Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Fenomena Super Juve: Puasa Juara Delapan Tahun Akan Berakhir?

Begitu Parma pada Ahad lalu dipukul 3-1, keyakinan orang semakin besar bahwa Juventus bakal menjuarai Serie A tahun ini. Benarkah? Keyakinan itu bisa jadi akan terbukti melihat performa Bianconeri sedang on fire. Terlebih lagi makin bersinarnya bintang lokal mereka, Alessandro Del Piero dan Fabrizio Ravanelli, serta bangkitnya kembali Gianluca Vialli pantas menjadi jaminan untuk mencapai obsesi itu.


Fenomena Super Juve: Puasa Juara Delapan Tahun Akan Berakhir?

Di satu sisi Juve mulai melupakan aksi kreator utama permainan, Roberto Baggio, yang masih bergulat dengan cedera. Tampaknya mereka mulai melupakan bahkan menganggap Baggio lebih besar nama daripada prestasinya. Tanpa kontribusi Baggio, permainan Juve tetap menawan.

Wajar jika bos Giovanni Agnelli mulai mempertanyakan Baggio. Ia mengatakan Baggio belum selevel Michel Platini. Namun hadirnya trisula Del Piero–Ravanelli–Vialli patut disyukuri untuk menjaga harapan pada scudetto yang telah delapan tahun tidak pernah dirasakan lagi!

Sekarang angin segar menghampiri mereka sehingga imajinasi pesta scudetto terakhir di 1985/86 makin santer terasa. Puasa juara selama sewindu harusnya berakhir. Musim ini Bianconeri mengandalkan kekompakkan trio Platini–Boniek–Laudrup. Bahkan musim lalu Zbiegniew Boniek dan Michael Laudrup menemani Platini saat mengangkat trofi Liga Champion serta Piala Toyota.

Tetap Terbesar

Lepas dari itu semua sebenarnya Juventus tetap yang terbesar di bumi Italia. Pencapaiannya 22 kali titel juara, dihitung dari kompetisi pertama yang digelar 1897. Dua pesaing terdekat soal trofi Serie A tiada lain AC Milan yang merengkuh 14 titel, serta musuh tradisional, FC Internazionale Milano, yang menggondol 13 kali juara.

Hingga di era 1980-an Juventus selalu memiliki tokoh protagonis dari negeri seberang sebagai pemanis kejayaan. Sebelum Platini (Prancis) ada Liam Brady (Irlandia) yang direkrut dari Arsenal. Musim lalu Juve mengandalkan Andreas Moeller sebagai playmaker yang bersama il trequartista Baggio diplot untuk mendominasi lini tengah.

Namun irama Moeller–Baggio kurang harmonis sehingga di musim lalu gelar juara kembali melayang. Setelah Moeller dipulangkan, Juve agaknya ingin kembali ke khittah-nya: memakai kekuatan pemain bangsa sendiri. Bercerita soal ini bak menguak singkat kisah klasik. Kisah di mana para pendiri ingin menjadikan Juventus sebagai klub kebanggaan Italia yang serba Italia, mulai nama, tradisi, kultur, sampai ke para pemain.

Sebelum didirikan 1 November 1897, Bianconeri adalah klub bernuansa religius. Namanya saja Juventus, yang diilhami dari idiom Latin, Dio Juvenia, yang bermakna pertolongan Tuhan. Entah karena merasa ‘keberatan’ menanggung aroma Illahi atau beraura kecewek-cewekan, mereka menggantinya menjadi Juventine, yang rasa-rasanya masih beraroma wanita. Apalagi kostum awal mereka berwarna merah jambu alias fuschia.


Fenomena Super Juve: Puasa Juara Delapan Tahun Akan Berakhir?
Aslinya bernama Juvenia lalu Juventine yang bernuansa wanita pada 1897.
Barulah pada 1903 nama Juventus jadi pilihan sebab dirasa lebih maskulin alias macho meskipun masih mengandung sifat feminin gara-gara julukan Si Nyonya Besar atau La Vecchia Signora. Untung seragam berwarna fuschia ditanggalkan dan diganti dengan replika kostum pesanan kesebelasan Inggris, Nottingham County (Notts County).

Dalam perjalanannya kemudian, Juventus juga mulai dimodernisasi seiring dengan pengembangan Serie A secara profesional penuh mulai musim 1929/30. Salah satunya adalah penggunaan stranieri, pemain asing, yang amat marak dilakukan 18 klub divisi utama. Berikut daftar pemain asing di Juventus sejak musim pertama Serie A era baru di 1929/30 hingga musim 1994/95 ini.

Tahun
Pemain Asing
Negara
Gol
1929
Raymundo Orsi
Argentina
78
1930
Renato Cesarini
Argentina     
42
1931
Jose Maglio
Argentina     
6
1931
Luis Monti
Argentina     
21
1932
Pedro Sernagiotto
Brasil
1940
Riza Lushta
Albania
55
1941
Raul Banfi
Uruguay       
1946
Julius Korostelev
Cekoslowakia  
15
1946
Cestmir Vycpalek
Cekoslowakia  
1947
Jan Arpas
Cekoslowakia  
1948
Mihaly Kincses
Hongaria      
6  
1948
John Hansen
Denmark       
124
1948
John Jordan
Inggris
5  
1949
Johannes Ploeger
Denmark
1  
1949
Rinaldo Martino
Argentina
18 
1949
Karl Aage Praest
Denmark       
51 
1950
Karl Aage Hansen
Denmark
37 
1953
Eduardo Ricagni
Argentina     
17 
1954
Helge Bronee
Denmark       
11 
1955
Leonardo Collela
Brasil        
7  
1955
Juan Vairo
Argentina     
3  
1956
Raul Conti
Argentina     
7  
1956
Kurt Hamrin
Swedia
8  
1957
John Charles
Wales
105
1957
Karl Erik Palmer
Swedia
1957
Omar Sivori
Argentina     
159
1961
Fernando Fuglia
Brasil
-
1961
Humberto Sosa
Argentina     
3
1962
Luis Del Sol
Spanyol
26
1962
Armando Miranda
Brasil
12
1962
Bruno Siciliano
Brasil
4
1963
Dino Da Costa
Brasil
11
1963
Nene De Carvalho
Brasil
11
1964
Nestor Combin
Prancis
7
1965
Cinesinho
Brasil
8
1967
Roger Magnusson
Swedia
-
1968
Helmut Haller
Jerman
25
1972
Jose Altafini
Brasil
28
1980
Liam Brady
Irlandia
14
1982
Zbigniew Boniek
Polandia
32
1982
Michel Platini
Prancis
84
1985
Michael Laudrup       
Denmark
23
1987
Ian Rush
Wales
12
1988
Rui Barros
Portugal      
15
1988
Alexander Zavarov    
Uni Soviet    
12
1988
Sergei Aleinikov
Uni Soviet    
3
1990
Thomas Haessler      
Jerman
2
1990
Julio Cesar
Brasil
1
1991
Juergen Kohler
Jerman
5
1991
Stefan Reuter
Jerman
1
1992
Andreas Moeller
Jerman
27
1993
David Platt
Inggris
3
1994
Didier Deschamps
Prancis
-
1994
Robert Jarni
Kroasia
-
1994
Paulo Sousa
Portugal      
Rahasia Lippi

Di tangan Lippi sekarang, tujuan awal Juventus hampir tercapai. Pemain asing hanya pendukung, bukan penentu. Pendek kata, mereka mengidamkan poros Baggio–Del Piero–Ravanelli–Vialli dapat berjalan sempurna. Mengandalkan kekuatan konten lokal untuk permainannya bukan barang baru bagi Juve. 

Fenomena Super Juve: Puasa Juara Delapan Tahun Akan Berakhir?
Juventus era 1970-80-an. Berkuasa penuh di bumi Italia.
Di akhir 1970-an hingga awal 1980-an, Juve punya Stefano Tacconi–Gaetano Scirea–Marco Tardelli–Antonio Cabrini–Roberto Bettega–Paolo Rossi sebagai poros permainannya. Enam pemain ini juga menjadi andalan tim nasional Italia di Piala Dunia 1978 dan 1982.

Sejak ditangani Marcello Lippi, pelatih yang direkrut dari Napoli tahun lalu, sepertinya Juve mengulangi masa-masa kejayaan pemain lokalnya. Ini dibuktikan setelah mereka sanggup mempertahankan posisi puncak di klasemen sementara Serie A hingga giornata 16, dua pekan setelah mengambil alih posisi Parma yang menjadi juara paruh musim.

Kini dengan 36 poin, Juve unggul empat angka atas Parma, Lazio (28) serta Fiorentina dan Roma (27). Lippi, pria kelahiran Viareggio 12 April 1948, diakui sukses menghembuskan angin segar ke tubuh klub yang menjadi perempatfinalis Piala UEFA musim ini. Keberaniannnya memasukkan dua pemain muda, Del Piero dan Alessio Tacchinardi merupakan salah satu kreasi terbaik Lippi dalam debutnya di Juventus.

Poros Tacchinardi–Del Piero berhasil mengimbangi kinerja palang pintu lini tengah Juventus: Paulo Sousa dan Didier Deschamps. Bahkan dengan Antonio Conte atau Giancarlo Marocchi pun tidak masalah. Del Piero disulap Lippi sebagai trequartista  sepeninggal cederanya Baggio. Ia juga menjadi juru suplai bagi tombak kembar Vialli–Ravanelli.

Kekuatan utama skema Lippi ada di jantung pertahanannya. Duet Ciro Ferrara–Juergen Kohler/Luca Fusi/Massimo Carrera. Tanpa Ferrara, barangkali Lippi tidak berani menangani Bianconeri. Itulah mengapa dia membawa Ferrara, kapten Napoli, saat dirinya hijrah ke Juventus.

Di kiri Lippi punya Moreno Torricelli atau Robert Jarni yang sama baiknya untuk kondisi berbeda. Di kanan, dia punya Alessandro Orlando dan Luigi Sartor sebagai cadangannya Sergio Porrini. Dengan barisan bek seperti ini, tampaknya gawang Angelo Peruzzi makin susah saja ditembus.
Fenomena Super Juve: Puasa Juara Delapan Tahun Akan Berakhir?
Bangunan asli Super Juventus rancangan Marcello Lippi.
Akhirul kalam, hanya faktor nasib buruk saja yang menggagalkan Juventus menjuarai Serie A musim ini. Selebihnya, dilihat dari kaca mata apa pun, sulit untuk menyaingi komposisi dan formula pasukan Lippi. Tak salah jika media massa di Italia menyebut tim ini dengan Super-Juve.


Data & Rekor Klub

Berdiri: 1 November 1897
Masuk Pro: 1903
Stadion: Delle Alpi (71.012)
Presiden: Giovanni Agnelli
Pelatih: Marcello Lippi
Kostum: Hitam–Putih, Biru–Kuning–Hitam
Alamat: Piazza Crimea 7, Torino 10131
Rekor Gol: 103 (1950/51, 20 klub); 75 (1942/43, 16 klub)
Menang Tandang: vs Inter 9-1 (1960/61), vs Fiorentina 8-0 (1952/53)
Kalah Kandang: vs Pro Patria 0-7 (1949/50)
Rekor Main: Dino Zoff (903 kali), Giampiero Boniperti (444)
Rekor Gol: Giampiero Boniperti (178)
Rekor Pembelian: Gianluca Vialli (Sampdoria, 28 miliar Lira, 1992)
Rekor Penjualan: Eugenio Corini (Sampdoria, 10 miliar Lira, 1992)
Gelar Juara: Serie A (22 kali), Piala Italia (8 kali), Piala Super Italia (1), Piala Super Eropa (1), Piala UEFA (3 kali), Piala Winner (1), Piala Champion (1)


(foto: it.wiki/wikiwand/seriea.sportboard)

Share:

Fabrizio Ravanelli: Start Telat, Karier Cepat

Semula banyak masyarakat Indonesia mengira penyerang Juventus berkaki kidal ini adalah pemain gaek. Wajahnya yang “boros” dan rambutnya yang memutih membuatnya tampak tua. Tak heran jika publik Serie A menjulukinya Penna Bianca, si bulu putih.
Fabrizio Ravanelli: Start Telat, Karier Cepat

Julukan Penna Bianca diberikan oleh Juventini, suporter Bianconeri. Jelas bin jelas lantaran rambut Ravanelli beruban total, memutih, layaknya kakek-kakek. Penna yang berasal dari kata pennacchio, memang dimaksudkan untuk menggambarkan rambut Rava yang seperti helaian bulu ayam. Oleh sebab itu Rava tidak mau berambut panjang. Apa jadinya jika dia nekat gondrong?

Jangan jadikan masalah, tapi lihatlah permainannya. Simaklah gol-gol indah yang dicetak dari nalurinya yang tajam. Dua golnya ke gawang Parma, di pekan ke-15 Serie A 1994/95 pada 8 Januari 1995 di Ennio Tardini, bukan saja memastikan kemenangan Bianconeri namun juga menyudahi perlawanan tuan rumah.

Fabrizio Ravanelli: Start Telat, Karier Cepat
Parma menyerah 1-3 kendati sempat unggul lebih dulu lewat gol Dino Baggio di menit 57. Setelah disamakan Paulo Sousa, hanya berselang empat menit, permainan berubah angin. Juve mendominasi pertandingan, dan di sinilah Ravanelli makin menunjukkan peran vitalnya. Rava mencetak dua gol tambahan, sundulan di menit 70 dan dengan kaki kirinya dari titik penalti di menit 74.

Tampaknya pria kekar 188 cm ini memang sedang memasuki puncak penampilannya sehingga namanya pun meroket, selain menjadi pusat perhatian media massa di Italia dan tentu, seluruh barisan lawan. Banyak orang belum tahu bagaimana perjuangan panjang Rava bisa seperti ini, yang bersama Gianluca Vialli, Roberto Baggio, atau Alessandro Del Piero menjadi andalan baru lini depan Juve.

Perjalanan karier Rava mulai terang sesudah berandil besar ikut mempromosikan Reggiana ke Serie A di musim 1991/92. Sadar butuh penyerang kidal dan sebagai upaya menggantikan Pierluigi Casiraghi yang dijual ke Lazio, Juve langsung memanfaatkan momentum. Pelatih Giovanni Trapattoni butuh finisher yang bisa menuntaskan umpan-umpan matang Andreas Moeller.
Fabrizio Ravanelli: Start Telat, Karier Cepat
Dengan Gianluca Vialli. 
“Saya amat bangga bisa bermain di klub besar dan memakai kostum Bianconeri,” katanya saat baru bergabung dengan La Vecchia Signora. Dengan join ke Juve, kariernya semakin jelas meskipun dia harus bersabar tiga musim untuk bisa seperti sekarang. Awal 1992/93, lelaki kelahiran Perugia pada 11 Desember 1964 ini resmi berkostum hitam-putih, dan tak perlu lama-lama memulai debut pada 6 September 1992 melawan tuan rumah Cagliari.

Jagoan Di Eropa

Saat itu Rava masih menjadi bayang-bayang Paolo Di Canio dan Andrea Fortunato, sehingga penampilan Serie-A-nya di musim itu hanya 22 kali. Namun di musim 1993/94 ia mendapat kepercayaan lebih, tampil 30 pertandingan, setelah Di Canio hijrah dan Fortunato lama sakit akibat anemia.

Ketika giliran Baggio cedera, tantangan dan kesempatan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Rava. “Baggio dan Vialli adalah pemain senior yang selalu membimbing demi kemajuan klub,” kilahnya tentang dua bintang papan atas tersebut. Dukungan rekan-rekannya menjadikan dia makin produktif. Namanya pun mulai dielu-elukan oleh kaum Juventini yang mempunyai 1.200 grup tifosi di seluruh Italia.

Di dua musim pertama bersama Juventus, ia mengemas 19 gol dari 60 laga, rekor yang cukup lumayan mengingat ia menjadi pemain pengganti di klub yang dipenuhi para penyerang hebat. Namun di musim ini, Ravanelli sanggup melesakkan total 17 gol, termasuk yang ke gawang Parma belum lama ini.

Uniknya, Rava lebih subur dan lebih jago di kompetisi Eropa ketimbang Serie A. Jika di Serie A baru lima gol, dan empat gol di Piala Italia, maka delapan lainnya disarangkan ke berbagai gawang tim-tim non Italia di ajang Piala UEFA. Tak heran jika produktivitasnya ini berperan membawa Juventus memasuki babak semifinal.

Piala UEFA bukan arena asing baginya sebab begitu pindah dari Reggiana, dia langsung mencicipi atmosfirnya bahkan ikut mengantarkan Juventus merebut trofi ini pada 1993. Kini trio Del Piero-Vialli-Ravanelli semakin meresahkan pesaing Juve di kancah Serie A. Kekhawatiran atas cedera panjang yang diderita Roby Baggio sekarang tergantikan dengan harapan baru.

Melesatnya Juve di puncak klasemen sementara Serie A menjadi tolok ukurnya. Kompetisi memang masih lama berakhir. Segalanya bisa terjadi, entah pada Juve ataupun Ravanelli sendiri. Di satu sisi pemain berusia 31 tahun ini tentu berusaha menjaga performanya, apapun pencapaian yang diraih Juventus tahun ini.
Aksi bersama Perugia.

Buat seorang pemain bola di Italia, start awal karier Rava bisa dibilang terlambat. Ia mengaku telat terjun di sepak bola. Itu pun dimulai oleh bujuk rayu abangnya, Andrea Ravanelli, yang ikut mendaftarkannya di tim junior Perugia. AC Perugia adalah sebuah klub yang sempat disegani di kancah Serie A hingga akhir 1970-an. Pada musim 1978/79, klub yang melahirkan nama Paolo Rossi ini secara luar biasa menjadi runner-up di bawah sang juara AC Milan. Ironisnya dua musim kemudian, klub ini terjungkal ke Serie B akibat kasus suap dan hingga kini sulit muncul lagi.

Seimbang Luar Dalam

Bersama Perugia Ravanelli memulai kompetisi Serie C2 musim 1985/86 di usia 18 tahun. Rekornya saat di musim pertamanya adalah 26 kali main dan 5 gol. Selama tiga musim bersama klub kelahirannya, ia mencatat rekor 41 gol dari 90 kali penampilannya.
Fabrizio Ravanelli: Start Telat, Karier Cepat
Rava di Avellino.
Pada 1989 dia ditransfer ke Avellino, sebuah klub Serie B. Hasilnya sangat mengecewakan sebab ia hanya dipercaya tampil sebanyak 7 kali saja dan tanpa sebiji gol pun. Impiannya untuk berkiprah di jenjang yang lebih tinggi pun sirna. Namun semangat yang masih berkobar mampu menguatkan kesabarannya. Terdongkraknya karier pertama kali Rava bisa dibilang gara-gara blessing atau kebetulan. 

Setelah bergulat lagi di Serie C 1989/90 bersama Casertana, di akhir kompetisi Rava mengemas 12 gol dari 27 laganya. Rekor ini ternyata cukup memuaskan Reggiana, klub Serie B, untuk mentransfernya di musim 1990/91. Rava kembali merumput di kasta kedua sepak bola Italia.

Bisa dibayangkan bagaimana semangat seorang pria saat ingin memanfaatkan kesempatan keduanya. Inilah yang juga dilakukan Ravanelli. Dia tampil menggila, mencetak banyak gol sehingga namanya masuk dalam jajaran capocannonieri Serie B, dan terakhir ikut membawa Reggiana promosi ke Serie A di akhir musim 1992/93. 
Saat berkiprah di Reggiana.
Selama satu setengah musim di klub Granata, julukan Reggiana, pemain dengan posisi gelandang menyerang ini mencatat rekor 24 gol dari 66 laga sebelum bergabung dengan Juve di musim 1992/93.

Kariernya yang mulai benderang tak lama dibarengi oleh kehidupan rumah tangganya. Ravanelli menikahi Lara sejak Januari 1994. Selain sepak bola, Lara adalah kecintaannya yang lain. Dia tak pernah absen membawa istrinya ketika Juve mengadakan pesta-pesta atau acara formal lainnya. 

Langkah profesional Rava dipermulus oleh hubungan mesra dan hormat terhadap kedua orang tuanya, Carlo dan Floriana. Tampaknya keseimbangan hidup inilah yang membuat jalan hidup pria 27 tahun ini jadi lempang dan mulus, termasuk kariernya di lapangan hijau, kelihaiannya mencetak gol dan selalu optimal bermain untuk timnya.

Bermain di Juventus adalah impiannya meski tidak pernah dicita-citakannya sejak kecil. Rava merasa terhormat bisa membela Bianconeri yang dipenuhi sejarah dan pemain besar. “Gianluca Vialli merupakan pemain besar yang menjadi pujaan saya seperti halnya kepada Giampiero Boniperti,” tutur Ravanelli dengan jujur apa adanya.

Karier yang mulai cemerlang, kehidupan keluarga yang harmonis, materi yang lebih dari cukup serta memiliki prestasi dan reputasi – yang selalu menjadi impian para pria atau seorang suami – telah diraihnya hanya dalam tiga tahun. Tak ada kata lain kecuali bersyukur bagi Fabrizio Ravanelli.

(foto: it.wiki/t-online/ imortaisdofutebol/delcampe.net/playbuzz)

Share:

Korban Perang Tifosi?

Kalau Daniel Fonseca, bekas penyerang Napoli yang kini membela Roma mobilnya pernah digarong oleh pencuri, maka Paul Gascoigne – bintang Inggris di Lazio, menderita lebih parah lagi. Vilanya di Formello, dekat Roma, ‘dikosongkan’ maling. Dari pakaian, televisi, video, lukisan sampai mebel yang seluruhnya bernilai kira-kira 50 juta lira atau sekitar Rp 70 juta rupiah, digasak habis sekitar tengah malam, November 1994.
Korban Perang Tifosi?
Paul 'Gazza' Gascoigne.
Seperti biasa, si maling merusak gerbang sebelum mengganyang seluruh isi vila. Saat itu dikabarkan tidak ada seorang pun di sana. Ada selentingan, jangan-jangan pencuri itu tifosi Roma yang balas dendam karena bintangnya yang asal Uruguay, Fonseca, juga kecurian mobilnya.

Olahragawan Terbaik

Siapa olahragawan terbaik Italia tahun 1995 ini? Ternyata bukan Roberto Baggio, Paolo Maldini atau Alberto Tomba si atlet ski. Juga bukan Andrea Giani, si bintang bola voli. Dia justru Antonio Di Pietro, seorang hakim yang sangat terkenal sebagai pemberantas korupsi kelas kakap di Italia!

Pilihan yang dijatuhkan oleh harian olahraga Corriere dello Sport Stadio terhadap hakim itu disertakan juga posternya – dilakukan beberapa hari setelah sang hakim menyatakan pengunduran diri dari jabatannya dengan alasan bahwa ia merasa diperalat oknum-oknum tertentu demi kepentingan pribadi atau golongan. Ia dianggap menggunakan prinsip olah raga dalam mengambil keputusannya itu yakni loyalitas, antusias, dan kerja keras.

Kebetulan Di Pietro memang punya hobi main bola. Ketika masih muda ia pernah diminta untuk bermain di sebuah klub junior. Juga ketika dia sempat beremigrasi ke Jerman, pernah lolos seleksi tim emigran Italia.

Rambut Batistuta

Akhirnya Gabriel Batistuta, bintang Argentina yang bermain di Fiorentina, mengalah juga. Demi memenuhi permintaan pelatih nasional Argentina Daniel Passarella, ia memotong rambutnya. Untuk pertama kalinya dia tampil dengan model rambut yang agak pendek pada laga Fiorentina vs Parma dalam perebutan Piala Italia, Minggu lalu.

Ia berkelakar mengenai penampilannya yang baru itu. “Saya sekarang tidak bisa menyembunyikan wajah saya karena malu jika gagal mencetak gol,” ujarnya. Tapi dia masih berharap bahwa dengan rambut gondrongnya ia akan mencapai rekor. “Sekarang dengan model yang seperti itu, saya harus merebut yang lainnya lagi.”

Toh dia bukan Samson, yang hilang kekuatannya karena dipotong rambutnya. Sementara itu di kota Firenze, markas Fiorentina, kini beredar topi berwarna ungu dengan tulisan ‘Bati-Record’ dengan gambar bendera kecil yang dipancangkan di atasnya.

Pengakuan Carboni

Masih soal gol tunggal kontroversial Fiorentina ke gawang Roma, bulan lalu? Setelah Marcio Santos mengaku bahwa gol itu berkat dirinya, kini giliran Amedeo Carboni, pemain belakang Roma yang mengakui bahwa sebenarnya gol itu dari kakinya sehingga pantas kalau gol itu disebut gol bunuh diri.

“Boleh saja Santos mengaku bahwa gol itu dia yang cetak, tapi sebenarnya sayalah yang memasukkannya,” ujar Carboni. Lalu? Nah ini yang sebenarnya ingin dikejar oleh Carboni. “Kalau Santos dijanjikan akan diperkenalkan oleh Sharon Stone, bintang film seksi itu, saya juga dong,” katanya sambil berkelakar tentunya.


(foto: thescottishsun/zmnapoli)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini