita yang terakhir, Iswadi Idris dan Ronny Pattinasarani.

Persaingan ini demikian terselubung sehingga hampir tak pernah terungkap di media massa. Baru setelah Ronny tidak dipanggil untuk tim nasional SEA Games 1983 di Singapura, persaingan mereka terungkap. Apalagi setelah tim nasional yang dilatih Iswadi itu digunduli 0-5 oleh Muangthai. Tetapi sebulan kemudian, Juli, keduanya konon melakukan gencatan senjata ketika bersua di pusara almarhum Jakob Sihasale.

Sesungguhnya persaingan Iswadi vs Ronny sudah berakar sejak tahun 1974 ketika Persija Jakarta dan PSM Ujungpandang berhadapan di Stadion Utama Senayan dalam final Piala Presiden. Keduanya kapten kesebelasan. Ronny yang waktu itu masih memperkuat PSM, memenangkan persaingan tersebut, PSM juara.

Tetapi kebolehan Ronny waktu itu belum jadi jaminan untuk masuk tim nasional. Apalagi karena kegemarannya merokok. Ronny bentrok dengan Ketua Umum PSSI waktu itu, Bardosono, dan tidak direkrut. Cerita Iswadi lain lagi. Setelah kembali dari bermain di Liga Australia selama dua tahun, Iswadi langsung membela tim nasional Pra-Olimpiade 1976. Ketika itu lini tengah tim nasional didominasi oleh pemain Persija. Ronny tidak dipanggil.

Persaingan Terselubung Iswadi vs Ronny
Iswadi dan Ronny berlatih adu penalti bersama pada 1979.
Ronny baru bermain sama-sama dengan Iswadi dalam tim nasional ke Pra-Piala Dunia 1977 di Singapura dan SEA Games 1979 di Jakarta. Di Singapura, ditangani pelatih Tony Poganik. Lalu di Jakarta oleh Wiel Coerver. Tampaknya hanya kedua pelatih besar itu saja yang mampu dan berani menggabungkan Iswadi dan Ronny dalam satu tim.

Hasilnya, walaupun tidak merebut gelar juara di kedua arena itu, saat-saat tersebut merupakan tahun-tahun terakhir kesebelasan Indonesia ditakuti di luar negeri.

Masa Surut

Lalu datanglah masa-masa surut, tahun-tahun di mana Iswadi dan Ronny sebetulnya bisa bersatu menjadi tulang punggung tim nasional, tetapi tidak pernah lagi ada pelatih yang mampu mempersatukan mereka. Bahkan timbul kesan lahirnya persaingan diam-diam antara kedua pemain tersebut.

Awal tahun 1980, Iswadi dipanggil memperkuat tim nasional ke Pra-Olimpiade di Kuala Lumpur di mana tim nasional untuk pertama kalinya kalah dari Brunei 2-3. Ronny Pattinasarani tidak dipanggil. Padahal ketika itu, dengan Iswadi bermain dalam sebagai ekstra free-back, Ronny dapat memainkan peranan besar sebagai penghubung yang mengalirkan serangan balik.

Dengan kemampuannya yang berkembang sebagai pemimpin pertahanan sejak dipercayakan oleh Coerver sebagai libero tahun 1979. Ronny juga bisa memainkan peranan sebagai tabir depan pertahanan.

Ronny kemudian membuktikan PSSI keliru tidak memanggil dia, ketika dalam final Galatama, Mei 1980, ia memimpin Warna Agung menjadi juara, dengan menundukkan Jayakarta yang dipimpin rival utamanya, Iswadi Idris. Andaikata Iswadi dan Ronny waktu itu sama-sama memperkuat tim nasional, sangat besar kemungkinan kali itu tim nasional lolos ke Olimpiade, walaupun kemudian tidak ke Moskwa karena memboikot.

Menghadapi Pra-Piala Dunia 1981, Ronny dipanggil dan ia segera membuktikan diri sebagai play-maker yang menonjol. Tetapi Ronny ketika itu sudah 31 tahun. Andaikata lebih awal mendapat kepercayaan, ia bisa memberi lebih banyak bagi tim nasional. Indonesia memang tersisih, bahkan menelan kekalahan pahit 0-5 dari Selandia Baru di Auckland, dan bermain 3-3 melawan Fiji di Jakarta. Tetapi itu banyak disebabkan oleh kesalahan dalam penerapan strategi di lapangan.

Ronny kemudian memimpin tim nasional ke SEA Games 1981 di Manila dan apling tidak meraih perunggu dan menang 2-0 atas Singapura yang diperkuat Fandi Ahmad. Andaikata waktu itu Iswadi belum mengundurkan diri, tim nasional akan jauh lebih tangguh dan prestasi yang diraih pun lebih baik. Sayangnya ketika itu Ronny Pattinasarani tidak mendesak pelatih Bernd Fischer memanggil Iswadi.

SEA Games 1983

Setelah tampil sebagai pelatih yang paling berhasil dalam kompetisi Galatama, Iswadi dipercayakan menangani tim nasional SEA Games 1983. Tetapi Iswadi tidak merekrut Ronny Pattinasarani yang seharusnya masih pantas masuk tim nasional. Hasilnya kita sudah tahu, perunggu pun kita tidak dapat.

Kini, baik Iswadi maupun Ronny Pattinasarani, menjadi orang luar dari tim nasional. Dipanggil bermain juga tidak, sebagai pelatih juga tidak. Dan ketika pukulan kekalahan beruntun di Singapura dari India dan Singapura, orang berbicara tentang tidak adanya permain bertipe pemimpin dalam tim kita, yang mampu mengangkat tim di lapangan.

Pada saat-saat seperti ini suka atau tidak, orang akan berpaling ke pemain seperti Iswadi dan Ronny yang mempunyai kualitas demikian. Bahkan kini, masing-masing dalam usia 35 dan 33 tahun, pemain mana pun dalam 22 anggota tim Pra-Olimpiade masih terus menyegani Iswadi dan Ronny jika berhadapan di lapangan. Pemain seperti Iswadi dan Ronny entah kapan lagi baru lahir. 


(Catatan Valens Doy, foto: kompas)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini