Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Jari Patah dan Kompetisi Aneh

Sudah lama saya tidak berbincang-bincang langsung dengan Kurniawan Dwi Yulianto. Namun mulai minggu lalu hubungan akrab bagai sahabat dengannya, dan juga beberapa rekan mahasiswa perhotelan di sana terjalin kembali.

Jari Patah dan Kompetisi Aneh
“Baru saja, ada telepon dari beberapa media di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Juga telepon dari Magelang yang ternyata ortu-nya Kurniawan. Tapi karena Kurniawan pulang jam 12 malam terus, maka tidak pernah bisa ketemu. PSSI juga pernah telpon ke sini,” sebut Aryadi Chandara (19), anak Jakarta yang tinggal di Hotel Waldstaetten.

Tentu sulit bicara dengan Kurniawan bila melupakan perbedaan waktu WIB dengan Swiss, yang sekitar 6 jam lebih cepat. Kalau jam 12 malam di Swiss, berarti sekitar jam 06.00 pagi WIB keesokan harinya. “Saya paling sering diajak ngobrol di kamarnya. Yang diungkapkan macam-macam misalnya demi mengharumkan nama negara ia akan membetahkan diri di Luzern,” tambah Wendy Harto Kusumaatmadja (24) pada saya.

Dari Wendy pula, pada Selasa (21/2) malam, tersiar kabar mengejutkan soal Kurniawan. “Wah, mas. Kurniawan lagi ke rumah sakit. Katanya sih ada yang patah, saya sendiri cuma lihat dia diantar orang bule,” ujar Wendy. Rabu (22/2) dinihari WIB, untungnya Kurniawan dapat dihubungi. Kenapa, Kur? “Iya mas. Jari manis kanan saya patah. Gara-gara salah tumpuan waktu jatuh ketika berlatih tadi,” aku remaja kelahiran 13 Juli 1976 itu.

“Waktu di lapangan sih tidak begitu sakit. Baru setelah latihan terasa sakitnya. Untung Alessandro Minelli (bek Luzern) mengantar saya ke Rumah Sakit Kantonspital,” tambahnya. Yakin masih bisa main, Kur? “Ndak tahulah, saya tetap mau main, karena jika berlatih oleh dokter akan diberi alat pengaman. Kata dokter kalau dalam jangka waktu seminggu belum sembuh, saya terpaksa harus beristirahat. Namun saya tidak tahu apa keputusan klub selanjutnya,” ucap Kurniawan.

Agar tidak panik, Kurniawan sengaja tidak menelepon orang tuanya. “Biarlah nanti juga tahu sendiri,” tukasnya lagu sambil meminta pada saya untuk mengirimkan kaset lagu-lagu Indonesia. Yang mengusik jiwanya kini tentu seandainya ia tidak bisa tampil membela Luzern karena cederanya itu. “Berarti saya mengecewakan masyarakat Indonesia, saya berdosa banget rasanya,” kata Kurniawan lirih. Dasar orang Indonesia, apapun bisa disyukuri.

Mengaku Rumit

Cedera Kurniawan hampir pasti akan membuatnya absen di Liga Swiss yang sudah memasuki babak playoff. Apa dan bagaimana babak playoff, lewa pembicaraan lewat telpon internasional, Kurni sempat mengungkapkan sedikit kebingungannya dengan sistem kompetisi yang terbilang tidak lazim di Eropa tersebut.

Buat penggemar sepak bola, kompetisi divisi satu Liga Swiss boleh jadi disebut aneh mengingat perbedaan sistem yang kita ketahui dengan mayoritas kompetisi reguler Eropa. Mulai Minggu 26 Februari 1995, playoff musim 1994/95 digelar secara serentak. FC Luzern, klub di mana Kurniawan Dwi Yulianto bergabung, siap mengawali kiprahnya melawan tim kuat yang telah 22 kali jadi juara liga, Grasshopper Zurich.

Putaran akhir, lebih dikenal dengan spring phase, diikuti delapan klub yang lolos kualifikasi dari 12 klub sebelumnya di putaran pertama (autumn phase). Kompetisi Liga Super Swiss baru berakhir pada bulan September, sedang babak penentuannya akan dimulai Februari sampai Juni mendatang,

Empat tim terbawah akan diadu oleh empat tim teratas dari divisi dua. Sedang empat tim lainnya akan menentukan calon juara. “Rumit sekali, saya sendiri bingung kalau membandingkan dengan Italia misalnya. Tapi yang penting tugas saya kan main dan mencetak gol,” ucap Kurniawan Dwi Yulianto, pesepak bola Indonesia pertama yang bermain di kompetisi profesional Liga Eropa.

Kurniawan beruntung. FC Luzern adalah klub yang promosi pada smusim 1993/94 lalu. Dalam sejarah mereka yang berdiri sejak 12 Agustus 1901, prestasi terbaik klub berjuluk Die Leuchten (sinar terang) ini tiada lain ketika menjuarai musim kompetisi 1988/89, yang hingga kini cuma sesekalinya, serta sebagai kampiun Piala Swiss pada 1960 dan 1992.

Bermarkas di Stadion Allmend yang berkapasitas 26.100 orang, Luzern mencatat sejarah baru karena untuk pertama kalinya sepanjang sejarah mereka dan juga kompetisi Liga Super Swiss sebagai klub pertama yang memakai pemain dari Asia. Yang bikin bangga tentunya karena orang itu adalah Kurniawan! Persaingan dalam Liga Super cukup keras dan ketat karena di sana bercokol nama-nama lumayan tenar di blantika sepak bola Eropa seperti Grasshopper Zurich, Basel, Neuchatel Xamax, atau Young Boys.

Saking ketatnya terkadang hasil akhirnya begitu liar. Sang juara liga tiba-tiba saja bisa terlempar ke divisi dua pada musim berikutnya. Kondisi ini seharusnya akan membantu Kurniawan dalam mengencangkan motivasi dan tantangannya untuk memberikan penampilan terbaiknya. Mudah-mudahan.

(foto: istimewa)

Share:

Ujian Juara Bertahan

Kali ini kita beralih ke Piala FA. Di sini suasana akan semakin panas. Maklum saja, kompetisi sepak bola tertua di dunia itu sudah memasuki putaran kelima. Ini berarti tinggal tiga babak lagi untuk sampai ke puncak, final di Stadion Wembley, pertengahan Mei mendatang.

Ujian Juara Bertahan
Nah, bagi Manchester United ajang ini merupakan sasaran kedua setelah kompetisi liga. Meski United agak berkonsentrasi di kompetisi liga, hal yang satu ini tampaknya juga tak luput dari perhatian mereka. Mereka tak mau melepas begitu saja. Perlu diketahui, United adalah juara bertahan tahun lalu setelah memukul Chelsea 4-0 di final.

Ahad malam ini, Steve Bruce dkk, akan menghadapi juara Piala FA tahun 1972, Leeds United, di stadion kebanggaan mereka, Old Trafford. Partai ini dikategorikan sebagai big match karena dibanding tujuh pertandingan lain, pertemuan kedua tim elit ini bakal menyajikan pertarungan keras dan menarik, mengingat rivalitas mereka selama ini.

Ketangguhan United akan diuji keampuhannya terhadap gedoran Leeds yang dimotori oleh Gary Speed, David Batty, atau pemain nasional Skotlandia yang menjadi kapten The Whites, Gary McAllister. Sayang mantan pemain Manchester United, Gordon Strachan, tidak bisa hadir lagi sebab sudah pindah ke Coventry City. Begitu juga Eric Cantona, eks legiun Leeds yang ikut mengantarkankan klub ini menjadi juara liga Divisi Utama edisi terakhir (1991/92).

Pertarungan di lini tengah ini semakin seru mengingat kubu ‘Setan Merah’ sudah pasti menurunkan skuad terbaiknya. Dirigen Paul Ince, Andrei Kanchelskies atau Roy Keane, ditambah pemain muda Nicky Butt dan Ryan Giggs, siap bertarung di sektor vital itu. Mereka inilah yang siap memberi umpan matang untuk diselesaikan oleh Andy Cole, Mark Hughes, atau Brian McClair.

Itu membuat barikade pertahanan Leeds yang dilapisi Tony Dorigo, John Pemberton, dan Gary Kelly akan mendapat ujian berat. Sedangkan di sektor penjaga gawang, hampir pasti United butuh ketangguhan Peter Schmeichel untuk membendung empat striker legam Leeds, siapapun yang diturunkan nanti. Ada Rod Wallace, Brian Deane, Phil Masinga, atau Anthony Yeboah. Kita tunggu saja laga menarik ini.

(foto: bfcblog)

Share:

Lyon Bangkit Berkat Tigana

Meski dibayangi kerusuhan, kompetisi Divisi Satu Liga Prancis ternyata menyajikan partai menarik plus sejumlah kejutan baru. Ya, sepak bola memang selalu sulit diterka dan impossible is nothing. Ramalan para pakar, yang semula menjagokan Paris Saint-Germain tampil mempertahankan gelarnya, musnah sudah. Klub kebanggaan orang Paris itu ternyata sudah tak mampu lagi menyaingi the new power Nantes yang sampai saat ini belum terkalahkan.

Lyon Bangkit Berkat TiganaFenomena lain adalah tampilnya Olympique Lyonnais alias Lyon yang tiba-tiba saja menyeruak dengan menempel ketat Nantes di posisi kedua. Di Prancis hal tersebut jadi pembicaraan ramai mengingat klub yang dilatih Jean Amadou Tigana, mantan gelandang elegan nasional tahun 1980-an, pada musim ini tak dijagokan sama sekali, sekalipun menduduki papan atas.

Berkat Tigana pula, klub yang prestasinya hanya menjuarai Piala Liga 1964, 1967, dan 1973 ini meroket sekaligus mempermalukan para pakar yang sering meremehkan klub yang berdiri tahun 1950 itu. Apa rahasia Tigana? Kata banyak orang di Prancis, pertama-tama dia mengubah sistem permainan. Ya, tak pelak lagi berkat penempatan empat gelandang serta seorang pemain jangkar, Lyon mampu menyisihkan tim andal macam Bordeaux, Auxerre, Monaco atau PSG sendiri.

Hanya itu? Tentu tidak. Tigana juga mampu membangkitkan motivasi beberapa pemain veteran yang merasa ‘terbuang’ serta memberdayakan pemain muda. Kombinasi amunisi tua dan muda ini diduga dan dirasa menjadikan permainan Lyon dinamis yang berujung pada peningkatan kualitas. Sebut saja Manuel Amoros (asal Marseille), kiper Pascal Olmeta (Marseille), Jean Luc Sassus (PSG), atau Florian Maurice.

Bek kiri Amoros, 33 tahun, adalah mantan rekan Tigana yang bersama-sama Platini mengantarkan Prancis meraih prestasi tertinggi, merebut Piala Eropa 1984. Sementara Flo, sapaan akrab Maurice, sedang menemukan bintangnya. Striker berbakat berusia 19 tahun itu merupakan murni tempaan Tigana. Ia juga masuk daftar pencetak gol terbanyak 13 gol.

Menurut kabar, pelatih nasional Aime Jacquet sedang memikirkan untuk memasukkan nama Maurice guna menggantikan peran Jean Pierre Papin di tim nasional. Andai sanggup mempertahankan performanya, bisa dibayangkan andai di Piala Eropa 1996 mendatang, Maurice akan mengenakan kostum bernomor 9 di tim Les Bleus. Pelatih yang bagus adalah pandai memanfaatkan momentum. Tampaknya baik Tigana dan Jacquet masuk dalam kategori ini.

(foto: wiki)

Share:

United Memburu Sejarah Baru

Dua klub elite, Manchester United dan Tottenham Hotspur, memburu sejarah baru di Piala FA, kompetisi sepak bola tertua di dunia, sebagai klub yang paling banyak meraih gelar. Siapa bakal unggul? Tampaknya United lebih berpeluang.

United Memburu Sejarah Baru
Selain telah mengoleksi titel sebanyak 9 kali, lawan berikutnya ‘hanya’ klub Queens Park Rangers, yang maaf-maaf saja, tampaknya bakal diremukkan di Old Trafford. Di putaran kelima alias babak 16 besar Ahad kemarin, United menggulung Leeds United 3-1 dalam big-match di Old Trafford untuk memastikan tiket ke perempatfinal.

Sebaliknya lakon sang pesaing berbeda. Saat Red Devils asyik menggulung Leeds, Spurs justru dibendung 1-1 oleh Southampton di White Hart Lane. Hasil itu jelas mengejutkan mengingat pelatih Gerry Francis menurunkan kekuatan penuh alias skuad terbaiknya. Ada Teddy Sheringham, Juergen Klinsmann, Nick Barmby dan seterusnya.

“Ini Piala FA. Namun sejak ditangani Alan Ball, Southampton terbiasa menghadirkan kekhawatiran,” kata Francis dengan jujur. Secara khusus Francis memuji Bruce Grobbelaar, kiper anyar Soton. Menurutnya mantan kiper legendaris Liverpool itu masih memiliki kharisma yang berujung pada kegagalan skuadnya menembus jala Soton. rasa kuatir jadi lengkap lantaran di laga replay, giliran mereka yang pergi ke The Dell, 1 Maret mendatang.

Usaha Newcastle

Sementara itu di laga lain, Everton, tim yang punya rekor tradisional di Piala FA, dengan tega dan perkasa melabrak Norwich City 5-0 tanpa ampun. Namun hasil ini tidak diikuti rival sekota mereka, Liverpool, yang juga dibendung Wimbledon 1-1 di Anfield.

Piala FA memang identik dengan kejutan. Itu diperlihatkan oleh Wolverhampton Wanderers, satu-satunya tim divisi satu yang berhasil menembus perempatfinal. Juara Piala FA lima kali itu sukses menyikat Leicester City 1-0. Hasil sama kuat didulang Watford dan Crystal Palace di partai derbi London yang berkesudahan dengan skor kaca mata.

Klub unggulan lainnya, Newcastle United, rupanya bernafsu untuk memburu gelar ketujuhnya. Tanpa basa-basi, Manchester City disikut 3-1 di St James’Park. Tim asuhan Kevin Keegan itu sudah 11 kali tampil di final, hanya empat kali gagal. Di perempatfinal, The Magpies akan menghadapi tuan rumah Everton di Goodison Park. Perjalanan ke final tinggal dua langkah lagi. Mampukah Peter Beardsley dkk. berprestasi di Piala FA setelah hasil mengecewakan di liga?

(foto:myhumanfly.blogspot)

Share:

Buntut Kerusuhan Lansdowne Road: Inggris Tetap Tuan Rumah EURO 96

Inggris dinyatakan tetap menjadi tuan rumah Piala Eropa 1996, meski suporternya membuat ulah dan anarkis di Stadion Lansdowne Road, Dublin, dalam laga persahabatan melawan tuan rumah Irlandia, 15 Februari lalu. Hal ini ditegaskan oleh Presiden FIFA Joao Havelange, dua hari kemudian di markas FIFA di Zuerich, Swiss.

Buntut Kerusuhan Lansdowne Road: Inggris Tetap Tuan Rumah EURO 96
“Inggris tidak boleh mundur sebagai tuan rumah Piala Eropa karena masalah ini. Meski ini opini saya, tapi bisa berarti juga pendapat FIFA secara keseluruhan,” kata orang tua kelahiran 8 Mei 1916 itu. Ia tidak asal bicara. Buktinya, meski selalu tidak sependapat dengan UEFA (Federasi Sepak Bola Eropa), melalui pernyataan resmi, ucapan Havelange mendapat dukungan. “Kami tidak ingin ada yang terus mendramatisasi kerjadian itu,” sambung Sekjen UEFA Gerhard Aigner.

Padahal beberapa federasi sepak bola negara di Eropa banyak yang tidak sependapat. Belgia dan Belanda misalnya amat suka kalau Inggris dipertimbangkan lagi untuk menjadi penyelenggara. “Kelakuan anarkis itu menakutkan kami. Mereka mengingatkan orang pada kejadian di Heysel 1985,” kata seorang juru bicara dari Federasi Sepak Bola Belgia (RSFA).

Tidak kurang dari PM Inggris John Major sampai meminta maaf pada PM Irlandia John Brutton, begitu kelakuan hooligans pendukung Inggris kembali terjadi. Pers menyebut kerusuhan di Dublin itu sebagai ‘Wabah Inggris’, yang untungnya tidak sampai menimbulkan kematian.

Tercatat 50 orang cedera ringan dan berat, sementara yang ditahan ada 40 orang. Kebanyakan korban berjatuhan dari pihak Irlandia, akibat serangan sporadis para hooligan dengan cara melempar pecahan botol dari jarak jauh, dan mengayunkan potongan kayu dari jarak dekat.

Serangan ini diduga tidak ada sangkut pautnya dengan dendam dua kelompok, apalagi antarnegara. Tragedi langsung muncul begitu saja setelah di menit 22, Irlandia mencetak gol, ironisnya melalui kaki bek kanan Leeds United, Gary Kelly. Setelah gol ini kerusuhan menjadi-jadi hingga mengganggu jalannya pertandingan. Akibatnya wasit Denis Jol (Belanda) langsung menghentikan laga.

Kabar baik datang ketika kepolisian Irlandia dan FA Irlandia  mengidentifikasi ke-40 orang yang jadi biang kerok kerusuhan melalui rekaman video. Kedua badan otoritas ini juga bekerja sama dengan FA Inggris. “Kami telah mengidentifikasi melalui gambar video langsung di tempat kejadian dan foto-foto dari koran.

Identitas mereka akan cacat seumur hidup di seluruh (stadion) di Eropa. Kami sudah mengambil data diri mereka untuk disebarkan ke otoritas sepak bola dan kepolisian di seluruh Eropa,” ujar juru bicara FA Inggris, Mike Parry.

(foto: independent.ie)

Share:

Ciro Ferrara: Menangis Meninggalkan Napoli

Lewat pertarungan agak dramatis, Juventus akhirnya lolos dari lobang jarum kekalahan di Stadion San Nicola, Bari, Ahad lalu. Bagaimana tidak? Bari, tim yang sedang naik daun, itu ternyata mampu membungkan trio maut Juve: Alessandro Del Piero-Fabrizio Ravanelli-Gianluca Vialli plus playmaker Paulo Sousa.

Ciro Ferrara: Menangis Meninggalkan Napoli
Kalau pasukan Marcello Lippi ternyata mampu menang 2-0, ini bukan dikarenakan kemanjuran pola yang diterapkannya. Sama sekali tidak. Gol pertama Del Piero yang datang dari titik penalti, semata-mata karena kesialan Bari atas handsball gelandang mereka yang asal Spanyol, Julen Guerrero. Begitu pun gol kedua, di detik-detik akhir pertandingan, tak lain karena kecolongannya pemain tuan rumah.

Gol kedua itu boleh dikata sebagai penentu kemenangan Super Juve yang sesungguhnya. Karena di saat injury time itu, Bari masih melakukan tekanan berbahaya. Akhirnya lewat solo run dari tengah, Ciro Ferrara terus menggenjot larinya dan melesakkan bola dari sudut sempit. Gol! Habislah perjuangan anak-anak San Nicola.

Apakah Ferrara pantas jadi bintang lapangan? Mengapa tidak. Selain bikin gol mematikan, kehebatan dia yang lain adalah dengan menutup sukses menutup ruang tembak Sandro Tovalieri, bomber Bari yang gemar mengancam gawang Angelo Peruzzi. Tanpa Ferrara mungkin gawang Juve sudah bocor berkali-kali.

Ciro Ferrara bukan nama baru di blantika Serie A. Dia adalah salah satu anggota legiun Magica Napoli, saat Diego Maradona cs merengkuh scudetto kedua pada Serie A 1989/90. Ferrara anak Napoli asli, identik dengan klub kota pantai terindah di Italia itu.

Sepeninggal Maradona pada awal musim 1991/92, lengan dialah yang dilingkarkan ban kapten Napoli, bukan Fernando De Napoli atau si Marazola – Gianfranco Zola – yang juga deretan pria-pria Napoli asli. Sama seperti Maradona, kepergian Ferrara juga ditangisi wadyabala dan mayoritas warga kota yang berseberangan dengan Gunung Vesuvius yang terkenal itu.

Napoli = Cinta

Ciro Ferrara: Menangis Meninggalkan NapoliKalau tidak karena Napoli terancam bubar akibat krisis utang dan mismanajemen, bisa dipastikan Ferrara akan selalu bertahan di Napoli, kota yang juga menjadi tempat kelahirannya pada 11 Februari 1967. Kepergiannya ke Juventus pada musim lalu, merupakan bagian dari paket dan klausul hengkangnya pelatih Napoli, Marcello Lippi, ke Juventus. Didalangi oleh Luciano Moggi, yang juga mantan pengurus klub Napoli, Juve tahu betul untuk memanfaatkan bayangan kebangkrutan yang dialami Partenopei.

Seusai ditinggal Maradona, sumber pemasukan Napoli terjun bebas. Pemasukan karcis, pendapatan iklan dan dukungan sponsor lainnya. Stadion San Paolo mulai menjadi seperti gereja alias kebanyakan hening, sangat bertolak belakang ketika Maradona masih bermain.

Di Juve, Ferrara kembali bertemu dengan salah satu tandemnya di Napoli dulu, Luca Fusi, yang sebelum ke Juve sempat ngetem sebentar di Torino. Dengan adanya Ferrara, Fusi, ditambah Juergen Kohler dan Massimo Carrera, jantung pertahanan La Vecchia Signora kuat bagai beton sebagai modal utama untuk mengarungi kompetisi dan target juara.

Ferrara sendiri mengakui bahwa dia sangat berat hati meninggalkan Napoli dan menyesali krisis keuangan klub kecintaannya itu. Acara perpisahannya diwarnai tangisan. “Napoli adalah kecintaanku. Hatiku selalu berada di sana,” kata Ferrara sambil menangis waktu itu. Ironisnya, akhir pekan ini Ferrara akan bertemu klub kecintaannya itu dalam lanjutan Serie A di Stadion Delle Alpi. Drama apa yang bakal terjadi?

(foto: digilander.libero.it)

Share:

Ketika Kenny Dalglish Gundah

Dibayangi kekhawatiran kemenangan Manchester United atas Manchester City sehari sebelumnya, akhirnya kubu Blackburn untuk sementara boleh bernafas lega kembali. Pasalnya anak buah Kenny Dalglish itu sukses merebut tiga angka penuh ketika melibas tamunya, Sheffield Wednesday, 3-1 di Ewood Park, Ahad lalu.

Ketika Kenny Dalglish Gundah

Rasa gundah begitu kentara hingga pertengahan babak kedua. Wajahnya kerap terlihat tegang. Untung sundulan striker nasional Alan Shearer memastikan kemenangan timnya. Ketegangan pun mereda. Senyumnya yang sudah lama menghilang dari wajahnya kini kembali merebak. 

Lewat pertarungan berat karena diguyur hujan lebat, Wednesday yang dimotori Chris Waddle dan Ian Pearce ternyata memberikan perlawanan ketat sejak peluit pertama. Bahkan lewat Waddle pula, tim asuhan mantan pemain nasional Inggris, Trevor Francis, itu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 hanya enam menit setelah kapten Blackburn, Tim Sherwood, mencetak gol lewat tendangan sejauh 30 meter di menit ke-26.

Setelah gelandang Mark Atkins mencetak gol kedua untuk Blackburn, kembali Waddle, Mark Bright, Chris Bart-William atau Andy Sinton, dan juga pemain Rumania, Dan Petrescu, berkali-kali menggedor pertahanan tim tuan rumah yang dikoordinasi Colin Hendry.

Namun, dewi fortuna tampaknya sedang memayungi tim paling produktif di Liga Inggris ini. Keberuntungan dipertegas lagi ketika kiper Wednesday, Kevin Pressman, dikenai kartu merah akibat kesalahannya menepis bola yang menuju gawangnya di luar kotak penalti. Sayangnya, Francis membuat kesalahan fatal. Ia justru menarik keluar Sinton, gelandang potensial, untuk memasukkan Chris Wood yang turun menutup posisi penjaga gawang.

Lepas dari itu semua, perjalanan Blackburn ke tangga juara semakin mulus jika Selasa mendatang mereka berhasil menggebuk tamunya, ‘tim sangar’ Wimbledon. Kalau benar begitu, maka pekan-pekan mendatang senyum Dalglish akan kembali menebar.

Andy Cole

Sementara itu pelatih United Alex Ferguson sepanjang pertandingan yang dilangsungkan d kandang Manchester City, Maine Road, selalu menebar senyum. Ia juga tak henti memuji pemain barunya, Andy Cole. “Posisinya selalu bagus, tak ada yang bisa menghentikannya. Ia tahu apa yang harus diperbuat,” kata Ferguson.

Di United, penyerang seharga Rp 25 miliar itu kembali tajam dan menjadi andalan United untuk merogoh kemenangan. Hal ini dibuktikan sekali lagi saat mencetak satu gol pada pertarungan ‘Baratayudha’ dengan Manchester City, yang diperkuat duo Jerman, Uwe Rossler dan Maurizio Gaudino, dengan 3-0 di Main Road, Sabtu lalu.

Namun perjuangan United mengejar Blackburn tampaknya mendapat tantangan, karena Rabu mendatang mereka akan menghadapi tim tangguh Norwich City di Carrow Road. Di pertandingan lain, Newcastle United mengukuhkan diri di posisi ketiga, memanfaatkan hasil imbang 1-1 antara Liverpool dan QPR. Tim asuhan Kevin Keegan itu memukul Nottingham Forest 2-1 di kandang sendiri. Ruel Fox dan gelandang nasional Robert Lee mencetak gol kemenangan tim berjuluk The Magpies ini.

Hasil imbang 1-1 lainnya didapat Arsenal yang ditahan oleh tamunya, Leicester City. Padahal The Gunners telah unggul lebih dulu lewat Paul Merson. Pemain ‘yang telah insyaf’ dari kecanduan mabuknya ini mencetak gol pertama sejak masa rehabilitasi. Hasil spektakuler minggu ini terjadi di Birmingham. Di Stadion Villa Park, tuan rumah Aston Villa mengubur Wimbledon 7-1. Hasil ini tercatat sebagai kemenangan terbesar pada musim kompetisi 1994/95.

Pada Sabtu besok, Liga Inggris diistirahatkan karena akan digelar babak kelima Piala FA secara serentak. Namun dua partai, Coventry vs West Ham dan Sheffield Wednesday vs Aston Villa tetap dipertandingkan. Kompetisi baru berputar kembali Selasa dan Rabu mendatang (22/2).


(foto: skysport/bbc)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini