Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Olimpiade Catur 1994: Indonesia 32 Besar Dunia!

Buat Percasi, naiknya peringkat tim catur putra Indonesia ke peringkat 28-32 dari 124 negara pada Olimpiade Catur Moskow, Rusia, (30 November-17 Desember), yang baru berakhir Minggu lalu, menjadi hadiah di pengujung tahun. Ini adalah buah dari kegiatan catur di Tanah Air, yang marak oleh berbagai turnamen internasional. Maka, wajarlah kalau pengurus Percasi menganggap prestasi tim putra itu cukup memuaskan.

"Hasil ini cukup bagus mengingat persiapan kita kurang," kata pimpinan tim Indonesia, Cholid Ghozali, saat tiba di Tanah Air. Lebih-lebih mengingat jumlah peserta semakin bertambah, dengan masuknya pecahan-pecahan Uni Soviet, yang berjumlah 15, Yugoslavia (5), dan Cekoslowakia (2).
Olimpiade Catur 1994: Indonesia 32 Besar Dunia!
IGM Artur Yusupov dan IGM Garry Kasparov.
Kebetulan urutan tiga besar olimpiade kini dipegang tim-tim pecahan Uni Soviet. Rusia I, yang di dalamnya terdapat juara dunia GM Garry Kasparov (2.805), menjadi juara pertama disusul oleh Bosnia Herzegovina dan Rusia II. Terlepas dari itu, bisakah prestasi tim putra ini disebut sebagai hasil maksimal? Soalnya, jika dibandingkan dengan dua tahun lalu di Manila, hasil ini mengalami kenaikan 12 tingkat.

Tampaknya tidak. "Kalau pemain kita merata, masuk dua puluh besar bukan hal yang mustahil. Cina saja yang baru terdengar, malah di urutan ke-12," kata pemain papan pertama Indonesia, GM Utut Adianto. Tapi hal itu tidaklah mudah. Paling tidak Percasi harus mencetak pecatur-pecatur tangguh yang ditempa lewat berbagai turnamen internasional.

"Melihat kondisi kita sekarang, ditambah pesatnya perkembangan catur, jangankan ke-28 di peringkat 50 pun masih bagus," tambah Utut. Seperti diketahui, posisi akhir tim catur Indonesia lumayan mengejutkan dunia. Dengan mengumpulkan 31 victory point, Utut dkk. meraih hasil akhir di peringkat 28-32 bersama negara kuat catur Denmark, Republik Ceko, Slowakia, dan Swiss!

Salah satu kejutan terhebat Indonesia, tiada lain saat menahan Inggris, peringkat keempat turnamen! Inggris, yang saat itu rata-rata elo ratingnya 2.615 serta disarati oleh empat grandmaster kenamaan dunia, tanpa diduga dibendung oleh kuartet Merah Putih yang rata-rata elo ratingnya hanya 2.463, dengan skor 2-2!

Di papan pertama, Utut (2.520) sukses menahan remis GM Nigel Short (2.655). Di papan kedua, GM Edhi Handoko (2.510) menyerah kalah dari GM Jonathan Speelman(2.600). Super kejutan ada di papan ketiga ketika MN Ivan Situru yang elo ratingnya 2.415, menumbangkan raja GM John Nunn (2.625)! Muka tim Inggris benar-benar merah padam tatkala pemain papan terakhirnya, GM Julian Hodgson (2.580), juga tak mampu mengalahkan MI Cerdas Barus (2.405) dan harus puas dengan hasil remis.

Perlu Pemerataan

Menurut Utut, memang tidak meratanya pemain membuat kita mengalami kesulitan dalam menghadapi pertandingan beregu. "Makanya hal ini juga sebagai tantangan Percasi untuk lebih meningkatkan pembinaan dan regenerasi agar pada Olimpiade mendatang kita bisa lebih merata. Apa hanya terus mengandalkan saya dan Edhi Handoko?" tutur Utut.

Maka beruntunglah Percasi bisa bekerjasama dengan pihak swasta dan institusi pendidikan dengan mulus untuk menggiatkan kembali olah raga otak ini. Belakangan pihak swasta pun turun tangan. Misalnya Sekolah Catur Enerpac dan institusi pendidikan semacam Gunadharma.

Enerpac-lah yang mengirim GM Utut Adianto ke pelbagai turnamen di Eropa dan AS. Sedangkan Gunadharma dalam setahun sudah dua kali menyelenggarakan turnamen internasional. Bukan itu saja, pecatur pun mempunyai keyakinan untuk hidup dari catur. Utut misalnya, menjelang awal tahun sudah mempunyai program yang jelas sebagai persiapan mengikuti berbagai turnamen internasional.

"Januari mendatang saya akan terjun pada turnamen di Jenewa, Swiss. April di New York, AS. Dan sebagai target utama adalah turnamen Biel di Swiss. Saya 'kan juara bertahan di situ," ungkap Utut yang juga salah satu pengajar di Sekolah Catur Enerpac  sambil tersenyum.

Indonesia Di Olimpiade Catur Moskow 1994

#   Putra               Putri
01 Haiti 4–0         Dominika 3–0
02 Bulgaria 1–3 Inggris 1,5–1,5
03 Turki 2,5–1,5 Bulgaria 0,5–2,5
04 Inggris 2–2 Venezuela 2–1
05 Rumania  1–3 Polandia 2,5–0,5
06 Tunisia  3–1 Latvia 0,5–2,5
07 Georgia 0,5–3,5 Kuba 2–1
08 Albania  2–2 Spanyol 1–2
09 Maroko  3–1 Brasil 2,5–0,5
10 Brasil 1,5–2,5         Estonia 0,5–2,5
11 Irlandia 3–1 Mongolia 2,5–0,5
12 Chile 3,5–0,5 Jerman 0–3
13 Belarusia 0,5–3,5 Argentina 2,5–0,5
14 Bangladesh 3,5–0,5 Bosnia-Herzegovina 1,5–1,5
Total VP                      31                     22,5

(foto: chess24)

Share:

Belgia vs Spanyol 1-4: Clemente Menang Selangkah

Hola Espana! Hola Clemente! Yel-yel ini diserukan serentak oleh pendukung tim nasional Spanyol begitu wasit Ahmed Cakar asal Turki meniup peluit panjang. Spanyol memenangi laganya melawan tuan rumah Belgia 4-1 dalam lanjutan penyisihan Grup 2, di Brussels, Ahad lalu. Kemenangan mutlak ini adalah sukses besar sekaligus pengakuan eksistensi pelatih Spanyol, Javier Clemente Lazaro (44), yang menukangi Tim Matador sejak 1992.


Rekor 100 Persen Tim Matador

Boleh dikata, tahun 1994 adalah tahun istimewa untuk Clemente, juga untuk Spanyol. Dari kemenangan itu, Spanyol kini mengukuhkan diri di puncak klasemen dengan 12 angka sempurna alias 100%, hasil empat kali menang dari empat kali pertandingan. Meski masih jauh, hampir dipastikan satu tempat putaran final sudah mereka raih. Sedang nasib Belgia benar-benar di ujung tanduk.

Spanyol tampak makin matang. Maklum saja, sebagian besar pemain intinya adalah pemain-pemain muda yang sudah kompak dan teruji di dua tahun terakhir. Bermaterikan skuad yang menjuarai Olimpiade 1992. ditambah pemain transisi seperti Jose Bakero, Julio Salinas, atau Andoni Zubizarreta, orang paling yakin pada kemampuan Clemente untuk mengulangi era kejayaan seperti di dekade 1960-an.

Tetap Merendah

Bahkan Clemente hanya menjadikan Piala Dunia lalu sebagai batu loncatan saja. Padahal Spanyol mencatat prestasi lumayan: masuk ke babak perempatfinal sebelum ‘kalah sial’ dari Italia. Kini dia mulai memetik hasilnya. Lihat penampilan pasukannya ketika melindas tim tangguh Belgia. Mereka bermain lebih dinamis, lebih solid, dan impresif. Dan empat gol yang tercipta murni dari hasil serangan mereka.


Luis Enrique, Miguel Angel Nadal, Sergi Barjuan, Julen Guerrero, atau debutan Donato Gama da Silva, langsung mengalami kemajuan pesat dan tambah tajam. Persaingan Barcelona, La Coruna, Madrid, atau Bilbao di kompetisi liga, tampaknya membuat mereka saling berpacu di tim nasional. 

Bukan tidak mungkin, Spanyol akan membuat geger di kancah Eropa beberapa tahun mendatang. Terlebih lagi tim-tim mapan lain seperti Jerman, Italia, atau Prancis makin tenggelam oleh kekuatan baru Kroasia, Portugal, Rumania, Bulgaria, Swiss, bahkan Norwegia. Dalam hal ini Clemente memang telah menang selangkah, yakni sukses melakukan regenerasi.

"Spanyol kini berisi pemain-pemain muda penuh bakat. Kalau terus begini, bukan tidak mungkin tim ini akan menjadi yang terdepan di antara Jerman, Inggris, Belanda, dan Italia," cetus Van Himst setelah pertandingan. Mendengar itu, Clemente hanya tersenyum simpul. Puaskah dia? Ternyata tidak. “Posisi kami belumlah aman, segalanya masih bisa terjadi," ujarnya merendah.

(foto: fifa.com)

Share:

Duel Kiper Hebat Di Heysel

Stadion "berdarah" Heysel di Brussels, Sabtu (17/12) besok, akan menjadi saksi bisu pertarungan dua tim papan atas Eropa, tuan rumah Belgia melawan pimpinan klasemen sementara, Spanyol, dalam lanjutan penyisihan Kejuaraan Eropa Antarnegara Grup 2. Kedua tim  berkostum merah itu bersaing ketat bersama juara bertahan Denmark untuk memperebutkan dua jatah ke putaran final di Inggris 1996.

Duel Kiper Hebat Di Heysel
Andoni Zubizarreta dan Michel Preud'homme.
Bagi Belgia partai ini merupakan kesempatan emas untuk memperbaiki posisi sekaligus mengangkat moral para pemain, setelah dalam dua pertandingan terakhir mereka dibabat Denmark 1-3 dan ditahan Macedonia 1-1 di Heysel. Meski dengan komposisi pas-pasan, akibat absennya beberapa bintang mereka, namun pelatih Paul Van Himst tak mau berkecil hati. Tiada kata lain, Spanyol mesti digebuk," tekadnya pendek. Bagaimana persiapan Belgia?

“Kami memang kehilangan (Enzo) Scifo, (Luis) Oliveira, dan (Josip) Weber. Namun dengan memperkuat lini belakang dan tengah, kami menjadi yakin untuk menyerang habis-habisan. Pertarungan melawan Spanyol kami anggap sebagai real-final,” lanjut Van Himst.

Maka tak heran jika ia dengan sabar menunggu defender Philippe Albert dari Newcastle United, yang masuk pusat latihan belakangan. Albert baru bergabung Ahad (11/12) lalu, setelah sehari sebelumnya masih memperkuat Newcastle United yang menewaskan Leicester City 3-1 (dia mencetak dua gol) dalam lanjutan Liga Utama Inggris.

Akal Clemente

Partai itu menjadi penting baginya, sebab ia menyarangkan dua gol ke gawang Leicester. Selain Albert, yang absen di dua pertandingan sebelumnya. Van Himst juga bakai menurunkan pendatang baru Francis Severeyns (Antwerpen) untuk menemani Marc Degryse di depan. Peluang Belgia semakin besar mengingat Spanyol juga kehilangan kapten Jose Bakero, fullback Albert Ferrer, serta gelandang Jose Caminero.

Meski begitu pelatih Javier Clemente tak kehilangan akal, yaitu dengan memanggil gelandang La Coruna kelahiran Brasil, Donato da Silva dan penyerang Madrid, Jose Amavisca untuk memperkuat lini tengah bersama Fernando Hierro (Madrid).

Hasil akhir duel Belgia vs Spanyol bisa jadi ditentukan oleh baik tidaknya penampilan penjaga gawang mereka, Michel Preud'homme (Benfica) dan Andoni Zubizarreta (Valencia). Preud'homme — kiper yang memakai contact lens minus 5 — adalah penjaga gawang terbaik Piala Dunia 1994. Sedangkan Zubizarreta adalah kiper kawakan Spanyol, salah satu yang terbaik di Eropa. Siapa yang menang? Wait and see-lah.

Kualifikasi Grup 2  
Siprus vs Spanyol 1-2, Belgia vs Armenia 2-0, Denmark vs Belgia 3-1, Macedonia vs Spanyol 0-2, Belgia vs Macedonia 1 -1, Spanyol vs Denmark 3-0.

Klasemen Sementara
Spanyol 3 3 0 0 (7-1) 9
Siprus 3 1 1 1 (3-2) 4
Belgia 3 1 1 1 (4-4) 4
Denmark 3 1 1 1 (4-5) 4
Macedonia 3 0 2 1 (2-4) 2
Armenia 3 0 1 2 (0-4) 1

(foto: news.coral/lavenir)

Share:

Batigol Kena Tilang

Tukang bobol gawang paling ulung di Italia saat ini, Gabriel Batistuta, ternyata tidak bisa melewati hadangan razia jalan raya. Baru-baru ini, Batistuta kena tilang dan harus bayar denda sebanyak 250.000 lira serta diharuskan mengikuti ujian SIM lagi. Seperti dilakukan pada wasit di lapangan bola, Bati pun protes kepada polisi bahwa SIM-nya adalah SIM internasional.

Batigol Kena Tilang

Namun penegak hukum itu tetap tak bergeming sambil mengatakan SIM itu akan diberikan kalau dia sudah kembali ke negerinya. Karena dongkol, idola Fiorentina itu pun bergurau: “Wah, arloji pak polisi ternyata buatan Inter ya..." Artinya? Maksud Batistuta tiada lain adalah kelakuan atau keputusan polisi itu benar-benar "ketinggalan zaman".

Belum terdengar reaksi dari Interisti, tifosi Inter hingga kini. Namun anehnya, tak lama kemudian, fotokopi SIM Batistuta beredar di pusat kota, seperti di tembok apartemen atau pertokoan. Waduh... jangan-jangan polisi tadi memang seorang Interisti.

Rejeki Nomplok Pedagang Asongan

Rejeki datangnya memang tak diduga serta tanpa pandang bulu. Dikontraknya Sunday Oliseh oleh Reggiana memberi angin segar para pemuda Afrika lainnya untuk mewujudkan impian yang sama. Jado Otoe, seorang pedagang keliling asal Nigeria, benar-benar ketiban berkah. Apa pasal? Ketika dia sedang menjajakan dagangan dengan mengetuk pintu kliennya, bukan barangnya saja yang ditawarkan, tapi juga sambil memperlihatkan poster klub Reggiana sambil menanyakan informasi tentang Oliseh.

Nasib mujur, ternyata si pemilik rumah, Liano Crema, adalah ketua Reggiolo, klub kecil yang berkota sama dengan Reggiana, yaitu Reggio Emilia. Hari berikutnya, Crema membawa Otoe ke tempat latihan. Rupanya dia punya bakat bola yang mumpuni. Sepak bola adalah impian sejati hidup Otoe, bukan menjadi pedagang asongan seperti sekarang. Kini Otoe masuk dalam tim utama Reggiolo yang dilatih Sergio Eberini. Impian bermain sepak bola di Italia pun kesampaian.

Teladan Si Buta Dari Empoli

Ini yang namanya jauh di mata dekat di hati. Seorang tunanetra telah memesan tiket terusan untuk pertandingan klub Empoli (pernah di Serie A 1986/87 dan kini di Serie C1) selama semusim. Padahal di Italia, untuk orang semacam dia ketika keluar masuk stadion tak bakalan dikenakan bayaran alias gratis total.

Rupa-rupanya si tunanetra ini ingin menunjukkan kecintaannya pada klub itu, yaitu dengan menjadi contoh yang baik bagi para tifosi lain, agar beramai-ramai membeli tiket langganan. Maklum keuangan klub itu sedang sekarat. Saat pertandingan itu saja tiket yang baru terjual baru laku 551 buah. Seperti diketahui tiket terusan merupakan "nafas bantuan" bagi klub-klub kecil untuk membiayai kelangsungan hidupnya. Alias tetap bisa berkompetisi.

(foto: cosasdeautos/zmnapoli)

Share:

Dihukum Lari Bugil

Penyerang Parma asal Kolombia, Faustino Asprilla (baca: Aspriya), suatu hari menyatakan bahwa ia masih bersedia dan tak jadi soal untuk difoto dalam keadaan bugil lagi, bahkan berjanji akan tampil dengan pose yang lebih menantang. Foto bugilnya memang pernah muncul di Corriere dello Sport-Stadio, akhir November lalu.

Faustino Asprilla. Dihukum Lari Bugil

Yang jadi masalah buat Asprilla adalah sang pelatihnya, Nevio Scala, terkenal sangat disiplin. Akhirnya setelah mengadakan pertemuan rutin antar pelatih dan para pemain, Asprilla diputuskan harus dihukum demi menegakkan kehormatan klub, yaitu disuruh berlari mengitari Stadion Enrico Tardini beberapa kali, tapi dengan keadaan bugil! Rasain.

Sang Nyonya Pembunuh

Kekalahan Fiorentina oleh Juventus, dua minggu lalu, selain karena faktor di lapangan, lalu faktor pelatih (Claudio Ranieri belum pernah mengalahkan Marcello Lippi), juga dipengaruhi oleh “sejarah khusus” (dari 58 pertemuan Fiorentina menang hanya 5 kali, terakhir 15 Mei 1988 dan 16 kali seri). Ada lagi, kekalahan itu juga sudah diramal oleh ketua umumnya, Vittorio Cecchi-Gori, melalui film yang dibuatnya.

Film berjudul La Signora Am Mazzatutti (Sang Nyonya membunuh semuanya), yang antara lain dibintangi oleh Kathleen Turner, memang sama sekali tidak menceritakan soal sepak bola. Tapi judul itu pantas untuk hasil pertandingan. Masalahnya. La Signora (baca: Sinyora) juga merupakan julukan Juve, ternyata benar-benar “membunuh semua”. Tidak hanya ambisi bos Fiorentina, juga produktivitas penyerangnya, Gabriel Batistuta.

Plesetan Gaya Wartawan

Di struktural FIGC (PSSI-nya Italia), ada posisi atau jabatan sebagai CT atau il commissario tecnico, yang artinya pelatih kepala atau pelatih nasional, yang kini dijabat Arrigo Sacchi. Tapi oleh beberapa wartawan di Jerman, diplesetkan menjadi singkatan nama Giovanni Trapattoni versi Jerman, yakni CT = Ciofanni Trapattonen. Hal ini muncul gara-gara ada isu pelatih Bayern Muenchen itu bakal menggantikan posisi Sacchi.

Gaji Van Basten Terbesar

Siapa pemain yang paling besar menerima gaji di Italia? Ternyata walau sampai kini belum bisa bermain, Marco van Basten tetap tercatat sebagai pemain paling besar gajinya. Pemain Belanda yang kini masih bertahan di Milan digaji lima miliar lira atau sekitar 7,5 miliar rupiah dalam setahun.

Berikut 10 besar pemain yang menerima gaji tinggi: 1. Marco Van Basten (Milan) 5 miliar lira; 2. Gianluigi Lentini (Milan) 4 miliar lira; 3. Roberto Baggio (Juventus) 3,3 miliar lira; 4. Gianluca Vialli (Juventus) 3,2 miliar lira; 5. Dennis Bergkamp (Inter) 3 miliar lira; 6. Franco Baresi (Milan) 2,5 miliar lira: 7. Roberto Mancini (Sampdoria) 2,4 miliar lira; 8. Daniel Fonseca (Roma) 1,7 miliar lira; 9. Paolo Maldini (Milan) 1,6 miliar lira; 10. Nicola Berti (Inter), Gianluca Pagliuca (Inter), dan Ruud Gullit (Sampdoria) 1,5 miliar lira.

Berapa nilai seluruh pemain Bari yang kini menempati peringkat keempat klasemen sementara? Ternyata cuma 4,5 miliar lira untuk 18 pemain! Benar-benar murah meriah.

(foto: dreamteamfc/zmnapoli)

Share:

Kejurnas Angkat Besi 1994: Peta Kekuatan Tidak Merata

Meski dibayangi oleh sepinya penonton, Kejuaraan Nasional Angkat Besi, Bina Raga, dan Angkat Berat XIII di Bekasi, ternyata tetap disemarakkan paling tidak oleh rekor-rekor. Hari pertama saja lifter putri asal Lampung, Sriyani, sudah memecahkan dua rekornas di kelas 64 kg.
Kejurnas Angkat Besi 1994: Peta Kekuatan Tidak Merata

Lifter nasional ini membukukan rekor nasional baru untuk angkatan Clean & Jerk dari 105 menjadi 110 kg. serta angkatan total 187.5 ke 190 kg. Selain itu lifter Ami G juga berjaya dengan dua rekornas barunya, 175 kg di kelas 70 kg untuk jenis total, dari rekor sebelumnya yaitu 167,5 kg. Satu lagi yang dipecahkan Ami adalah di jenis Clean & Jerk dari 95 menjadi 97,5 kg.

Demikian juga lifter nasional lain seperti Supeni (Jambi), yang tanpa pesaing, menyumbang tiga medali emas, komplit di tiga jenis angkatan. Pemegang medali perak Asian Games Hiroshima ini turun di kelas 50 kg. Sayang lifter nasional asal Jabar, Fatmawati, tidak bisa ikut karena cedera setelah AG XII belum pulih.

Kurang Sponsor

Sayang, kejurnas kali ini masih saja tetap didominasi oleh daerah yang "itu-itu juga" yaitu Lampung, Jabar, Sulsel, atau Jambi adalah gudang "Samson-Samson" nasional. bukan saja tingkat senior, tapi juga junior. Lampung misalnya, hari pertama saja sudah merebut 12 medali emas. Bisa dikatakan peta kekuatan amat tidak merata.

Menanggapi hal demikian, Ketua Harian PB PABBSI Budiono Kartohadiprodjo memaklumi kondisi daerah-daerah lain yang masih belum unjuk gigi. "Karena kesulitan dana masing-masing, kejurnas ini saja cuma diikuti oleh 13 pengda dari 22 pengda yang ada di lingkungan PABBSI," ungkap Budiono.

Masalah dana memang menjadi hal yang dirasakan paling menghambat pembinaan di daerah. Terlebih lagi PB PABBSI menekankan bahwa soal dana, pengda jangan terlalu ngoyo ke pusat. "Tapi harus diakui, mencari sponsor untuk angkat besi memang sulit. Soalnya angkat besi ‘kan bukan olah raga permainan. Lain dengan bulu tangkis atau sepak bola," tanggap Tommy Tueh SH, manajer tim Kalteng.

Ia menuturkan bahwa untuk masalah gizi saja, daerahnya sudah kesulitan sponsor untuk dijadikan bapak angkat. "Lifter itu paling tidak, seharinya harus membutuhkan 6.000 kalori. Tanpa bantuan sponsor, tentu saja kami akan sulit berkembang," tambah Tommy yang juga menjabat sekretaris pengda PABBSI Kalteng.

Memang terlihat persaingan para lifter junior lebih kompetitif dibandingkan senior. "Hidup Bengkulu, Hidup Kalsel...". yel-yel pemberi semangat ini terdengar begitu bergemuruh saat rekan mereka berhasil mengangkat barbel. Daerah-daerah seperti Bengkulu, Kalsel, atau pengda paling buncit, Kalteng, sudah mulai menunjukkan ketertinggalnya dari daerah lain.

(foto: tjandra)

Share:

Massaro Memakai Kostum Simone

Gol satu-satunya kemenangan AC Milan atas Casino Salzburg, yang dicetak oleh Daniele Massaro di penyisihan grup Piala Champion, ternyata bernilai sangat tinggi, yaitu sebesar 20 miliar lira atau kira-kira 30 miliar rupiah!
Massaro Memakai Kostum Simone
Daniele Massaro (9), salah kostum.

Mengapa semahal itu? Sebab dengan gol itu, AC Milan berhak maju ke perempatfinal dan itu berarti ada lagi pemasukan bagi Milan lewat jatah dari UEFA, uang pemasukkan tiket, sponsor, hak siaran dan lain-lain. Tapi tahukah apa yang terjadi sebelumnya? Ternyata kostum Massaro tertukar. Akibatnya ia memakai kaos bernomor 9, yang seharusnya dipakai oleh Marco Simone. Di Milan, nomor resmi Massaro adalah 16.

Apakah ini taktik Capello untuk mengelabui lawan? Boleh jadi. Coba saja simak pengakuan Massaro sendiri, "Waktu saya datang ke kamar ganti, yang ada hanya kaos nomor 9. Lalu ketika saya tanyakan pada Capello, dia cuma mengatakan bahwa saya harus tetap memakainya. Barangkali saja membawa keberuntungan," jelasnya. Nah, memang benar kan?

Bati Bocorkan Rahasia

Setelah pertandingan Fiorentina vs Roma, 11 Desember lalu, dua legiun asing La Viola yaitu Gabriel Batistuta dan Marcio Santos, dan bos klub Vittorio Cecchi-Gori, datang bersamaan dalam jumpa pers. Saat itu tuan rumah menang 1-0, tapi semua yang menyaksikan di stadion, termasuk para wartawan, masih ragu.

Siapa sebenarnya yang mencetak gol tunggal kemenangan ke gawang Roma? Ada yang bilang, Santos-lah yang mencetak. Tapi sebagian wartawan malah menganggap bahwa bek Roma, Amedeo Carboni, melakukan bunuh diri ke gawang Giovanni Cervone. "Ya, menurut saya dialah yang mencetak gol. Saya melihat dengan mata kepala sendiri," kata Batistuta sambil menunjuk ke arah Marcio.

"Memang saya rebutan bola dengan Carboni. Tapi tendangan yang menentukan sayalah yang melakukannya," katanya meyakinkan diri. Tapi sayang, kamu masih kurang enam gol lagi untuk dapat berkenalan dengan Sharon Stone," sambut Batistuta lagi sambil tertawa.  Rahasianya dibocorkan oleh Batistuta, ternyata Marcio Santos tidak resah, malah mesem-mesem.

Memang sebelumnya Vittorio Cecchi Gori, yang juga produser film, pernah menjanjikan Santos akan memperkenalkan dia pada aktris kondang Sharon Stone. Tapi dengan catatan, Santos harus dapat mencetak tujuh gol dulu untuk Fiorentina. Wuih, cukup berat juga ya.

(foto: youtube/zmnapoli)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini