Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Andre Cruz Malah Dapat Rezeki Nomplok

Buat Napoli, kemenangan 2-1 atas Reggiana banyak punya cerita karena harus dibayar mahal di ruang ganti. Apa gerangan yang terjadi? Masalah klasik, pencurian! Hampir semua pemain Napoli kehilangan uang di dompet, jam tangan serta kalung atau cincin.

Misalnya Carmando, pemijat klub yang pernah menjadi pemijat pribadi Diego Maradona, termasuk di Piala Dunia 1994 lalu, kecurian sekitar Rp 750 ribu. Sedangkan Benito Carbone kehilangan beberapa pecahan dolarnya.

Hitung punya hitung, nilai yang disikat ‘tikus’ ruang ganti mencapai kira-kira Rp 3 juta. Memang jumlah yang tidak begitu berarti dibandingkan gaji mereka, apalagi mereka masih larut dalam suka cita kemenangan atas tuan rumah saat itu. Tapi rasa kecewa dan jengkel luar biasa itulah yang jadi masalah.

Andre Cruz Malah Dapat Rezeki NomplokLucunya, di kala kegalauan hati rekan mereka, Andre Cruz, malah ketiban rezeki. Yang lain kehilangan, bek tengah asal Brasil ini justru dapat segepok uang, yang tak jelas milik siapa! Uang itu juga bukan milik rekan setimnya. 
“Hanya saya yang tidak kecurian. Mereka tidak menemukan satu lira pun dalam dompet. Sebaliknya mereka meletakkan di kantong mantel saya, sejuta lira!”. Tidak jelas punya siapa, namun diperkirakan barang itu milik si pencuri yang alpa menaruh di mantel yang salah! Hasilnya, Napoli vs Pencuri 1-1.

Manusia Rekor

Tanpa banyak yang tahu rupanya striker AS Roma Daniel Fonseca sering bikin rekor tersendiri. Apa itu? Pertama, dia adalah spesialis bikin doppietta (dua gol) dalam satu laga untuk setiap klubnya di Serie A, bahkan kepada bekas klubnya. Tapi itu dulu. Sekarang? Hingga kini belum pernah sekalipun.

Empat tahun lalu di Cagliari, ia melakukannya lima kali. Pada 1990/91 Sampdoria vs Cagliari 2-2 dan Bologna vs Cagliari 1-2. Lalu musim 1991/92, Cagliari vs Ascoli 2-0, Cagliari vs Foggia 2-2, dan Cagliari vs Fiorentina 4-0.

Selang dua tahun di Napoli, Fonseca kembali melakukannya sebanyak lima kali. Satu diantaranya malah tripletta atau hattrick. Dimulai pada 1992/93, Foggia vs Napoli 2-4, dan Napoli vs Pescara 2-0. Juga di 1993/94, Cagliari vs Napoli 1-2, Napoli vs Cremonese 2-1, dan tripletta saat Napoli mengubur Reggiana 5-0.

Yang sadis lagi, dia pernah bikin cinquietta alias lima gol ke gawang lawan! Kejadian langka ini lahir di laga penyisihan Piala UEFA 1993/94. Korbannya adalah gawang tuan rumah Valencia yang diremukkan Napoli 1-5. Tapi di klubnya yang baru ini, AS Roma, tumben dia belum juga menunjukkan tanda-tanda bikin spesialisasinya itu. Kenapa ya?

Dari analisis sederhana, jawabannya mudah didapat. Pasalnya di Roma bercokol juga striker Argentina Abel Balbo. Serie A masih menyisakan 15 laga lagi. Apa apakah Fonseca meneruskan rekor istimewanya itu, atau ia bikin ‘rekor’ baru lagi: tidak pernah bikin doppietta di Roma. Kita tunggu.

Fonseca Pindah Lagi?

Masih soal Fonseca. Pria Uruguay yang sebelum di AS Roma, bermain di Napoli ini didesas-desuskan hengkang ke AC Milan. Tampaknya makin santer. Itu akibat pemberitaan pers, yang memergokinya tengah berkeliaran di Via Dell’Anima, Roma. Roma? Apa hubungannya?

Begini. Di jalan itu, tepatnya pada nomor 31 A, ada sebuah apartemen yang tingkat keduanya dihuni oleh Silvio Berlusconi, ketua dan pemilik klub kondang berjuluk Rossoneri. Maka harian terbitan Roma, L’Informazione, segera saja memberitakan bahwa Fonseca telah melakukan ‘pertemuan rahasia’ dengan mantan PM Italia itu untuk menjajagi kemungkinan kepindahannya.

Lalu bagaimana reaksi Fonseca? “Wah berabe deh, saya sedang mencari rumah kok, malah dikabarkan yang bukan-bukan. Saya sendiri baru tahu kalau di sana juga tinggal Berlusconi karena saya lihat apartemen itu dijaga oleh polisi,” katanya setengah dongkol.

Sejak kecurian mobil, akibat lingkungan yang rawan, ia memang sedang berusaha keras mencari rumah baru. Sang agen real estate pun memperlihatkan salah satu rumah sewaan yang ditawarkannya. Kebetulan di situ juga tinggal Berlusconi.

(foto: andrecruz.com.br/zmnapoli)

Share:

Berat Peluang Bayern Muenchen

Setelah winterbreak, Bundesliga mulai berputar lagi Sabtu besok. Memasuki putaran kedua itu, klub pionir Jerman, Bayern Muenchen, mendapat tantangan super berat. Sementara klub lain mempunyai persiapan diri yang matang dari segala sudut, sebaliknya Muenchen malah didera permasalahan yang cukup rumit.  Adakah peluang mereka mengulang sukses tahun lalu? Entahlah.
Berat Peluang Bayern Muenchen

Cederanya Lothar Matthaeus kemudian Jean-Pierre Papin dan hengkangnya der Trainer Giovanni Trapattoni, sepertinya menambah daftar panjang akan gagalnya juara bertahan itu. “Ya, kami memang punya beberapa masalah. Tapi hal ini tak membuat kami patah semangat untuk mengejar gelar,” kata manajer Uli Hoeness.

Mengejar gelar? Kubu Muenchen boleh saja yakin, bahkan terlalu yakin mengingat kekuatan mereka boleh dikata tinggal setengahnya saja. Musim 1990/91 Muenchen pernah punya pengalaman pahit ketika keyakinan berlebihan tidak dibarengi oleh kesiapan. Di saat-saat akhir ‘titel’ juara Bundesliga mereka lepas karena disodok Kaiserslautern. Dua musim berikutnya, juara Jerman 13 kali itu malah tidak berkutik sama sekali ketika secara berturut-turut, VfB Stuttgart dan Werder Bremen bergiliran merenggut mahkota Bundesliga.

Tahun ini persaingan tambah ketat lagi. Benar mereka menjuarai kompetisi musim lalu namun skuad saat itu amatlah prima. Olaf Thon, Jorginho, Stefan Reuter, sampai bomber Adolfo Valencia masih ada. Tapi kini? Apalagi beberapa tim lain seperti Borussia Moenchengladbach atau Freiburg memperlihatkan kemajuan yang mengagumkan. Mereka itulah yang menyodok Muenchen pada klasemen sementara. Freiburg inilah yang pernah menghancurkan Matthaues dkk. 5-1 di putaran pertama.

Sementara itu Bayer Leverkusen dengan Rudi Voeller-nya, lalu Kaiserslautern dengan Stetan Kuntz, atau Karlsruge lewat maestronya, Thomas Haessler, siap-siap menggeser klub yang akan digarap oleh mantan pelatih Werder Bremen, Otto Rehhagel, mulai putaran depan. Selisih nilai mereka amatlah tipis.

Maka jangan dulu bermimpi bersaing dengan Bremen atau Borussia Dortmund. Amat berat. Yang perlu dibenahi Rehhagel tak lain adalah mental para pemain. Alangkah malangnya memang kalau Muenchen yang peluangnya kecil di Piala Champion, lenyap pula kesempatannya mempertahankan gelar di Bundesliga. Atau ada langkah ajaib dari Franz Beckenbauer, sang ketua, yang biasanya mempunyai resep jitu dalam menyusun strategi?

(foto: branchofscience)

Share:

Doa Ayah Yang Terkabul

Sejak saya pertama kali mengabarkan keadaan Kurniawan Dwi Yulianto – dengan menghubunginya langsung ke Swiss – beberapa kali kantor saya menerima telpon dari pembaca yang minta alamat pesepak bola nomor satu Indonesia paling populer itu di negeri ‘jantung’ Eropa tersebut. Kebanyakan remaja putri.

Doa Ayah Yang TerkabulTetapi, belakangan ada seorang lelaki yang menelpon. Sama maksudnya minta alamat sang bintang muda. Tadinya disangka penggemar biasa. Tak dinyana, orang tersebut adalah ayah kandung Kurniawan, Budi Riyanto, yang di awal kedatangannya malah menyempatkan diri menelpon saya terlebih dulu, sebelum ke familinya yang lain di Jakarta. “Sekarang saya lagi berada di terminal Pulo Gadung, baru datang dari Magelang, Mas,” ujar Budi yang mengaku kepergiannya ke Jakarta karena merasakan kerinduan putranya itu pada keluarganya.

Pak Budi juga rela mondar-mandir antara rumah familinya dengan wartel, sekedar ingin menghibur Ade – sapaan Kurniawan di rumah – atau mendukungnya dari jauh. Sekarang ini sang anak sedang berada di Mauritius bersama FC Luzern untuk mengikuti tur dan latihan sekaligus liburan untuk persiapan lanjutan kompetisi Liga Swiss.

Sayangnya hal itu tak pernah kesampaian. Soalnya hubungan komunikasi ke Mauritius amatlah sulit dan sibuk. “Kalau begitu, tolong sampaikan salam dan pesan saya padanya, Mas. Dia harus mencetak gol. Doa saya selalu menyertainya siang malam,” lanjut Budi berapi-api. Setelah saya menyampaikan pesan tersebut ke Kurniawan, yang menginap di kamar 119 Hotel Le Victoria, Port Louis, Mauritius, dia sempat kaget namun senang karena sudah lama ia tak berkomunikasi dengan ayahnya itu.

“Terakhir waktu tiba, 4 Januari lalu. Pasalnya selama di Swiss saya sulit mencari waktu untuk menelpon dengan keluarga karena waktu habis untuk latihan dan latihan,” jelas Kurniawan dari balik gagang telepon internasional. Dan rupanya kesibukannya makin bertambah. “Saya juga mulai kewalahan dan bertambah sibuk karena beberapa media lain dari Indonesia terus menghubungi saya,” tambahnya berterus terang.

Namun ada kabar gembira, yang pastinya membahagiakan sang ayah. Akhirnya keinginan Budi tercapai juga. Untuk pertama kalinya seorang putra Indonesia mencetak gol di kepulauan yang terletak di pantai timur Afrika tersebut. Kurniawan mencetak gol! Ini terjadi tatkala Luzern menang 5-1 atas klub setempat Fire Brigade.

“Terima kasih, Mas. Pesan saya sudah disampaikan. Betul ‘kan, dia mencetak gol,” tutur Budi, yang kembali menelepon dari Terminal Bus Pulo Gadung sebelum pulang kembali ke Magelang, Senin lalu. Iya, betul Pak. Ini yang disebut doa Ayah yang terkabul.

(foto: tjandra)

Share:

Firasat Dalglish dan Tuah Cantona

Kerutan di wajah Kenny Dalglish tampaknya akan bertambah pada pekan-pekan mendatang. Jelas ia sedang banyak pikiran. Ia kembali menanggung beban melihat posisi Blackburn semakin diusik oleh di juara bertahan Manchester United.

Firasat Dalglish dan Tuah Cantona
Tentunya Dalglish belum lupa dengan kejadian tahun lalu. Pada saat-saat akhir, justru timnya kalah bersaing dengan United. Hal ini harus dijadikan pengalaman, karena agaknya bakal terulang lagi. Siap-siaplah Dalglish! Mampukah Dalglish menciptakan sejarah dengan membawa Blackburn menjuarai Premier League yang pertama sejak 80 tahun lalu?

Lupakan kejadian Ahad lalu ketika mereka dilibas Tottenham Hotspur 1-3 di White Hart Lane. Lupakan pula kejadian sebelum itu, di mana penjaga gawang utama mereka, Tim Flowers, diusir wasit karena dianggap menerjang striker Leeds United, Brian Deane, pada laga kisruh di Ewood Park, pekan lalu yang berakhir 1-1.

Singkirkan pula perasaan kecewa saat mereka ‘dikerjai’ wasit Paul Durkin, sehingga kalah 0-1 pada pertandingan melawan Manchester United di Old Trafford, 22 Januari kemarin. Partai yang disebut-sebut sebagai “Pertandingan Rp 160 milyar”, mengingat mahalnya komposisi bintang di kedua tim, itu memang ketat dan mencekam.

Saat itu Dalglish mencak-mencak setelah gol balasan buatan Tim Sherwood dianulir Durkin yang menganggap Alan Shearer melakukan pelanggaran duluan sebelum mengumpan ke Sherwood. “Kejadian ini sangat memalukan! Seperti tiga musim terakhir, menjadi juara Premier League itu akan ditentukan oleh wasit!“ jerit Dalglish yang jelas-jelas menampar barisan pengadil baju hitam.

The Rovers masih menyisakan 15 pertandingan, 8 diantaranya akan dimainkan di kandang mereka, Ewood Park. Namun dari sisa laganya, Blackburn akan menemui rintangan berat di empat laga away mereka; vs Arsenal (7/3), vs Leeds United (15/4), vs Newcastle United (6/5), dan partai final mereka melawan Liverpool (13/5) di Anfield.

Kendala Terbesar

Sanggupkah mereka mengatasinya? Entahlah, namun yang pasti nasib mereka lumayan karena beruntung sudah bisa menurunkan the winning team-nya secara paripurna. Graeme Le Saux (bek kiri) dan Tim Flowers (kiper) siap turun ke lapangan menghadapi mereka setelah pulih dari cederanya masing-masing.

Bagaimana sebenarnya peluang Blackburn menjuarai Premier League musim ini? Mereka mesti memahami posisi Manchester United yang lebih dijagokan, menjadi favorit masyarakat hingga bursa taruhan. Namun gaya Dalglish adalah urusan lain. Dia selalu yakin nasib baik akan berpihak kepadanya, kepada timnya. “Keunggulan daya juang kami membuat kami tidak pernah gentar meladeni siapapun,” sergah Dalglish setengah beretorika.

Satu-satunya yang diwaspadai, bahkan yang paling dianggap kendala terbesar menggagalkan timnya mengukir sejarah baru adalah wasit. “Ya, kami sangat takut dengan keputusan mereka di lapangan,” akunya kali ini dengan nada pesimistis. 

Walau masih tertinggal dalam pengumpulan angka, peluang United masih sangat terbuka. Pekan lalu pasukan Alex Ferguson mempecundangi tuan rumah Aston Villa lewat gol emas Andy Cole. Sama dengan pesaing utamanya, kiprah United ke depan juga ditentukan 15 laga.

Tanpa Eric ‘The King’ Cantona yang harus absen hingga akhir musim akibat kasus penganiayaan penonton di Selhurst Park, tampaknya masa depan United terancam. Terjadi peralihan kekuasaan di dalam tim sebab mandat komando sang raja akan dipindahkan sementara kepada Paul ‘The Governor’ Ince, gelandang bertahan sekaligus breaker andalan United.

Uniknya, sama seperti Blackburn, ada empat laga juga yang diprediksi banyak pihak, termasuk mereka sendiri, yang rentan dengan duka lara. Pertama saat menjamu Arsenal, Sabtu (18/2) depan. Berikutnya Tottenham Hotspur (11/3), yang disusul oleh laga klasik melawan Liverpool (18/3) di Anfield. Bentrok melawan Leeds United (1/4) juga jadi titik perhatian Red Devils karena secara tradisional mereka adalah musuh bebuyutan.

Faktor Cantona

Akankah Alex Ferguson memetik sukses dengan mengantarkan United merebut juara liga tiga kali berturut-turut? Terus terang, tanpa Cantona, gebyar dan kekuatan mereka akan berkurang. Seperti diketahui, sejauh ini Cantona telah berubah wujud menjadi ‘pembawa hoki’ bahkan ‘syarat utama’ sebuah klub yang ingin menjadi kampiun Premier League.

Manchester United vs Blackburn Rovers
Anda boleh tidak percaya, namun faktanya ada. Bukan kebetulan, karena tidak terjadi sekali tetapi tiga kali! Siapa orangnya sangat jelas, ya Eric Cantona itu! Setelah menganggur jadi juara Inggris selama 26 tahun, terakhir pada 1966/67, tanpa diduga United sanggup memecah mental blok dan melepas belenggunya dengan merebut titel di musim 1992/93, gelar pertama Liga Inggris sejak berganti nama menjadi Premier League di musim itu.

Tahukah Anda penyebabnya? Ferguson? Bukan, bahkan orang ini juga kena ciprat keberkahan seperti halnya United. Menangani Red Devils sejak musim 1986/87, baru di tahun ketujuhnya Ferguson mencicipi titel pertama Liga Inggris-nya walau harus berganti nama dulu menjadi Premier League di musim 1992/93.

Di musim berikutnya, 1993/94, mereka kembali mengulanginya dengan mempertahankan titel di mana Cantona masih berada di dalamnya. Wait! Kita harus tepuk tangan buat Cantona, yang pantas disebut sebagai dewa penolong. Sebelumnya dia juga bertuah bagi Leeds United, ketika mengantarkan The Whites menjuarai Liga Inggris 1991/92 di musim pertamanya sejak pindah dari Nimes!

Seolah tahu punya potensi magis, bulan madunya di Leeds tiba-tiba kolaps karena secara konyol Ferguson mengidamkannya! Lebih konyol lagi, petinggi Leeds setuju menjual aset termahal dan teruniknya itu! Sisa cerita berikutnya adalah sejarah dan sejarah. Bukannya klenik, barangkali dari lintasan kisah di atas barusan Dalglish punya intuisi, punya firasat, sehingga begitu yakin akan peluang timnya, sebab he’s not there anymore!

Sementara itu, persaingan di papan atas lainnya cukup sengit. Liverpool, Newcastle, dan Nottingham Forest saling rebut posisi ketiga. Mereka dibayangi oleh Tottenham. Liverpool tampaknya akan bertahan, memanfaatkan redupnya Newcastle dan labilnya Forest, dan tentunya tereduksinya nilai Tottenham. Kita tunggu saja.

(foto: dailymail/thecolly.co.uk)

Share:

Giuseppe Signori: Nafasnya Biancocelesti

Hasil yang sangat menyesakkan buat Rossoneri dan Fabio Capello. Sejarah sepuluh tahun lalu terulang kembali, kali ini di Stadion Olimpico Roma, Minggu 19 Februari 1995. Tanpa diduga-duga, tuan rumah Lazio menghabisi AC Milan 4-0! Buat mereka, kekalahan telak ini merupakan yang pertama sejak 1983/84. Ketika itu Milan dipermalukan tuan rumah Avellino (kini Serie C1) di Stadion Partento dengan skor serupa.

Giuseppe Signori: Nafasnya BiancocelestiHanya ada satu-satunya pemain, sebagai man of the match, yang paling berjasa besar meluluh-lantakan AC Milan, yang dalam sekejap dijuluki The Bad Dream Team. Dia adalah Giuseppe Signori, kapten Biancocelesti bernomor punggung 11. Dia mutlak menjadi bintang pekan ini. Laga yang tadinya seimbang, tiba-tiba jadi senjang begitu masuk di babak kedua. 

Dalam kurun waktu 12 menit, Beppe Signori – pria dengan tinggi ‘hanya’ 171 cm menciptakan dopietta alias dua gol tambahan di menit 52 dan 64. Signori, yang didikan asli akademi FC Internazionale Milano, menjadi momok Milan hari itu sejak tertinggal di menit 18 tertinggal 0-1 lewat gol bomber Biancocelesti, Pierluigi Casiraghi.

Baik masyarakat atau sebagian media massa terpecah pendapatnya atas gol keempat Lazio ke gawang Sebastiano Rossi. Umpan Aron Winter di wilayah kanan pertahanan Milan yang disambar kaki kiri oleh Signori. Bola melesak ke atas membentur tiang gawang sebelah dalam yang melewati garis. Ada anggapan itu sebagai gol bunuh diri yang dilakukan Franco Baresi.

Ada yang berpendapat itu gol murni dari Signori karena benturan kaki Baresi tak berpengaruh apa-apa pada laju bola. Jika ini disahkan, artinya Signori tidak lagi menghasilkan doppietta, akan tetapi tripletta alias mencetak hattrick. Belum jelasnya aturan di Serie A untuk menghadapi kasus seperti itu membuat hasil pertandingan yang dibuat media banyak yang berbeda.

Namun lupakan persoalan seperti itu, sebab dua gol atau tiga gol, semua mata yang menyaksikan laga seru itu pasti setuju dengan kiprah Signori yang luar biasa. Sebuah koran terbitan Roma misalnya, langsung menulis Signori sebagai ‘Dewa Kaki Kiri’.

Milan bermain dengan 10 pemain sejak menit 62 seusai Paolo Maldini di-espulso wasit Graziano Cesari akibat membabat Casiraghi di kotak penalti. Mereka sebenarnya tampil lumayan namun akibat kehebatan Luca Marchegiani mengawal gawang Lazio, upaya hanyalah upaya tanpa hasil. Berbagai serangan dan bombardiran dari Marco Simone dan Daniele Massaro tidak menghasilkan apa-apa kecuali harapan dan harapan.

Sebaliknya, bolong ditinggal Maldini, pertahanan Milan benar-benar dihujani tusukan sana-sini terutama oleh Roberto Rambaudi, Signori dan Casiraghi yang sengaja berposisi acak. Mereka bisa leluasa begitu sebab disokong oleh stabilnya lini tengah Lazio dengan kawalan Winter, Roberto Di Matteo dan Diego Fuser.

Dengan formasi 4-3-3 dan unggul jumlah pemain, pelatih Zdenek Zeman menginstruksikan untuk mendominasi serangan tanpa memberi Milan leluasa bernafas sedikit pun. Tanpa Maldini, trio Baresi-Alessandro Costacurta-Christian Panucci tampak sibuk luar biasa sampai-sampai lebih terlihat main akrobat ketimbang main bola.

Signori harus banyak berterima kasih pada Casiraghi, karena segala gerak-gerik atau sepak terjangnya bikin kalut pertahanan Milan. Dia memang menjadi titik perhatian Baresi cs. Naluri mencetak gol Signori mengingatkan orang akan kehebatan mantan pemain Foggia yang musim lalu menjadi capocannonieri Serie A dengan 23 golnya.

Kelihainnya itu diperlihatkan ketika ia mencetak gol kedua lewat tembakan first time dari umpan Casiraghi. “Setelah Paolo Rossi insting dia di depan gawang adalah yang terbaik,” kata eks pelatih tim nasional Azeglio Vicini, yang memberi debut Signori di Gli Azzurri.

Jangan menyebut Piala Dunia 1994 lalu di depan Signori. Itu akan membuka sakit hatinya pada Arrigo Sacchi karena menomor-dua-kannya dibanding Roberto Baggio atau Gianfranco Zola. Laziale, sebutan tifosi Lazio, ikut-ikutan marah sebab bagi mereka Signori adalah Maradona-nya Lazio.

Sejak dikontrak pada musim 1991/92  dengan nilai Rp 13 miliar untuk empat musim, sosok Signori jauh lebih diharapkan daripada Paul Gascoigne (Inggris) atau Alen Boksic (Kroasia). Pantaskah demikian?  “Signori adalah darah buat tim nasional dan nafas buat Lazio,” tutur Sergio Cragnotti, presiden klub Biancocelesti, penuh arti.

(foto: storiedicalcio.altervista.org)

Share:

Teknik Menyundul Bola

Menyundul bola dapat berarti keseimbangan. Bisa juga dianggap sebagai gerakan proporsional. Tidak akan didapat hasil yang baik jika keseimbangan tidak diperhatikan. Justru sebaliknya, bisa membahayakan. Keseimbangan bukan berarti antara sesama bagian tubuh saja, tetapi lebih ditekankan pada keseimbangan menjemput datangnya bola dengan jitu, tentu lewat kepala dan dalam berbagai posisi dan keadaan.

Teknik Menyundul Bola

Pelatih kenamaan Jack Charlton amat mengagungkan soal dunia sundul-menyundul ini. “Biarkanlah bola di udara, bermainlah untuk Tuhan.” Demikian moto pelatih nasional Irlandia itu. Buat sebagian tim atau bahkan bangsa, sundulan dapat diartikan sebagai senjata mematikan sekaligus pertahanan efektif.

Menyundul berguna untuk taktik penyerangan, bertahan, atau kontrol bola. Paling sering digunakan oleh bek tengah dan penyerang tengah, sebab posisi mereka yang paling memungkinkan kedatangan bola, entah di gawang sendiri ataupun gawang lawan. Pemain gelandang sedikit menerima bola sundulan, meskipun tidak mutlak, yang paling jarang adalah para pemain sayap.

Deretan bek tangguh seperti Gary Mabbutt, Gary Pallister, Tony Adams, atau Mark Wright adalah para master pertahanan yang menggunakan sundulan sebagai senjata utamanya. Mereka terlampau elegan saat menjemput bola. Bukan saja mengamankan gawang sendiri, tetapi juga bakal mengancam gawang lawan.

Demikian pula Mark Hateley, Niall Quinn, Steve Bull, atau Paul Stewart, merupakan penyerang-penyerang yang sering mencetak gol lewat kepala daripada kaki. Dalam hal bertahan, sundulan lebih efektif ketimbang kaki. Juga lebih cepat dan lebih efisien. Bagi beberapa pelatih, seperti halnya Jack Charlton, sundulan bisa dijadikan sebagai patron utama strategi.

Banyak tim yang ketakutan menghadapi strategi ekslusif ini, sebab tidak banyak pemain punya bakat sundulan yang bagus. Sundulan dapat dilakukan lewat bagian dari kepala, dengan berbagai gaya atau cara. Ada beberapa tipe sundulan, yaitu sundulan bertahan, menyerang, mengumpan, dan mengelabui.

Tips: Hendaknya Anda tetap rileks ketika menjemput bola, namun tegakkan bahu. Ketika bola sampai, picingkan mata sembari menggerakkan otot leher. Konsentrasi dan timing yang tepat adalah kunci yang menentukan hasil sundulan terbaik.

(foto: skysport) *disarikan dari buku Soccer Skills with Gazza

Share:

Melanjutkan Mimpi Indah

Setelah berpuasa delapan tahun, atau hampir satu dekade, benarkah Juventus bakal merenggut gelar juara Italia tahun ini? Pertanyaan ini cukup mengusik penggemar klub yang bermarkas di alun-alun Crimea, Torino, ketika laga big match Serie A pekan ini digelar serentak di bumi Italia.

Melanjutkan Mimpi IndahUntuk menjawabnya diperlukan kehati-hatian sebab masih berderet sejumlah lawan tangguh. Juventus musim ini masih dalam taraf melanjutkan mimpi. Kenangan delapan tahun lalu memang belum sirna, yaitu mengenang kejayaan trio Michel Platini, Michael Laudrup, dan Zbigniew Boniek yang mempersembahkan titel terakhir buat Bianconeri.

Di musim ini, pasukan Marcello Lippi masih ditunggu Sampdoria, Inter, Foggia, Milan. Juga masih ada Fiorentina, Lazio, dan Parma. Nah, dari deretan lawan tangguh itu, Sampdoria adalah yang pertama harus diladeni. Tempatnya tidak main-main, di Stadion Luigi Ferraris, Genova, Ahad (26/2) depan. Di saat bersamaan, ada dua grande partita lain yaitu Parma vs Lazio dan Fiorentina vs Inter.

Sampdoria, yang sedang berusaha merangsek ke papan atas klasemen, tentu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih angka penuh sekaligus menghentikan laju Juve. Sebab lainnya, ada sejumput dendam di dada Roberto Mancini dkk. akibat kekalahan 0-1 di Delle Alpi, 25 September 1994.

Lantas apa modal Si Nyonya Besar di Ferraris nanti? Tentu diawali oleh lini belakang yang terkenal sulit ditaklukkan. Mereka bakal diperkuat kiper Angelo Peruzzi, dan empat bek tangguh: duet bek tengah Ciro Ferrara-Luca Fusi, serta dua bek sayap Sergio Porrini (kanan) dan Robert Jarni (kiri).

Kuartet pertahanan inilah yang nanti bakal menghadapi sepak terjang barisan penyerang Il Samp yang cukup menakutkan. Selain Mancini, ada Ruud Gullit, Attilio Lombardo, Alberigo Evani, David Platt, hingga Sinisa Mihajlovic.

Rasanya tidak ada jalan terbaik buat kuartet lini tengah Juve selain harus tampil cerdik dan cekatan. Kerja keras Paulo Sousa, Antonio Conte, Giancarlo Marocchi, Angelo Di Livio, sampai Alessandro Del Piero tidak akan cukup bertempur di Ferraris yang hampir pasti akan mencemooh mereka dan sebaliknya mengelu-elukan Mancini cs.

Patut ditunggu apakah duet striker Gianluca Vialli dan Fabrizio Ravanelli bisa memanfaatkan celah peluang sekecil mungkin. Ada sedikit ganjalan buat Vialli, mengingat dia adalah mantan pahlawan Sampdoria ketika merebut juara pada musim 1990/91. Sementara Mancini, eks tandem setianya dulu, masih bercokol kuat di Sampdoria.

Walau pertarungan di lini tengah itu diduga akan berjalan sengit dan seimbang, mau tidak mau Sampdoria harus tetap diunggulkan sedikit gara-gara sebuah rekor. Apa itu? Sudah beberapa tahun belakangan, Juventus tidak pernah meraih angka jika tampil di Ferraris! Fakta atau mitos, begitulah adanya. Namun satu yang pasti, hanya ada satu tujuan buat Juventus: menang, apapun ceritanya kelak.

(foto: juve4ever.tumblr.com)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini