Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Michel Preud’homme: Si Tangan Gurita Bermata Minus Lima

Suatu kali pemain Belanda, Dennis Bergkamp, Bryan Roy, dan Wim Jonk, secara bersamaan merasa putus asa dalam sebuah laga. Bermain jelekkah mereka? Sama sekali tidak. Ketiganya hanya kesal akibat tidak mampu menembus gawang lawannya. 

Aksi penjaga gawang tersebut sangat tangguh. Sebenarnya mereka tak perlu merasa kecewa dengan permainannya itu karena kiper yang dihadapi sungguh sakti, dia adalah Michel Preud’homme, kiper nasional Belgia yang kini sedang menjadi nomor satu di dunia. Gambaran di atas bukanlah sesuatu yang berlebihan. Namun jika meyaksikan partai Belanda vs Belgia pada duel Grup F Piala Dunia, 24 Juni 1994 lalu, keyakinan semakin menjadi-jadi. 
Michel Preud’homme: Si Tangan Gurita Bermata Minus Lima
Preud’homme juga menjadi bintang lapangan saat itu. Secara mengejutkan gawang Belgia tetap perawan dari bombardiran dan serangan bertubi-tubi Pasukan Oranye. Sebanyak 61.219 pasang mata di Stadion Citrus Bowl, Orlando, sedikitnya telah menjadi saksi hidup kepiawaian kiper berambut gondrong yang hebohnya diketahui bermata minus lima!

Belanda kalah bukan karena kebobolan satu gol, tetapi lebih karena tidak bisa mencetak gol ke gawang Belgia. “Luar biasa, dia benar-benar palang pintu besi. Michel adalah penentu kemenangan Belgia,” puji pelatih nasional Belanda tanpa ragu.

Menjawab berondongan wartawan dalam jumpa pers usai pertandingan, Preud’homme tapak rendah hati dan simpatik. Apa kiat bisa bermain sehebat itu” “Ah, hanya bermodalkan ketenangan dan konsentrasi saja seperti biasa,” ungkapnya santai.  Ada prinsip untuk membuktikan itu? “Seorang kiper adalah saksi terbaik jalannya suatu pertandingan. Ironis sekali jika dia juga harus memungut banyak bola dari gawangnya,” ucap Preud’homme lagi sambil tersenyum.

Dipikir-pikir benar juga ucapannya. Sederhana tapi bermakna. Punya karakter tenang tak berarti reaksi juga harus tenang atau lembut. Justru sebaliknya. Tontonlah sekali lagi duel Belgia vs Belanda itu secara utuh. Kesan pertama yang ditangkap atas performa Preud’homme adalah cerdasnya dia mengantisipasi gerakan pemain dan aliran bola.

Pendek kata, begitu flamboyan, begitu dingin. Dia cuma memakai ototnya 25%, ketika menangkis semua serangan yang menuju gawangnya, sebab yang 75% sebelumnya telah dibaca dengan kecepatan otaknya. Luar biasa. Jelas, ini tanda seorang kiper yang amat matang.

Tangan Gurita

Perhatikan juga cara dia memotong bola di udara. Memblok tembakan lawan, atau setidaknya ketika menempatkan posisi tubuhnya untuk memudahkan mengantisipasi kedatangan lawan atau bola. Kelihaian membaca permainan membuatnya semakin mudah dan ‘santai’ dalam bermain.

Tidak salah sama sekali ketika dirinya terpilih sebagai penjaga gawang terbaik di Piala Dunia 1994 sekaligus nomor wahid sejagat. Michel Preud’homme merebut gelar pribadi paling bergengsi di ajang bergengsi, Lev Yashin Prize.


Bayangkan, mata kiper terbaik di dunia sekarang ini minus lima dan dia harus memakai contact lens di setiap laga. Hebat? Pastilah dibandingkan dengan kiper yang bermata normal. Tak usah heran jika namanya segera terdaftar sebagai anggota tim impian versi FIFA dan kantor berita Reuters.

Michel Preud’homme: Si Tangan Gurita Bermata Minus Lima

Pria berusia 36 tahun ini telah menyisihkan deretan pengawal bola terbaik sejagat seperti Thomas Ravelli (Swedia), Gianluca Pagliuca (Italia), Claudio Taffarel (Brasil) , dan Boris Mihailov (Bulgaria). Keempatnya bermain di semifinal, final, atau peringkat ketiga. Tidak demikian dengan Preud’homme dan Belgia yang cuma sampai perempatfinal. “Saya sangat mengagumi kecepatan refleksnya, seolah-olah dia punya tangan yang banyak seperti gurita,” kata Paul Van Himst, pelatih nasional Belgia.

Ketenangan adalah modal utama kiper sebab keputusan yang diambil sangat menentukan hasil akhir permainan. Setidaknya sebanyak 31 kali laga tanpa putus, kiper gondrong kelahiran 24 Januari 1959 itu sanggup memanggul kepercayaan yang diberikan negaranya. Jika dihitung secara matematis, dia tampil beruntun membela Belgia selama 2.790 jam atau sekitar 116 hari!

Namun dua hal yang sangat disayangkan dari Preud’homme adalah pertama rada telat mencapai puncak kariernya. Juga sinarnya yang kurang benderang secara profesional di klub lantaran tidak pernah mengangkasa alias pindah ke liga yang lebih besar.

Preud’homme terlalu lama berada di Standard Liege, sejak 1979 hingga 1986. Kemudian dia pindah ke klub Belgia lainnya KV Mechelen sampai namanya tercatat di buku Piala Dunia 1994. Setelah sukses di USA 1994, di usia yang terbilang uzur buat pesepak bola non-kiper, 36 tahun, barulah dia menerima tawaran klub top Portugal, Benfica, di awal musim 1994/95 lalu.

Selama di dua dekade, Belgia memang punya tiga kiper yang mumpuni, tangguh untuk ukuran Eropa bahkan dunia. Pertama yang gampang dikenang adalah Jean-Marie Pfaff. Kiper Bayern Muenchen yang tampil cemerlang di Piala Dunia 1986 ini baru pensiun setelah pesta sepak bola di Meksiko. Pfaff pensiun, Preud’homme naik kasta menjadi kiper utama. Di bawah dia masih ada Gilbert Bodart (Standard Liege), yang juga cukup senior, 33 tahun.

(foto: pinterest/igniteph.deviantart.com)

Share:

Hristo Stoichkov (5-habis): Dicalonkan Menjadi Presiden

Buat rakyat Bulgaria, kehebatan Hitzo boleh jadi akan mengubur nama besar Gheorghi 'Gundi' Asparuchkov, bintang sepak bola mereka di tahun 1960-an, mulai sekarang ini hingga ke depan. Waktu jua yang bakal membuktikannya.

Hristo Stoichkov: Dicalonkan Menjadi Presiden

Kalau legenda ini berjasa memperkenalkan negaranya di kancah sepak bola internasional, maka Hitzo lebih hebat lagi, yaitu orang yang dianggap dapat mengubah sejarah bangsa Bulgaria, melalui sepak bola tentunya. Bagi dunia luar pun, orang lebih mengenal nama Hristo Stoichkov ketimbang Zhelyu Zhelev, Presiden Bulgaria.

Semula Bulgaria adalah negara yang tidak begitu dikenal oleh dunia luar, seperti halnya negara-negara di semenanjung Balkan lainnya. Orang hanya tahu bahwa Bulgaria adalah sebuah negara yang berpaham komunis. Kalau soal olah raga, negara yang penduduknya merupakan nomor satu di dunia ini hanya dikenal lewat senam atau atletik seperti kebanyakan negara Eropa Timur lainnya. Itu saja.

Adalah gerakan politik Glasnost dan Perestroika yang diembuskan oleh Mikhail Gorbachev - kemudian menjadi Presiden Rusia pertama awal 1990-an - yang ikut mempengaruhi karier Hitzo. Demokrasi telah mengubah perikehidupan rakyat, termasuk para pemain bola berbakat yang pada akhirnya bisa bermain di klub-klub besar di negara Eropa Barat. Sebelum angin pembaruan datang, hal itu sangat musykil dilakukan. Kekhawatiran pemimpin saat itu asalah ketakutan akan banyaknya orang-orang berprestasi lari ke luar negeri.

Untuk hal ini Hitzo pernah pula merasakannya ketika akan ditransfer ke Barcelona. Pada awalnya kepergian Hitzo sempat dihambat oleh Presiden dan Sekjen Partai Komunis Bulgaria. "Tidak pernah saya sesulit itu. Untuk mendapatkan Hitzo saya harus membujuk mereka beberapa kali agar melepaskannya," kenang utusan Barcelona, Josep Maria Minguella.

Dianggap Dewa

Ketika tim nasional Bulgaria tiba kembali di Tanah Air setelah mengikuti Piala Dunia 1994, ratusan ribu warga Sofia turun ke jalan menyambut mereka sambil berteriak histeris. 
"Stara Hitzo! Stara Hitzo!" sahut masyarakat bertalu-talu.

Hristo Stoichkov: Dicalonkan Menjadi Presiden

Atau ucapan puitis, "Oh Hitzo pahlawanku, kami cinta padamu!" Yang lebih konyol, mereka juga meneriakkan kalimat bombastis, "Hitzo, kau adalah dewa kami!" Mereka berkumpul di jalanan yang menghubungkan bandara dan pusat kota Sofia.

Saat itu hari Rabu tanggal 20 Juli 1994. Keramaian bisa disamakan saat mereka merayakan tumbangnya komunis. Seluruh pemain diarak keliling kota dengan menggunakan Limousine buatan Rusia, dan puncaknya mereka dijamu oleh konser musik di Stadion Nasional Sofia.

Di sini mereka dielu-elukan lagi oleh massa yang menyemut. Nama Hitzo dan pelatih nasional Dimitar Penev yang paling sering disebut-sebut oleh penduduk. Banyak penduduk yang membawa poster keduanya.

Ini wajar karena sebelumnya prestasi Bulgaria di Piala Dunia nir-prestasi dan selalu dianggap penggembira. Semuanya berubah berkat peran sentral Hitzo-Penev. Kemenangan pertama kali Bulgaria di pesta sepak bola sejagat itu dicetak di Piala Dunia lalu, saat mereka menumbangkan Yunani 4-0.

Sensasi berikutnya dibukukan tatkala melabrak Argentina 2-0 di penyisihan grup, dan mengalahkan Jerman 2-1 di perempatfinal. Semifinal pun berhasil direngkuh, walau di sini langkah Bulgaria dihentikan Italia 1-2. Inilah yang dimaksud dengan perubahan drastis sejarah bangsa Bulgaria yang dilakukan Hitzo.

Hristo Stoichkov: Dicalonkan Menjadi Presiden

Penghargaan Tertinggi

Rakyat tak mau tahu bahwa Iordan Lechkov yang seharusnya menjadi bintang, karena dialah sebenarnya yang ke memastikan tempat di semifinal ketika mencetak gol menentukan atas Jerman. Tapi rakyat sudah kadung basah kecintaannya pada Hitzo, sehingga melupakan jasa Lechkov.

"Anda telah memberi inspirasi yang membanggakan pada rakyat Bulgaria. Kesan positif atas negeri ini menjadi baik di luar negeri. Hal ini sama sekali tidak akan pernah bisa dilakukan oleh politisi atau diplomat kita," kata Presiden Zheyev, yang langsung menyambut rombongan tim di bandara.

Beberapa hari kemudian, masih dalam suasana gembira, beberapa pengusaha lokal memberikan sebuah sedan Mercedes Benz kepada setiap pemain. Tidak ketinggalan pemerintah sepakat untuk menyematkan Bintang Platina kepada setiap anggota tim, suatu penghargaan tertinggi bagi orang yang berjasa pada negara. Bahkan banyak masyarakat atau organisasi mengusulkan pada parlemen agar Hitzo dicalonkan sebagai presiden Bulgaria.
Hristo Stoichkov: Dicalonkan Menjadi Presiden

Bagi Hitzo hal ini mungkin suatu hal yang dianggap basa-basi saja. Seolah-olah mereka lupa tentang impiannya sejak kecil, tidak mau menjadi politisi kecuali pemain bola. Hitzo telah memiliki kehidupan sendiri, yaitu sepak bola. "Saya dalam sepak bola ibarat seorang yang kelaparan. Orang dalam keadaan begini pasti ingin makan banyak," katanya setengah berfalsafah.

Ya, lewat sepak bola dia mendapatkan segalanya. Gaji yang tinggi, fasilitas mewah, ketenaran, reputasi, dan kehormatan yang luar biasa. Semua itu dicapai oleh Hitzo melalui perjuangan keras dan penuh cobaan. Dia telah menggunakan hasrat dan kemauannya dengan maksimal.

Data Diri

Nama: Hristo Stoichkov
Panggilan: Hitzo
Tempat/Tanggal Lahir: Plovdiv, 8 Februari 1966
Zodiak: Aquarius
Tinggi/Berat: 178 cm/84 kg
Posisi: Gelandang menyerang/striker
Julukan: Nasty Boy, Protagonist, Naughty Boy, Nasty Streak, The Wayward Temperamental, Notorious Temper
Istri: Mariana
Idola: Michel Platini
Tokoh Berpengaruh: Dimitar Penev, Johan Cruijff
Kelebihan: Lari kencang, kaki kiri sangat kuat, spesialis bola-bola mati, Skill individu prima, naluri mencetak gol tinggi, semangat menyala-nyala
Klub: Hebros Harmanli (1976-78), Maritza Plovdiv (1978-84), CSKA Sofia (1984-90), Barcelona (1990-)
Debut Liga: Mei 1984 (CSKA Sofia)
Prestasi: Juara Liga Bulgaria 1987, 1989, 1990; Juara Piala Bulgaria 1987, 1988, 1989; Juara Liga Spanyol 1991, 1992, 1993, 1994; Juara Piala Spanyol 1990; Juara Liga Champion 1992; Juara Piala Super Eropa 1992; Semifinalis Piala Dunia 1994
Prestasi Pribadi: Pemain Terbaik Bulgaria 1989, 1990, 1991, 1992; Top Skore Liga Spanyol 1991 (36 gol); Top Skorer Piala Dunia 1994; Pemain Terbaik Eropa 1994.
Debut Timnas: September 1987 (vs Belgia 2-0)
Caps Timnas: 52 laga, 25 gol
Alamat: Futbol Club Barcelona, Avenue Aristides Maillol s/n 08028 Barcelona, Telp (93) 3309411; Bulgarski Futbolen Souls, ul. Karnigradska 19, 1000 Sofia, Telp (902) 877490/874725

Beberapa Falsafah Hidup
Hristo Stoichkov: Dicalonkan Menjadi Presiden
"Dunia menyukai orang-orang yang menang, oleh sebab itu tidak ada waktu untuk kalah."

"Dalam sepak bola tidak terlalu berarti dari mana gol itu bisa dicetak. Dari titik penalti atau permainan sama saja, yang penting bisa menghasilkan gol dan menang."

"Jangan sesekali mengecewakan fans, saya amat menghargai mereka bahkan merasa takut pada mereka."

"Setiap orang mempunyai karakter berbeda, begitu pula saya. Sungguh sulit untuk mengubah temperamen yang saya miliki, dan saya pun amat bangga dengan diri sendiri."

(foto: reuters/espnfc/novinite/marca/espnfc/es.besoccer.com) 


Share:

Asal Muasal Kisah Keberingasan Eric Cantona

Karier Eric Cantona kini benar-benar terancam. Pelakon Kungfu Kick pada seorang pendukung Crystal Palace ini bakal menghadapi kesulitan besar atas sanksi berat, yang entah apa bentuknya. Pastinya vonis hampir pasti akan dijatuhkan seperti larangan bertanding dengan waktu yang cukup lama. Ia selalu lupa pada satu hal: sikap semau-mau gue yang membuat sulit hidupnya.
Asal Muasal Kisah Keberingasan Eric Cantona
Kalau vonis itu dijatuhkan, maka Cantona bisa hilang dari peredaran untuk sementara waktu, seperti halnya yang pernah diderita Diego Maradona setelah didakwa melakukan doping di Napoli, dua musim lalu. FA (Federasi Sepak Bola Inggris) memang belum menjatuhkan hukuman resmi, namun tampaknya bakal tidak jauh-jauh dari prediksi kebanyakan pengamat dan pers.

Manchester United sendiri telah menjatuhkan hukuman internal pada sang kapten berupa pengurangan gaji, denda, dan keharusan melakukan kegiatan sosial. Semuanya dimaksudkan untuk memulihkan reputasi Cantona sendiri. Oleh klubnya, ayah dari Raphael Cantona (7 tahun) itu, disuruh merogoh dompet bayar denda senilai 30 ribu dolar AS (sekitar Rp 62 juta), dan harus menerima larangan 20 kali main dengan kostum United.

Dengan ‘azab’ itu saja praktis dia akan ‘hilang dari bumi’ sekitar enam bulanan. Setelah klub, hukuman kedua juga telah dilayangkan oleh Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) berupa berupa surat PHK! Mungkin saking malunya dan juga melihat prospek reputasi sepak bola Prancis di masa depan, ketika rapat petinggi FFF nyaris tidak ada yang membela Cantona.

“Kami tidak mau menerima lagi pemain yang telah ternoda,” sungut Noel Le Graet, Presiden Liga Prancis, ketika mengonfirmasi hukuman. Bersama bos FFF, Claude Simonet, dia juga bilang kepada pers bahwa ban kapten tim nasional Les Bleus yang selama ini disandang pria berukuran 188 cm itu resmi dicopot! Olala.

Asal Muasal Kisah Keberingasan Eric Cantona
Buat ukuran masyarakat elite Eropa, status Cantona adalah pendosa kelas berat. Untungnya di Inggris sepak bola adalah olah raga milik kaum working-class sehingga dramanya hanya menyentuh di permainan, paling banter karakternya sebagai bad boy di lapangan hijau. Namun para elite sepak bola, kaum moralis, dan beberapa politisi yang mencari kesempatan, kelihatannya seperti ingin menghabisi Cantona dari sisi attitude.

Padahal perlu diingat juga, Cantona hanya seorang manusia biasa yang tak luput dari dosa dan kesalahan. Kini mereka seolah tidak mau melihat lagi sebuah bakat yang mumpuni, karakter yang langka, atau sosok yang membuat sepak bola semakin menarik karenanya.

Seperti halnya kepada Maradona, yang seluruh jasanya buat sepak bola Italia langsung dihapus dan dilupakan, begitu juga Cantona, Ironisnya justru di negaranya sendiri. Iyalah kalau Maradona wajar diperlakukan begitu di Italia sebab dia orang Argentina, tapi Cantona? Sampai kiamat pun, Maradona selalu dianggap sebagai legenda dan pahlawan Argentina. Namun dunia belum kiamat, nasib Cantona berkebalikan. Mau dibilang apa. Itulah salahnya kalau gampangan jadi pemberang.

Seusai 45 kali membela tim nasional, Cantona mesti melupakannya. Belakangan, FFF ngotot mengajak FA bekerjasama untuk mencari ‘kesalahan lain’ gelandang serang United yang juga merangkap sebagai skipper, kapten tim. “Kalau perlu kami siap merekomendasikan hasil investigasi agar UEFA dan FIFA memberi sanksi lebih berat lagi seperti halnya Maradona,” kata Gordon Taylor, Ketua Eksekutif Asosiasi Pesepak Bola Profesional Inggris.

                                  
Di Old Trafford, Cantona sebenarnya telah menjadi legenda dengan julukan King Eric atau Eric The King. Nomor 7 yang dikenakannya dianggap keramat. Kehadirannya adalah jaminan mutu disaratinya stadion itu.

Atas jasanya - membahagiakan hati, penyemangat hidup, pemberi harapan mereka - Cantona pantas dianggap sebagai pahlawan rakyat oleh pendukung United. Tapi atas satu ulahnya itu segera dia dianggap seorang bandit oleh elite klub atau federasi yang memang selalu berkorelasi dengan politik dan kepentingan.

Siapa sebenarnya pemberang yang di akte kelahirannya tercatat sebagai Eric Daniel Pierre Cantona itu? Pemain ini dilahirkan di Marseille pada 24 Mei 1966 dari rahim wanita bernama Eleonore Raurich, seorang tukang jahit. Ayahnya adalah Albert Cantona, yang  mendalami bakatnya sebagai pelukis namun harus cari uang lebih sebagai perawat. Sejak kecil hidupnya memang tidak begitu menjanjikan dari sisi ekonomi alias pas-pasan.

Bakat bolanya ternyata diturunkan sang ayah, yang pernah jadi kiper kelas tarkam di Caillolais. Tak heran bila satu-satunya adik Cantona, yaitu Joel Cantona, juga jadi pesepak bola profesional di Marseille, Ujpesti TE (Hongaria), dan Stockport County (Inggris). Tidak seperti abangnya yang tak punya bakat seni, sang adik rupanya mewarisi bakat sang ayah yang punya keinginan kuat menjadi aktor. Salah seorang sepupu Cantona, Sacha Ospinel, juga tercatat sebagai pemain bola.

Asal Muasal Kisah Keberingasan Eric Cantona
Kendala Cantona sejak masih anak-anak memang adalah tabiatnya yang bertensi tinggi atau gampang nyolot. Ia sering ribut dan cekcok atau berkelahi di mana saja. Temperamen yang mengalir di darahnya itu tidak lain diwarisi oleh leluhurnya yang konon berasal dari Italia. Baik Albert maupun Eleonore sering dipanggil kepala sekolah atas kelakuan anak tengahnya. Kebrutalan Eric merambah di lingkungan rumahnya. Banyak tetangga yang sering mengeluh. Untungnya Cantona masih punya nilai lebih, yakni bakat sepak bolanya.

Masa Jahiliyah

Pesepak bola hebat biasanya memang suka jadi biang kerok. Tengok saja Maradona, Hristo Stoichkov, Harald ‘Tony‘ Schumacher, Vinnie Jones, atau siapapun yang Anda tahu. Guy Roux, orang pertama yang mendidiknya serius di AJ Auxerre, mengakui kebengalan anak asuhnya. “Begitulah karakternya. Tidak ada yang boleh mengecewakannya. Anda akan dilibasnya, tidak terkecuali, besar, kecil, tua, atau muda,” jelas pelatih top di Prancis itu tanpa melupakan kelebihan Cantona.

Apakah Cantona seorang psikopat yang enggan menerima atau melihat perbuatan yang tidak menyenangkannya? Perlu penyelidikan lebih dalam. “Darah panas yang mengalir di tubuhnya itu berasal dari kakeknya yang orang Sardinia, dan ibu yang datang dari selatan Spanyol. Ini merupakan kombinasi yang amat eksplosif,” tutur Roux lagi.

Dari penelusuran memang terbukti, kakek-nenek Cantona dari jalur ayah, berasal dari Pulau Sardinia di selatan Italia. Usai Perang Dunia II, Joseph dan Lucienne berimigrasi ke Les Caillols, sebuah dusun berbukit di dekat Marseille yang dipenuhi gua dan pernah dijadikan pos pengintaian oleh Nazi. Tapi karena Joseph seorang tukang batu andal, tentu saja tidak bermasalah. Salah satu gua telah diukir sedemikian rupa sehingga sebuah tempat tinggal yang layak bagi keluarga besar Joseph Cantona.

Asal Muasal Kisah Keberingasan Eric Cantona
Asal tahu saja, di situ pula tiga anak lelaki Albert- Eleonore lahir. Jean-Marie Cantona (1962), Eric Cantona (1966), dan Joel Cantona (1967) semua diberojolkan Eleonore di rumah gua! Jadi bukan mengada-ada jika disebutkan bahwa Eric The King Cantona, seorang raja di Old Trafford, adalah seorang caveman, alias manusia gua.

Asal muasal dari garis ibu juga menjelaskan dari mana sifat keberingasan dan betapa berangasan-nya Cantona. Ayah Eleonore, Pere Raurich, adalah salah seorang gembong separatis Catalunya yang diburu-buru pasukan penguasa dan diktator Spanyol, Jenderal Franco. Pada 1938, Pere harus mundur dari perjuangan karena menderita sakit liver. Bersama Paquita – nenek Cantona – Pere terpaksa mencari pengobatan sampai akhirnya bertahan di Saint-Priest, Ardeche, Prancis, sebelum menetap di Marseille.

Kembali ke soal permulaan. Di usia 18 tahun, sepak terjang Cantona di sepak bola sempat terhenti lantaran dia kena wajib militer. Roux agak lega. Ketika balik, sentuhan bermainnya rada memudar sehingga Auxerre menyewakannya ke Martigues. Pulang dari sana, kelakuan Cantona rada membaik. Jelas terlihat ia rupanya mau berubah demi kecintaannya dengan sepak bola. Bukan itu saja, permainan Cantona juga sudah kembali seperti apa yang diingini Roux.

Tak heran jika di musim 1986/87 dia akhirnya menandatangani kontrak profesional di Auxerre. Dasar pemain bagus, aksi bagus Cantona di Auxerre diendus anak buah Henri Michel, pelatih nasional Prancis. Tak lama kemudian, Cantona diberi debut penuh oleh Michel saat menghadapi Jerman Barat. Sayang, kelakuan buruk gelandang yang karakter permainannya disukai Michel Platini ini muncul lagi. Tiba-tiba saja dia meninju muka kiper nasional Bruno Martins dalam sebuah latihan!

Sedingin-dinginnya Roux tidak tahan juga dengan kelakuan Cantona. Auxerre tidak boleh bergantung dengan Cantona sang pemberang bin pendendam sekaligus raja biang kerok. Di musim 1988/89, Suami dari Isabelle Ferrer itu ditransfer ke klub top Olympique Marseille setelah mencetak 27 gol dari 79 laga untuk Auxerre.

Asal Muasal Kisah Keberingasan Eric Cantona
Maklum yang meminta dia langsung adalah Bernard Tapie, CEO sekaligus pemilik OM yang terkenal ambisius. Jika dia meminta, berarti Cantona itu pemain di atas rata-rata. Transfernya memecahkan rekor sebagai pemain termahal se-Prancis dengan nilai 22 juta Franc.

Ada kejadian menarik soal dendam mendendam Cantona. Delapan tahun silam, sebelum masuk Auxerre, dirinya pernah berkelahi dengan seseorang di sekolahnya. Kemudian dalam satu laga dia berkonfrontasi berat dengan seorang pemain Nantes. Konflik jadi terlihat ganjil sebab keduanya terlihat obsesif. Rupanya baik Cantona maupun Michel Der Zakarian, pemain Nantes itu, saling mengingat masa lalunya! Tak lama kemudian mereka saling bereaksi di lapangan.

Tak urung wasit mengusir Cantona dengan kartu merah. Hukuman Cantona dianggap berat sebab dia yang memulai perkara. Teklingnya yang sadis ala Kungfu ke Zakarian bukan saja dianggap amat berbahaya tapi juga sesuatu yang gila di sepak bola. Benar saja, Cantona dihukum tiga bulan oleh FFF. Namun, sekali lagi, bakat hebatnya telah menyelamatkan kariernya di Prancis. Tenaga pria yang tak suka bicara banyak ini memang dibutuhkan di tim nasional junior Prancis.

Pada 1988 timnas Prancis U21 jadi juara Eropa. Lagi-lagi nama Cantona disebut-sebut media massa se-Eropa. Bangsa Inggris pertama kali berkenalan dengan Cantona juga dari ajang itu. Pada perjalanan menuju juara, Les Bleus junior mengalahkan Inggris U-21 di babak perempatfinal di mana Cantona mencetak hattrick! Namun begitu tak bisa dipungkiri bahwa di era inilah Cantona sedang memasuki masa jahiliyah-nya.

                         

Cantona disebut-sebut seorang pendendam seketika. Barangkali sejenis Manic-Depression akut. Hal ini dibuktikan ketika dia meludahi kerumunan suporter Leeds United yang mengatainya pengkhianat. Ia sabar hingga laga usai sebelum melakukan aksinya. Dia juga pernah bergumul dan berkelahi dengan seorang polisi Turki yang dianggap telah mengintimidasinya.

Frustrasi disewakan Marseille ke Bordeuax, Januari 1989, Cantona langsung bikin ulah saat membela Bordeaux berlaga melawan Torpedo Moskva. Pertama dia menendang bola ke penonton. Kedua, begitu diganti pelatih Aime Jacquet atas ulahnya itu, Cantona melempar dan membanting kostum Bordeaux. Dia langsung ‘dirumahkan’ sebulan oleh klub barunya. Di saat yang sama pintu ke tim nasional tertutup lagi akibat menghina pelatih nasional Henri Michel saat diwawancara oleh TV.

Kepedulian Platini

Tidak tahan punya bintang bengal, Bordeaux  – yang saat itu diperkuat deretan bintang seperti Bixente Lizarazu, Alain Roche, Jean Tigana, Enzo Scifo, Christophe Dugarry, Yannick Stopyra, Jesper Olsen, atau Bernard Genghini – akhirnya memulangkan Cantona. 

Di musim 1989/90, Marseille kembali mengirim Cantona ke Montepellier semusim penuh. Di sini bengalnya tidak mau hilang. Cantona berkelahi dengan rekan barunya di Montpellier, Jean-Claude Lemoult. Wajah Lemoult bonyok sebab dilempar sepatu bola oleh Cantona. Melihat itu, enam pemain Montpellier bikin petisi agar Cantona diusir dari klub. 

Asal Muasal Kisah Keberingasan Eric Cantona
Namun dua pemain berpengaruh di Montpellier, Laurent Blanc dan Carlos Valderrama (Kolombia) meredam suasana seraya berjanji akan meredam kelakuan Cantona. Janji itu ditepati. Jiwa Cantona berubah membaik seiring dengan penampilan hebatnya, hingga Montpellier sanggup merebut titel Coupe De France. Aksi semusim di 1989/90 di Montpellier itu membuka mata Marseille bahwa pemain ‘tirinya’ itu ternyata memang punya sesuatu yang dapat dimanfaatkan.

Kedatangan kembali Cantona di Marseille – klub yang paling dicintainya – tidak mengubah banyak keadaan. Tapie terus melakukan bongkar pasang mencari skema manajemen terbaik. Setelah Gerard Gili dipecat, dia memanggil Franz Beckenbauer jadi manajer tim yang baru. Proses permainan masih belum juga memuaskan Tapie. Di tengah perjalanan, legenda Jerman dipecat dan giliran Raymond Goethals (Belgia) masuk menggantikan.

Walau Marseille sukses meraih titel juara Liga Prancis 1990/91, namun Cantona – hanya tampil 21 kali dengan 9 gol – kena assesment yang membuatnya harus dijual ke Nimes. Tak pelak lagi, realita seperti ini membuat Cantona kembali dilanda kekecewaan dan frustrasi. Dia seperti dipaksa harus meninggalkan klub kecintaannya. Di musim 1991/92 Cantona resmi bermain di Nimes, sebuah klub terbilang gurem di Liga Prancis.

Sudah bisa diramal penyakit psikopat Cantona bakal muncul. Pada Desember 1991, dalam sebuah laga dia melempar bola pada wasit karena kecewa dengan keputusannya. Eric dihukum FFF sebulan tak boleh main. Ketika diadili untuk banding, dia malah mengatai-ngatai para utusan FFF dengan sebutan idiot. Hukumannya ditambah jadi dua bulan. Mendengar itu putusan itu, pada 16 Desember 1991, Eric Cantona langsung memaklumatkan untuk mengundurkan diri total dari dunia sepak bola!

Mendengar kabar itu, pelatih nasional Michel Platini (1988-92) rada panik. Dia adalah pemuja Cantona dan tahu bila orang ini gantung sepatu, Prancis akan kehilangan salah satu aset penting di sepak bola. Pengumuman itu juga membuat Marseille panik. Cuek terkesan menjilat ludah, mereka antusias menawari kontrak baru lagi. Namun apa yang dilakukan kubu Les Bleus lebih kongkrit dan mengubah jalan hidup Cantona.

Asal Muasal Kisah Keberingasan Eric Cantona
Saking takutnya, Platini mengutus asistennya, Gerard Houllier, untuk merayu Cantona. Kebetulan Houllier seorang psikoanalis, semacam psikiater, yang cukup andal. “Dia (Houllier) menyarankan saya menolak ke Marseille, dan kalau mau, dia merekomendasikan saya ke klub-klub Inggris,” aku Cantona suatu kali.

Sejarah menulis nama Cantona mulai jadi isu di Inggris setelah Liverpool menang 3-0 atas Auxerre di Piala UEFA, 6 November 1991. Laga itu ditonton Platini dan Houllier. Usai laga, Platini menemui pelatih Liverpool, Graeme Souness, yang meminta The Reds mentransfer Cantona di bursa transfer Januari nanti. Souness bilang terima kasih  tapi menolaknya. Barangkali dia membayangkan skuad Liverpool yang sudah mapan bakal berantakan bila Cantona bergabung.

Souness melihat timnya tetap oke sebab masih punya Ian Rush, John Barnes, Dean Saunders, dan juga bintang Israel, Ronny Rosenthal. Namun uniknya, Souness malah mendatangkan Paul Stewart dan Nigel Clough yang kelasnya masih di bawah Cantona.

Namun Platini – eks bintang Juventus (1982-87) – tidak menyerah. Gayungnya disambut oleh Trevor Francis, pelatih Sheffield Wednesday, klub Divisi Dua Inggris yang sedang berambisi promosi ke Divisi Utama. Dan Francis sudah dikenal lama oleh Platini ketika dia menjadi pemain Sampdoria (1982-86).

Namun Francis mengajukan satu syarat hanya mencoba Cantona sebagai trialist, pemain untuk teman berlatih, sebab diakuinya The Owls tidak punya bujet transfer sama sekali. Baik Liverpool maupun Sheffield Wednesday sama-sama menolak Cantona, namun cara yang dilakukan The Owls lebih sopan. Hubungan pertemanan Platini-Francis adalah penyebabnya, dan itu kelak menjadi titik balik nasib Cantona ke depan.

Pucuk Dicinta Ulam Tiba

Untungnya Cantona, yang tetap berstatus menjadi pemain Nimes, mau ditawari Francis seperti itu. Iyalah, daripada menganggur tidak karuan di Prancis. Jadilah Cantona hanya bermain sepak bola indoor bersama klub Divisi Dua itu di kala musim dingin tiba. 

Asal Muasal Kisah Keberingasan Eric Cantona

Di saat itu semua klub-klub di Inggris justru menghadapi beberapa laga penting Boxing Day di Liga dan Piala FA. Nasib Cantona mulai terang ketika klub yang tengah berpeluang bagus di Divisi Utama Inggris 1991/92, Leeds United, mau membayar 900 ribu pound kepada klub Cantona, Nimes.

Leeds, yang dilatih Howard Wilkinson, adalah juara Divisi Dua Inggris di musim sebelumnya. Euforia yang meledak-ledak membuat mereka berprestasi bagus di Premiership. Cantona hanya tampil 15 kali dan bikin tiga gol. Namun berbagai assist dan dukungannya pada striker utama Lee Chapman, dianggap menjadi kunci sukses Leeds United yang secara menghebohkan menjuarai Premiership 1991/92.

Mata pecandu bola di Inggris makin terbuka ketika Cantona mencetak hattrick saat Leeds mengalahkan Liverpool, juara Piala FA, dalam laga Charity Shield di Wembley. Sebuah prestasi yang langka sebab jarang ada pemain yang bisa mencetak tiga gol dalam laga final. Bisa dibayangkan bagaimana raut wajah Souness ketika itu. Nasib baik menunggu Cantona di Liga Inggris 1992/93.

Beruntungnya lagi, kehadiran Cantona berbarengan dengan dimulainya era Premiership, musim 1992/93, sebutan pengganti untuk Divisi Utama Liga Inggris. Cantona semakin menggila ketika membuat hattrick lagi tatkala Leeds menggulung Tottenham Hotspur 5-0 di liga. Atensi pada dirinya makin menyeruak, dan puncaknya ikut membuat galau Manchester United, klub yang sedang bermimpi jadi juara Liga Inggris setelah musim 1966/67 atau 26 tahun lalu!

Dan setelah enam musim dilatih Alex Ferguson (sejak November 1986), The Red Devils selalu gagal dalam persaingan juara. Sejak 1986/87, titel Liga Inggris seolah cuma beredar antara kota London dan kota Liverpool. Jika bukan Everton, pasti Liverpool dan Arsenal. Kali ini bahkan Leeds! Secara personal Ferguson merasa punya aura dan spirit yang sama dengan Cantona. Setelah dipikir secara mendalam, dia mengakui amat mengidamkan Cantona di timnya!

Kata orang, pucuk dicinta ulam tiba. Semuanya diawali oleh ketertarikan Wilkinson pada bek kiri United, Dennis Irwin. Wilko lalu meminta bos Leeds Bill Fotherby agar mengurus, yang segera menelpon Martin Edwards, bos besar Manchester United. Ferguson langsung menampik usulan Edwards yang meminta dirinya melepas Irwin ke Leeds. Sebaliknya Ferguson justru butuh seorang striker, dan dia selalu ingat akan hasrat terdalamnya.

Tiga nama terdepan yang diusulkan dan sedang diurus Edwards adalah David Hirst, Matt Le Tissier, dan Brian Deane. Tapi Ferguson menyebut nama Cantona seraya meminta atasannya untuk bertanya balik pada Fotherby. Lalu Fotherby berdiskusi pada Wilkinson, pelatih Leeds yang tengah euforia, dan jawabannya sangat mengejutkan.

Asal Muasal Kisah Keberingasan Eric Cantona

Cantona bisa dilepas ke Old Trafford! Pada 26 November 1992, momen yang kelak mengubah sejarah United secara keseluruhan, sungguhan terjadi ketika Leeds menerima cek senilai 1,2 juta pound untuk kepindahan Cantona ke United.

Hujan emas di negeri orang adalah ungkapan yang tepat untuk Cantona. Merasa naik pangkat akibat lebih ‘dibutuhkan’ di negeri orang, kali ini Cantona  sama sekali tidak merasa jadi pemain buangan seperti di negerinya sendiri. Kondisi psikisnya kian membaik, dan rekan-rekan barunya menyambut dirinya dengan hangat. Apalagi Ferguson cukup memanjakannya, dan menjadikannya kapten tim. Di tengah permainan, Cantona sangat nyetel dengan Mark Hughes dan Brian McClair.

Trio inilah yang mengawali kesuksesan United dan Ferguson mengakhiri puasa panjangnya di Liga Inggris. Di musim 1992/93 itu, akhirnya Red Devils meraih juara Premieship untuk pertama kalinya. Nama Cantona tak pelak tercatat dengan tinta emas dalam sejarah klub.

Namun pelajaran hidup mengatakan tidak melulu kegagalan yang bikin orang hancur, tetapi juga kesuksesan. Setelah tiga musim di United, Cantona kembali menunjukkan sifat aslinya: semau gua. Manusia gua yang semau gua? Olala. Cantona oh Cantona...

(foto: bbc/sportbible/guardian/offsideflag/montpellierinteractive/zetaboards/pinterest)

Share:

Hristo Stoichkov (4): Bertemperamen Khas Catalunya

Tidak ada yang bisa menyalahkan Hitzo menjadi seorang yang temperamental. Siapa pun paham, dia bukanlah seorang yang melankolis, tetapi koleris. Golongan orang ini bersifat berkepala panas, gairahnya mudah bangkit tapi mudah pula tenang jika lawan yang dihadapinya mengaku kalah.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Namun di satu sisi, Hitzo juga seorang Aquarius, di mana faktor emosi atau perasaan memegang peranan penting dalam hidupnya. Ia sangat halus, peka sehingga mudah tersinggung atau naik darah. Awalnya publik Camp Nou begitu terkejut melihat Hitzo yang lebih panasan daripada masyarakat Catalunya sendiri.

Itu sangat bertolak belakang dengan yang digantikannya, Gary Lineker, yang dikenal gentleman, santun bin tenang bin adem. Bayangkan, selama berkarier di La Liga yang laganya keras dan kasar, penyerang nasional Inggris itu tidak pernah sekali pun dikenai kartu kuning, apalagi memprotes wasit.

Sifat ini sangat jauh berkebalikan dengan Hitzo. Belum juga tuntas di musim pertamanya membela Barcelona, dia sudah terkena skorsing selama dua bulan. Namun soal produktivitas, pemain bola terbaik yang dimiliki bangsa Bulgaria itu sama sekali tidak kalah.

Meski absen 10 laga akibat hukumannya itu, Hitzo masih tetap merebut gelar pencetak gol terbanyak La Liga pada 1991. Secara historis, ketajamannya mencetak gol bahkan melebihi sang suhu Johan Cruijff.

"Keterampilannya mengingatkan saya pada George Best. Namun modal penting yang dimiliki adalah temperamennya. Faktor ini amat signifikan jika Anda tampil di La Liga. Selain menjadi tolok ukur kebebasan, hal itu juga berguna untuk kesuksesan kariernya kelak," ujar Tony Bruins, asisten Cruijff, yang pertama kali menguji sifat Hitzo pada sebuah laga ujicoba.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Benar, pada akhirnya suporter hanya akan melihat sisi terbaik di diri Hitzo. Salah satunya, misalnya, selalu tampil penuh semangat, Salah satunya, misalnya, selalu tampil penuh semangat, bergairah, ngotot lagi atraktif. Pendek kata pernah dia tak terlihat melempem. Di Spanyol, jika ada orang yang selalu main begitu, walaupun dia bukan bintang, maka dengan cepat dia akan dijadikan bintang klub oleh para pendukung.

Demikianlah ciri khas Hitzo yang menjadi stigma nyata di hadapan Cules, sebutan pendukung Barcelona. Standar bermain Hitzo lahir batin, dijadikan patokan dan dianggap mewakili kegairahan dan mentalitas masyarakat Catalunya. Luar biasa.

Dalam beberapa laga, Hitzo seringkali tampil kesetanan laksana banteng marah. Ada untung, ada ruginya pula. Kelemahannya jika sudah begitu adalah dia terbiasa menyalahkan wasit ketika aksinya dihentikan lawan dengan kekerasan.

Lho? Menurutnya para wasit kurang tegas menghukum pemain yang berusaha mencederainya. Kalau responsnya tidak memuaskan, maka Hitzo makin mencak-mencak dengan tensinya yang gampang membubung itu. Ketika wasit malah memberi dia kartu kuning padahal dirinya yang ditebas kasar, bisa dibayangkan reaksi berikut orang model begini jika tidak segera dilerai dan ditenangkan rekan-rekannya.

Hukuman dua bulan yang diterimanya datang dari skenario seperti ini. Sudah terkena kartu merah, wasit dihinanya habis-habisan secara mental dan juga fisik! Agaknya tekanan hidup sejak kecil di Bulgaria dengan rezim represifnya, sedikit banyak, berkontribusi membentuk karakter Hitzo seperti itu. Adil adalah isu strategisnya, dan Hitzo gampang menggila bila tidak ada keadilan.

Dalam sebuah laga El Clasico di pentas Piala Super Eropa, Januari 1991, Hitzo tak dapat menahan emosinya tatkala ditekel dengan keras oleh Miguel Chendo sampai terlempar ke luar lapangan. Inti drama muncul kemudian. Setelah wasit Urizar Azpitarte tidak memberi kartu kuning, seperti yang diharapkan Hitzo, apalagi peringatan pun tidak, yang dilakukan Hitzo di luar kesadaran manusia normal atau seorang atlet.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Hitzo bangkit dan wasit Urizar langsung 'distempel' dengan sepatunya! Tak ayal, kartu merah pun mengacung ke udara. Koleksi tarjeta amarilla dan tarjeta roja Hitzo rada mencengangkan buat pria yang dipercaya sebagai Pemain Terbaik Bulgaria 1989, 1990, dan 1991.

Dan, sebanyak 90% koleksi itu terkumpul lantaran dia addicted melawan wasit. Jadi bukan karena ia main kotor atau suka menipu. "Saya berjanji tidak mengulanginya lagi. Saya ingin jadi anak baik," begitu dia selalu bilang ketika ditanya wartawan akibat pengusiran dirinya dari lapangan.

Anehnya, ucapan itu diulanginya setiap dia terkena kartu merah, begitu seterusnya. Saat kembali beraksi seusai masa hukumannya, Hitzo tak kapok memprotes wasit lagi. Ckkk ckkk, bukan main. Berkemauan keras, tekun, berjiwa bebas, optimistis, praktis, produktif, tegas dan berbakat jadi leader merupakan deretan kelebihan orang-orang koleris.

Superstar sepanjang masa, Diego Maradona, juga termasuk golongan ini. Kelemahan orang-orang tipe ini antara lain sarkastis, menguasai, tidak acuh, cepat bangga dan puas diri, serta tidak berperasaan. Nah dari yang terakhir inilah, Urizar jadi korban. Namun apa pun yang terjadi, penilaian objektif seperti performa dan kontribusi selalu mengubur urusan personal. Begitu juga yang ditunjukan Cules.

Mereka tetap menilai Hitzo lebih baik dari pada Maradona dan Mark 'Carrera' Hughes, yang bersama Lineker adalah para terdahulu Hitzo sebagai bomber Barcelona. Satu-satunya legenda El Barca yang mendekati Hitzo dalam hal temperamen dan karakter hanya Johan Cruijff, yang juga pelatihnya sekarang.

Pengaruh Cruijff

Cruijff, superlegenda sepak bola dunia, bangsa Belanda, bangsa Catalunya, dan FC Barcelona di era 1970-an sampai sekarang, juga punya rekor unik soal disiplin permainan. Seumur hidupnya merumput di La Liga, dia mengoleksi 22 kartu kuning dan kartu merah akibat memprotes wasit! Tak heran dia punya sebutan khusus dari para Cules yakni si 'methamorphosis'.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Cules juga makin bahagia melihat adanya transfer knowledge dan transfer mentality dari Cruijff kepada Hitzo, guru ke murid terbaiknya. Kata pengamat dan beberapa opini media massa, Cruijff lagi menyulap Hitzo sebagai pemimpin moral Barca di lapangan hijau seperti dirinya dulu.

"Kalau mau bertahan di sini, pertahankanlah karaktermu itu," kata sang guru menasehati dengan serius. Benar masih ada pemain senior seperti Andoni Zubizarreta, Jose Bakero, Michael Laudrup, Gheorghe Hagi, Laurent Blanc, atau Ronald Koeman.

Tapi mereka itu semua tidak punya darah menggelegak sebagai modal menjadi pembela kebenaran, pemimpin, dan penjaga stabilitas dan kredibilitas tim layaknya Hitzo Di sisi sebaliknya, Hitzo juga makin 'mangkak' sebab selain Cruijff, Presiden Barca menjadi pelindung dan pembelanya. Berkat lobi sang bos, hukuman Hitzo kadang jadi ringan. Kebetulan karakter Josep Luis Nunez mirip-mirip dengannya, yakni gampang tersulut.

Hitzo sangat hormat pada Cruijff dan Nunez. Pesan Nunez yang masih terus diingat Hitzo adalah boleh kalah dari yang lain, asal jangan dari Real Madrid! Di awal hingga pertengahan 1990-an, eksistensi Hitzo di Barca lebih dari berkah. 

Kehadirannya amat diterima, bahkan dianggap jadi stimulan spirit Nunez dan Cruijff. Wajar bila kaum Cules sangat berharap poros Nunez-Cruijff-Hitzo mampu mengendalikan kapal Barca dengan baik di perairan La Liga yang berombak ganas dan dipenuhi pesaing.

Membantai Real 

Salah satu sisi positif keberadaan Hristo Stoichkov di Barcelona tak lain bangkitnya kembali mentalitas dan primordialisme, semangat kedaerahan, bangsa Catalunya, wilayah di mana klub berjuluk Azulgrana ini berada.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Perseteruan abadi propinsi Catalunya dan propinsi Castilla, pusat kerajaan dan ibukota Spanyol, sudah berlangsung berabad-abad. Catalunya dulunya dikuasai kerajaan besar Aragon, namun pada 1469, setelah perkawinan Raja Aragon, Ferdinand II dengan Ratu Castilla, Isabella I, kedua kerajaan melebur menjadi satu, Kerajaan Spanyol.

Seiring perjalanan waktu, perkawinan politik itu justru merugikan bangsa Catalunya ke semua sektor kehidupan, sejarah, bahkan masa depan. Urusan sepak bola pun tak lepas dari dendam dan kebencian turun temurun. Barcelona adala simbol Catalunya (Aragon) dan Real Madrid ikon Castilla (Spanyol) pun tersaji di setiap laga mereka yang dinobatkan sebagai El Clasico.

Laga historis ini kadarnya bahkan melebihi Glasgow Celtic vs Glasgow Rangers, Boca Juniors vs River Plate, apalagi dengan AC Milan vs Napoli. Dalam kehidupan sosial politik di Spanyol, pendukung El Barca selalu membenci Real Madrid karena menganggap orang-orang Castilla itu arogan dan besar kepala serta lupa sejarah.

Urusan bukan lagi sepak bola atau permainan, tetapi politik dan harga diri. Real Madrid juga dimusuhi pendukung Athletic Bilbao, simbol perjuangan bangsa Basque. Barcelona dengan Bilbao relatif aman dan jarang konflik layaknya Catalunya dengan Basque.

Basque adalah sebuah wilayah yang sejarah atau asal muasalnya masih tidak jelas, meski ada yang berteori mereka berasal dari campuran bangsa Utara (Celtic dan Viking) dengan Afrika Utara (Moor dan Barbar). Rivalitas tujuh turunan Catalunya vs Castilla vs Basque juga yang menghancurkan tim nasional Spanyol lebih dari setengah abad.

Para pelatih nasional yang ditunjuk menangani La Furia Roja, julukan tim nasional Spanyol, pasti dibuat kelabakan mengatasi ini terutama saat memadukan para pemain dari ketiga klub tadi. Kegagalan Spanyol di tiga Piala Dunia terakhir, 1982, 1986 dan 1990 disebut-sebut karena tim Matador terlalu Real Madrid-sentris.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Rombongan Madrid seperti Michel, Emilio Butragueno, Rafael Martin Vasquez, Manuel Sanchis seringkali mendominasi di kala harus menyatu dengan Jose Mari Bakero, Julio Salinas, Andoni Zubizarreta (Barca), Rafael Alkorta dan Genar Andrinua (Bilbao). Apapun yang tersaji jadi masalah.

Di Piala Dunia 1994, dua tahun setelah dipegang Javier Clemente, sinkronisasi di La Furia Roja lebih baik setelah rombongan Blaugrana lebih banyak dibandingkan Los Blancos. Apakah ini tanda-tanda solusi untuk tim nasional Spanyol? Entahlah. Kalimat bijak suka mengatakan demi kepentingan yang dampaknya lebih besar kita harus rela berkorban. Metode ini tidak jalan di Spanyol, yang seperti di kebanyakan di wilayah Eropa, sebenarnya mengakui dominasi.

Aura seperti ini harus terus diperkuat, seperti makin kuatnya Barcelona setelah duet Nunez-Cruijff menemukan missing link untuk masa depan Barca bernama Hristo Stoichkov. Seperti sudah bisa ditebak, kehadiran Hitzo beserta sikap dan sifatnya yang kelotokan itu pasti membuat sulit Los Blancos. Yup, tidak salah. 

Pada El Clasico 8 Januari 1994, Barca menguliti El Real 5-0 lewat hattrick Romario Faria dan dua gol Hitzo! Seperti yang pernah diungkap pada edisi terdahulu bahwa salah satu keputusan Nunez dan Cruijff merekrut Stoichkov adalah cara terbaik untuk menghentikan sepak terjang Real Madrid. "Sebelum resmi bergabung ke Barcelona, Cruijff sering menekankan ke saya bagaimana cara paling optimal bermain untuk Barca dan tujuan utamanya," kilah Hitzo suatu kali.

Sungguh suatu karunia bagi Barcelona dan juga Hitzo mana kala pertautan mereka membuahkan prestasi dan sejarah sekaligus, memenangkan La Liga selama empat musim beruntun, 1990/91, 1991/92, 1992/93, dan 1993/94.

(foto: jordimolina/novinite/marca/espnfc/es.besoccer.com) 

Share:

Kena Magic Macumba

Akhirnya ketahuan juga yang menjadi sebab musabab kegagalan Roberto Baggio dalam mengeksekusi tendangan penalti sewaktu terjadi drama adu penalti di final Piala Dunia 1994 tahun lalu. Mau tahu apa penyebabnya? Gara-gara dukun!
Kena Magic Macumba
Tendangan penalti Roberto Baggio yang menuju langit.
Ya, kekuatan supranatural asal Brasil yang disebut Macumba ternyata beraksi dan sekaligus bereaksi yang membuat Baggio tak berdaya di hadapan kiper Claudio Taffarel. Silakan Anda percaya atau tidak. Lalu siapa yang mengatakan ini?

Dialah Doris Gianco, seorang peramal yang terkadang bertugas sebagai dukun. Perempuan ini mengemukakan ‘sebuah episode’ misterius yang dilihatnya melalui siaran langsung TV pada malam final itu. 

“Ketika melihat TV saya mengerti bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Lalu saya mengambil kartu ramal, mengocoknya kemudian mengambil sehelai kartu. Ternyata bagus. Artinya ada keberuntungan. Namun kartu lain yang menyusul malah memiliki pertanda petaka,” kata Doris dengan semangat.

Doris juga mengungkapkan bahwa hingga sekarang Baggio masih di bawah pengaruh Black Macumba, seraya mengusulkan agar dia menangkalnya dengan Pink Macumba alias sihir merah muda. Entahlah apa artinya, rasa-rasanya kita tidak perlu tahu detil.

Pastinya setelah isu Black Macumba dipublikasikan, sang bintang tidak menanggapi bahkan menolak berkomentar yang diucapkannya dengan wajah ketus. Anehnya setelah Piala Dunia itu, Baggio langsung dihajar cedera yang semakin hari semakin parah. Apa itu tanda-tanda adanya Black Macumba? Hmm…gawat.

Asuransi Gullit

Di Eropa, dunia asuransi sudah sedemikian maraknya memasuki semua unsur kehidupan sehingga para sepak bola pun dapat memanfaatkan atau menggunakannya. Di Italia beberapa pemain terkenal mengasuransikan beberapa bagian tubuhnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Misalnya Roberto Baggio yang mengasuransikan kaki dengan nilai maksimal 6 miliar lira atau sekitar Rp 9 miliar. Juga kaki Giuseppe Signori yang pertanggungannya senilai 5 miliar lira (Rp 7,5 miliar). Kedua kaki pesepak bola kelas wahid itu ternyata lebih mahal dari tubuh top-model Claudio Schiffer, yang hanya nyaris mendekati nilai Signori. 

Uniknya peragawati super dari Jerman itu mengasuransikan jiwanya bukan sebagian tubuhnya. Namun soal beginian yang terhebat barangkali Ruud Gullit. Selain kakinya dilabeli pertanggungan Rp 3 miliar, si rambut gimbal ternyata juga mengasuransikan... alat vitalnya! Untuk apa dan kenapa, silakan Anda sendiri menjabarkannya. Lalu berapa nilainya? Kecil sih, hanya sekitar 300 juta lira atau setara dengan Rp 450 juta. Tapi... alamak.

Gaya Bati Ditiru

Kekalahan tandang beruntun Fiorentina, 0-2, masing-masing dari Milan dan Cagliari, memang sangat menyakitkan jika diingat-ingat. Duka makin menyesakkan mengingat bintang pujaan mereka, Gabriel Batistuta, dilecehkan pemain lawan dalam laga di San Siro dan Sant' Ellia itu.

Marcel Desailly misalnya. Si gelandang legam Milan asal Prancis itu langsung berlari ke sudut lapangan, memegang bendera sepak pojok dengan satu tangan sementara tangan yang lain berkecak pinggang sambil melenggokan badannya, persis banget dengan selebrasi Bati usai bikin gol! Tragisnya si ganteng dari Argentina cuma bisa melongo melihat kejadian yang di luar dugaan itu.

Hal serupa dilakukan oleh Luis Herrera, striker Cagliari asal Uruguay, sepekan kemudian. La Viola kalah lagi dengan skor serupa. Uniknya ada lagi ‘pelecehan’ kepada Batistuta yang dilakukan Herrera, sesuatu yang mirip dengan tindakan Desailly. Atas kejadian itu yang berang malah rekannya, Manuel Rui Costa. “Bati menang hebat. Kok mereka tidak malu ya padanya?” ujar Rui Costa dengan sinis dan setengah menggerutu. Lalu apa kata Batistuta sendiri? “Ternyata saya bisa juga bikin tren,” tuturnya bangga.

(foto: nytimes/zmnapoli)

Share:

Hristo Stoichkov (3): Cruijff, Penev, dan Platini - Menginspirasi Jalan Hidupnya

Kerja keras, dedikasi dan obsesi akan membuat seseorang dengan mudah mencapai cita-cita hidupnya. Ini sebuah teori kesuksesan yang pernah dikatakan oleh industrialis kesohor Henry Ford. Semua faktor ini pun dimiliki oleh Hristo Stoichkov alias Hitzo. Bahkan ia mempunyai satu faktor lagi yaitu tokoh panutan. Siapa panutan Hitzo? Tak lain Michel Platini. Bintang Prancis ini amat mempengaruhi karier Hitzo. Segala kelebihan Platini dipelajarinya dengan seksama dan sungguh-sungguh. 

Hristo Stoichkov: Cruyff, Penev, dan Platini - Menginspirasi Jalan Hidupnya

Namun di balik itu, ia menyadari bahwa untuk menjadi Platini di Bulgaria sendiri amatlah sulit. Apalagi saat itu stabilitas di negerinya sedikit terusik, sebagai dampak runtuhnya komunisme. Untungnya Hitzo tak mau ambil pusing. Ia teringat kembali cita-citanya sejak kecil: tidak mau menjadi politisi kecuali pemain bola. 

Keuntungan kedua: ia bermain di CSKA Sofia, klub yang dimiliki AD Bulgaria. Hitzo amat dipandang meski nyaris dipecat akibat jadi biang kerok kerusuhan di sebuah laga prestisius. Namun usai mengantarkan CSKA menjuarai Soviet Army Cup di Moskow, bersama Emil Kostadinov dan Luboslav Penev, Hitzo makin dihormati.

Kehormatan ketiganya membubung mengingat yang dikalahkan CSKA di final adalah Chernomorets, kesebelasan tuan rumah, dan laga tersebut dijejali puluhan ribu tentara. Di Bulgaria, CSKA Sofia dan Levski Spartak merupakan klub paling mapan dan terpandang sehingga apapun yang terjadi di dalam tubuh mereka menjadi perhatian orang.

Kedua klub pun tidak rontok, bangkrut ataupun bubar setelah angin kebebasan melanda Bulgaria. Sementara klub lainnya kacau balau, para pemainnya keseringan mangkir latihan sebab konsentrasinya terganggu atau malahan ikutan demo. Beberapa pemain CSKA juga demikian.

Namun Hitzo tidak mau. Ia tidak peduli dengan kondisi sebab yang melulu dipikirkan cuma sepak bola dan sepak bola, plus hasrat terdalamnya ingin menjadi pesepak bola di luar negeri. Hanya ini. Lambat laun saat-saat manis pun tiba. Trio Hitzo, Lubo dan Emil mengantarkan CSKA menjuarai Liga Bulgaria pada 1989.

Prestasi ini dipercantik oleh gelar pribadi yang diraih Hitzo sebagai pencetak gol terbanyak dan Pemain Terbaik Bulgaria 1989. Tak ayal, dua penghargaan ini menjadi modal kuat Hitzo untuk meraih cita-citanya. Ketika diwawancara usai acara penghargaan, tanpa sungkan Hitzo menyatakan keinginannya untuk bermain di Barcelona atau Juventus serta menyebut La Liga dan Serie A sebagai kompetisi terbaik di dunia. "Saya amat tertantang bermain di sana," kilahnya di depan para wartawan.

Impian Terkabul

Keberuntungan Hitzo semakin mendekat ketika CSKA Sofia lolos ke semifinal Piala Winner setelah mengatasi Roda JC Kerkrade. Lalu lawan berikut yang harus dihadapi adalah tim yang dilatih oleh maestro Johan Cruijff: Barcelona! Tanggal 5 April 1989 dikenang Hitzo sebagai hari bersejarahnya, sebab untuk pertama kalinya dia tampil di Camp Nou. Hatinya sempat menciut, dadanya pun bergetar tidak karuan tatkala kakinya melangkah menginjak rumput Camp Nou yang disaksikan oleh hampir 100.000 pasang mata penonton.

Di stadion itu Hitzo merasakan dan melihat langsung permainan Ronald Koeman, Michael Laudrup atau Gary Lineker serta teriakan Cruijff dari tepi lapangan. Sama seperti rekan-rekannya, ada perasaan minder kala menyadari kostum mereka yang tanpa merek dan titel iklan. Sangat kontras dengan seragam tuan rumah.

Hristo Stoichkov: Cruyff, Penev, dan Platini - Menginspirasi Jalan Hidupnya

Beruntung CSKA punya pelatih berkarakter di diri Dimitar Penev. Dia segera membesarkan hati anak buahnya, terutama tiga bintang andalannya, Hitzo, Emil Kostadinov serta Luboslav Penev yang juga keponakan sang pelatih. "Pikirkan bagaimana caranya mencetak gol. Ingat, hanya itu!" hardik pelatih Penev. Suntikan moral berhasil sebab secara mengejutkan Hitzo mencetak gol yang membuat CSKA sempat unggul 1-0. Bahkan kemudian dua gol dibuat Hitzo.

Namun faktor kualitas dan pengalaman yang dimiliki tim Blaugrana sulit diatasi CSKA. Barcelona akhirnya menang 4-2. Seperti yang diduga, publik Camp Nou terkesima oleh penampilan Hitzo, terlebih-lebih Cruijff! Lewat penglihatan dari mata yang sehat aksi Hitzo jauh lebih bagus dari Laudrup atau Lineker yang berposisi sama dengannya. 

Tanpa harus diketahui Hitzo, Cruijff kemudian memang berkonsultasi dengan presiden klub, Josep Luis Nunez, membahas pemain bernama Hristo Stoichkov. Pada intinya, mereka tertarik untuk mencoba bakat Hitzo. Ada strategi mendalam dari Cruijff dan Nunez, di mana Hitzo jadi bagian dari skenario besar Barcelona untuk menyudahi dominasi Real Madrid di La Liga sejak 1986. Pada Juni 1990 Hitzo resmi dikontrak Barca dengan nilai transfer 1,5 juta pound atau hampir 5 milyar rupiah dengan kurs saat itu. 

Memang harga Hitzo kalah jauh dari bintang Eropa Timur lain seperti Dragan Stoijkovic (Yugoslavia) yang dibeli Olympique Marseille dari Red Star senilai 6,7 milyar rupiah, atau Gheorghe Hagi (Rumania) dari Steaua Bucuresti ke Real Madrid seharga Rp 5,5 milyar.

Hristo Stoichkov: Cruyff, Penev, dan Platini - Menginspirasi Jalan Hidupnya

Namun kedatangan Hitzo di Barcelona memakan korban. Posisi Gary Lineker di ujung tanduk. Usai mengantarkan Barcelona menjuarai Piala Winner 1990, penyerang nasional Inggris itu malah terlempar pada skuad 1990/91. "Dia tidak bisa dipertahankan. Tipe permainannya tidak cocok dengan strategi yang saya pasang sekarang," begitu Cruijff beralasan.

Mirip Dengan Cruijff

Bergabungnya dia ke klub dambaan sejak muda membuat Hitzo tidak akan bisa melupakan jasa Johan Cruijff seumur hidupnya. Tanpa Cruijff barangkali Stoichkov pernah tidak ada di Barca, dan sulit menggapai karier profesionalnya. Walau pada dasarnya punya naluri 'membunuh' yang bikin kecut lawan, berkat bimbingan Cruijff - bintang Barcelona di akhir 1970-an - karakter permainan Hitzo menjadi lebih terarah dan optimal.

Hristo Stoichkov: Cruyff, Penev, dan Platini - Menginspirasi Jalan Hidupnya

Sedikit banyak terdapat persamaan watak antara Cruijff dengan Hitzo, sama-sama temperamental, meledak-ledak, tukang protes wasit sehingga gampang terkena kartu kuning. "Siapapun orangnya kalau berbuat salah atau bermain buruk, saya tidak pernah mengistimewakan pemain saat berlatih," tegas legenda nomor satu sepak bola Belanda ini.

Jika dirunut ke belakang, maka boleh jadi Hitzo beruntung dua kali karena memiliki dua pelatih berbeda namun berkarakter mirip: Dimitar Penev di CSKA dan Johan Cruijff di Barcelona. Pernah sekali waktu Hitzo mangkir latihan karena sesuatu hal. Cruijff, lelaki flamboyan kelahiran 25 April 1947, hanya berkata singkat, "Kalau kau mau, besok pun kau boleh meninggalkan Barcelona."

Pada 1993, ketika Napoli berhasrat untuk merekrut Hitzo untuk menggantikan Gianfranco Zola yang hengkang ke Parma, Cruijff juga memberi kebebasan pada Hitzo. "Tanya pada dia, pilih Barcelona atau kariernya akan habis," tukas Cruijff dengan gaya khasnya. Nyatanya hingga kini Hitzo masih tetap di Barcelona.

(foto: jordimolina/novinite/ap/pinterest/es.besoccer.com/novsport)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini