Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Bursa Transfer 1994/95: Yang Datang dan Yang Pergi

Berikut deretan pemain di Eropa dan Amerika yang datang dan pergi setelah usainya Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Secara mengejutkan, dalam bursa transfer kali ini banyak klub Bundesliga yang terpincut dengan para pemain Amerika Serikat usai berakhirnya pesta sepak bola empat tahunan itu. Kejutan kedua adalah berhamburannya pemain top Eropa pergi ke Jepang untuk mengadu nasib di J-League. Berikut beberapa transfer pemain top di berbagai liga di dunia.


Bursa Transfer 1994/95: Yang Datang dan Yang Pergi
Transfer Ruud Gullit dari Sampdoria ke AC Milan. Kembali ke Milano. 

PEMAIN
NEGARA
DARI
KE
Jonas Thern
Swedia
Napoli
Roma
Daniel Fonseca
Uruguay
Napoli
Roma
Freddy Rincon
Kolombia
Palmeiras
Napoli
Andre Cruz
Brasil
Standar Liege
Napoli
Alain Boghossian
Prancis
Marseille
Napoli
Ilie Dumitrescu
Rumania
Steaua Bucuresti
Brescia
Sunday Oliseh
Nigeria
Standar Liege
Reggiana
Abedi Pele
Ghana
Lyon
Torino
Paulo Sousa
Portugal
Sporting Lisbon
Juventus
Didier Deschamps
Prancis
Marseille
Juventus
Dino Baggio
Italia
Juventus
Parma
Manuel Rui Costa
Portugal
Benfica
Fiorentina
Fernando Couto
Portugal
Porto
Parma
Ruud Gullit
Belanda
Sampdoria
Milan
Alexi Lalas
AS
Rutgers University
Padova
Claudio Taffarel
Brasil
Reggiana
Brescia
Kazuyoshi Miura
Jepang
Verdy Kawasaky
Genoa
Rudi Voeller
Jerman
Marseille
Genoa
Fernando Redondo
Argentina
Real Madrid
Internazionale
Jocelyn Angloma
Prancis
Marseille
Torino
Chris Sutton
Inggris
Norwich
Blackburn Rovers
Jamie Moreno
Bolivia
Blooming
Middlesbrough
Robbie Slater
Australia
Lens
Aston Villa
Nii Lamptey
Ghana
Anderlecht
Aston Villa
Bruce Grobbelaar
Zimbabwe
Liverpool
Southampton
Basile Boli
Prancis
Lyon
Glasgow Rangers
Anders Limpar
Swedia
Arsenal
Everton
Bryan Roy
Belanda
Foggia
Nottingham Forest
Tony Cascarino
Irlandia
Chelsea
Marseille
Joe-Max Moore
AS
UCLA
Saarbrucken
Thomas Dooley
AS
Kaiserslautern
Bayer Leverkusen
Eric Wynalda
AS
VfL Bochum
Saarbrucken
Andreas Koepke
Jerman
Nuernberg
Eintracht Frankfurt
Paul Caligiuri
AS
Freiburg
Bayer Uerdingen
Andreas Moeller
Jerman
Juventus
Borussia Dortmund
Jean-Pierre Papin
Prancis
Milan
Bayern Muenchen
Alan Sutter
Swiss
Nuernberg
Bayern Muenchen
Guido Buchwald
Jerman
VfB Stuttgart
Red Diamonds
Darko Panchev
Montenegro
Inter
Jubilo Iwata
Salvatore Schillaci
Italia
Inter
Jubilo Iwata
Luis Garcia
Meksiko
Atletico Madrid
Real Sociedad
Emil Kostadinov
Bulgaria
Porto
Atletico Madrid
Florin Raducioiu
Rumania
Milan
Espanol
Valery Karpin
Rusia
Spartak Moskva
Real Sociedad
Andoni Zubizzaretta
Spanyol
Barcelona
Valencia
Julio Salinas
Spanyol
Barcelona
La Coruna
Julen Lopetegui
Spanyol
Logrones
Barcelona         
      

(foto: magliarossonera)



Share:

Piala Asia U-19: Jepang Datang, Primavera Pulang

Awas, Jepang datang! Bukan untuk selamanya, sebab dalam sepuluh hari ke depan, mereka balik kandang. Tapi bukankah ini potret dari tingkat keseriusan mereka yang begitu tinggi untuk menjadi satu dari wakil Asia ke kejuaraan Piala Dunia U-20?
Piala Asia U-19: Jepang Datang, Primavera Pulang
Latihan tim nasional Jepang U-20 di Lebak Bulus.
Padahal, putaran final Piala Asia U-19 sendiri di Stadion Utama Senayan, Jakarta, baru akan dipentaskan pada 12-25 September! Masih dua bulan lagi, memang. Bahkan semua tim finalis pun belum lengkap. Baru tujuh grup - dari babak kualifikasi yang meloloskan wakilnya, plus tuan rumah Indonesia.

Ini semua, tampaknya, ditepiskan Jepang. Mereka konsentrasi total untuk sebuah ambisi: merebut satu dari dua tiket yang dijatahkan untuk benua Asia. "Ya, kami ingin lolos ke Nigeria," ucap Yutaka Kamiyama, pengmat tim nasional U-19 Jepang. Putaran final Piala Dunia U-20, tahun depan, memang akan digelar di Lagos. Nigeria. Kejuaraan dunia junior dua tahunan ini, tahun lalu digelar di Australia, dengan memunculkan Brasil sebagai juara dunia.

Aklimatisasi

Misi utama kedatangan Jepang lebih pada soal aklimatisasi. Tiba di Jakarta Senin malam, sejak Selasa sampai sepuluh hari ke depan, semua 22 pemain yang diboyong itu digenjot di dua stadion, Senayan dan Lebak Bulus. "Kami ingin mengakrabi cuaca tropis Jakarta, sekaligus mengakrabi rumput dan suasana stadion," kata Kamiyama.

Tim Jepang ini lolos dari kualifikasi grup 8. Di sini, mereka bergabung dengan Korea Utara - yang kemudian mundur - serta Guam dan Taiwan. Dari dua pertandingan yang dilakukan, prestasi Jepang luar biasa: mengemas 26 gol, tanpa pernah kebobolan satu gol pun. Guam dibantai 14-0, dan Taiwan disungkurkan 12-0.

Skor-skor telak yang dipetik Jepang ini paling tidak tercermin dari kelas pemain yang mereka boyong ke Jakarta, Selasa dan Rabu lalu, dalam dua kali latihan yang diintip. Tim yang dilatih Koji Tanaka ini tampak menjanjikan. Postur mereka rata-rata 178 cm, ditopang elastisitas badan yang tercermin dari pergerakan mereka yang lentur. Siapa saja mereka?

Koji Tanaka, 39, mantan pemain nasional Jepang tahun 1980-an, antara lain menyebut nama Susumu Oki, yang memborong enam gol ketika Guam dilindas 14-0. Dalam rombongan, ada juga nama Hidetoshi Nakata, Suguro Ito, Yukihiko Sato, Sataro Yasunaga, dan Naoki Matsuda. "Tapi formasi ini belum final," elak Tanaka.

Primavera Pulang

Dua hari sebelum Jepang tiba di Jakarta, tim nasional PSSI U-19 yang persis satu tahun berguru di Tavarone, dengan bekal teknis dari markas Sampdoria, juga tiba di Tanah Air. "Semua pemain kami liburkan," jelas Danurwindo, penanggungjawab teknis tim yang lebih akrab dengan julukan PSSI Primavera itu. Tentang Jepang? "Kedatangan mereka lebih awal membuktikan bahwa mereka tidak main-main. Saya juga dengar, tim ini diproyeksikan untuk Piala Dunia 1998 di Prancis nanti," katanya.

Tapi? "Tapi, kami tidak takut. Kami bisa mengukur mereka," tambah Mister Danur pula. Ia menyebut, mayoritas materi Jepang sekarang ini berasal dari Kawasaki Verdy yunior, klub yang bersama PSSI Primavera sama-sama pemah tampil dalam kejuaraan dunia antarklub junior - Coppa Carnevale - di Viareggio, Italia, Maret lalu.

"Mereka juga tahu bagaimana memainkan sepak bola modern, bagaimana mengorganisasi pertahanan, serta disiplin dalam segala hal. Tapi bukankah kita tak beda dengan mereka? Kita pun pemah berujicoba dengan tim-tim besar macam Parma, Fiorentina, dan Juventus."

Jepang juga tahu banyak tentang PSSI Primavera. "Kami punya spion di sana. Dan kami pun tahu bagaimana kelas dan kualitas tim Anda," timpal Tanaka. Setelah Kamis kemarin dijajal Persija Pusat U-21, Sabtu besok, di tempat yang sama, Stadion Utama Senayan, Jepang berujicoba lagi menghadapi PSB Bogor U-21.

Ternyata tak cuma Jepang yang mencoba mendadar cuaca dan merumput Stadion Utama Senayan. Korea Selatan, yang juga lolos dari grup 6, akhir bulan ini juga akan tiba di Jakarta. "Info sementara yang saya terima begitu. Korea Selatan juga ingin beraklimatisasi di Jakarta," sebut Sumaryoto, wakil Sekum PSSI. Wah. bakal seru nih!

NEGARA YANG LOLOS

Grup 1: Suriah (vs Hong Kong 7-0, vs Bangladesh 2-0, vs Arab Saudi 2-2)
Grup 2: Kuwait, atau UEA
Grup 3: Qatar, atau Jordania
Grup 4: Bahrain (vs India 3-0, vs Iran 0-0)
Grup 5: Irak (vs Srilanka 4-1)
Grup 6: Korsel (vs Malaysia 1-0, vs Brunei 9-0, vs Singapura 2-0)
Grup 7: Muangthai (vs Cina 2-0, vs Myanmar 8-0)
Grup 8: Jepang (vs Guam 14-0, vs Taiwan 12-0)
Grup 9: Kazakhstan (vs Turkmenistan 1-0, vs Uzbekistan 1-0, Kyrgistan 3-2)
Tuan rumah: Indonesia (lolos, otomatis)


(foto: stefan sihombing)



Share:

Piala Dunia 1994: Dominasi Maradona

Berakhirnya Piala Dunia 1994 menggoreskan beberapa catatan istimewa. Satu yang paling menonjol adalah tumbangnya rekor penonton terbanyak selama kejuaraan, dengan kenaikan sangat fantastis. Meski cuma sekali tampil, namun nama Diego Maradona tercatat sebagai salah satu pesepak bola yang sering tampil di Piala Dunia. Hal yang sama ditorehkan Lothar Matthaeus. Apa saja rekor yang pecah setelah USA'94? Simak data-data berikut.

Piala Dunia 1994: Dominasi Maradona
Dewa Mexico '86, Diego Maradona, tak bisa dibendung Lothar Matthaeus.


GOL TERBANYAK 1
14 Gol: Gerd Mueller (Jerman Barat) 1970, 1974
13 Gol: Just Fontaine (Francis) 1958
12 Gol: Pele (Brasil) 1958, 1962, 1966, 1970
11 Gol: Sandor Kocsis (Hongaria) 1954
10 Gol: Helmut Rahn (Jerman) 1954, 1958; Teofilo Cubillas (Peru) 1970, 1978; Grzegorz Lato (Polandia) 1974, 1978, 1982; Gary Lineker (Inggris) 1986, 1990
9 Gol: Ademir Marques (Brasil) 1950; Juan Schiaffino (Uruguay) 1950, 1954; Vava (Brasil) 1958, 1962; Uwe Seeler (Jerman) 1958, 1962, 1966, 1970; Eusebio Ferreira (Portugal) 1966; Jairzinho (Brasil) 1970, 1974; Paolo Rossi (Italia) 1978, 1982, 1986; Karl-Heinz Rummenigge (Jerman) 1978, 1982, 1986
8 Gol: Guillermo Stabile (Argentina) 1930; Leonidas (Brasil) 1934, 1938; Diego Maradona (Argentina) 1982, 1986, 1990, 1994; Rudi Voeller (Jerman) 1986, 1990; Gyula Zsengegeller (Hongaria) 1938; Hans Schaefer (Jerman) 1954, 1958; Lajos Tichy (Hongaria) 1958, 1962; Johny Rep (Belanda) 1974, 1978; Andrzej Szarmach (Polandia) 1974, 1978, 1982; Antonio Careca (Brasil) 1986, 1990; Roberto Baggio (Italia) 1990, 1994; Oldrich Nejedly (Cekoslowakia) 1934, 1938

GOL TERBANYAK 2
12 Gol: Austria vs Swiss 7-5 (Swiss 1954)
11 Gol: Hongaria vs El Salvador 10-1 (Spanyol 1982); Hongaria vs Jerman 8-3 (Swiss 1954); Brasil vs Polandia 6-5 (Prancis 1938)
10 Gol: Prancis vs Paraguay 7-3 (Swedia 1958)
9 Gol: Argentina vs Meksiko 6-3 (Uruguay 1930); Hongaria vs Korsel 9-0 (Swiss 1954); Jerman vs Turki 7-2 (Swiss 1954); Prancis vs Jerman 6-3 (Swedia 1958); Yugoslavia vs Zaire 9-0 (Jerman 1974)

GOL TERBANYAK 3
27 Gol: Hongaria (1954)
23 Gol: Prancis (1958)
22 Gol: Brasil (1950)
19 Gol: Brasil (1970)
18 Gol: Argentina (1930)
17 Gol: Portugal (1966)
16 Gol: Prancis (1982)
15 Gol: Hongaria (1938); Argentina (1978); Belanda (1978)

GOL TERBANYAK 4
5 Gol: Oleg Salenko (Rusia vs Kamerun 6-1, 1994)
4 Gol: Emilio Butragueno (Spanyol vs Denmark 5-1, 1986); Eusebio Ferreira (Portugal vs Korea Utara 5-3, 1966); Just Fontaine (Prancis vs Jerman 6-3, 1958); Marques Ademir (Brasil vs Swedia 7-1, 1950); Juan Schiaffino (Uruguay vs Bolivia 8-0, 1950); Leonidas (Brasil vs Polandia 6-5, 1938); Gustav Wetterstrom (Swedia vs Kuba 8-0, 1938); Ernst Wilimowski (Polandia vs Brasil 5-6, 1938)

SKOR TERBESAR
10 Gol: Hongaria vs El Salvador 10-1 (Spanyol 1982)
9 Gol: Yugoslavia vs Zaire 9-0 (Jerman 1974); Hongaria vs Korsel 9-0 (Swiss 1954)
8 Gol: Swedia vs Kuba 8-0 (Prancis 1938); Uruguay vs Bolivia 8-0 (Brasil 1950); Hongaria vs Jerman 8-3 (Swiss 1954)
7 Gol: Italia vs AS 7-1 (Italia 1934); Brasil vs Swedia 7-1 (Brasil 1950); Jerman vs Turki -2 (Swiss 1954); Turki vs Korsel 7-0 (Swiss 1954); Uruguay vs Skotlandia 7-0 (Swiss 1954); Austria vs Swiss 7-5 (Swiss 1954); Prancis vs Paraguay 7-3 (Swedia 1958).

GOL PERTAMA
1930: Lucien Laurent (Prancis) vs Meksiko 4-1
1934: Ernesto Belis (Argentina) vs Swedia 2-3
1938: Josef Gauchel (Jerman) vs Swiss 1-1
1950: Marques Ademir (Brasil) vs Meksiko 4-0
1954: Milos Milutinovic (Yugoslavia) vs Prancis 1-0
1958: Omar Corbatta (Argentina) vs Irlandla Utara 3-1
1962: Hector Facundo (Argentina) vs Bulgaria 1-0
1966: Pele (Brasil) vs Bulgaria 2-0
1970: Dirko Dermendzhiev (Bulgaria) vs Peru 2-3
1974: Paul Breitner (Jerman) vs Chile 1-0
1978: Bernard Lacombe (Prancis) vs Italia 1-2
1982: Erwin Vandenbergh (Belgla) vs Argentina 1-0
1986: Alessandro Altobelli (Italia) vs Bulgaria 1-1
1990: Francois Omam-Biyik (Kamerun) vs Argentina 1-0
1994: Juergen Klinsmann (Jerman) vs Bolivia 1-0

TAMPIL TERBANYAK 1
21 Kali: Diego Maradona (Argentina); Lothar Matthaeus, Uwe Seeler (Jerman); Wladyslaw Zmuda (Polandia)
19 Kali: Wolfgang Overath, Karl-Heinz Rummenigge, Berti Vogts (Jerman)
18 Kali: Franz Beckenbauer (Jerman), Sepp Maier (Jerman); Aritonio Cabrini, Gaetano Scirea (Italia); Mario Kempes (Argentina)

TAMPIL TERBANYAK 2
5 Kali: Antonio Carbajal (Meksiko: 1950, 1954, 1958, 1962, 1966)
4 Kali: Diego Maradona (Argentina: 1982, 1986, 1990, 1994); Pele (Brasil: 1958, 1962, 1966, 1970); Gianni Rivera: (Italia: 1962, 1966, 1970, 1974); Pedro Rocha: (Uruguay: 1962 1966 1970, 1974); Djalma Santos (Brasil: 1954, 1958, 1962, 1966); Karl-Heinz Schnellinger, Uwe Seeler (Jerman: 1958, 1962, 1966, 1970); Wladyslaw Zmuda (Polandia: 1974, 1978, 1982, 1986)

PENONTON TERBANYAK
AS 1994: 3.678.112
Italia 1990: 2.527.348
Meksiko 1986: 2.441.731
Spanyol 1982: 1.856.277
Argentina 1978: 1.610.215
Jerman 1974: 1.774.022
Meksiko 1970: 1.673.975
Inggris 1966: 1.614.677
Chile 1962: 776.000
Swedia 1958: 868.000
Swiss 1954: 943.000
Brasil 1950: 1.337.000
Prancis 1938: 483.000
Italia 1934: 395.000
Uruguay 1930: 434.000

Share:

Piala Dunia 1994: Eh Tahukah Anda? (6-Habis)

Sejak pertama kali diadakan tahun 1930, ternyata sudah 59 negara yang pernah ikut kejuaraan sepak bola Piala Dunia. Jumlah ini masih sangat jauh dari setengah jumlah anggota FIFA yang sekarang mencapai 191 negara. Catatan ini juga mencakup Rusia yang dianggap sebagai Uni Soviet, atau Jerman Timur yang digabungkan ke dalam Jerman. Sayangnya Hindia-Belanda, yang pernah ikut Piala Dunia 1938 dikategorikan ke dalam Belanda, bukan Indonesia.

Piala Dunia 1994: Eh Tahukah Anda?
Tim nasional 'Indonesia' di Piala Dunia 1938. Asia pertama.

DIPLOMASI INDONESIA
Perlukah Indonesia melakukan diplomasi ke FIFA agar diakui mengingat ada tujuh pemain Dutch-Indies berdarah asli Indonesia? Alasannya sudah pasti karena waktu itu nama Indonesia belum ada, dan negeri nusantara masih dijajah Belanda serta belum punya pemerintahan sendiri alias merdeka.

Selain itu catatan lainnya termasuk negara-negara yang kini sudah tiada, seperti Cekoslowakia, yang sekarang terpecah menjadi Republik Ceko dan Slowakia. Atau Yugoslavia yang kini terpecah menjadi lima negara: Serbia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro dan Macedonia. Sedang tiga negara debutan di Piala Dunia 1994 adalah Nigeria, Arab Saudi, dan Yunani.

FAIR PLAY
Belgia boleh kecewa, karena Fair Play Award tidak jadi jatuh ke tangan mereka. Padahal merekalah yang semula paling dijagokan untuk meraih penghargaan itu berkat paling minim mendapat hukuman dari wasit, baik kartu kuning apalagi kartu merah. Bahkan Sekjen FIFA sendiri yang menyatakannya. Sepp Blatter mengumumkan bahwa mereka memperoleh nilai tertinggi di antara 24 negara peserta.

Lalu siapa yang akhirnya mendapatkan gelar tim terbersih itu? Ternyata Brasil. Berdasarkan jumlah kartu kuning dan kartu merah yang diterima, juga tingkah-laku seluruh anggota tim dan para pendukungnya, mereka dipandang paling berhak atas predikat tersebut. Berada di tempat kedua, Belanda dan ketiga, Swedia. Jadi pada akhirnya nama Belgia bahkan sama sekali tidak disebut-sebut. Kasihan.

TIM TERBAIK
Sepak terjang Brasil ternyata tidak berhenti sampai di situ. Setelah merebut Piala Dunia dan Fair Play Award, mereka merampas pula gelar tim berpenampilan terbaik. Dalam hal ini mereka menyingkirkan sensasi yang dibuat tim dari Afrika, Nigeria, serta lawan mereka di final, Italia. Brasil memang layak meraih predikat itu. Permainan cantik yang mereka tampilkan mampu memikat jutaan penonton di seluruh dunia. Selain itu, mereka juga menjadi satu-satunya tim yang tidak terkalahkan sejak babak pertama.

BOLA EMAS
Brasil lagi. Striker utama tim Samba, Romario de Souza Faria terpilih sebagai pemain terbaik Piala Dunia 1994. Tidak ada yang membantah meskipun dia bukan pencetak gol terbanyak seperti halnya Mario Kempes (1978), Paolo Rossi (1982) atau Salvatore Schillaci (1990).

Seperti Diego Maradona di tahun 1986, Romario dianggap berperan sangat besar dalam membawa timnya tampil sebagai juara. Dengan gelar ini Romario akan menerima Bola Emas dari Adidas dalam suatu acara khusus di Lisabon, Portugal, Januari 1995. Sedangkan penerima bola perak dan perunggu masing-masing akan diberikan kepada Roberto Baggio (Italia) dan Hristo Stoichkov (Bulgaria).

SEPATU EMAS
Jika mencetak satu gol dinilai tiga, dan membantu terciptanya satu gol (assist) dinilai satu, maka nilai Oleg Salenko (Rusia) dan Hristo Stoichkov (Bulgaria) sama-sama yang tertinggi dengan poin 19. Kedua penyerang ini masing-masing berhasil membukukan 6 gol dan satu assist. Di bawah mereka terdapat nama Romario Faria.

Ujung tombak Brasil ini menjebolkan gawang lawan 5 kali dan bikin 3 assist untuk rekan-rekannya sehingga mendapat nilai 18. Salenko dan Stoichkov dengan sendirinya menjadi pencetak gol terbanyak dan meraih sepatu emas.

Torehan gol mereka sekaligus menambah panjang daftar top scorer dengan 6 gol yang sebelumnya telah dibuat Mario Kempes (1978), Paolo Rossi (1982), Gary Lineker (1986) dan Salvatore Schillaci (1990). Dengan demikian, sejak Piala Dunia 1978, jumlah gol yang diciptakan seorang pencetak gol terbanyak tidak pernah beranjak dari angka 6.

KIPER TERBAIK
Mungkin tidak ada yang menyangka kalau Lev Yashin Award akhirnya digaet penjaga gawang kawakan Belgia, Michel Preud'Homme. Tetapi itulah kenyataannya. Preud'homme, 35, dinyatakan sebagai kiper terbaik dan berhak atas penghargaan itu. Pemain asal klub Mechelen ini sekaligus masuk dalam tim terbaik dunia versi FIFA. Cadangannya adalah Thomas Ravelli (Swedia).

Padahal sementara pengamat menllai Ravelli yang menjadi pahlawan ketika Swedia menyingkirkan Rumania lewat drama penalti lebih baik dari Preud'homme. Bahkan Borislav Mihailov (Bulgaria) dan Claudio Taffarel (Brasil) sebelumnya jauh lebih gencar disebut-sebut akan menduduki posisi puncak. Kalau Taffarel, barangkali FIFA tidak enak. Masak Brasil lagi?

LEBIH EFEKTIF
Ya, itulah kesimpulan yang diperoleh FIFA setelah memperhatikan data yang dihimpun dari 44 laga putaran penyisihan grup. Waktu efektif dari 90 menit pertandingan rata-rata mencapai 61,37 menit atau sekitar 6 menit lebih banyak dari Piala Dunia 1990.

UCAPAN DARI CLINTON
Salah satu ucapan selamat paling berkesan yang diterima Brasil setelah menjuarai Piala Dunia 1994 datang dari Presiden AS Bill Clinton. Orang nomor satu di Amerika Serikat itu langsung menelpon pelatih Carlos Alberto Parreira di tengah-tengah penerbangan dinasnya dari Washington ke Miami.

"Kalian memenangkan sebuah kejuaraan yang menakjubkan dengan perjuangan keras," demikian ujar Clinton seperti ditirukan juru bicaranya, Dee Dee Myers. Sang jubir menambahkan, Clinton menyempatkan diri untuk menonton pertandingan yang menegangkan itu lewat siaran langsung televisi di Gedung Putih.

BAIK DAN BURUK
Kolombia tragis. Rumania dan Swiss berhasil mencapai prestasi terbaik. Yunani gagal dalam debutnya. Jerman tumbang karena pemainnya ketuaan. Norwegia sial. Saudi Arabia sebelumnya tidak pernah bermimpi akan menang atas Belgia dan Maroko, namun justru mengalahkan dua saingainnya dan menjadi tim Asia pertama yang lolos ke babak kedua setelah Korea Utara di tahun 1966.

Bulgaria tidak saja meraih kemenangan pertama di Piala Dunia, tetapi juga melaju ke semifinal dengan menyingkirkan sang juara bertahan. Nigeria adalah sensasi baru dari Afrika. Maroko dan Kamerun tidak lagi menakjubkan. Spanyol kemball tidak bisa melewati perempatfinal. Argentina merana setelah ditinggalkan Diego Maradona. Swedia balk sekali. AS cukup mengesankan karena strategi apik pelatihnya, Bora Milutinovic.

Rusia agak terhibur dengan memiliki Oleg Salenko. Irlandia kalah, namun tidak memalukan dan Jack Charlton tetap menjadi orang Inggris yang paling dicintai di negeri itu. Belgia dikalahkan keputusan wasit. Meksiko lagi-lagi terpuruk karena adu penalti. Bolivia tidak sehebat yang diduga seperti ketika sempat menggulingkan Brasil di penyisihan Piala Dunia 1994.

Italia banyak diselamatkan Roberto Baggio tapi juga dibenamkan peluangnya setelah drama adu penalti di final. Meski demikian Italia secara keseluruhan dianggap tidak buruk karena dipercaya dilingkupi faktor nasib sial. Dari semua fenomena itu, maka pantaslah jika Brasil yang layak menjadi juara.

TETRA BRASIL
Kata 'tetra' yang berarti empat sekarang ini sedang menjadi mantra sedap bagi setiap orang Brasil. Sejak mereka tampil sebagai juara dunia ketiga kali pada tahun 1970, julukan itu baru muncul 24 tahun kemudian. Maka begitu impian mereka tercapai hari Senin lalu, di seluruh Lembah Amazon bergema teriakan, "Brasil Tetracampeao!" Artinya: "Brasil juara dunia empat kali!" "Sebagai orang Brasil, kami akan memuja kata tetra seperti memuja dewa," ujar Joao Bezerra, seorang penjual bir, dengan bersemangat. Bukan main.

(foto: lattitudes)





Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini