Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Thavatchal Sajakul: Tim Anda Kurang Berani Shooting

Sombong juga rupanya Thavatchal Sajakul, konglomerat Bangkok yang juga wakil presiden FAT (Asosiasi Sepak Bola Muangthai) itu. "Tim Anda sih enak. Tanpa keluar keringat, eh, tiba-tiba sudah sampai di putaran final. Kami?" sebut Sajakul seraya tertawa. Nadanya bercanda, sesuai fakta, tapi tak terhindarkan, kesannya meremehkan. Atau Anda punya persepsi lain yang berbeda? Simak lagi. "Kami lolos dengan susah payah, dan lewat ujian berat," ucapnya lagi dengan nyinyir.

Thavatchal Sajakul: Tim Anda Kurang Berani ShootingMuangthai, satu dari sembilan tim tamu yang akan hadir dalam Piala Asia U-19, 11-25 September nanti, lolos dari kualifikasi Grup 7. Mereka menggilas Cina 2-0, dan menggasak Myanmar, tujuh kali finalis Piala Asia U-19, dengan 8-0. Bermateri sama, Juli 1993, Muangthai merebut Piala Pelajar Asia di Kolombo, Srilanka. Di final, Tawan Sripan dkk. menang 1-0 atas PSSI Primavera yang baru dua pekan berlatih di Italia.

Mereka pula yang merebut Piala Kemerdekaan VII di Surabaya medio Agustus lalu setelah PSSI Harimau ditekuk lewat drama adu penalti. Di Jakarta nanti? "Ke final!" tegas Sajakul. Prestasi bagus memang telah mereka pertunjukan. Hal yang keliru kalau mereka dianggap enteng di Jakarta. Namun setelah melihat penampilan PSSI Primavera langsung di laga sesungguhnya, usai ditahan seri oleh Qatar, agaknya persepsi Sajakul berubah.

"Indonesia mempunyai modal bagus yakni dengan adanya Kurniawan yang menjadi kunci tim. Secara keseluruhan tim Indonesia bermain baik, namun kurang berani shooting jika berada di garis tembak. Kalau bisa kami jangan sampai bertemu Indonesia di semifinal. Terus terang kami akan kesulitan. Tim Anda akan tampil habis-habisan,"katanya kali ini dengan mimik serius.


(foto: istimewa)

Share:

Empat Pahlawan Brasil: Betah Di Liga Domestik

Nama mereka bakal dikenang abadi oleh rakyat Brasil sepanjang masa, seiring dengan sukses Brasil menjuarai Piala Dunia 1994 di AS, Juni silam. Namun hidup dengan popularitas, tak membuat keempat pahlawan nasional ini lupa diri. Entah belum berpikir jauh, atau memang sikap nasionalismenya yang kelewat tinggi, hingga kini mereka belum berniat mengikuti jejak pesepak bola Amerika Latin kebanyakan, yakni bermain di Eropa. Siapa saja mereka?

Viola (Corinthians)

Empat Pahlawan Brasil: Betah Di Liga DomestikPermainannya enerjik. Dua tiga orang bisa dilewati dengan bola tetap berada di kaki. Dalam final Piala Dunia 1994, ia hanya bermain selama lima menit. Mulanya orang bertanya-tanya, Viola, siapa dia? Dalam enam laga sebelumnya dia tak pernah dipasang. Pemain bernama asli Paulo Rosa kini bermain di Corinthians. Sayangnya pria kelahiran 1 Januari 1969 ini sempat mendapat kartu merah ketika klubnya bertanding melawan Flamengo, dua minggu lalu.

Cafu (Sao Paulo)

Empat Pahlawan Brasil: Betah Di Liga DomestikCoba tanyakan kepada rakyat Brasil, siapa bek kanan terbaik di dunia? Jawabnya pasti Cafu. Lho, bukannya ada Jorginho, yang bermain di klub kondang Bayern Muenchen? Bagi mereka Cafu lebih hebat. Apalagi usianya baru 24, dibanding Jorginho yang sudah 30 tahun. Pembuktian di lapangan oleh pemain yang lahir 7 Juni 1970 ini pun sudah. Pemain bernama lengkap Marcos Morais ini mengisi peran Jorginho yang waktu itu cedera di menit 21. Di final Piala Dunia 1994, Cafu tampil bagus menjaga striker Italia Daniele Massaro. 

Branco (Flamengo)

Empat Pahlawan Brasil: Betah Di Liga DomestikGolnya yang hanya delapan menit jelang akhir laga krusial ke gawang Ed de Goey membawa kemenangan Brasil 3-2 lawan Belanda di perempatfinal Piala Dunia 1994 lalu. Mantan pemain Genoa, Italia, pada 1990-1993 ini memang mempunyai senjata, yang ironisnya jarang ada di tim Samba sekarang ini, yaitu tendangan bebas keras melengkung. Berkat itu pula gelandang kidal bernama Claudio Ibrahim Vaz Leal ini menyelamatkan negaranya dari ancaman Belanda. Kini pemain kelahiran 4 April 1964 memperkuat Flamengo. 

Zetti (Sao Paulo)

Empat Pahlawan Brasil: Betah Di Liga DomestikSehebat apapun kiper dunia jika sudah berhadapan dengan adu penalti, maka kemampuannya bisa luntur. Hal ini dialami kiper utama Sao Paulo, Zetti, yang bernama asli Armelino Quagliato. Ketika berhadapan dengan Velez Sarsfield (Argentina) di final Piala Libertadores, pekan lalu di Sao Paulo, kiper kelahiran 10 Januari 1965 ini tak kuasa menahan penalti lawan. Tapi, itu bukan ukuran ia tak bagus. Di AS, Zetti memang tak pernah dipasang. Claudio Taffarel diutamakan pelatih Carlos Alberto Parreira dan hasilnya manis: mengalahkan Italia dalam drama adu penalti di final Piala Dunia 1994.

(foto: thegentlemanultra/prorrogacao/futbolkaravani/fifa)

Share:

Indriyanto Nugroho: Duet Sejoli Kurniawan

Inilah komentar Danurwindo soal Indriyanto Nugroho. "Ia maju pesat. Dia kini lebih berani, lebih percaya diri," ungkap Mister, sapaan anak-anak Primavera pada Danurwindo. Pelatih PSSI Primavera itu mengaku sedikit heran karena selama berlatih di Italia, Nunung - sapaan akrab Indriyanto - biasa-biasa saja.

Indriyanto Nugroho: Duet Sejoli Kurniawan

Menaiknya grafik permainan Nunung terbukti ketika pemuda berkumis itu memainkan peran yang begitu sentral sewaktu bertarung melawan Qatar dalam partai perdana Ahad lalu. Manuvernya berbahaya, intersepsinya juga tajam. Nunung juga jago membuka ruang gerak untuk tandemnya, Kurniawan 'Ade' Dwi Yulianto. Tetapi saat itu Nunung hanya sanggup main 75 menit. Dia harus keluar lapangan sambil terpincang-pincang. "Paha saya ketarik, Mas," kata Indriyanto Nugroho, pemuda kelahiran Sukoharjo dan lulusan SMAN Ragunan itu.

Pengaruh Nunung untuk tim lumayan kuat. Buktinya usai dia diganti Dian Irsandy, barisan depan PSSI Primavera tidak seatraktif sebelumnya, terlihat agak kehilangan 'darah'. Kurniawan, ujung tombak tajam yang tampil belum maksimal itu, tampak kehilangan betul teman duet sehatinya. Dia nekat untuk mencoba semuanya secara one man show. Mulai dari membuka ruang gerak, aksi meloloskan diri, sampai beraksi menembus jantung pertahanan lawan.

Dian Irsandy, anak Bogor yang menggantikan Indriyanto, terlihat belum begitu padu, dan tidak nyetel dengan Kurniawan. Di mata Sinyo Aliandoe, hal ini dianggap membahayakan karena bisa menutup potensi peluang dan gol untuk Indonesia. "Jangan biarkan Kurniawan sendirian!" katanya.

Dian, mantan PSSI U-16 yang belum lama pulang dari menimba pengalaman bertanding di Teheran, dan baru sebulan terakhir bergabung dengan PSSI Primavera, dalam 15 menit terakhir melawan Qatar itu tampak tidak memanfaatkan banyaknya perhatian bek-bek Qatar pada Kurni. "Mungkin karena saya masih baru bekerja sama dengan dia," timpal Kurni coba menetralisir pertanyaan.

Tampaknya, jika salah satu dari Kurniawan atau Indriyanto tidak tampil, Romano Matte dan Danurwindo mesti lebih mengoptimalkan lagi kinerja Dian Irsandy dalam latihan-latihan. Atau, mengembalikan kepercayaan pada anak Malang yang sebetulnya lebih enerjik, yakni Ferry Taufik Budiman.

Duet Sejoli

Duo Kurniawan dan Indriyanto, menurut sejumlah pengamat, dinilai amat menggetarkan nyali lawan. Mereka tampak serasi, saling mengisi dan 'berkorban' untuk sesamanya. Hal ini mengundang pujian. Belum lagi kalau bicara dukungan dari dua gelandang sayap, Supriono (kanan) dan Nurul Huda (kiri) yang agresif. "Mereka duet sayap terbaik dari semua tim di kejuaraan ini," puji Fuad Hassan, manajer tim Bahrain.

Lepas dari itu, banyak yang tidak tahu, ketika barisan depan PSSI Primavera kehilangan Indry, Kurni pun sering kehilangan sentuhan prima, dan mau tak mau dia harus bekerja lebih keras. Inilah masalahnya. 

Dengan membiarkan Kurniawan bertarung sendirian di jantung pertahanan lawan, tampaknya menjadi tugas duet Romano-Danur untuk mencari solusinya. Diperkirakan dan tentunya diharapkan, dalam bertemu Kazakshstan Sabtu besok, Indriyanto sudah pulih, lebih segar dan kembali prima.

"Mudah-mudahan, Mas," cetus pemuda yang memiliki tinggi 170 cm dan berat 61 kg itu. Indry, di mata Sinyo, adalah tipikal tombak yang pintar mencari dan membuka ruang paling dimengerti Kurniawan. Jelajahnya pun bagus, dan dia berani turun sampai 'ke dalam'.

Kurni pun merasa amat pas berpasangan dengannya. "Nunung memang pasangan yang cocok buat saya. Dia mengerti apa yang harus diperbuat jika saya sedang menguasai bola atau ditempel lawan," katanya dengan lugas. Oke kalau begitu, kita tunggu aksi mereka melawan anak-anak Kazakhstan.


(foto: stefansihombing)

Share:

Achmad Kurdachli: Pola Indonesia Tidak Stabil

"Sungguh mengagumkan Stadion Senayan. Besar dan megah. Saya menikmati bermain bola di sini," begitu komentar pertama Ahmad Kurdachli, penyerang Suriah bernomor punggung 11.

Achmad Kurdachli: Pola Indonesia Tidak Stabil

Ditemui sedang santai di tribun penonton bersama rekannya, Nihad Boshi, malam itu Kurdachli dan kawan-kawan ternyata diperintahkan pelatih Anatoli Baldachnyi untuk menonton laga terakhir Grup B antara oleh Jepang dan Korea Selatan. Memang sepintas terlihat dia begitu menikmati suasana stadion.

Ketika ditanyakan mengapa menjadi pemain bola, pemuda bertinggi/berat 180 cm dan 78 kg itu, awalnya sedikit kaget namun kemudian pengakuanya juga mengejutkan. Ternyata motif dia bermain bola sebagai salah satu cara untuk membela negara!

Oleh sebab itu misi dan ambisinya di ajang ini juga spesial: mati-matian akan membawa Suriah masuk final dan kemudian merenggut juara. "It's a happy nice day," ucapnya singkat sambil berharap. Rupanya laga semifinal yang berlangsung Ahad nanti bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-19. Bukan main.

Papin dan Maradona

"Ia seorang penyerang yang bagus di klub Tishreen. Tidak kalah dengan penyerang nomor 10 Indonesia (Kurniawan). Kurdachli juga punya kelebihan lain yaitu bisa mencetak gol dengan posisi sulit," kata Fares Sulthan, rekannya yang duduk di samping Kurdachli.

Memang benar. Masih ingat gol kedua yang ia lesakkan ke gawang Kazakhstan? Dengan posisi membelakangi gawang ia tidak kehilangan kontrol badan apalagi akal. Dengan salto ia menciptakan gol pertama jenis itu di kejuaraan ini. Ketika ditanyakan, jawabannya lagi-lagi mengejutkan.

"Saya memang menyukai gaya (Jean Pierre) Papin dalam menciptakan gol dan menyukai (Diego) Maradona dalam mengumpan bola," ujar pemuja Maradona itu. Lalu bagaimana tentang pemain Indonesia? "Tim Anda sebenarnya tim yang kompak, tetapi tidak stabil dalam memainkan pola," kritik Kurdachli. Namun secara khusus dia memuji Kurniawan dan Eko Pujianto, pemain belakang bernomor punggung 4.

"Timing pemain nomor 4 Indonesia selalu pas dalam bola atas meski saat itu saya hanya bermain 20 menit tapi tetap saja sulit melewatinya. Ia bek yang tenang," tuturnya. Dalam laga kedua Grup A melawan Suriah, PSSI Primavera kalah 0-4.


(foto: stefan sihombing)



Share:

Newcastle United: Sempurna Hingga 5 Pekan

Catat dulu, tidak ada klub lain di Liga Inggris yang sehebat Newcastle United dua bulan belakangan ini! Memasuki musim keduanya tampil lagi di Divisi Utama, prestasi kesebelasan yang pernah melahirkan sosok-sosok kesohor seperti Paul Gascoigne atau Chris Waddle tersebut mencapai hentakan luar biasa.
Newcastle United: Sempurna Hingga 5 Pekan
Steve Watson, Philippe Albert, Peter Beardsley, Warren Barton dkk. Lancar jaya di 5 pekan.
Ya, tentu saja semuanya ini berkat olahan dan tangan dingin Kevin Keegan, sang manajer yang kebetulan pernah menjadi pemain Newcastle. Lihat saja, hingga pekan kelima kompetisi, Newcastle masih menduduki puncak klasemen hasil lima kali kemenangan. Tanpa seri, apalagi kalah alias 100 persen alias sempurna!

Lebih dari itu, klub ini juga paling produktif dengan mencetak 19 gol ke gawang lawan, atau rata-rata lebih empat gol tiap pertandingan! Dan mesin gol mereka, Andy Cole menjadi pencetak gol terbanyak pekan ini dengan enam gol. Pada musim ini pula Newcastle akan bertanding di Piala UEFA, pertama kali sejak 1977-78. Prestasi ini didapat karena pada musim lalu, klub berjulukan Geordies ini sukses menduduki urutan ketiga di bawah Manchester United dan Blackburn Rovers.

Sejak menangani kesebelasan yang dijuluki The Magpies atau burung hitam-putih itu pada musim kompetisi 1992/93, Keegan yang juga berpengalaman bermain di Liverpool, Hamburg SV dan di tim nasional Inggris dekade 1970-an, mengadakan perombakan besar-besaran, terutama dalam kualitas pemain.

Kick & Rush

King Kev merekrut Andy Cole dari Bristol City serta Peter Beardsley dari Everton untuk dijadikan tandem di depan. Gaya tik-tak ala Latin warisan manajer sebelumnya, Osvaldo Ardiles (Argentina), ditinggalkannya. "Kami tak akan bisa meninggalkan pola kick and rush, lebih bagus lagi memperkuat lini tengah sebagai kunci pertahanan dan counter-attack," kilahnya.

Keegan tak asal cuap. Terbukti duet Cole-Beardsley menjadi yang tertajam saat ini. Serangan balik mereka menakutkan lawan. Keduanya pun pernah dipasang di tim nasional Inggris. Kunci di lini tengah ada pada pemain termahal di Newcastle, Darren Peacock. Pemain gondrong yang ditransfer dari Queens Park Rangers seharga 9,2 miliar ini bahu membahu bersama Beardsley. Ruel Fox dan Lee Clark mengalirkan umpan-umpan matang.

Bukan itu saja. Pertahanan mereka yang dikoordinir oleh Barry Venison, yang baru saja memulai debutnya di tim nasional, 7 September lalu, lawan AS. Untuk memperkuat lini belakang, Keegan juga membeli Philippe Albert, bek nasional Belgia asal Anderlecht, dan Marc Hottiger asal klub Sion yang memperkuat Swiss di Piala Dunia lalu.

Kesemuanya itu membuktikan bahwa Keegan sangat super serius untuk membawa Tyne Toon menjadi juara liga Inggris tahun ini. Tajam di depan, kuat di tengah dan tangguh di belakang jadi keinginan manajer terbaik 1993 itu. Namun dari rating dan bursa taruhan, Newcastle masih menempati urutan kedua di bawah Manchester United sebagai calon juara Inggris 1994/95. Ah, biarkan saja, fokus dengan diri sendiri!


Klasemen Pekan Kelima

01. Newcastle United    5 5 0 0 19-5 15
02. Notthingham Forest  5 4 1 0 9-3  13
03. Blackburn Rovers    5 3 2 0 11-1 11
04. Liverpool           4 3 1 0 11-1 10
05. Manchester United   5 3 1 1 8-3  10
06. Leeds United        5 3 1 1 7-5  10
07. Chelsea             4 3 0 1 10-6 9 
08. Aston Villa         5 2 3 0 7-4  9 
09. Tottenham Hotspur   5 3 0 2 10-8 9 
10. Manchester City     5 2 1 2 8-7  7 
11. Norwich City        5 1 3 1 1-2  6 
12. Arsenal             5 1 2 2 3-4  5 
13. Queens Park Rangers 5 1 2 2 7-9  5 
14. Wimbledon           5 1 2 2 4-7  5 
15. Southampton         5 1 2 2 5-10 5 
16. Sheffield Wednesday 5 1 1 3 7-11 4 
17. Ipswich Town        5 1 1 3 4-8  4 
18. Crystal Palace      5 0 3 2 4-10 3 
19. West Ham United     5 0 2 3 1-7  2 
20. Coventry City       5 0 2 3 3-12 2 
21. Leicester City      5 0 1 4 3-10 1 
22. Everton             5 0 1 4 4-13 1 

DATA KLUB

Nama Lengkap: Newcastle United Football Club (NUFC)
Berdiri: 1881
Masuk Pro: 1889
Julukan: The Magpies, Tyne Toon, Geordies
Kostum: Strip Hitam-Putih
Stadion: St. James Park (37.637)
Manajer: Kevin Keegan
Prestasi: Juara liga 1904/05,1906/07,1908/09,1926/27; Juara Piala FA 1910, 1924, 1932, 1951, 1952, 1955; juara Piala Liga 1973/74,1974/75; Juara European Fairs Cup 1968/69, 1969/70, 1970/71; Juara Piala UEFA 1977/78.
Skuad 1994/95: Pavel Srnicek (1), Barry Venison (2), John Beresford (3), Paul Bracewell (4), Ruel Fox (5), Steve Howey (6), Robert Lee (7), Peter Beardsley (8), Andy Cole (9), Lee Clark (10), Scott Sellars (11), Marc Hottiger (12), Alex Malhie (14), Darren Peacock (15), Jason Drysdale (16), Nicos Papavasiliou (17), Steve Guppy (18), Steve Watson (19), Alan Neilson (20), Malcolm Allen (21), Richard Appleby (22), Chris Holland (23), Nathan Murray (25), Robert Elliot (26), Philippe Albert (27), Mike Hooper (30), Mike Jeffrey (31).



(foto: nufc)






Share:

Seputar Dunia: Pemain Baru Spurs

Muller, penyerang nasional Brasil berusia 28 tahun akan menjadi pemain Brasil pertama yang bermain di daratan Inggris. Klub Everton berniat mentransfer striker yang pernah bermain di Torino itu dari klub Sao Paulo. Sejarah baru pun siap menanti Brasil, negara sepak bola ternama di Amerika Latin...

Seputar Dunia: Pemain Baru Spurs...Gheorghe Popescu (26) ditransfer ke Tottenham Hotspur. Bek tangguh tim nasional Rumania asal klub PSV Eindhoven (Belanda) seharga 10 miliar rupiah lebih untuk masa lima tahun. Di Spurs, klub tetangga terdekat Arsenal itu, ia akan bergabung dengan rekan senegaranya Ilie Dumitrescu dan penyerang veteran Jerman, Juergen Klinsmann...

...Miguel Mejia Baron tetap dipercaya melatih kesebelasan nasional Meksiko hingga Piala Dunia 1998 mendatang. Demikian keputusan Federasi Sepak Bola Meksiko Jumat lalu. Negeri ini tampaknya gemas dengan kegagalan Tim Sombrero pada Piala Dunia di AS. Makanya Mejia Baron diberi sekali kesempatan lagi. Pelatih yang dokter gigi ini juga akan menangani tim nasional Meksiko di bawah usia 23, 20 dan 17 tahun...

... Claudio Taffarel yang menjadi pahlawan Brasil pada Piala Dunia lalu, secara tak diduga bergabung dengan tim sepak bola gereja 'Catholic Church' di kota Reggio Emilia, Italia Utara. Jangan salah, dia hanya ikutan sejenis 'tarkam' di Italia. Hebatnya lagi, mantan pemain bola voli ini bermain sebagai penyerang dan mencetak salah satu gol kemenangan The Church atas St Anthony 4-0, Kamis lalu.


(foto: dailymail)

 

Share:

Ruud Gullit: Hebat, Cedera, Frustrasi, lalu Ngambek

Main, cedera, operasi, main, cedera, operasi, main ... terus begitu. Ruud Gullit memang luar biasa. Melihat penampilan hebatnya belakangan ini, rasanya tak masuk akal kalau masa lalunya selalu didera cedera. Bahkan ketika ia pertama kali memperkuat Milan di musim 1987/88 sebenarnya sedang cedera. Berikut catatan cedera Gullit.
Ruud Gullit: Hebat, Cedera, Frustrasi, lalu Ngambek

1987-1988: Ia mengalami cedera lutut beberapa kali, tapi baru benar-benar ambruk saat Milan jumpa Parma dalam pertandingan persahabatan, 3 Agustus. Dia harus menjalani operasi dengkul sampai 3 kali di Brussel oleh salah satu spesialis ahli tulang terbaik di dunia Dr. Marc Martens. Gullit praktis 'menganggur' hingga awal Mei 1989.

1989-1990: Milan menghadapi Steaua Bucuresti pada final Piala Champion 1989 di Stadion Camp Nou, Barcelona. Gullit ngotot main dan tampil hebat. Ia mencetak dua gol dan memberi dua assist pada Marco van Basten untuk mencetak dua lainnya. Namun di pertengahan main ia sudah terpincang-pincang.  Akhirnya ditarik Arrigo Sacchi pada babak kedua. Setelah Piala Dunia, ia kembali dioperasi dan istirahat hingga Desember 1990.

1990-1991: Sempat bermain memperkuat Milan di final Piala Toyota 1990 (Desember). Padahal cedera belum sembuh benar. Tidak pernah diturunkan sepanjang Serie A periode 1990/91 menggulir. Namun menjelang akhir kompetisi, sekitar bulan Mei 1991, sempat bermain tapi hanya beberapa saat.

1991-1992: Masih cedera. Namanya sudah tidak termasuk dalam skuad AC Milan, meski sebagai pemain cadangan. Pada saat itu Dejan Savicevic masuk dan bersama Roberto Donadoni sering menggantikan tempatnya.

1992-1993: Cedera lamanya masih menghantuinya. Meski ia ngotot ikut main, karena merasa sudah sembuh. Tapi Dejan Savicevic, Roberto Donadoni, Zvonimir Boban terlebih Jean-Pierre Papin benar-benar mengubur namanya.

1993-1994: Terus dirundung frustrasi karena tidak diturunkan. Ia ngambek dan menyatakan pindah ke Sampdoria. Milan kecele, Gullit ternyata sudah sembuh dan tampil cemerlang.

1994: Kembali memperkuat Milan

DATA DIRI

Nama Lengkap: Ruud Dil Gullit
Tempat/Tgl Lahir: Amsterdam, 1 September 1962
Tinggi/Berat: 185 cm/85 kg
Zodiak: Virgo
Julukan: The Coloured Falcao, The Flamboyant
Klub: Meefboys (1970-1974), OWS Amsterdam (1974-1978), Haarlem (1979-1982), Feyenoord (1982-1985), PSV Eindboven (1985-1987), AC Milan (1987-1993), Sampdoria (1993/1994), AC Milan (1994/95-...)
Debut Liga: 16 Agustus 1979 bersama Haarlem (vs MW 2-2)
Debut Tim Nasional: Zurich, 1 September 1981 (vs Swiss 2-1)
Prestasi: Juara Liga Belanda 1984 (Feyenoord), Juara Piala Belanda 1984 (Feyenoord), Juara Liga Belanda 1985/86, 1986/87 (PSV), Juara Eropa 1988 (Belanda), Juara Uga Italia 87/'88,91/92,92/93 (AC Milan), Juara Piala Champions 1988/89, 1989/90 (AC Milan), Juara Piala Super 1988/89, 1989/90 (AC Milan), Juara Piala Dunia Toyota 1988/89, 1989/90 (AC Milan)
Penghargaan: Pemain Terbaik Belanda 1985, Pemain Terbaik Eropa 1987, Pemain Terbaik Dunia 1987, Pemain Termahal Dunia 1987 (Rp.13,5 miliar)
Tokob Berpengaruh: Barry Hughes, Wim van Hanegem, Johan Cruyff
Pemain idola: Franco Baresi, Salvatore Bagni, Diego Maradona
Hobi: Musik (Reggae)
Pemusik idola: Bob Marley
Tokoh Idola: Nelson Mandela
Istri: Yvonne (cerai), Christina (kini)
Anak: Sharmayne (6) dan Felicity (8)
Motto Hidup: Freedom in all things, include my hair
Alamat: Associazione Calcio Milan, Via Turati 3, 20121 Milano, Italia


(foto: dutchsoccersite/catawiki/soccergaming)


Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini